Minggu, 08 Juni 2014

Pengaruh Kolonialisme Portugis Di Maluku (Maluku Utara)


Kolonialisme adalah penguasaan oleh suatu Negara atas daerah ata bangsa lain dengan maksud untuk memperluas Negara itu. Imperialism adalah system politik yang bertujuan menjajah Negara lain untuk mendampar kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar. Kolonialisme dan imperialisme ditumbuh kembangkan bangsa-bangsa eropa di seluruh dunia, termasuk di nusantara. Sejak terjadinya perang salib, jatuhnya konstantinopel ke Bangsa Turki Usmani, penutupan Lisabon oleh raja spanyol, timbulah perang koalisi di eropa, dan dampak revolusi industry di inggris, Negara-negara di eropa mendatangi banyak negeri dengan tujuan utama mendominasi dan mengeksploitasi sumber-sumber kekayaan alam dan manusia.negara-negara eropa yang memiliki andil dalam membentuk dan mengembangkan kolonialisme dan imperialism di nusantara yaitu, Portugis, belanda, prancis dan inggris.
Portugis merupakan Negara-negara eropa pertama yang berusaha mencari jalan laut ke dunia timur. Bartholomeus Diaz berhasil mencapai tanjung harapan pada tahun 1486 dan Vasco D Gama  menginjakan kaki di Calicut 1498. Tiga belas tahun kemudian Alfonso d,Albuquerque dapat mengusai pelabuhan malaka. Penaklukan malaka merupakan langkah strategis Portugis dalam upaya di asian tenggara. Setelah menaklukan malaka Portugis melanjutkan petualangnya ke Maluku di bawah pimpinan Antonio Abreau. Pada tahun 1512 armada Portugis tiba di Maluku untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah.
Dalam mencapai tujuanya, Portugis memanfaatkan persaingan yang ada di Maluku. Pada saat itu Ternate tengah bersaing dengan tidore yang bersekutu dengan spanyol. Portugis segera menggunakan kesempatan tersebut dengan cara membantu Ternate. Sudah barang tentu kehadiran Portugis di Ternate mendapat simpati dari rakyat. Terlebih lagi rakyat Ternate mengira bahwa Portugis merupakan bangsa pedagang yang akan berperan menaikan harga rempah-rempah. Oleh karena itu, Portugis di izinkan mendirikan benteng di Ternate. Pada tempat lain di Maluku, portugipun membantuHitu yang sedang bersaing dengan Seram. Tindakan inilah yang menjadi langkah awal Portugis dalam rangka menacapkan pengaruh dan kekuasaan colonial di Maluku.
kekuasaan Portugis di indonesia adalah sebelum sepanyol. Melalui penjelajahan samudra, bangsa Portugis berhasil mencapai India(Kalikut) pada tahun 1498.Bangsa Portugis berhasil mendirikan kantordagangnya di Goa (1509).
Pada tahun 1511 Portugis berhasil menguasaiMalaka. Selanjutnya, Portugis mengadakan hubungan dagang dengan Maluku yang merupakan daerah sumber utama rempah-rempah di Indonesia.Pada tahun 1512 Alfonso de Albuquerque mengirimkan beberapa buahkapal ke Maluku. Pada awalnya masyarakat Maluku menyambut baik dan salingberebut menanamkan pengaruh kepada Portugis. Hal ini dimaksudkan agar Portugis dapat membeli rempah-rempah dan membantu masyarakat Malukumenghadapi musuh-musuhnya.
Pada saat itu, Kesultanan Ternate di Maluku diperintah oleh Kaicil Darus.Sultan Ternate itu meminta bantuan Portugis untuk mendirikan benteng diTernate. Pendirian benteng tersebut bertujuan agar Ternate terhindar darikemungkinan serangan dari daerah lain. Pada tahun 1522, Portugismengabulkan permintaan Sultan Ternate dengan mendirikan Benteng Saint John . Pendirian benteng tersebut harus dibayar mahal oleh Ternate karenaPortugis menuntut imbalan berupa hak monopoli perdagangan rempah-rempahdi Ternate. Sultan Ternate terpaksa harus menandatangani perjanjian monopoliperdagangan dengan Portugis.
Pada tahun 1513, bangsa Portugis mendarat di kepulauan Ambon yang merupakan penghasil cengkeh, tempat ini sekaligus juga merupakan pintu masuk wilayah tersebut . Kemudian dibangunlah sebuah benteng Portugis berikut dengan adanya beberapa peraturan keamanan, yang dibantu oleh sekelompok pemeluk baru agama Kristen yang berfungsi pula sebagai penyangga, dimana mereka bermukim dan berpusat disekitar benteng tersebut, yang kemudian menjadi kota Ambon (ibukota propinsi Maluku yang sekarang).
Perjanjian monopoli perdagangan rempah-rempah tersebut ternyatamenimbulkan kesengsaraan. Rakyat tidak dapat menjual rempah-rempah secarabebas. Portugis telah menetapkan harga rempah-rempah yang dimiliki rakyatdengan harga yang murah. Di samping itu, rakyat Ternate harus menjualrempah-rempah kepada Portugis. Hal itu merugikan rakyat Ternate, tetapimemberikan keuntungan yang sangat besar bagi Portugis. Oleh karena itu, terjadipermusuhan antara rakyat Ternate dan Portugis.Selain mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku,Portugis juga aktif menyebarkan agama Katolik. Salah seorang tokoh Portugis yang giat menyebarkan agama Katolik adalah Fransiscus Xaverius.
Tanpa diduga  pada tahun 1521 Spanyol muncul  dari arah Filipina dengan kapal Trinidad  dan Victoria yang dipimpin oleh Kapten Sebastian del Cano. Selanjutnya, Spanyol menjalin hubungan dengan Tidore, saingan berat Ternate. Portugis merasa tidak senang ada saingan dari Spanyol di Tidore. Persaingan antara Portugis dan Spanyol kembali terjadi, namun pada tahun 1529 berhasil diselesaikan melalui Perjanjian Saragosa. Isi Perjanjian Saragosa yaitu Spanyol kembali ke Filipina sedangkan Portugis tetap di Maluku

Saat Portugis bersitegang dengan Spanyol, hubungan Ternate dan Tidore semakin memanas. Ternate meminta jaminan dukungan terhadap Portugis untuk  menghadapi Tidore. Portugis dengan senang hati menyanggupi, dengan syarat mendapatkan  hak monopoli  perdagangan rempah-rempah di Ternate. Akibatnya  rakyat Ternate sangat dirugikan,  mereka tidak  lagi leluasa menjual rempah-rempah. Harga cengkih dan pala ditetapkan oleh Portugis dengan sangat rendah.
Di Maluku, selain monopoli perdagangan Portugis juga bertindak  sewenang-wenang dan kejam terhadap rakyat. Bahkan cenderung untuk  menguasai wilayah. Keadaan ini  mengakibatkan hubungan yang semula terjalin dengan baik berubah menjadi hubungan permusuhan. Puncak pertentangan terjadi setelah Portugis dengan licik membunuh Sultan Hairun, Raja Ternate.
Kebijakan  Pemerintah  Kolonial  Portugis
Kekuasaan Portugis di Maluku berlangsung cukup lama, sekitar tahun 1512 sampai 1641. Kebijakan-kebijakan yang dipraktikkan selama itu sangat berpengaruh  terhadap  kehidupan masyarakat Indonesia.
Berbagai kebijakan pemerintah kolonial Portugis.
a. Berusaha menanamkan kekuasaan di Maluku.
b. Menyebarkan agama Katolik  di daerah-daerah yang dikuasai.
c. Mengembangkan bahasa dan seni musik keroncong Portugis.
d. Sistem monopoli  perdagangan cengkih dan pala di Ternate.
Dengan kebijakan ini, petani Ternate tidak  lagi memiliki  kebebasan untuk menjual atau menentukan harga hasil panennya. Mereka harus menjual hasil panennya hanya kepada Portugis dengan harga yang ditentukan oleh Portugis. Akibatnya, petani sangat dirugikan,  dan Portugis memperoleh keuntungan yang sangat besar.
Pengaruh dari kebijakan ini  ternyata tertanam pada rakyat Indonesia khususnya rakyat Maluku. Ada yang bersifat negatif dan ada yang positif. Berikut ini berbagai pengaruh yang ditimbulkan dari kebijakan-kebijakan Portugis.
a.    Terganggu dan kacaunya jaringan perdagangan.
b.    Banyaknya  orang-orang  beragama Katolik   di  daerah pendudukan  Portugis.
c.    Rakyat menjadi miskin dan menderita.
d.    Tumbuh benih rasa benci terhadap kekejaman Portugis.
e.    Munculnya rasa persatuan dan kesatuan rakyat Maluku untuk menentang Portugis.
f.     Bahasa Portugis turut  memperkaya perbendaharaan kata/ kosakata dan nama keluarga seperti da Costa, Dias, de Fretes, Mendosa, Gonzalves, da Silva, dan lain-lain.
g.    Seni musik keroncong yang terkenal di Indonesia sebagai peninggalan Portugis adalah keroncong Morisco.
h.    Banyak peninggalan arsitektur  yang bercorak Portugis dan senjata api/meriam di daerah pendudukan termasuk keberadaan benteng Nossa Senhora da Anunciada yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1575, kemudian pada saat kekuasaan jatuh ke tangan Kolonial Belanda (VOC) nama benteng tersebut diganti menjadi Fort Nieuw Victoria pada tahun 1614.
Kekuasaan Spanyol yang sempat menjalin hubungan dengan Tidore tidak memiliki  pengaruh yang berarti. Mengingat Spanyol segera meninggalkan Tidore karena terbentur Perjanjian Saragosa.
Perjanjian Saragosa (juga ditulis Perjanjian Saragossa atau Perjanjian Zaragoza), ditandatangani 22 April 1529, adalah perjanjian antara Spanyol dan Portugis yang menentukan bahwa belahan bumi bagian timur dibagi di antara kedua kerajaan tersebut dengan batas garis bujur yang melalui 297,5 marine leagues atau 17° sebelah timur Kepulauan Maluku. Perjanjian ini adalah kelanjutan dari Perjanjian Tordesillas yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugis dan diprakarsai oleh Paus, yang melihat persaingan perebutan koloni yang dilakukan oleh Portugis dan Spanyol. Oleh karena itu, dibuatlah perjanjian ini. Dalam perjanjian ini dicapai hasil yang lebih rinci dari dua belah pihak, Spanyol dan Portugis. Adapun kesepakatan yang dicapai adalah:
1.       Bumi dibagi atas dua pengaruh, yaitu pengaruh bangsa Spanyol dan Portugis.
2.       Wilayah kekuasaan Spanyol membentang dari Meksiko ke arah barat sampai kepulauan Filipina dan wilayah kekuasaan Portugis membentang dari Brazil ke arah timur sampai kepulauan Maluku. Daerah di sebelah barat garis saragosa adalah penguasaan Portugis, daerah di sebelah selatan timur saragosa adalah penguasaan Spanyol.


Pengaruh Yang Ditinggalkan.
1.  Peninggalan Portugis telah berkumpul di kepulawan Maluku, dalam riwayat Portugis ke kepulawan Maluku terutama Ternate, Ambon-Lease dan bagian dari Tidore dan Seram, dimana pada suatu waktu telah terdapa benteng-benteng dan Bandar dagang yang menjadi pemusatan bagi Portugis. Peninggal di Pulau Ambon merupakan suatu kasus tersendiri, yang jelas dalam hubungan timbal-balik antara orang Portugis dan orang pribumi, Politik raja-raja Portugis sebagaimana yang telah diperbaharui oleh Henry Pelaut, ialah pembentukan feitoria (kota perdagangan), menghadiahkan tanah (doacao) companhia dan monopoli di Maluku yang memerlukan tenaga kerja dari pihak Portugis yang bekerja sama dengan orang pribumi untuk mengokohkan politik meraka di tanah Maluku. Raja Muda Alfonso, semasa pemerintahanya (1509-1515) menganjurkan secara tegasa, agar mereka yang turut dalam perdagangan rempah-rempah sebaiknya kawin dengan pribumi, dengan kemikina kepentinagan Portugis dapat dijami oleh orang-orang yang hatinya tetep dan tidak cepat-cepat kembali ke tanah airnya, melaikan memanam akar di negeri baru, dan kemudia nanam akar bagi kepentingan Portugis. Menurut pihak Portugis kebijakan ini merupakan jalan terbaik untuk tetep mengekalkan kuasanya di Maluku. Fam/Marga di Maluku yang berasal dari adat bangsa Portugis seperti ;
a.       Da Costa,
b.      De Fretes,
c.       Que,
d.      Carliano,
e.      De Souza,
f.        De Carvalho,
g.       Pareira,
h.      Courbois,
i.         Frandescolli dan lain-lain.
Ditemukan pula fam/mata ruma keturunan bangsa Spanyol seperti ;
a.       Oliviera,
b.      Diaz,
c.       De Jesus,
d.      Silvera,
e.      Rodriguez,
f.        Montefalcon,
g.       Mendoza,
h.      De Lopez dan lain-lain.
Cara penulisan fam orang Ambon/Maluku pun masih mengikuti dan disesuaikan dengan cara pembacaan ejaan asing seperti Rieuwpassa (baca: Riupasa), Nikijuluw (baca: Nikiyulu), Louhenapessy (baca: Lohenapesi), Kallaij (baca: Kalai) dan Akyuwen (baca: Akiwen).

2.   Peningalan Portugis yang bersifat sejarah atau peningalan-peningalan yang menjadi tapak tilas kejayaan Portugis di Maluku, juga terfokus kepada bahasa yang hinga kini masih digunakan pada masyarakat Maluku ( bahasa yang digunakan bukan secara umum, beberapa entri kata yang masih tersisah dan masih digunakan sebagai bahasa pinjaman). Beberapa contoh Kata serapan Melayu Ambon dari bahasa Portugis (Eropa) antara lain:
·        Bandera(bendera) : Bandeira (Portugis)
·        Ose/Os (kamu) : Voce/Os (Portugis)
·        Pai (ayah) : Pai (Portugis)
·        Mai (ibu) : Mai (Portugis)
·        Galojo (rakus) : Guloso (Portugis)
·        Kadera (kursi) : Cadeira (Portugis)
·        Kapten : Capitao (Portugis), Kapitein (Belanda)
·        Marinyo (penyuluh) : Meirinho (Portugis)
·        Patatas (kentang) : Batatas (Portugis))
·        Kasbi (singkong) :     Cassava (Portugis)
·        Testa (dahi) : Testa (Portugis)
·        Par (untuk) : Para (Portugis)
·        Marsegu (kelelawar) : Morcego (Portugis)
·        Gargantang (tenggorokan) : Garganta (Portugis)
·        Kintal (pekarangan) : Quintal (Portugis)
·        Konyadu (ipar) : Cunhado (Portugis)
·        Capeu (topi) : Capeo (Portugis)
·        Sapatu (Sepatu) : Capatu (Portugis)
·        Kadera (Kursi) : Cadeira (Portugis.)
·        Teteruga/Tuturuga (Penyu) : Tartaruga (Portugis)
·        Tempo (Waktu) : Tempo (Portugis)
·        Martelu (Palu/Martil) : Martelo (Portugis)
·        Pombo (Merpati) : Pombo (Portugis)
·        Feneti (Peniti) : Alfinete (Portugis)
·        Capato (Sepatu) : Sapato (Portugis)
·        Pastiu (Bosan) : Fastio (Portugis)
·        Sono (Tidur) : Sono (Portugis)
·        Pardidu (Suka Jalan) : Pardido (Portugis)
·        Testa (Dahi/Jidat) : Testa (Portugis)
·        Seka (Gosok/Usap) : Seka (Portugis)
·        Kacuping (Anak Kecil) : Kacumpit (Portugis)
·        Ponoso (Pesek) : Ponoso (Portugis)
·        Bubengka (Kue) : Bibengka (Portugis)
·        Goropa (Jenis Ikan) : Garoupa (Portugis)
·        Kartas (Kertas) : Cartaz (Portugis)
·        Pasiar (Pesiar) : Pasear (Portugis)
·        Tampa (Tempat) : Tampa (Portugis)
·        Tela (Batu Bata) : Telha (Portugis)
·        Laguna (Danau) : Laguna (Portugis)
·        Calana (Celana) : Chalana (Portugis)
·        Oras (Waktu) : Oras (Portugis)
·        Bastiong (Bagian Benteng) : Bastian (Portugis)
·        Salero ; Ternate (Garam) : Salero (Portugis)
·        Maraju (Merajuk) : Marraio (Portugis)
·        Fogado ; Ternate (Gerah) : Fogado (Portugis)
·        Dan sebagainya (lihat tulisan di Blog ini tentang Kamus Bahasa Hari-Hari Ambon)

Bahasa Melayu sebagai lingua franca daerah semenanjung Melaka (Malaysia), Sumatera dan pulau-pulau lainya, yaitu bahasa Melayu sudah tentu dipelajari untuk berhubungan dalam hal perdagangan mahupun sebagai bahasa sehari-hari untuk berkomunikasi dengan orang-orang pribumi di Nusantara. Pada saat orang-orang Portugis sampai di Maluku, tepatnya di Pulau Ambon lingua faranca inipun ditemui di Pulau Ambon yang masyarakatnya mengunakan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi. Sementara bahasa daerah (bahasa tanah) yang digunakan di Maluku terlampau berbeda untuk dapat digunakan sebagai bahasa perantara dan dapat dikara bahwa pemasukan ide baru, baik dalam hal agama, perdagangan tidak terkecuali juga bahasa.
Pigafetta dalam buku catatanya telah membuat satu daftar kata Melayu-Italia, walaupun ejan dari kata-kata Indoensia telah menggambarkan pengaruh suatu dialek local, namun dapat disimpulkan taraf hubungan antara pendatang dan politik dalam hubungan ini terutama terdapat dalam perdagangan dan politi local agama dan kehidupan sehari-hari.sementara komunikasi antara raja-raja di Maluku dengan raja Portugis mengunakan bahasa Melayu kemudian oleh pihak Portugis diterjemahkan kedalam bahasa Portugis, tetapi surat menyurat antar raja pribumi dengan raja protugis diganti dengan bahasa Portugis mungkin karena Portugis telah menjadi penguasa tunggal pada saat itu. Dapat diduga hal ini karena orang Portugis berusaha untuk mengajar bahasa mereka dan karena sistim fonetik bahasa Portugis tidak terlalu sulit untuk dipelajari oleh orang-orang pribumi Maluku
Bahasa Portugis, sekitar tahun 1540 dan selanjutnya telah umum digunakan di kota Malaka, Goa, dan juga Maluku yang menjadi bahasa pengantar bagi bolongan atasan, sipil,militer, pedangan. Para sultan di Maluku dan raja-raja di Pulau Ambon (Hitu) yang melawat ke Malaka dalam berhubungan dengan benteng Portugis mengunakan bahasa Portugis, dalam dokumen-dokumen Portugis sultan hairun (Sultan Ternate) disebut sebagai seorang ahli bahasa dan sastra Portugis. Pengaruh bahasa Portugis terhadap masyrakat Maluku waktu itu sehinga membuat banyak pemebendaharan kata dalam bahasa Portugis kedalam bahasa Melayu Ambon, Conto diatas

3. Pengaruh kembudayaan yang masih tersa bagi orang Maluku saat ini selain adanya benteng-benteng peningalan bangsa Portugis di Maluku, pengaruh pertugis lainnya adalah dengan adanya nama-nama keluarga atau lebih lajim sebutan orang Ambon fam yang berasal dari Portugis yang dapat kita temui di tengah-tengah masyarakat Maluku seperti Costa, de Fretes, Pareira, da Silva, dan sebagainya. Pengaruh Portugis ini disebabkan karena kebijakan politik yang bangsa Portugis untuk mengekalkan kedudukannya di Maluku, dimana para pedagang dari Portugis harus beristrikan orang pribumi, demikian pula denagn gelar kebangsawan yang digunakan oleh pemuka-pemuka pribumi seperti gelar Dom telah diberikan sejak tahun 1512 oleh Fransisco Serrao kepada Jamilu salah seorang dari empat perda hitu, pemberian gelar ini adalah prerogative Raja Portugis dan hak pemakaian langsung dari keturunan seorang raja.

4.  Satu golongan yang mempunyai kedudukan yang kuat sebagai perdangang dari Bangsa Portugis adalah orang kaya, walaupun Portugis berusaha untuk mendapatkan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, namun saudagar-saudagar dari daerah lain masi tetap datang berdagang dimana kebun rempah-rempah sudah melusa keberbagai daerah dan tidak terbatas hak milik tanah oleh raja saja. Kedudukan angota-angota negeri yang mempunyai tanah dan dapat memperdagangkan hasil kebunnya dengan untuk yang banyak, kelompok-kelompok orang kaya ini kemungkinan bermunculan pada waktu berdatangan saudagar-saudagar dari Jambi,Malaka dan Jawa yang tiba diperairan Maluku, Golongan ini pertama kalinya terdapat di Banda dan tidak termasuk dalam hirarki susunan adat. Namun, lambat laun mereka mulai memegang peranan sebagai pemuka Masyarakat walaupun tetap membayar upeti kepada Raja.

5.   Penginjilan yang dilakukan padri-padri yang langsung hidup di tengah-tengah masyarakat telah meyebarkan agama Kristen Katolik kepada masyarakat Maluku walaupun agama Kristen Katolik dalam kekuasan Belanda secara sistematis diganti dengan penginjilan agama Kristen protestan, walapun demikian ritual-ritual agama Katolik masi bersisa dalam tata cara Protestan. Pada waktu Franciscus Xaverius berada di Malaka, menjelang keberangkatanya ke Maluku dalam tahun 1546 ia telah merasa untuk keperluan terjemahan ajaran-ajaran Katolik ke dalam bahasa Melayu untuk mempermudah penyebaran agamanya. Semetara peningalan Portugis lain yang masi terjaga dalam masyarkat Maluku seperti paikan (pakain adat), musik dan kesenian lainya perubahan dalam pakain ternyata dari kata-kata sapatu, cinela, kalsong.. tarian yang masih terisa seperi tarain polones, wals, quadrille, dan polka, kemungkina tarian-tarian ini masuk Indonesia pada abad ke-19 tetap tarian ini disebut Portugis. Tarian-tarian ini dibawa oleh pelaut-pelaut Portugis yang masuk ke Maluku.


Sumber : Dari berbagai sumber.

Kamus Bahasa Hari-Hari Ambon




A


ABU
= Debu
AER
= Air
ANIONG ; ANYIONG
= Alat bantuan untuk menjinjing sesuatu di kepala, yaitu dari kain.
ARUARU

= Alat yang terbuat dari kayu atau Bambu yang lazim di pakai untuk membuat papeda (makanan khas Maluku).
AMANISSA

= Salah satu alat penangkap ikan (sejenis "bubu" kecil), yang dianyam dari bambu bebentuk seperti kerucut.
ATITING
= Wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
AMATOO
= Ucapan selamat tinggal ; Sampai Jumpa.
ANANAS
= Nenas.
ANDARINYO
= Capung
ANANA ; ANA-ANA
= Anak-anak.
ASISANG
= Yang pertama mencoba, mempraktek, atau memulai.
AGAS
= Sejenis serangga kecil, mirip nyamuk yang suka menggigit.
ANGGALE
= Bolak-balik/asik
ANYO-ANYO
= Terapung-apung ; hanyut oleh arus/aliran air
AHE ; TAHE
= Ikat menyambung sesuatu.
ASSO
= Tidak sekarang.
AMUNNA
= Membersihkan sesuatu/segala sesuatu.
AKORT
= Bermufakat/setuju
AHALANG
= Alat bantu untuk memikul Air.
AHEBO
= Luka-luka kecil akibat gatal/Bekas luka di kulit
ALE

= Anda, Kamu (Sebuatan umum, yang terkesan menghargai siapapun yang menjadi teman berkomunikasi).
ALLAPA


= Sebutan yang biasa dipakai, yaitu mengarah pada situasi yang belum tentu diketahui hasilnya, apakah bisa berhasil atau tidak ; lebih bersifat pesimis.
ALAPRITOL ; ALPLETOL



= Sejenis senjata yang dahulu dibuat dari potongan-potongan kayu, yang ditajamkan ujung-ujungnya (kedua sisinya) ; dan cara penggunaannya oleh mereka yang senang memakai senjata ini yaitu mereka mahir melampar.
APULA
= Kulit buah kenari bagian luar yang telah membusuk
ATORANG
= Peraturan
ARUMBAI ; AROMBAE
= Perahu Kora-kora.
ASANG
= Asam
ASUANG

= Potongan kayu mentah, yang di potong dalam ukuran-ukuran tertentu untuk membuat pagar pekarangan rumah (misalkan), dll.
AER
= Air
ATLEPA
= Menaruh sesuatu dengan posisi melintang panjang.




B

BADO
= Sama dengan ; Sama saja.
BAILEO ; BAILEU
= Rumah adat
BATEREK
= Usil/Jahil/bercanda
BALAGA
= Angkuh, sombong.
BALLABOR
= Blepotan.
BALAMBOR
= Berserakan kesana sini ; menunjuk pada sampah yang berserakan.
BALLA
= Belah, atau sebutan lain dari hendak memukul seseorang.
BAMETI

= Kegiatan melaut waktu air surut "meti"(dalam bahasa Ambon), untuk mencari ikan, keong (bia), dll.
BASONDO
= Menyelah pembicaraan orang lain dengan sengaja tanpa meminta izin.
BABOSTOK
= Sebutan bagi seseorang perempuan yang berbodi sintal.
BABENGKENG
= Meraju yang berlebihan dan hendak menarik perhatian orang lain atas tidakannya.
BAPIKOL
= Memikul
BABELO
= Menggali lobang/Cangkul
BABANTING
= Meraju yang berlebihan dan menjatuhkan badan ke tanah.
BAOSTAR
= Jorok/kotor sekali.
BALE
= Balik/kembali
BALLE
= Melilit/mengikat.
BALEK/BELEK
= Kaleng
BARIBUT/BARIBOT
= Buat gaduh.
BALEJA
= Sesuatu yang sangat lembek jika dipegang (bersifat cair), berlumur. Bergetah.
BALAGU

= Belagu, suka jual mahal, suka menarik perhatian orang, jika ditawarkan sesuatu malu-malu tapi sebenarnya mau.
BALENGANG
= Oleng
BALENGGANG
= Goyang
BALANGA/BALANGANG
= Wadah yang terbuat dari tanah liat, berbentuk belanga.
BADAKI
= Lihat baostar
BAGALI
= Perasaan geli terhadap sesuatu.
BALOBE


= Kegiatan melaut untuk mencari ikan pada waktu malam saat air surut (meti), Dengan diterangi lampu GAS (Petromax) atau obor, dll, dan dilengkapi dengan Perkakas lainnya seperti parang, kurkunci, kalawai, untuk menangkap ikan.
BALIMBING
= Buah belimbing.
BONTAL
= Bulat
BOUT
= Potongan Danging dalam ukuran besar.
BORGOR
= Besar ; Sebutan untuk untuk salah satu jenis nenas, yaitu "Ananas Borgor".
BATONG ; BETONG
= Kami ; kita
BANANG RAJA
= Pelangi
BANANAH
= Bernanah
BEMBENG
= Jinjing dengan tangan.
BAKANDA
= Main serong/selingkuh.
BAKASANG



= Bakasang adalah produk fermentasi ikan secara tradisional dengan cara memfermentasi ikan-ikan kecil atau isi perut ikan-ikan besar hasil sampingan industri pengasapan ikan yang terlebih dahulu dicampur dengan garam yang banyak dikonsumsi di daerah Maluku dan Sulawesi Utara (Manado)
BASTEL
= Bergaya
BAKIRA
= Permisi mendahului.
BATAMANG
= Berteman, atau Menemani.
BATAMBONG
= Banyak sekali
BAGAHE
= Rangsangan hendak menarik keluar dan membuang lendir dari dalam mulut.
BILALO
= Proses melicinkan jubin/lantai dengan cara tradisional.
BASALENG
= Memakai baju.
BARNANG
= Berenang
BARANTANG
= Kesepekatan membagi hasil atau tanggung jawab dengan adil.
BAKESTENG

= Untuk mendapatkan beton dengan ukuran tertentu, adonan ini dituangkan ke dalam cetakan.
BAKAREO ; BAKAREU
= Berkelincang ; semacam gemetar ; badan bergerak-gerak karena rasa sakit atau rangsangan sesuatu.
BACICO
= Perilaku anak yang tidak tenang ditempat,
BANER
= Akar pohon besar seperti Pohon Beringin, Durian, Kenari, dll.
BONGSO
= Adik, saudara gandong.
BOBOU
= Bau
BOLANA
= Nama ikan
BOBARA
= Nama ikan
BOMBAT
= Sangat gemuk
BORGOR
= Kasta besar
BICO
= Perut Buncit ; gerak lambat, tidak gesit karena berat badan yang berlebihan.
BINTOL
= Benjol
BIKING
= Buat
BINTANGGOR

= Nama pohon yang buahnya dahulu dijadikan bahan dasar pembuatan lilin tradisional orang Maluku, namanya "KANJOLI" .
BISTUNGKER
= Tanaman ubi kayu yang bertumbuh sendiri di alam.
BOBENGKA ; BABENGKA
= salah satu penganan khas Maluku Tengah, seperti BOBENGKA HARUKU.
BISOL
= Bisul.
BOLOLENG
= Roti ; identik dengan roti goreng.
BORE
= Membius Ikan, dll.
BROT
= Roti.
BAGARA
= Bergerak.
BOTI
= Buncit
BULANG
= Bulan
BELANG

= Kelompok pendayung arumbai ; salah satu olahraga dayung tradisional di Maluku Tengah "perahu belang".
BEMBANG
= Mengantar pergi seseorang
BERA
= Buang air besar
BERANG


= kain yang sengaja diikat di kepala oleh orang Maluku Tengah dan sekitarnya, sebagai tanda tertentu, dengan pilihan warna-warna sesuai dengan adat istiadat atau kondisi-kondisi tertentu (Misalnya Berperang).
BUJU
= Menimang anak untuk cepat tidur.
BUJU-BUJU
= Merayu ; nina bobo (menidurkan anak/bayi)
BONENG
= Sebutan untuk gigi seri yang mencolok kedepan.
BALAMBOR

= Membuang sesuatu (sampah) dengan sembarangan dan tidak teratur (tidak pada tempatnya).
BOMBONG

= Penuh sampai tumpah/ wadah yang diisi sampai penuh dan dipaksakan untuk tetap bisa menampung lagi.
BUTU
= lihat KALOT ; Sebutan untuk Penis.
BULU
= Bambu.
BEMBANG
= Menghantar atau mengarahkan.
BOBBA
= Luka yang bernanah, dan telah membesar.
BALACANG
= Terasi
BULLUS
= Blous ; pakaian perempuan.




C

CAKE/CEKE
= Makan ; biasanya sebutan ini sangat kasar.
CAKADIDI
= Agresif, seseorang yang suka tidak tetap ditempat.
CACURANG
= Alat untuk membantu mengisi miyak pada kompor, Botol, dll.
CAPOCI
= Salah satu jeni permainan anak-anak
CAPEU
= Topi
CALANA
= Celana
CIDAKU
= Celana
CAMPARADU
= Amburadul, tidak tertata.
CALAKATE
= Sudah agak matang
CECELEPU
= Di buat kepayahan/payah.
CUNGKEL
= Mengungkit sesuatu agar terlepas.
COLE
= Tusuk konde
COLO
= Celup
COBE
= Wadah untuk membuat sambal/terasi.
CIGI
= Tarik dengan spontan.
CIKAR
= Hendak melakukan sesuatu dengan Segera/Serempak
CIKUANG
= Sebuatan lain untuk hendak memukul, menjitak, dll.
CUBI
= Cubit
CUCUR
= Salah satu penganan khas Ambon
CUKI

= Proses penetrasi saat bersetubuh (making love) ; sering juga dipakai sebagai salah satu makian.
CUKIMAAI
= Makian ; yang artinya bersetubuh dengan ibu.
CUKARDELLEN
= Makian yang dianggap sedikit halus dari"cukimaai atau cuki"
CELE

= Salah satu model pakaian tradisional khas Maluku Tengah ; Pulau Ambon, dan sekitarnya (baju cele).
CERE
= Cerai
CEBO

= Membersikan anus/kelamin setelah membuang air besar dengan memakai air/tissu
CILAKA
= Celaka
COLO COLO

= Kua Asam dari asam lemon cina atau asam cuka, yang biasanya menemani makan papeda.




D



DAGANG
= Sebuatan khas untuk orang Asing, atau pendatang ; "orang dagang".
DAKI
= Kotor, kotoran yang menempel pada kulit berupa debu dan lain sebagainya.
DAPOR
= Dapur
DEGDEGU
= Tempat memasak yang dibuat tergantung.
DIPANG
= Tempat tidur, yang tidak berkasur.
DODESU/DODESO
= Perangkap, jerat.
DULANG
= Wadah yang biasa dipakai berbentuk baki, tapi terbuat dari kayu.
DANGKE
= Terima kasih.
DONDANG
= Sebutan bagi buah ZAKAR.
DORIANG
= Durian
DOTI
= Semacam ilmu santet
DOLO
= Dulu
DOMINGGU
= Hari minggu, sebuta dari orang Sarani di Ambon untuk hari beribadah.
DODAGA


= Motif depan dari sebuah kain, yang biasanya di kenal sebagai tanda pembeda, mana bagian depan kain, mana yang bagian belakang sebuah kain sarung saat di pakai.




E

EMPENG ; KAREMPENG
= Kurus
ELA

= Isi sagu yang baru di ambil dari pohonnya sebelum diperas menjadi sagu mentah (saripati).
ENDANDEP
= Salah satu permainan tradisional anak-anak.
ELMESSEH
= Sebutan untuk "YESUS"
ENGGO ; -- BASAMBUNYI
= Salah satu permainan tradisional anak-anak.
ELLENG
= Gentar ; takut.



G

GARGANTANG ; GERGONTONG
= Kerongkongan
GABA-GABA

= Pelepah pohon sagu, yang biasanya di pakai maluku membuat dinding rumah, rakit, dll.
GARGATANG
= Gemas
GARRAP
= Bekas aliran sungai/kali yang sudah kering.
GALOJO ; GOLOJO
= Rakus
GACU/GACO
= Sesuatu (orang dsb) yg diandalkan dapat menang dl pertandingan atau permainan.
GAMBRET
= Semacam hompimpa
GATA-GATA
= Alat untuk menggulung adonan Papeda (makanan khas Maluku.
GOSEPA
= Rakit
GOSSO
= Elus
GOSAU
= Nama ikan
GORINDA
= Mengoyak-oyak sesuatu dengan kasar.
GALAS
= Gelas
GALOS/GOLOS/GLOS

= Satuan gulungan benang dengan panjang tertentu biasanya untuk bermain laying-layang (layangan)
GOBANG
= Uang logam
GOGOS
= Nama salah satu penganan khas Ambon yang terbuat dari beras ketan.
GOLEBA
= Tali yang dibuat dari anyaman kulit dahan kelapa, atau dahan sagu yang muda.
GOROS ; GAROS
= Besar.
GOMIRA
= Nama sayuran
GANEMU ; GANEMO
= Nama sayuran melinjo
GEPE
= Tindis, tekan.
GETE-GETE

= Nama ikan berukuran kecil (sering dipakai sebagai kiasan melambangkan yang "kecil").
GOYAWAS ; GIJAWAS
= Jambu biji
GOTANA
= Nama ikan yang bau amisnya sangat kuat.
GATA
= Mencoba mencepit sesuatu dengan suatu alat bantu.
GATA-GATA
= Alat tradisional untuk menjepit bara api didalam tungku.
GILI-GILI
= Rasa Geli ; Menggelikan hati.
GENGGO


= Sejenis serangga yang suka sekali anak-anak kecil menangkapnya dan mengikatnya dengan benang, dan membiarkannya terbang. Ada dua jenisnya, berwarna hitam kebiru-biruan, dan yang satu jenis lainnya berwarna emas (ukurannya agak besar).
GONDAL
= Nama pohon




H

HOTU/HETU
= Bicara
HOGOR
= Membawa issu
HAHESSI
= Tali yang dibuat dari kulit luar bambu.
HAHAKAE
= Makan puji.
HALUA
= Penganan yang terbuat dari kenari dan gula merah ; cocok untuk ngemil.
HAYAL
= lihat Kapista
HAGA-HAGA
= Mencoba-coba.
HELAHAI
= Menghela napas dalam-dalam, menghela napas tanda sekarat.
HODENG
= Bagus.
HENER
= Mengalir/hanyut.
HOHATE/HUHATE
= Pancing.
HEK
= Ceguk
HOKMAT
= Berbicara secara spontan dan tegas dengan suara yang keras ; membentak.
HOSTES
= Sebutan untuk wanita panggilan ; pelacur.
HESSE
= Ceper ; tidak berbentuk bulat atau elip yang benar.
HUTUL
= Rorok ayam




I

ISKOROBI
= Usir ; mengusir.
ISTIRIKA
= Setrika
ISKEREK
= Kaget
ISTEREK
= Kuat tenaga, gaga perkasa.
ILO
= Jinjing di atas bahu ; lihat "pikol/hala".
ISTORI
= Berbicara/bercerita
IDONG
= Hidung
ISTAGA
= Astaga
ISAEE
= Hujatan
INA
= Nona ; perempuan muda.




J

JUJARO
= Nona, gadis, perempuan yang masih muda.
JALONTO
= Gaya menungging.
JAMBAR

= Alat tradisional penumbuk untuk meratakan tanah pada saat membuat pondasi rumah atau jubin.
JUK
= Alat musik berbentuk gitar mini.
JAMBATANG
= Jembatan.
JENGKRIK
= Mengutik Jari tangan.




K

KALAMUMUR
= Ketombe
KALAWAAI

= Alat berbentuk tumbak yang dibuat khusus untuk menangkap ikan dengan cara di tikam pada saat "Balobe".
KAKOPANG
= Bagian pucuk kelapa yang belum menjadi janur.
KAKURANG
= Alat parut kelapa tradisional, dengan cara di 'di kukur'.
KAKUSANG
= sebutan untuk sejenis buah Langsa (langsat) atau duku.
KALAMARENG/KAMARENG
= Kemarin
KABUALANG
= Mengkibuli ; cerita bohong.
KADERA
= Kursi
KALABOR

= Sebutan untuk kepribadian yang jahil, usil atau gegabah dalam melakukan sesuatu ; tidak tertib (sembrono).
KALAPA
= Kelapa
KALESANG
= Merawat, melestarikan.
KALOT
= Penis
KARTAPEL
= Katapel
KAPOT
= Hilangkan ; kasih putus.
KAMONG/KAMORANG
= Kalian ; anda sekalian.
KARBOU
= Kerbau
KAMBELLO
= Orang bodoh ; idiot.
KARSANG
= Celana dalam.
KAREPU
= Keriput
KACUPENG/KACUPING
= Kecil ; sebuatan untuk sesuatu yang berukuran kecil.
KAKA
= Kakak
KAKARLAK
= Kecoak
KANJOLI

= Alat penerangan tradisional berbentuk lilin, yang terbuat dari pengolahan isi buah bintanggor.
KALALERANG
= Melarat
KASKADU
= Penyakit lepra
KALADI
= Keladi
KABBAS
= Kebas
KACONG
= Permainan tradisional khusus anak-anak perempuan.
KASBI
= Singkong
KAPITANG
= Panglima perang
KARNOPOL
= Menjitak ; biasa menjitak kepala seseorang dengan maksud bergurau.
KASTEN
= Pantul kembali karena terkena sesuatu.
KAPATA


= Syair-syair tradisional dengan bahasa "tanah" (bahasa daerah) asli daerah Maluku tertentu, yang beisikan berupa puisi, pantun, dll yang di perdengarkan pada waktu-waktu tertentu.
KALLOM/KALOMPENG
= Sepatu slop khusus perempuan.
KANNES
= Kepribadian yang judes, keras orangnya (khusus untuk perempuan).
KAL
= Kalau
KANARI
= Kenari
KALLAP
= Tempeleng ; tampar.
KAKISARIBUS
= Kelabang
KALAMBU
= Kelambu
KALEWANG

= Parang Panjang ; Pedang panjang yang historisnya berasal dari bangsa portugis dan di adopsi namanya oleh orang Ambon.
KAPISTA
= Centil ; atau sering juga sebutan untuk perempuan muda yang agresif.
KARONTJI

= Sebuah tanda khusus, yang di buat dalam tradisi orang Ambon Lease, bagi yang meninggal dunia dalam usi muda (belum menikah).
KAWAJA
= Pelit
KERONG-KERONG
= Nama ikan
KELE
= Bergandengan tangan
KEKU
= Menjinjing sesuatu diatas kepala.
KERKKO
= Kuburan
KES
= Monyet
KITA'IL
= Makan puji yang berlebihan.
KINTAL
= Pekarangan rumah.
KISSING
= Habis tidak tersisa.
KINCING
= Kencing
KOMBALI
= Kembali
KOYABU
= Penganan dari kasbi
KOLOT
= Lihat kalot
KOCO
= Berputar-putar ; mengocok.
KOCOBUTU
= Onanani ; sering di pakai sebagai salah satu "makian".
KOLOMBENG
= Nama penganan
KOKOTANG
= Hewan yang biasanya berukuran kecil, membuat lubang di pasir.
KOPAU
= Nama penganan dari bakpau
KOI
= Kerangka tempat tidur
KOPPER
= Bekas luka di kepala yang kelihatan menyala.
KORE
= Colek.
KROIS
= Silang ; tanda silang.
KOMPENG
= Sebutan kiasan untuk Vagina ;
KOMBILI
= Ubi merah
KORSOU

= Alat ; salah satu perkakas tukang kayu untuk menguji sisi kayu apakah sudah benar-benar rata atau belum.
KONTO/KONTO
= Kentut
KOTEL
= Pendek ukuran badan.
KUKU
= Hendak menikam sesuatu dari bawah keatas.
KUKKIS
= Kue
KUKUR
= Parut
KUMUR
= Lidi
KUMUR-KUMUR
= Menggumam perkataan di dalam mulut.
KUSU
= Kuskus
KULINCANG
= lihat KOPPER.
KUURKUNCI


= Alat yang hampir sama fungsi dengan kalawaai, tetapi terbuat dari besi ukuran kecil, atau sedang, yang di pakai untuk menanggap ikan, Gurita, atau teripang, dll waktu pergi "Bameti" atau "Balobe".




L

LABOR
= Hendak memoles sesuatu ; seperti dengan minyak, cat atau tinta, dll.
LABUANG
= Sebutan untuk areal tempat di sauhnya perahu-perahu nelayan.
LAIPOSE
= Suka merayu, tebar senyum
LAKLAKI
= Laki-laki
LASONG
= Lesung
LALA
= Lelah ; capek
LAOR


= Lahor ; hewan mirip cacing yang muncul di permukaan laut Maluku (dibeberapa tempat di Lease, Ambon, Seram, dll) satu tahun satu kali, yang memiliki kandungan protein yang tinggi ketika di konsumsi.
LALAMONG

= Jenis tumbuhan di Laut, yang pada waktu musim ombak di Periaran Maluku, tumbuhan ini banyak berhamburan di tepi pantai.
LAIYA
= Hendak memanjat pohon, atau memanjat sesuatu.
LALAMAL
= Nama ikan kakatua
LABE
= Lebih
LAP
= Tampar
LAT

= Telat ; Dua sisi yang saling menempel dan sama ukuran/ sama sisi kemiringannya. Contoh Lat Meja, Lat Dinding, dll
LAPAS
= Lepas.
LANSYIK
= Terasa sedikit melelahkan dan agak malas jadinya.
LASSI
= Hendak melakukan sesuatu yang negatif kepada seseorang.
LASTE
= Terakhir
LASTOK
= Makian.
LAWA-LAWA
= Jaring laba-laba.
LOBE
= Pelepah kering pohon kelapa
LOCO
= Salah satu jenis makian yang cukup keras.
LOMBO
= Terasa lemas ; dan juga arti lainnya "lembek"
LOKO
= Pegang
LOPIS

= Salah satu jenis penganan khas Ambon, yang terbuat dengan bahan dasar singkong dan Pisang.
LOSNOT
= Makian.
LOLEBA

= sejenis tali/tambang tradisional orang Maluku yang di anyam dari pelepah yang masih muda dari pohon Sagu.
LOSIANG/LUISIANG
= Kondisi tubuh yang lemas akibat banyak bergadang sampai pagi.
LELEHULO
= Lalat-lalat kecil ; tetapi juga sebuatan lain dari AGAS.
LEPU-LEPU

= Orang yang tidak mampu secara pisik, atau sebutan bagi orang keterbelakangan mental.
LETU/LOTU
= Hendak memangkas dahan atau ranting pohon.
LEMBE-LEMBE
=
LIANG
= Batu karang besar
LUBANGPUKI

= Liang/lubang alat kelamin perempuan (Vagina) Makian yang sangat kasar dari orang Ambon, biasanya kalau makian ini disebutkan, pasti akan terjadi perkelahian, atau sesuatu yang tidak terkontrol emosional antara yang bertikai.
LUTU
= Lutut.
LUR
= Mengintip.




M

MACANG
= Macam.
MAMAH
= Kunya
MAMBORO
= Tidak tertutup rapat.
MAMPOS
= Mati
MAMANCANG
= Berlagak
MALEU/MALEO
= Ayam hutan.
MALLAPO
= Melepuh
MALAHORI
= Suka berjalan berkeliaran di malam hari dengan tujuan yang tidak jelas.
MANCADU
= Kapak.
MANGKERA

= Suka melakukan perbuatan yang beresiko bagi diri sendiri. Contoh anak perempuan mangkera jalan ngerumpi sampai larut malam.
MANGANTA
= Meriang karena kesakitan.
MANGE-MANGE
= Hutan bakau
MARTELU
= Martil ; palu
MATI MANGGALA
= Mati suri.
MANDIDI
= Mendidih
MANJILING
= Melirik ke samping
MANISO

= Lihat BACICO, tapi tidak hanya identik dengan anak-anak, tetapi juga orang dewasa ; Pemangsa ; Penggangu.
MANGANTO
= Mengantuk.
MANGGARANG
= Menggerami
MANGGUSTANG
= Buah manggis.
MASIN(g)
= Mesin ; asin.
MANUMATA
= Salah satu bagian dari atas rumah Baileo, khas orang Maluku Tengah.
MANAMPAL
= Menempel
MANGENTE
= Berkunjung mencari tahu sesuatu ; sengaja meninjau ; melihat-lihat sebentar.
MAYANG
= Pohon Enau ; Buah yang sudah sangat ranum.
MANARA
= Perkakas-perkakas untuk membangun rumah ; alat.
MENTEL
= Sebutan untuk kebiasaan hidup yang mirip pelacur.
MELANG
= Mandul
MEME
= Mama
MELLEK
= Sudah agak rusak/busuk ; identik dengan makanan yang sudah mulai rusak.
MEKU
= Perduli
METI
= Air surut
MOLLO
= Selam
MONTAR
= Modal
MONGO-MONGO
= Berperilaku bodoh.
MOMO
= Saudara laki-laki dari ibu.
MOMOU
= Bisu
MOKKO
= Mangkok
MORETTU
= Sebutan ejekan buat seseorang yang buruk rupa.
MUI
= Saudara perempuan dari Ibu.
MURSEGU/MARSEGU
= Kelelawar.
MURUPA

= Sebutan untuk buah jatuh karena pengaruh hal lain (penyakit), namun belum ranum ; atau sesuatu yang gagal produksi.
MUTEL
= Kelereng/gadu
MUSTAHAK
= Punya andil ; wewenang ; hak.


N

NAUNAU
= Bodoh, Goblok, Buta huruf
NAHAS
= Tradisi menandai tanda-tanda alam untuk suatu kepentingan.
NANALA
= Lagi dan lagi ; mau terus.
NANAKU
= Mengamati ; Menandai sesuatu dengan cara melihat.
NANERI
= Taring pada Babi hutan
NEPTANG
= Tang
NONAI
= Umpan
NONA
= Anak perempuan
NYONYOR
= Ketimpal sial ; babak belur.
NISI
= Mengupas, mengiris, memotong sesuatu dengan hati-hati karena tipis sekali.
NIBONG
= Tumbak Tradisional yang terbuat dari salah jenis kayu.
NINI
= Melihat dengan seksama sesuatu dari kejahuan, dan tetap fokus.
NIRI
= Lebah


O

ORAS
= Waktu, jam
OSE/SE
= Kamu, Anda (sebuatan hari-hari, dan terkesan sedikit kasar)
ONOSEL
= Genit ; cari muka kepada lawan jenis.
OMPRENG
= Mangkok/piring yang terbuat alumunium atau seng.
OOM
= Paman
ONDOS
= lihat "Onosel"
ONA
= Nona
OTO
= Mobil




P

PADIS
= Rasa pedis.
PADEDE
= Cengeng
PAKE
= Pakai
PALLAU
= Lapar
PALAKA
=
PARENTA
= Perintah
PALATENG
= Menganyam rambut ; rambut kepang
PASNANA
= Pemakan segala ; rakus
PASTIU
= Bosan
PARDIDU
= Berkeliaran sampai lupa rumah.
PARLENTE
= Penipu
PARAMPUANG
= Perempuan
PAMERI
= Memotong rumput dengan parang panjang.
PANDEKENG
= Orang penolong ; helper
PATTILAWARU
= Menerobos masuk dan hendak berkuasa, memonopoli terhadap sesuatu.
PALATENG
= Mengayam ; identik dengan menganyam rambut.
PALASI
= Tobat ; kapok
PAPEDA
= Makanan Khas orang Maluku yang terbuat dari bahan dasar Sagu.
PAPARIPI
= Tergesa-gesa
PAPARISSA
= Rumah kecil
PARLAK
= Karpet yang terbuat dari plastik.
PEPE
= Sebutan untuk vagina.
PELE
= Upaya menghalangi
PEKAR
= Terlihat rusak pada sebagian besar suatu barang atau alat.
PLECES
= Mulut Cerewet ; sebuatan bagi mereka yang lincah berbicara.
PIKOL
= Pikul
PILANG
= Pukul, memukul.
PISO
= Pisau
PORO
= Perut
POPO
= lihat Pepe
POLO
= Peluk
POCI
= Cerek kecil
POTAR
= Brengsek, keparat (makian)
PROP

= Memasukan sesuatu dengan sengaja ke dalam wadah tertentu dengan paksa ; kata ini juga diartikan sebagai "proses makan", namun berkonotasi negatif (kasar).
PUSTEMA
= Makian
PUKI
= alat kelamin Wanita (Vagina), lihat Pepe -, Popo.
PUKAR
= kata makian dengan tujuan menyamarkan kata yang sebenarnya (PUKI).
PUSA
= Pusar
PUKOL
= Pukul




R

RAROBANG

= Sebutan untuk hasil dari santan kelapa kental yang telah direbus ; dari rarobang kemudian akan menjadi minyak kelapa (minyak goreng tradisional).
RACONG
= Racun
RABE/ROBE
= Sobek; robek
REP

= Sebutan untuk potongan kayu yang di pakai untuk salah satu bahan bangunan, dengan ukuran yang berbeda. Misalnya ; REP ukuran 5x7cm, dll.
REGEL
= Sebutan untuk PEGANGAN tertentu. Seperti pegangan pintu, pegangan lemari, dll.
REMBENG
= baca : Jinjing
REPPE
= Pelat, penyok, penyet.
REKENG
= Menghitung, menjumlahkan.
REKU



= Suatu bagian ruang yang berada persis diatas tungku memasak secara tradisional orang Maluku, yang disebut Para-para, yaitu dibuat dengan sengaja untuk mengasapi bahan makanan atau juga buah-buhan tertentu, seperti mengasapi buah pala, dan buah kenari.
REU

= Sebutan sindiran ; dan memberi terkesan kuat kalau ia sudah tua, pikun, tidak berguna (tidak kuat) lagi.
REDI

= Salah satu sebutan dalam tata cara menangkap ikan dengan memakai alat tangkap “jaring”.
RIKKO
= Takut, gentar.
RODO-RODO
= Bertubi-tubi
ROKO
= Rokok.
ROSTER
= Lembar berisikan suatu jadwal mata pelajaran atau kegiatan lainnya.
ROTANG
= Rotan




S

SABALA
= Sebelah ; sebagian/bagian
SABARANG
= Tidak benar, salah.
SAARU

= Bagian dari lautan yang tidak terlalu dalam. Dan daerah ini selalu mendapat perhatian serius untuk aktivitas nelayan.
SABATANG
= baca Sepohon, satu batang. Atau punya arti lain : mengartikan sesuatu yang BESAR.
SABONG
= Sabun
SABOTENG
= Sebutan untuk sesuatu benda yang BESAR.
SABUKU

= Sebutan untuk sesuatu benda yang BESAR. Atau juga dengan kata lain ; SABUKU MAI.
SABOTOL
= Satu botol.
SACUBI
= Sedikit
SACUCU

= Sebutan pada seutas tali yang biasanya dipakai Nelayan untuk menampung hasil tangkapan ikannya.
SACUPA


= ukuran untuk satu CUPAK cengkih. Biasanya jual beli cengkih di Maluku diukur dari ukuran paling kecil yaitu SAGOGO, baru SACUPA dengan memakai satu kaleng susu, atau kaleng cornet.
SADIKI
= Sedikit.
SADONGEN
= Sebutan untuk suatu pilihan (atau apapun) yang bagus dan tepat sekali.
SAGU
= Nama pohon, makanan khas orang Maluku.
SAJO
= Sejuk
SAKARANG
= Sekarang
SALAM
= Sebutan orang Maluku kepada penganut agama Islam.
SALELE


= Tindakan melilitkan badan dengan kain, handuk, dll. Atau juga melilitkan pohon dengan tali (benda lainnya) sebagai tanda larangan untuk tidak memanjat pohon tersebut.
SALEMPENG
= Sebutan untuk satu buah sagu bakar.
SALOKI
= Gelas kecil untuk minum minuman berakohol.
SALOKO
= Segenggam, segumpal.
SALORO
= Berpikir tidak baik ; berpikir dengan konsep yang amburadul.
SAMEMER
= sebutan untuk sesuatu benda yang BESAR.
SAMU
= Semut
SANDIRI
= Sendiri
SANANG
= Senang
SANIRI/SANIRI NEGERI



= Sebutan untuk dewan perwakilan masyarakat suatu negeri. Yang terdiri dari kumpulan tua-tua adat, kepala soa, dan perwakilan lainnya yang punya kedudukan dalam setting adat masyarakat Maluku Tengah dan masyarakat pulau Ambon pada umumnya.
SANISA/SANISI

= Tempat kaki pada pohon yang sengaja dibuat oleh seseorang untuk membantunya memanjang pohon.
SANUSSU

= Batang kayu mentah dalam ukuran tertentu yang dipotong untuk membuat sesuatu keperluan. Misalkan untuk membangun pagar.
SANEKAR/SALEKAR
= Selekang, ruas atau ruang diantara.
SANOIL
= Secuil.
SAPA
= Siapa.
SAPARO
= Sebagian.
SAPURI
= Sebutan sindiran bagi mereka yang timpang kakinya atau kaki X.
SARANI
= Sebutan orang Maluku untuk penganut agama KRISTEN.
SASA
= Sesak.
SASAJA

= Lagi dan lagi ; sebutan untuk sikap, karakter, situasi, keadaan, yang terjadi terus menerus ; beulang-ulang ; selalu.
SASELLE
= Hanya sebagian atau sebelah saja.
SASI


= Aturan yang dibuat di tingkat pemerintah negeri untuk menjaga, melestarikan tatanan ekologi negeri tersebut. Supaya terhindar dari tindakan pencurian, eksploitasi, kepunahan, atau kerusakan.
SE



= Kependakan dari kata OSE ; yang artinya kamu, anda. Tetapi penggunaan kata ini dalam konteks budaya Orang Maluku dipandang sangat kasar, dan tidak pantas untuk dipakai bagi orang yang lebih tua, dan kata ini biasanya dipakai dalam konteks pergaualan anak muda.
SELENTER
= Perilaku seseorang yang terkesan tanpa aturan atau tata krama.
SEMANG
= Sebutan untuk kayu penyeimbangan pada sisi kiri kanan dari perahu atau kole-kole.
SEMPE

= Tembikar yang terbuat dari tanah liat, yang spesial dibuat sebagai tempat makanan Papeda.
SENA
= Melenggang.
SENG
= Tidak
SENU
= Linglung.
SELLE

= Tindakan mengeluarkan isi kelapa dari batoknya dengan mencungkilnya dengan parang.
SNEWENG
= Sebutan untuk seseorang yang terkesan kepala angin.
SOA


= Sebutan untuk sub-komunitas pada suatu Negeri yang terhimpun didalamnya beberapa marga. Yang dikepalai oleh seorang pemimpin dengan sebutan “Kepala Soa”.
SOMBAYANG
= Sembahyang, berdoa
SONO
= Tidur.
SOPI
= Minuman beralkohol yang terbuat dari fregmentasi sari pohon enau/kelapa.
SORONG
= Geser.
SOSO
= Hendak berdempetan.
SOWAE/SUWAI
= Lesehan atau bisa juga Tidur di lantai.
SISI


= Lihat selle ; hanya saja membedakan sisi dengan selle adalah letak pada alat yang dipakai. Yaitu menggunakan pisau untuk melakukan sisi kelapa. (2). Salah satu cara mendayung perahu dengan tujuan mengarahkan haluan perahu oleh jurumudi.
SIPAT
= Batas
STEL
= Mengatur, bergaya.
SUAK
= Lemah, lemas.
SUET
= Keringat
SUNGGA

= Jerat atau ranjau yang dibuat dengan cara menanam bambu atau kayu yang telah diruncing.
SUNGSANG

= Hendak membuat isi dari suatu benda yang menyimpannya, dengan cara membalik bagian bawah benda itu ke atas dan bagian atas ke bawah.
SUTENG
= Suit




T

TACOLO
= Terendam.
TACUNGKEL
= Tercungkil/tercabut
TABULABALE
= Terbolak-balik, terbalik.
TABEMBENG
= Bergelantungan
TABALA
= Terbelah
TALANTANG
= Terlantang
TAKANGKANG
= Tersendat-sendat
TALUCU
= Meluncur/jatuh terpelanting karena licin, terpeleset.
TALESU
= Sesuatu yang hendak jatuh kerena kelonggaran, atau kebesaran.
TABANTING
= Terjatuh.
TAGAE/TAGAI
= Terkait
TAPEPER
= Pusing dan mengakibatkan puyang-puyang.
TACIRI

= Kebelet ingin membuang air besar, sampai mengakibatkan sedikit kotoran telah keluar mendahului.
TACIGI
= Kaget
TACU
= Wajan
TAPAREGO


= Mati gaya ; Situasi dimana seseorang sulit memperiotaskan, mana yang hendak ia lakukan lebih awal, karena diperhadapkan dengan beberapa pilihgan sekaligus, dan semuanya penting.
TASALA
= 1). Ada yang keliru/salah, 2). Mengalami Cidera ; keseleo (Jawa)
TARRE
= Kencang.
TARABE
= Menjadi Sobek/robek
TATE
= Jalan kaki
TATUMBU
= Tertumbuk
TAMPURUNG
= Batok kelapa
TAHELA
= Terhisap masuk ; tertarik.
TALANG
= Telan, menelan.
TANGADA
= Berhadapan dengan
TANONG/TANANG
= Tanam
TAMPAYANG
= Tempayang
TAMBUS
= Tembus, menembus
TAMUSAAL
= Sebutan bagi semut-semut kecil berwarna merah, yang sering bersarang di pohon.
TALANJANG
= Telanjang
TALLO

= Membuat cetakan adonan makanan/kue dalam bentuk bulat-bulat kecil/sedang dengan kedua tangan.
TABEA
= Prakata, sapaan hormatan.
TUSSU
= Tusuk, tertusuk.
TAKANGKANG
= Tersendat-sendat
TAKARUANG
= Sembarangan, amburadul.
TAGAL
= Karena, sebab
TATA
= Ayah
TANUAR

= 1). Musim, 2). Waktu yang telah di bagi ; misalkan ada waktunya makan Pagi, makan siang, dan makan malam.
TASI
= Tali plastik yang dipakai untuk memancing ikan.
TAMPIAS
= Terpental
TAROMPONG

= Cerobong ; biasanya sebutan untuk pipa kecil, atau bambu kecil yang dipakai untuk meniup api agar cepat dalam proses memasak.
TAPINDA
= Tergeser
TAKORO
= Kusut ; menjadi berkerut
TARU’U
= lihat : Takoro
TARPAL
= Terpal
TAGALAYA
= Wadah yang terbuat dari ayaman bambu yang hampir mirip dengan Baki.
TALINGANG
= Telinga
TANDANG
= Tendang
TAMPELENG
= Tempeleng
TAJELA
= Tembikar yang terbuat dari tanah lihat, yang berfungsi sebagai alat masak.
TAGATE
= Terpikat
TARIPANG
= Teripang
TARIKA
= Terikat
TADUDU
= Persis pada tempatnya
TADO
= Diam
TALAMBURANG
= Tidak teratur, tidak rapi, Amburadul
TASONTO
= Terantuk
TAPONG
= Tepung
TAGOR
= 1). Sapa 2). Menegur
TEPAR
= Hampir sekarat
TELEPISI
= Televisi
TEP
= Type stereo
TEDONG
= Sebutan untuk kerbau
TETE
= Kakek
TETERUGA
= Penyu / Kura-kura
TESTA
= Dahi
TETU
= Patuk
TIPAR
= Sebuatan utntk proses penyadapan pada pohon enau
TISTISAN

= Sebutan untuk anak perempuan remaja atau dewasa yang berperilaku seperti lagi kasmaran.
TIRIS-TIRIS

= Bagian samping dari rumah yang diukur sampai dengan batas dari atap (penutup) rumah.
TIKANG
= Tikam, tusuk.
TINGGALONG
= Bunglon
TINDIS
= Tindi
TOMBONG
= Biji/buah di dalam kelapa Tua.
TONGKA
= Menyangga, tongkat.
TOMA
= Maju
TONG
= 1). Tuan 2). Drum, tanki air.
TONGALLA
= Tuhan allah
TONGISA
= Tuhan yesus
TONGKE
= Kayu pohon bakau
TOLA
= Dorong
TOSAUL
= Kumbangan babi
TORRO
= Menjauhkan diri, bergeser badan.
TONDA/TUNDA
= Salah satu jenis cara mengail/pancing oleh nelayan di Maluku.
TUTANG
= Gusi
TUSA
= Kucing
TUER

= Sebutan untuk bekas pohon yang sudah Tumbang, atau bekas pohon yang telah di tebang.
TUTU
= Tutup
TUMBU
= Tumbuk




U

UBA
= Obat
UPU
= Sebutan Gelar Tuan atau Tuhan
USI
= Sapaan untuk kakak Perempuan secara umum di Maluku.
UELE

= Sebutan untuk aungan Manusia jika berada di hutan. Misalkan seperti yang sering dilakukan oleh TARZAN.
UKU /UKULEI

= Suatu kesatuan keluarga yang memiliki persamaan garis keturunan atau lainnya, didalam sebuah negeri.
UMPANG
= Umpan untuk dipasang di kail, atau di pancing.
UNTI

= Isi dari bakpau yang terbuat dari parutan kelapa yang digoreng dan dicampur dengan gula merah.
UPING
= Kecil
USER
= Usir, mengusir.
ULU
= Pegangan pada Parang.
ULI


= Sebuatan untuk suatu komunitas masyarakat tradisional di Maluku, yang membentuk hidup berkelompok dan terdiri dari mereka yang memiliki kesamaan latar belakang hidup.
UR
= baca: ULI (pada konteks Maluku Utara)
UPAS
= Jentik-jentik merah pada kulit akibat alergi atau pengaruh lainnya.
UA
= Saudara perempuan dari bapak.
UTANG
= Hutan, Kebun, dusun.




W

WALANG

= Sebuatan untuk rumah yang sengaja dibuat untuk berteduh di kebun, dusun, atau di Hutan.
WATE
= Saudara laki-laki dari bapak.
WER
= Musim
WANGO-WANGO
= Kayu yang sengaja disiapkan untuk perapian di rumah hutan (walang).
WALE
= Sapaan khas dari orang Allang.
WAI/WAE

Fenomena Menjamurnya Tontonan Drama Korea, Drama Cina, Drama Bule, Hingga Drama Lokal Versi AI

KETIKA INDONESIA IKUT MENGARANG ULANG SEJARAH Oleh: Icon Dari Beyond Wukong di China Sampai Bengawan Sore di Jakarta Dua tahun terakhir duni...