Halaman

Selasa, 08 September 2026

DARI PERSATUAN MENUJU PERPECAHAN ; Sarekat Islam (SI)



Merah dan Putih dalam Pergulatan Ideologi Pergerakan Nasional Indonesia


Sejarah pergerakan nasional Indonesia pada awal abad ke-20 tidak hanya merupakan sejarah perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Di dalamnya juga berlangsung perdebatan besar mengenai ideologi, agama, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme, serta cara terbaik untuk membebaskan rakyat Hindia Belanda dari penjajahan. Salah satu organisasi yang menjadi arena pergulatan tersebut adalah Sarekat Islam (SI).

Sarekat Islam berkembang dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dipelopori Haji Samanhudi di Surakarta. Pada tahun 1912, organisasi ini berkembang menjadi Sarekat Islam dengan ruang perjuangan yang semakin luas. H.O.S. Tjokroaminoto kemudian tampil sebagai salah satu pemimpin terpentingnya. Di bawah kepemimpinannya, SI berkembang menjadi gerakan massa yang memiliki pengaruh besar di berbagai wilayah Hindia Belanda.

Pada mulanya perjuangan Sarekat Islam banyak berkaitan dengan kepentingan ekonomi masyarakat pribumi, khususnya pedagang Muslim. Namun, perkembangan politik kolonial menyebabkan perjuangan SI meluas menjadi perjuangan sosial dan politik. Organisasi ini mulai menyuarakan persamaan hak, menentang diskriminasi kolonial, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta membangun kesadaran bahwa masyarakat bumiputra mempunyai hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

Perkembangan yang begitu cepat menyebabkan Sarekat Islam menjadi tempat bertemunya berbagai pemikiran. Di sinilah kemudian muncul perbedaan ideologi yang akhirnya melahirkan dua arus besar yang dikenal sebagai SI Merah dan SI Putih.


Masuknya Pemikiran Sosialisme ke dalam Sarekat Islam

Salah satu pusat Sarekat Islam yang berkembang pesat adalah Semarang. Di kota ini terdapat kelompok buruh yang cukup besar akibat perkembangan industri, perkeretaapian, pelabuhan, dan perdagangan. Kondisi sosial tersebut menjadikan Semarang tempat yang subur bagi berkembangnya gagasan sosialisme.

Pengaruh sosialisme revolusioner terutama berkembang melalui Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang didirikan pada tahun 1914 dan sangat dipengaruhi tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet. Pemikiran tersebut kemudian memengaruhi sejumlah tokoh muda Sarekat Islam, terutama Semaun dan Darsono.

Semaun kemudian menjadi salah satu tokoh penting Sarekat Islam Semarang. Di bawah pengaruh kelompok ini, perjuangan SI Semarang menjadi semakin radikal. Persoalan buruh, kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kapitalisme perkebunan dan perusahaan kolonial menjadi bagian penting dari perjuangan mereka.

Perbedaan mulai terlihat. Kelompok Tjokroaminoto tetap menempatkan Islam sebagai landasan penting perjuangan Sarekat Islam, sedangkan kelompok Semaun semakin menekankan perjuangan kelas dan sosialisme sebagai alat untuk menghadapi kolonialisme dan kapitalisme.

Perbedaan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejak sekitar 1917, perbedaan pandangan di lingkungan SI Semarang sudah semakin terlihat. Perdebatan mengenai Volksraad, Indie Weerbaar, hubungan dengan pemerintah kolonial, serta pengaruh sosialisme revolusioner semakin mempertajam perbedaan di antara para pemimpin SI.


Lahirnya SI Merah dan SI Putih

Ketegangan semakin meningkat ketika sejumlah anggota Sarekat Islam juga menjadi anggota organisasi berhaluan komunis. ISDV kemudian berkembang menjadi Perserikatan Komunis di Hindia pada tahun 1920, yang selanjutnya dikenal dalam perkembangan sejarah sebagai Partai Komunis Indonesia.

Masalah utama bagi pimpinan Sarekat Islam adalah adanya keanggotaan rangkap. Seorang anggota dapat berada di Sarekat Islam sekaligus menjadi anggota organisasi politik lain yang memiliki asas berbeda.

Dalam Kongres Luar Biasa Central Sarekat Islam di Surabaya pada Oktober 1921, persoalan tersebut mencapai puncaknya. Kelompok H. Agus Salim mendorong diberlakukannya disiplin partai, yaitu ketentuan yang pada prinsipnya tidak membenarkan anggota Sarekat Islam sekaligus menjadi anggota organisasi politik lain yang bertentangan dengan asas perjuangan SI.

Semaun menentang kebijakan tersebut. Perdebatan antara Semaun dan Agus Salim menjadi salah satu bagian penting dalam konflik internal Sarekat Islam.

Akibatnya, kelompok yang berhaluan komunis semakin terpisah dari Sarekat Islam. Dari sinilah dikenal dua kelompok besar:

SI Merah, dengan pusat kekuatan terutama di Semarang dan dipimpin antara lain oleh Semaun. Kelompok ini menekankan sosialisme, gerakan buruh, perjuangan kelas, serta sikap yang lebih radikal terhadap kapitalisme dan kolonialisme.

Sementara itu, SI Putih mempertahankan Islam sebagai dasar perjuangan organisasi. Tokoh-tokoh pentingnya antara lain H.O.S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Kelompok ini tetap menentang kolonialisme, tetapi menolak apabila Sarekat Islam diarahkan menjadi organisasi komunis.

Dengan demikian, perpecahan SI sebenarnya bukan sekadar pertentangan pribadi antara Tjokroaminoto dan Semaun. Perpecahan tersebut merupakan pertarungan dua gagasan besar mengenai arah perjuangan bangsa: Islam dan nasionalisme di satu pihak serta sosialisme-komunisme dan perjuangan kelas di pihak lainnya.


Tokoh-Tokoh SI Putih.

1. H.O.S. Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Sarekat Islam. Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam berkembang menjadi organisasi massa yang menjangkau pedagang, pekerja, petani, ulama, kaum terpelajar, dan masyarakat perkotaan maupun pedesaan.

Tjokroaminoto memandang Islam bukan hanya sebagai persoalan ibadah pribadi, tetapi juga sebagai sumber nilai bagi perjuangan sosial. Ia menentang diskriminasi terhadap rakyat pribumi dan menginginkan masyarakat Hindia Belanda memperoleh hak politik yang lebih besar.

Tjokroaminoto juga pernah menggunakan Volksraad sebagai salah satu arena perjuangan politik. Namun, ketika lembaga tersebut tidak mampu memenuhi tuntutan politik rakyat secara memadai, sikap Sarekat Islam terhadap pemerintah kolonial semakin keras.

Peranan Tjokroaminoto juga penting karena lingkungan politik di sekitarnya menjadi tempat bertemunya generasi muda dengan beragam pemikiran. Karena itu, Tjokroaminoto tidak hanya penting sebagai pemimpin Sarekat Islam, tetapi juga sebagai salah satu figur yang berpengaruh terhadap pembentukan pemikiran politik generasi pergerakan berikutnya.

2. Haji Agus Salim

Agus Salim merupakan intelektual, diplomat, dan pemimpin Islam yang mempunyai peranan penting dalam mempertahankan identitas Sarekat Islam.

Dalam konflik internal SI, Agus Salim menjadi salah satu pendukung kuat penerapan disiplin partai. Menurut pandangan kelompoknya, Sarekat Islam harus mempunyai garis ideologi dan organisasi yang jelas. Keanggotaan rangkap dengan organisasi komunis dikhawatirkan akan mengubah arah Sarekat Islam.

Peranan Agus Salim sangat penting dalam perdebatan melawan kelompok Semaun. Namun, perjuangannya tidak dapat disederhanakan sebagai sekadar “anti-komunis”. Ia juga merupakan tokoh antikolonial yang menginginkan kemerdekaan dan peningkatan martabat rakyat Indonesia dengan Islam sebagai salah satu landasan moral dan politik perjuangan.

3. Abdul Muis

Abdul Muis juga merupakan salah satu tokoh penting Sarekat Islam. Ia aktif dalam perjuangan politik dan pernah menjadi anggota Volksraad. Bersama tokoh-tokoh SI lainnya, ia menyuarakan kepentingan rakyat pribumi dan menuntut perubahan sistem pemerintahan kolonial.

Dalam perkembangannya, tokoh-tokoh SI Putih semakin mengarahkan Sarekat Islam menjadi organisasi politik yang secara tegas menjadikan Islam sebagai dasar perjuangannya. Pada tahun 1923, Sarekat Islam kemudian berkembang menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) dan pada perkembangan berikutnya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).


Tokoh-Tokoh SI Merah.

1. Semaun

Semaun merupakan tokoh sentral SI Merah. Ia berasal dari lingkungan pergerakan buruh dan mempunyai hubungan kuat dengan organisasi buruh kereta api.

Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam Semarang berkembang menjadi kelompok yang lebih radikal dalam menghadapi pemerintah kolonial. Semaun melihat persoalan penjajahan tidak dapat dilepaskan dari persoalan ekonomi. Baginya, rakyat bukan hanya mengalami penindasan karena penjajahan politik, tetapi juga akibat sistem kapitalisme kolonial.

Karena itu, gerakan buruh dan pemogokan menjadi salah satu instrumen penting perjuangan kelompok yang dipimpinnya.

2. Darsono

Darsono merupakan tokoh penting lainnya dalam kelompok kiri Sarekat Islam. Bersama Semaun, ia berperan menyebarkan gagasan sosialisme dan kritik terhadap kapitalisme serta pemerintahan kolonial.

Darsono melihat ketimpangan ekonomi sebagai salah satu akar penderitaan rakyat. Oleh karena itu, perjuangan politik harus disertai perjuangan memperbaiki kedudukan buruh dan masyarakat miskin.

3. Alimin

Alimin Prawirodirdjo juga dikenal sebagai tokoh yang kemudian berada dalam lingkungan gerakan komunis Indonesia. Perjalanan politiknya memperlihatkan bagaimana sebagian aktivis Sarekat Islam berpindah semakin jauh ke arah gerakan kiri.

Perkembangan kelompok ini akhirnya semakin berhubungan dengan gerakan komunis yang berdiri secara organisatoris di luar Sarekat Islam.

4. Tan Malaka

Tan Malaka mempunyai posisi yang lebih kompleks. Ia merupakan seorang Marxis dan tokoh revolusioner, tetapi tidak tepat apabila seluruh pemikirannya sekadar disamakan dengan Semaun atau kepemimpinan komunis pada masa berikutnya.

Dalam konflik Sarekat Islam, Tan Malaka termasuk tokoh yang menyadari besarnya kerugian apabila gerakan Islam dan gerakan kiri terpecah. Ia memandang persatuan kekuatan antikolonial sebagai sesuatu yang penting untuk menghadapi pemerintahan Hindia Belanda.

Karena itu, Tan Malaka sempat mendorong agar pertentangan antara kelompok Islam dan komunis tidak menghancurkan persatuan perjuangan melawan kolonialisme.


Dua Jalan Perjuangan yang Berbeda.

Setelah perpecahan, kedua kelompok menempuh jalan politik yang semakin berbeda.

SI Putih melanjutkan perjuangan dengan memperkuat identitas Islam dan politik kebangsaan. Organisasi ini kemudian bertransformasi menjadi Partai Sarekat Islam pada 1923 dan selanjutnya Partai Sarekat Islam Indonesia.

Sementara itu, kekuatan SI Merah semakin dekat dengan gerakan komunis. Basis perjuangannya banyak diarahkan kepada kaum buruh dan kelompok masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi kolonial. Mereka lebih menekankan pertentangan antara kaum pekerja dan pemilik modal serta menganggap kolonialisme berkaitan erat dengan kapitalisme.

Walaupun berbeda ideologi, terdapat satu titik pertemuan yang tidak boleh diabaikan: kedua kelompok sama-sama lahir dari ketidakpuasan terhadap ketidakadilan kolonial.

Perbedaannya terutama terletak pada landasan ideologi, strategi perjuangan, dan gambaran mengenai masyarakat yang hendak dibangun setelah terbebas dari kolonialisme.


Dampak Perpecahan terhadap Pergerakan Nasional.

Pertama, kekuatan massa Sarekat Islam menjadi terfragmentasi. Organisasi yang sebelumnya mampu menampung berbagai kelompok sosial dan pemikiran kehilangan sebagian kekuatan politiknya.

Kedua, perpecahan tersebut memperjelas pembentukan arus ideologi dalam pergerakan nasional Indonesia. Setelah 1920-an, gerakan nasional semakin memperlihatkan beberapa arus besar: Islam politik, komunisme, dan kemudian nasionalisme sekuler.

Ketiga, perpecahan menunjukkan persoalan klasik dalam gerakan politik Indonesia: bagaimana mempertahankan persatuan ketika para anggotanya mempunyai ideologi dan strategi perjuangan yang berbeda.

Pemerintah kolonial tentu memperoleh keuntungan politik dari perpecahan kekuatan antikolonial tersebut. Ketika kelompok-kelompok pergerakan saling bertentangan, kemampuan mereka menghadapi kekuasaan kolonial secara bersama-sama menjadi berkurang.

Namun demikian, perpecahan SI juga menghasilkan proses pematangan politik. Masyarakat mulai diperkenalkan kepada perdebatan mengenai agama dan negara, kapitalisme dan sosialisme, perjuangan parlementer dan gerakan massa, nasionalisme dan internasionalisme, serta reformasi dan revolusi.

Perdebatan-perdebatan tersebut kemudian ikut membentuk perjalanan politik Indonesia hingga masa kemerdekaan.


Penutup

Perpecahan Sarekat Islam menjadi SI Merah dan SI Putih merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Perpecahan itu bukan sekadar akibat perselisihan pribadi para pemimpinnya, melainkan konsekuensi dari pertemuan dan pertentangan berbagai ideologi besar pada awal abad ke-20.

H.O.S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim berusaha mempertahankan Sarekat Islam sebagai gerakan politik yang berlandaskan Islam dan memperjuangkan kemerdekaan serta martabat rakyat. Di sisi lain, Semaun, Darsono dan kelompok kiri memandang sosialisme dan gerakan kelas pekerja sebagai jalan yang lebih tepat untuk menghancurkan kolonialisme sekaligus ketidakadilan ekonomi.

Keduanya memiliki persamaan dalam menentang ketidakadilan kolonial, tetapi berbeda mengenai dasar ideologi dan jalan yang harus ditempuh.

Dari peristiwa tersebut terdapat pelajaran penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Persatuan sebuah gerakan tidak hanya membutuhkan musuh bersama, tetapi juga membutuhkan kesepakatan mengenai nilai dasar, tujuan, dan metode perjuangan. Ketika perbedaan ideologi tidak lagi dapat dipertemukan, organisasi yang sangat besar sekalipun dapat terpecah.

Namun sejarah SI Merah dan SI Putih juga memperlihatkan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari proses panjang yang melibatkan berbagai aliran pemikiran. Islam, nasionalisme, sosialisme, gerakan buruh, kaum intelektual, pedagang, dan rakyat kecil masing-masing memberikan warna terhadap perkembangan kesadaran kebangsaan.

Oleh karena itu, sejarah perpecahan Sarekat Islam sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai sejarah pertentangan antara “kanan” dan “kiri”. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari proses pencarian jalan bangsa Indonesia untuk menjawab sebuah pertanyaan besar pada zamannya: bagaimana membebaskan rakyat dari kolonialisme sekaligus membangun masyarakat yang merdeka, adil, dan bermartabat.

Beberapa sumber sejarah mendukung bahwa pengaruh sosialisme-revolusioner di SI Semarang berkembang melalui ISDV dan Sneevliet, dengan Semaun sebagai figur penting; konflik mencapai titik menentukan melalui penerapan disiplin partai pada Kongres SI 1921. Sumber Direktorat Jenderal Kebudayaan juga mencatat peran Tjokroaminoto dalam perkembangan SI, perjuangan melawan diskriminasi ekonomi, keterlibatannya di Volksraad, dan perubahan SI menjadi Partai Sarekat Islam pada 1923.


Sumber : dari beberapa sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar