Kamis, 10 September 2026

SEJARAH 75 TAHUN SMP KRISTEN URIMESING AMBON (1951–2026)


“Mengabdi Melalui Pendidikan, Bertumbuh dalam Iman dan Ilmu - Merawat Identitas Nona, Nyonya, dan Pak Guru”

Oleh : Icon


I. PENDAHULUAN: SEKOLAH DENGAN IDENTITAS YANG HIDUP

SMP Kristen Urimessing Ambon, yang sekarang dikenal secara resmi sebagai SMP Kristen YPKPM Ambon, merupakan salah satu lembaga pendidikan Kristen yang telah lama mengambil bagian dalam pembangunan sumber daya manusia di Kota Ambon dan Maluku.

Di antara sekian banyak SMP di Kota Ambon, sekolah ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki sekolah lain dan masih diwariskan sampai saat ini: Siswa SMP Kristen Urimesing Ambon menyapa Ibu Guru yang belum menikah dengan sebutan "Nona" dan untuk Ibu Guru yang telah menikah dengan sebutan "Nyonya", sedangkan sapaan untuk Bapa Guru tetap dengan sebutan Pak Guru.

Hal unik ini dalam perkembangannya dapat dijadikan "identitas khusus" relasi antara siswa dengan gurunya. Naskah ini ditulis untuk menjelaskan sejarah berdirinya sekolah tersebut sekaligus menganalisa asal-usul tradisi sapaan tersebut.

Tanggal 1 Oktober 1951 merupakan tonggak penting. Pada tanggal itulah sebuah SMP Kristen didirikan di Belakang Soya, Ambon, yang dalam perkembangannya menjadi SMP Kristen di Urimessing. Dengan demikian, pada 1 Oktober 2026, perjalanan historis sekolah tersebut genap berusia 75 tahun.


II. AKAR SEJARAH PENDIDIKAN KRISTEN: DARI KWEEKSCHOOL HINGGA MCSV

Perjalanan sekolah ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang pelayanan pendidikan Kristen Protestan di Maluku.

Akar Pertama: Ambon sebagai Pusat Pendidikan Guru Pertama di Nusantara

Jauh sebelum Indonesia merdeka, Ambon sudah menjadi pusat pendidikan guru Kristen pertama. VOC dan para misionaris Kristen mendirikan sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara pada tahun 1834. Pendidikan guru ini pertama kali diselenggarakan di Ambon pada 1834.

Sekolah inilah yang melahirkan guru-guru jemaat yang disebar ke seluruh Maluku. Dari tradisi inilah muncul penghormatan tinggi pada guru, karena kedudukan guru dalam masyarakat pedesaan di Maluku sangat dihormati hampir sama penghormatan masyarakat terhadap seorang raja, patih, atau orang kaya di seluruh daerah Maluku.

Akar Kedua: Molluksche Christelijke School Vereniging (MCSV) 1920

Induk resmi dari semua Sekolah Kristen di Ambon hari ini adalah Yayasan Persekolahan Kristen Protestan Maluku yang merupakan kelanjutan dari MOLUKSCHE CHRISTELIJKE SCHOOLVERENIGING (MCSV) yang mulai berfungsi Tahun 1920.

Motto dari MCSV adalah Yohanis 3:16: “Karena Begitu Besar Kasih Allah Akan Dunia Ini, Sehingga dikaruniakan AnakNya Yang Tunggal, supaya Setiap orang yang Percaya KepadaNya Tidak Binasa, Melainkan Beroleh Hidup Yang Kekal.” Tujuannya adalah untuk membina para murid di Maluku supaya mereka dapat dibimbing secara rohani menuju suatu kehidupan kristiani demi hidup bermasyarakat.

MCSV diakui sah dengan besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 28 juli 1934 nomor 25. Pada masa perkembangannya, pendidikan Kristen tumbuh di beberapa wilayah, terutama Urimessing, Belakang Soya, Tiouw-Saparua, Piru dan Tual.

Sebelum Perang Dunia II, di kompleks Urimessing telah berdiri sekolah elit Belanda: Eerste Christelijke Hollands Inlandsche School (Eerste Chr. H.I.S) dan di Belakang Soya Tweede Chr. H.I.S di Kompleks belakang Soya dan Derde Chr. H.I.S di Kompleks Urimessing lagi.


III. BERDIRINYA SMP KRISTEN: 1 OKTOBER 1951

Sesudah Perang Dunia II, pelayanan pendidikan Kristen di Maluku kembali mengalami perkembangan. Seiring perubahan sistem pendidikan Indonesia, pada tahun 1951 sekolah yang sebelumnya menggunakan sistem Lagere School kemudian berkembang menjadi Sekolah Rakyat (SR) dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.

Jumlah peserta didik semakin bertambah. Di Urimessing berkembang SR Kristen A1, A2, A3, B1, B2 dan B3. Sementara di Belakang Soya terdapat SR Kristen A1, A2, B1 dan B2 yang menyelenggarakan pembelajaran pagi dan siang.

Perkembangan jumlah peserta didik tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan Kristen. Lulusan SR tidak tertampung di SMP Negeri yang masih sangat sedikit.

Maka tonggak sejarah penting terjadi pada 1 OKTOBER 1951. Pada tanggal tersebut didirikan sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen di Belakang Soya, Ambon, yang dalam perkembangannya menjadi SMP Kristen di Urimessing.

Pendirian SMP ini merupakan langkah penting karena memberikan kesempatan kepada lulusan Sekolah Rakyat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah tanpa meninggalkan lingkungan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai kekristenan. Karena itu, 1 Oktober 1951 memiliki nilai historis yang sangat penting dan dapat dipandang sebagai hari lahir SMP Kristen Urimessing.


IV. DARI MCSV MENJADI PPKPM MENJADI YAYASAN PKPM

Tidak lama setelah berdirinya SMP tersebut, terjadi perkembangan kelembagaan yang penting. Pada rapat Badan Pengurus tanggal 24 Januari 1952, MCSV berubah menjadi Perkumpulan Persekolahan Kristen Protestan Maluku (PPKPM) yang berpusat di Kota Ambon.

PPKPM kemudian mengembangkan berbagai jenjang pendidikan Kristen, antara lain TK Kristen, SD Kristen dan SMP Kristen. Perkembangan berikutnya juga melahirkan SMA Kristen di Urimessing pada 14 Oktober 1957.

Seiring perkembangan organisasi dan tuntutan pengelolaan pendidikan yang semakin kompleks, pada 12 November 1982, pengurus PPKPM yang terdiri dari Ketua Pdt F. C. Lewier, M.Th dan Sekretaris J. Soselisa menghadap Notaris Ny. J. M. de Fretes Tumbelaka, S.H. untuk membentuk yayasan melalui Akta Nomor 27. Perubahan selanjutnya dilakukan pada 18 Juli 1987 melalui Akta Nomor 64. Dari perkembangan kelembagaan tersebut lahirlah Yayasan Persekolahan Kristen Protestan Maluku yang kemudian dikenal dengan singkatan YPKPM.

Salah satu tonggak administratif penting adalah diterbitkannya SK Izin Operasional Nomor 165/I17/KPTS/M/91 tanggal 16 Desember 1991 dengan predikat DISAMAKAN, yang ditandatangani oleh Direktur Sekolah Swasta a/n Dirjen Dikdasmen.


V. ANALISA KHUSUS: APAKAH TRADISI NONA-NYONYA MERUPAKAN PENGARUH DIDIKAN ALA BELANDA?

Jawabannya adalah: Ya, pengaruh didikan ala Belanda yang melembaga, tetapi dengan akar kata dari Portugis.

1. Lapisan Pertama - Leksikonnya dari Portugis

Kata Nona dan Nyonya bukan asli Belanda. Nona, asal kata dona. Artinya sebutan bagi anak perempuan atau wanita yang belum menikah. Nyonya, asal kata donha. Artinya kata sapaan kepada perempuan yang sudah bersuami. Portugis datang di Maluku tahun 1512 dan meninggalkan jejak bahasa yang dalam. Bentuk sapaan seperti nyora, nyonya, nona, dan nyong tetap eksis dalam bahasa Melayu Ambon hingga kini. Nyora menjadi sebutan kehormatan bagi istri raja, pejabat, atau guru sekolah.

2. Lapisan Kedua - Sistemnya dari Belanda (Zending)

Belanda melalui Zending-lah yang mengubah kata sapaan sehari-hari itu menjadi etika resmi di sekolah Kristen. Di sekolah-sekolah HIS dan Kweekschool Belanda, berlaku aturan:

• Juffrouw = Nona (Guru wanita belum menikah) • Mevrouw = Nyonya (Guru wanita sudah menikah) • Meneer / Meester = Pak Guru 

Hal ini tercatat dalam sejarah sosial Maluku: Seorang guru selalu dihormati dengan panggilan... guru selalu dipanggil "bapak meester" dan istrinya disebut "mama nyora". Sedangkan anak-anak guru disebut "nyong" bagi putra dan "nona" bagi yang putri.

Untuk Bapa Guru tetap Pak Guru karena sapaan Nyong itu untuk anak muda, bukan untuk figur otoritas laki-laki dewasa. Laki-laki dewasa otomatis mendapat gelar Bapak / Tuan / Meester.

Jika di Jawa tradisi ini hilang pada tahun 1970-an karena penyeragaman bahasa Indonesia, di Ambon ia bertahan karena sekolah-sekolah YPKPM tidak pernah terputus dari gereja. Inilah yang menjadikannya identitas khusus yang otentik dan layak dipertahankan sebagai branding sekolah.


VI. PERKEMBANGAN STATUS SEKOLAH SAAT INI

Data pemerintah saat ini mencatat sekolah dengan identitas: Nama: SMP Kristen YPKPM Ambon, NPSN: 60103090, Status: Swasta, Naungan: Yayasan Persekolahan Kristen Protestan Maluku (YPKPM), Alamat: Jl. Diponegoro No. 61, Kelurahan Ahusen, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku, Akreditasi: A.

Perlu dibedakan antara data administratif pemerintah dan sejarah faktual sekolah. Data pendidikan pemerintah mencantumkan SK pendirian administratif bertanggal 27 Desember 2006, sedangkan dokumen sejarah Yayasan PKPM secara tegas mencatat pendirian SMP pada 1 Oktober 1951. Oleh karena itu, dalam penulisan sejarah sekolah, 1 Oktober 1951 merupakan tonggak historis pendirian, sedangkan dokumen-dokumen setelahnya merupakan bagian dari perkembangan legal-administratif sekolah.

Dalam perjalanan panjangnya, nama “SMP Kristen Urimessing” memiliki nilai historis tersendiri. Nama tersebut bukan hanya menunjuk pada lokasi sekolah, tetapi telah menjadi bagian dari identitas pendidikan Kristen di Kota Ambon. Generasi demi generasi peserta didik menempuh pendidikan di lingkungan sekolah ini.


VII. PERAN, REFLEKSI 75 TAHUN, DAN MENATAP MASA DEPAN

Selama perjalanan sejak tahun 1951, SMP Kristen Urimessing hadir di tengah berbagai perubahan zaman. Sekolah melewati masa awal kemerdekaan Indonesia, perubahan sistem pendidikan nasional, perubahan kurikulum, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga memasuki era pendidikan digital.

Tujuh puluh lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di dalamnya terdapat pengabdian para pengurus yayasan, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan; perjuangan para orang tua; serta perjalanan ribuan peserta didik dan alumni. Beberapa alumni dari lembaga pendidikan yang diasuh Yayasan ini antara lain Bapak Mohammad Padang (Mantan Gubernur Maluku), Bapak Drs. S. Akyuwen (Mantan Wakil Gubernur Maluku), Bapak Prof. Dr. J. J. Lokollo, S.H. (Guru Besar Unpatti), dan Bapak Dr. L. W. J. Hendriks (Ketua BPH Sinode GPM).

Warisan terbaik bukan hanya gedung sekolah ataupun nama besar sebuah lembaga pendidikan. Warisan sesungguhnya adalah nilai: iman, ilmu pengetahuan, kejujuran, disiplin, kerja keras, pelayanan dan kasih kepada sesama. Termasuk warisan etika menyapa Nona dan Nyonya.

Memasuki usia 75 tahun, tantangan pendidikan semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi, kecerdasan buatan, perubahan sosial dan derasnya arus informasi menuntut sekolah untuk terus beradaptasi. Namun perkembangan teknologi tidak boleh menghilangkan karakter dasar pendidikan Kristen.

SMP Kristen YPKPM Ambon diharapkan terus menjadi lembaga pendidikan yang mampu memadukan iman, ilmu pengetahuan, karakter dan teknologi.


VIII. PENUTUP

Perjalanan SMP Kristen Urimessing Ambon sejak 1 Oktober 1951 hingga 1 Oktober 2026 merupakan perjalanan panjang selama 75 tahun. Berawal dari sebuah SMP yang didirikan di Belakang Soya, sekolah ini kemudian berkembang menjadi SMP Kristen di Urimessing dan saat ini tercatat sebagai SMP Kristen YPKPM Ambon.

Perjalanan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah pelayanan pendidikan Kristen Protestan di Maluku. Tradisi sapaan Nona-Nyonya-Pak Guru adalah bukti hidup bahwa sekolah ini tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menjaga adab dan identitas Ambon-Kristen yang berakar dari perjumpaan Portugis, Belanda, dan Maluku.

Kiranya SMP Kristen Urimessing—SMP Kristen YPKPM Ambon—terus menjadi tempat bertumbuhnya generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, mencintai sesama dan siap mengabdikan dirinya bagi gereja, masyarakat, Maluku, bangsa dan negara.


Selamat menyongsong 75 Tahun SMP Kristen Urimessing Ambon.

1 Oktober 1951 – 1 Oktober 2026

“Mengenang Sejarah, Mensyukuri Penyertaan Tuhan, Membangun Generasi Masa Depan.”


Sumber Pustaka :
1. Yayasan PKPM. (n.d.). Sejarah Singkat Yayasan PKPM Ambon & Sejarah Berdirinya YPKPM. Dokumen diunduh dari https://smakrisambon.sch.id/images/documents/SEJARAH_BERDIRINYA_YPKPM_.pdf
​2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2024). Data Referensi SMP Kristen YPKPM Ambon NPSN 60103090. Data Referensi Kemendikdasmen.
3. Leimena, J. (Biografi). Dr. Johannes Leimena, Karya dan Pengabdiannya. Repositori Kemdikbud. (Mencatat tradisi sapaan bapak meester, mama nyora, nyong, nona di Maluku).
​4. Salik.id. (2023). 101 Kata Serapan Bahasa Indonesia dari Portugis dan Sejarah Masuknya Bangsa Portugis ke Indonesia. (Etimologi Dona/Donha menjadi Nona/Nyonya).
5. Repositori Sejarah Maluku. (2020). Dari 'Ose' Sampe 'Amato', Jejak Bangsa Portugis di Maluku. (Eksistensi sapaan nyora, nyonya, nona, nyong dalam Melayu Ambon).

Selasa, 08 September 2026

DARI PERSATUAN MENUJU PERPECAHAN ; Sarekat Islam (SI)



Merah dan Putih dalam Pergulatan Ideologi Pergerakan Nasional Indonesia


Sejarah pergerakan nasional Indonesia pada awal abad ke-20 tidak hanya merupakan sejarah perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Di dalamnya juga berlangsung perdebatan besar mengenai ideologi, agama, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme, serta cara terbaik untuk membebaskan rakyat Hindia Belanda dari penjajahan. Salah satu organisasi yang menjadi arena pergulatan tersebut adalah Sarekat Islam (SI).

Sarekat Islam berkembang dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dipelopori Haji Samanhudi di Surakarta. Pada tahun 1912, organisasi ini berkembang menjadi Sarekat Islam dengan ruang perjuangan yang semakin luas. H.O.S. Tjokroaminoto kemudian tampil sebagai salah satu pemimpin terpentingnya. Di bawah kepemimpinannya, SI berkembang menjadi gerakan massa yang memiliki pengaruh besar di berbagai wilayah Hindia Belanda.

Pada mulanya perjuangan Sarekat Islam banyak berkaitan dengan kepentingan ekonomi masyarakat pribumi, khususnya pedagang Muslim. Namun, perkembangan politik kolonial menyebabkan perjuangan SI meluas menjadi perjuangan sosial dan politik. Organisasi ini mulai menyuarakan persamaan hak, menentang diskriminasi kolonial, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta membangun kesadaran bahwa masyarakat bumiputra mempunyai hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

Perkembangan yang begitu cepat menyebabkan Sarekat Islam menjadi tempat bertemunya berbagai pemikiran. Di sinilah kemudian muncul perbedaan ideologi yang akhirnya melahirkan dua arus besar yang dikenal sebagai SI Merah dan SI Putih.


Masuknya Pemikiran Sosialisme ke dalam Sarekat Islam

Salah satu pusat Sarekat Islam yang berkembang pesat adalah Semarang. Di kota ini terdapat kelompok buruh yang cukup besar akibat perkembangan industri, perkeretaapian, pelabuhan, dan perdagangan. Kondisi sosial tersebut menjadikan Semarang tempat yang subur bagi berkembangnya gagasan sosialisme.

Pengaruh sosialisme revolusioner terutama berkembang melalui Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang didirikan pada tahun 1914 dan sangat dipengaruhi tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet. Pemikiran tersebut kemudian memengaruhi sejumlah tokoh muda Sarekat Islam, terutama Semaun dan Darsono.

Semaun kemudian menjadi salah satu tokoh penting Sarekat Islam Semarang. Di bawah pengaruh kelompok ini, perjuangan SI Semarang menjadi semakin radikal. Persoalan buruh, kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kapitalisme perkebunan dan perusahaan kolonial menjadi bagian penting dari perjuangan mereka.

Perbedaan mulai terlihat. Kelompok Tjokroaminoto tetap menempatkan Islam sebagai landasan penting perjuangan Sarekat Islam, sedangkan kelompok Semaun semakin menekankan perjuangan kelas dan sosialisme sebagai alat untuk menghadapi kolonialisme dan kapitalisme.

Perbedaan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejak sekitar 1917, perbedaan pandangan di lingkungan SI Semarang sudah semakin terlihat. Perdebatan mengenai Volksraad, Indie Weerbaar, hubungan dengan pemerintah kolonial, serta pengaruh sosialisme revolusioner semakin mempertajam perbedaan di antara para pemimpin SI.


Lahirnya SI Merah dan SI Putih

Ketegangan semakin meningkat ketika sejumlah anggota Sarekat Islam juga menjadi anggota organisasi berhaluan komunis. ISDV kemudian berkembang menjadi Perserikatan Komunis di Hindia pada tahun 1920, yang selanjutnya dikenal dalam perkembangan sejarah sebagai Partai Komunis Indonesia.

Masalah utama bagi pimpinan Sarekat Islam adalah adanya keanggotaan rangkap. Seorang anggota dapat berada di Sarekat Islam sekaligus menjadi anggota organisasi politik lain yang memiliki asas berbeda.

Dalam Kongres Luar Biasa Central Sarekat Islam di Surabaya pada Oktober 1921, persoalan tersebut mencapai puncaknya. Kelompok H. Agus Salim mendorong diberlakukannya disiplin partai, yaitu ketentuan yang pada prinsipnya tidak membenarkan anggota Sarekat Islam sekaligus menjadi anggota organisasi politik lain yang bertentangan dengan asas perjuangan SI.

Semaun menentang kebijakan tersebut. Perdebatan antara Semaun dan Agus Salim menjadi salah satu bagian penting dalam konflik internal Sarekat Islam.

Akibatnya, kelompok yang berhaluan komunis semakin terpisah dari Sarekat Islam. Dari sinilah dikenal dua kelompok besar:

SI Merah, dengan pusat kekuatan terutama di Semarang dan dipimpin antara lain oleh Semaun. Kelompok ini menekankan sosialisme, gerakan buruh, perjuangan kelas, serta sikap yang lebih radikal terhadap kapitalisme dan kolonialisme.

Sementara itu, SI Putih mempertahankan Islam sebagai dasar perjuangan organisasi. Tokoh-tokoh pentingnya antara lain H.O.S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Kelompok ini tetap menentang kolonialisme, tetapi menolak apabila Sarekat Islam diarahkan menjadi organisasi komunis.

Dengan demikian, perpecahan SI sebenarnya bukan sekadar pertentangan pribadi antara Tjokroaminoto dan Semaun. Perpecahan tersebut merupakan pertarungan dua gagasan besar mengenai arah perjuangan bangsa: Islam dan nasionalisme di satu pihak serta sosialisme-komunisme dan perjuangan kelas di pihak lainnya.


Tokoh-Tokoh SI Putih.

1. H.O.S. Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Sarekat Islam. Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam berkembang menjadi organisasi massa yang menjangkau pedagang, pekerja, petani, ulama, kaum terpelajar, dan masyarakat perkotaan maupun pedesaan.

Tjokroaminoto memandang Islam bukan hanya sebagai persoalan ibadah pribadi, tetapi juga sebagai sumber nilai bagi perjuangan sosial. Ia menentang diskriminasi terhadap rakyat pribumi dan menginginkan masyarakat Hindia Belanda memperoleh hak politik yang lebih besar.

Tjokroaminoto juga pernah menggunakan Volksraad sebagai salah satu arena perjuangan politik. Namun, ketika lembaga tersebut tidak mampu memenuhi tuntutan politik rakyat secara memadai, sikap Sarekat Islam terhadap pemerintah kolonial semakin keras.

Peranan Tjokroaminoto juga penting karena lingkungan politik di sekitarnya menjadi tempat bertemunya generasi muda dengan beragam pemikiran. Karena itu, Tjokroaminoto tidak hanya penting sebagai pemimpin Sarekat Islam, tetapi juga sebagai salah satu figur yang berpengaruh terhadap pembentukan pemikiran politik generasi pergerakan berikutnya.

2. Haji Agus Salim

Agus Salim merupakan intelektual, diplomat, dan pemimpin Islam yang mempunyai peranan penting dalam mempertahankan identitas Sarekat Islam.

Dalam konflik internal SI, Agus Salim menjadi salah satu pendukung kuat penerapan disiplin partai. Menurut pandangan kelompoknya, Sarekat Islam harus mempunyai garis ideologi dan organisasi yang jelas. Keanggotaan rangkap dengan organisasi komunis dikhawatirkan akan mengubah arah Sarekat Islam.

Peranan Agus Salim sangat penting dalam perdebatan melawan kelompok Semaun. Namun, perjuangannya tidak dapat disederhanakan sebagai sekadar “anti-komunis”. Ia juga merupakan tokoh antikolonial yang menginginkan kemerdekaan dan peningkatan martabat rakyat Indonesia dengan Islam sebagai salah satu landasan moral dan politik perjuangan.

3. Abdul Muis

Abdul Muis juga merupakan salah satu tokoh penting Sarekat Islam. Ia aktif dalam perjuangan politik dan pernah menjadi anggota Volksraad. Bersama tokoh-tokoh SI lainnya, ia menyuarakan kepentingan rakyat pribumi dan menuntut perubahan sistem pemerintahan kolonial.

Dalam perkembangannya, tokoh-tokoh SI Putih semakin mengarahkan Sarekat Islam menjadi organisasi politik yang secara tegas menjadikan Islam sebagai dasar perjuangannya. Pada tahun 1923, Sarekat Islam kemudian berkembang menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) dan pada perkembangan berikutnya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).


Tokoh-Tokoh SI Merah.

1. Semaun

Semaun merupakan tokoh sentral SI Merah. Ia berasal dari lingkungan pergerakan buruh dan mempunyai hubungan kuat dengan organisasi buruh kereta api.

Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam Semarang berkembang menjadi kelompok yang lebih radikal dalam menghadapi pemerintah kolonial. Semaun melihat persoalan penjajahan tidak dapat dilepaskan dari persoalan ekonomi. Baginya, rakyat bukan hanya mengalami penindasan karena penjajahan politik, tetapi juga akibat sistem kapitalisme kolonial.

Karena itu, gerakan buruh dan pemogokan menjadi salah satu instrumen penting perjuangan kelompok yang dipimpinnya.

2. Darsono

Darsono merupakan tokoh penting lainnya dalam kelompok kiri Sarekat Islam. Bersama Semaun, ia berperan menyebarkan gagasan sosialisme dan kritik terhadap kapitalisme serta pemerintahan kolonial.

Darsono melihat ketimpangan ekonomi sebagai salah satu akar penderitaan rakyat. Oleh karena itu, perjuangan politik harus disertai perjuangan memperbaiki kedudukan buruh dan masyarakat miskin.

3. Alimin

Alimin Prawirodirdjo juga dikenal sebagai tokoh yang kemudian berada dalam lingkungan gerakan komunis Indonesia. Perjalanan politiknya memperlihatkan bagaimana sebagian aktivis Sarekat Islam berpindah semakin jauh ke arah gerakan kiri.

Perkembangan kelompok ini akhirnya semakin berhubungan dengan gerakan komunis yang berdiri secara organisatoris di luar Sarekat Islam.

4. Tan Malaka

Tan Malaka mempunyai posisi yang lebih kompleks. Ia merupakan seorang Marxis dan tokoh revolusioner, tetapi tidak tepat apabila seluruh pemikirannya sekadar disamakan dengan Semaun atau kepemimpinan komunis pada masa berikutnya.

Dalam konflik Sarekat Islam, Tan Malaka termasuk tokoh yang menyadari besarnya kerugian apabila gerakan Islam dan gerakan kiri terpecah. Ia memandang persatuan kekuatan antikolonial sebagai sesuatu yang penting untuk menghadapi pemerintahan Hindia Belanda.

Karena itu, Tan Malaka sempat mendorong agar pertentangan antara kelompok Islam dan komunis tidak menghancurkan persatuan perjuangan melawan kolonialisme.


Dua Jalan Perjuangan yang Berbeda.

Setelah perpecahan, kedua kelompok menempuh jalan politik yang semakin berbeda.

SI Putih melanjutkan perjuangan dengan memperkuat identitas Islam dan politik kebangsaan. Organisasi ini kemudian bertransformasi menjadi Partai Sarekat Islam pada 1923 dan selanjutnya Partai Sarekat Islam Indonesia.

Sementara itu, kekuatan SI Merah semakin dekat dengan gerakan komunis. Basis perjuangannya banyak diarahkan kepada kaum buruh dan kelompok masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi kolonial. Mereka lebih menekankan pertentangan antara kaum pekerja dan pemilik modal serta menganggap kolonialisme berkaitan erat dengan kapitalisme.

Walaupun berbeda ideologi, terdapat satu titik pertemuan yang tidak boleh diabaikan: kedua kelompok sama-sama lahir dari ketidakpuasan terhadap ketidakadilan kolonial.

Perbedaannya terutama terletak pada landasan ideologi, strategi perjuangan, dan gambaran mengenai masyarakat yang hendak dibangun setelah terbebas dari kolonialisme.


Dampak Perpecahan terhadap Pergerakan Nasional.

Pertama, kekuatan massa Sarekat Islam menjadi terfragmentasi. Organisasi yang sebelumnya mampu menampung berbagai kelompok sosial dan pemikiran kehilangan sebagian kekuatan politiknya.

Kedua, perpecahan tersebut memperjelas pembentukan arus ideologi dalam pergerakan nasional Indonesia. Setelah 1920-an, gerakan nasional semakin memperlihatkan beberapa arus besar: Islam politik, komunisme, dan kemudian nasionalisme sekuler.

Ketiga, perpecahan menunjukkan persoalan klasik dalam gerakan politik Indonesia: bagaimana mempertahankan persatuan ketika para anggotanya mempunyai ideologi dan strategi perjuangan yang berbeda.

Pemerintah kolonial tentu memperoleh keuntungan politik dari perpecahan kekuatan antikolonial tersebut. Ketika kelompok-kelompok pergerakan saling bertentangan, kemampuan mereka menghadapi kekuasaan kolonial secara bersama-sama menjadi berkurang.

Namun demikian, perpecahan SI juga menghasilkan proses pematangan politik. Masyarakat mulai diperkenalkan kepada perdebatan mengenai agama dan negara, kapitalisme dan sosialisme, perjuangan parlementer dan gerakan massa, nasionalisme dan internasionalisme, serta reformasi dan revolusi.

Perdebatan-perdebatan tersebut kemudian ikut membentuk perjalanan politik Indonesia hingga masa kemerdekaan.


Penutup

Perpecahan Sarekat Islam menjadi SI Merah dan SI Putih merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Perpecahan itu bukan sekadar akibat perselisihan pribadi para pemimpinnya, melainkan konsekuensi dari pertemuan dan pertentangan berbagai ideologi besar pada awal abad ke-20.

H.O.S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim berusaha mempertahankan Sarekat Islam sebagai gerakan politik yang berlandaskan Islam dan memperjuangkan kemerdekaan serta martabat rakyat. Di sisi lain, Semaun, Darsono dan kelompok kiri memandang sosialisme dan gerakan kelas pekerja sebagai jalan yang lebih tepat untuk menghancurkan kolonialisme sekaligus ketidakadilan ekonomi.

Keduanya memiliki persamaan dalam menentang ketidakadilan kolonial, tetapi berbeda mengenai dasar ideologi dan jalan yang harus ditempuh.

Dari peristiwa tersebut terdapat pelajaran penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Persatuan sebuah gerakan tidak hanya membutuhkan musuh bersama, tetapi juga membutuhkan kesepakatan mengenai nilai dasar, tujuan, dan metode perjuangan. Ketika perbedaan ideologi tidak lagi dapat dipertemukan, organisasi yang sangat besar sekalipun dapat terpecah.

Namun sejarah SI Merah dan SI Putih juga memperlihatkan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari proses panjang yang melibatkan berbagai aliran pemikiran. Islam, nasionalisme, sosialisme, gerakan buruh, kaum intelektual, pedagang, dan rakyat kecil masing-masing memberikan warna terhadap perkembangan kesadaran kebangsaan.

Oleh karena itu, sejarah perpecahan Sarekat Islam sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai sejarah pertentangan antara “kanan” dan “kiri”. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari proses pencarian jalan bangsa Indonesia untuk menjawab sebuah pertanyaan besar pada zamannya: bagaimana membebaskan rakyat dari kolonialisme sekaligus membangun masyarakat yang merdeka, adil, dan bermartabat.

Beberapa sumber sejarah mendukung bahwa pengaruh sosialisme-revolusioner di SI Semarang berkembang melalui ISDV dan Sneevliet, dengan Semaun sebagai figur penting; konflik mencapai titik menentukan melalui penerapan disiplin partai pada Kongres SI 1921. Sumber Direktorat Jenderal Kebudayaan juga mencatat peran Tjokroaminoto dalam perkembangan SI, perjuangan melawan diskriminasi ekonomi, keterlibatannya di Volksraad, dan perubahan SI menjadi Partai Sarekat Islam pada 1923.


Sumber : dari beberapa sumber

Senin, 07 September 2026

Korupsi di Zaman Daendels (1808-1811)



Antara Pemberantasan dan Penyalahgunaan Kekuasaan


Nama Herman Willem Daendels sering diingat orang Indonesia karena satu karya monumental: Jalan Raya Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 km. Namun di balik pembangunan itu, masa pemerintahannya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811) adalah salah satu periode paling kontroversial dalam sejarah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di Nusantara.

Ironisnya, Daendels justru dikirim oleh Raja Louis Bonaparte dari Belanda dengan satu tugas utama: memberantas korupsi.


1. Kondisi Sebelum Daendels: VOC yang Busuk

Sebelum Daendels datang, Hindia dikelola oleh VOC dan kemudian pemerintah Belanda yang sangat korup. Sistemnya disebut prebende dan contingenten:

• Pejabat Belanda digaji sangat kecil, tapi diberi hak untuk memungut pajak dan hasil bumi dari rakyat. • Para Bupati dan pejabat pribumi diberi kekuasaan mutlak atas rakyatnya asal setoran upeti ke Belanda lancar. • Hasilnya: pemerasan berlapis. Rakyat diperas bupati, bupati menyetor ke pejabat Belanda, pejabat Belanda memperkaya diri sendiri dan mengirim sedikit ke Batavia. 

VOC bangkrut pada 1799 bukan karena rugi dagang, tapi karena korupsinya sudah sistemik. Inilah yang ingin dibersihkan Daendels.


2. Misi Daendels: Sang "Tukang Bersih" yang Besi

Daendels adalah seorang jenderal revolusioner Prancis, berpikiran modern dan sangat anti-feodal. Begitu tiba di Batavia, ia melakukan reformasi radikal:

• Menghapus sistem feodalisme. Para bupati tidak lagi dianggap raja kecil, tapi dijadikan pegawai pemerintah kolonial yang digaji. Tujuannya agar mereka tidak lagi memeras rakyat untuk upeti. • Memisahkan kekuasaan kehakiman, administrasi, dan kepolisian. • Melarang pejabat melakukan perdagangan pribadi. 

Di atas kertas, ini adalah upaya anti-korupsi yang paling progresif pada zamannya.


3. Paradoks: Korupsi Gaya Baru di Zaman Daendels

Masalahnya, Daendels harus membangun pertahanan Jawa dari ancaman Inggris dengan anggaran yang hampir nol, karena Belanda sendiri sedang dijajah Prancis dan diblokade Inggris.

Untuk membiayai tentara, benteng di Anyer, Surabaya, dan Jalan Raya Pos, Daendels justru menciptakan bentuk korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang baru:


a. Kerja Paksa (Rodi) sebagai Korupsi Tenaga Manusia

Jalan Anyer-Panarukan dibangun tanpa anggaran. Daendels memerintahkan bupati untuk mengerahkan rakyat secara paksa. Tidak ada upah, tidak ada makanan layak. Ribuan rakyat meninggal karena kelelahan, malaria, dan kelaparan. Ini dianggap sebagai korupsi moral — negara merampas hak hidup rakyat demi proyek prestise.


b. Penjualan Tanah Negara Kepada Swasta

Ini yang paling disorot. Untuk mendapatkan uang tunai cepat, Daendels menjual tanah-tanah milik pemerintah yang sangat luas di Jawa Barat dan Jawa Tengah kepada orang-orang kaya Belanda dan Tionghoa, seperti tanah Buitenzorg (Bogor) dan Cikampek. 

Tanah itu dijual dengan harga sangat murah kepada kroninya. Rakyat yang tinggal di atas tanah itu tiba-tiba menjadi penyewa di tanahnya sendiri dan harus membayar sewa kepada tuan tanah baru. Sistem tuan tanah (landheer) yang sangat menindas ini justru lahir di zaman Daendels.


c. Monopoli dan Pemerasan Terpusat

Daendels menghapus korupsi kecil oleh pejabat daerah, tapi memusatkannya di tangannya sendiri. Semua hasil bumi seperti kopi dan kayu jati harus dijual paksa kepada pemerintah dengan harga yang ditentukan pemerintah (sistem verplichte leverantie). Ia juga memonopoli penjualan garam dan hasil hutan. Uang hasilnya tidak masuk ke kas negara secara transparan, melainkan digunakan langsung untuk proyek militernya tanpa audit.

Karena gaya kepemimpinannya yang sangat otoriter, kejam, dan tidak mau mendengar kritik, ia dijuluki "Mas Galak" oleh rakyat Jawa dan "Gubernur Besi" oleh orang Belanda sendiri.


4. Akhir Jabatan dan Tuduhan Korupsi

Pada tahun 1811, Kaisar Napoleon sendiri mencopot Daendels. Laporan yang sampai ke Paris menyebutkan Daendels bertindak seperti raja, sewenang-wenang, dan dicurigai menggelapkan uang hasil penjualan tanah.

Saat Inggris merebut Jawa di bawah Thomas Stamford Raffles, Raffles menuduh Daendels telah melakukan korupsi besar-besaran. Daendels membela diri dalam bukunya Staat der Nederlandsche Oostindische Bezittingen (1814), bahwa semua yang ia lakukan adalah untuk menyelamatkan Jawa dari Inggris dan semua uang digunakan untuk pertahanan, bukan untuk kantong pribadi.

Sejarawan hingga hari ini masih berdebat. Sebagian melihatnya sebagai reformis yang gagal karena keadaan perang, sebagian melihatnya sebagai diktator korup yang hanya mengganti korupsi desentralisasi dengan korupsi terpusat.


Kesimpulan

Zaman Daendels memberikan pelajaran penting tentang korupsi di Indonesia. Korupsi tidak selalu berarti pejabat mengambil uang untuk membeli rumah mewah. Di zaman Daendels, korupsi berbentuk:

1. Merampas tenaga rakyat secara gratis atas nama pembangunan. 

2. Menjual aset negara (tanah) secara murah kepada kroni untuk kepentingan jangka pendek. 

3. Memusatkan kekuasaan tanpa kontrol, sehingga tidak ada yang bisa mengawasi penggunaan anggaran. 

Daendels datang untuk membasmi korupsi warisan VOC, tetapi karena tekanan perang dan wataknya yang otoriter, ia justru menciptakan warisan baru: pembangunan yang mengorbankan rakyat dan lahirnya sistem tuan tanah yang menindas rakyat Jawa selama lebih dari satu abad setelahnya.


Sumber : dari beberapa sumber

Pemisahan Antara Belgia dengan Belanda



Dari Persatuan Paksa Menuju Dua Negara Berdaulat


Jika hari ini kita melihat peta Eropa Barat, Belgia dan Belanda terlihat sebagai dua negara tetangga yang berbeda, damai, dan bahkan mitra dekat di Uni Eropa. Namun, 200 tahun lalu keduanya adalah satu negara. Pemisahan mereka bukanlah perpisahan baik-baik, melainkan hasil dari revolusi, perbedaan identitas yang dalam, dan kepentingan kekuatan besar Eropa. Peristiwa ini dikenal sebagai Revolusi Belgia 1830.

1. Latar Belakang: Kerajaan Bersatu Belanda (1815)
Setelah kekalahan Napoleon Bonaparte, para pemenang perang berkumpul dalam Kongres Wina 1814-1815. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan kekuatan agar Prancis tidak lagi mendominasi.

Salah satu keputusannya adalah menyatukan wilayah utara (bekas Republik Belanda yang mayoritas Protestan dan berbahasa Belanda) dengan wilayah selatan (bekas Belanda Austria yang mayoritas Katolik dan berbahasa Prancis/Walloon).

Gabungan ini diberi nama Verenigd Koninkrijk der Nederlanden / United Kingdom of the Netherlands, di bawah Raja William I dari Dinasti Oranye-Nassau. Di atas kertas, penyatuan ini ideal untuk menjadi negara penyangga yang kuat di utara Prancis. Di lapangan, ini adalah bom waktu.

2. Penyebab Pemisahan
Ada tiga keretakan utama yang tidak bisa didamaikan:

a. Agama dan Budaya: Utara adalah Protestan yang liberal dan berorientasi dagang. Selatan adalah Katolik yang taat, di bawah pengaruh Gereja yang kuat. Raja William I mencoba menasionalisasi pendidikan dan mengekang pengaruh Gereja Katolik, yang memicu kemarahan di Belgia.

b. Ekonomi yang Tidak Adil: Kebijakan ekonomi Amsterdam dianggap merugikan industri di selatan. Pajak tinggi diberlakukan, sementara industri tekstil dan besi di Wallonia (Belgia) dibatasi. Pendapatan negara lebih banyak digunakan untuk membangun kanal dan pelabuhan di utara.

c. Bahasa dan Politik: Bahasa resmi pemerintahan dan militer adalah bahasa Belanda. Padahal elit di Brussels dan Wallonia menggunakan bahasa Prancis. Representasi politik Belgia di parlemen Den Haag juga sangat minim — hanya 55 kursi dari 110, padahal penduduk selatan lebih banyak dari utara. Orang Belgia merasa dijajah oleh orang Belanda sendiri.

3. Meletusnya Revolusi - 25 Agustus 1830
Pemicunya cukup unik: sebuah opera. Pada 25 Agustus 1830, di Teater La Monnaie, Brussels, dipentaskan opera La Muette de Portici yang bercerita tentang pemberontakan rakyat Napoli terhadap Spanyol. Adegan dengan lirik "Amour sacré de la patrie" (Cinta suci tanah air) membakar semangat penonton.

Malam itu juga, massa turun ke jalan, meneriakkan "Vive la Liberté!". Bendera Belanda diturunkan, kerusuhan meluas ke Liège, Namur, dan Leuven. Raja William I mengirim pasukan untuk memadamkan, tapi gagal.

Puncaknya, pada 4 Oktober 1830, Pemerintahan Sementara di Brussels mendeklarasikan kemerdekaan Belgia.

Perang kemerdekaan berlangsung hingga 1831. Belanda mencoba merebut kembali Belgia dalam "Kampanye Sepuluh Hari", namun digagalkan oleh intervensi militer Prancis yang mendukung Belgia.

4. Pengakuan Internasional: Traktat London 1839
Kekuatan besar Eropa — Inggris, Prancis, Prusia, Austria, dan Rusia — tidak ingin perang besar lagi. Mereka mengadakan Konferensi London.

Hasilnya adalah Traktat London, 19 April 1839. Isinya:
1. Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Belgia. 
2. Batas darat sepanjang ± 450 km ditetapkan secara internasional. 
3. Belgia dinyatakan sebagai negara yang netral dan merdeka selamanya. 
4. Leopold I dari Saxe-Coburg diangkat menjadi Raja pertama Belgia pada tahun 1831. 
Traktat Maastricht 1843 kemudian mempertegas detail batas desa per desa.

5. Dampak dan Hubungan Kini
Pemisahan ini melahirkan dua identitas nasional yang berbeda. Belgia memilih sistem monarki konstitusional parlementer, dengan tiga bahasa resmi (Prancis, Belanda, Jerman). Belanda tetap menjadi monarki dengan identitas Protestan-kalvinis yang kuat.

Ironisnya, dua negara yang pernah berperang kini menjadi contoh integrasi terbaik di dunia. Bersama Luksemburg, mereka membentuk Benelux pada 1944, cikal bakal Uni Eropa. Keduanya adalah anggota pendiri Uni Eropa, NATO, dan Zona Schengen. Perbatasan yang dulu dijaga tentara, kini bisa dilewati tanpa paspor.

Kesimpulan
Pemisahan Belgia dan Belanda membuktikan bahwa persatuan politik tidak bisa dipaksakan hanya dengan peta dan perjanjian para raja jika mengabaikan perbedaan agama, bahasa, dan rasa keadilan ekonomi. Revolusi 1830 bukan sekadar pemisahan wilayah, tetapi lahirnya sebuah bangsa yang menuntut hak untuk menentukan identitasnya sendiri.

Kisah mereka memberi pelajaran penting: dari musuh yang memisahkan diri, kini menjadi mitra yang tidak terpisahkan.

Sumber : dari beberapa sumber

Sejarah Lahirnya Kota Ambon: Anomali Kelahiran Kotaku


Sebuah Tinjauan Kritis atas HUT 7 September

Oleh: Membaca Kembali Tulisan M. Azis Tunny


Ada kota-kota yang lahir dari sebuah prasasti, ada yang lahir dari sebuah peperangan, dan ada yang lahir dari sebuah kesepakatan. Namun Ambon adalah satu-satunya kota di dunia yang kelahirannya lahir dari sebuah anomali - tanggalnya diambil dari peristiwa yang berbeda dengan tahunnya.

Anomali itu yang kita rayakan setiap 7 September.

1. Cikal Bakal yang Disepakati: Benteng Anunciada

Sejarawan Maluku, dari Rumphius, Valentijn, hingga Rijali, sebenarnya sudah bersepakat. Entitas awal Kota Ambon bukanlah pemukiman adat, melainkan sebuah benteng Portugis bernama Nossa Senhora de Anunciada.

Benteng yang kini kita kenal sebagai Benteng Nieuw Victoria di Honipopu itu adalah tapak sejarah pertama Ambon sebagai kota.

Dan seperti semua karya Portugis di abad ke-16, pembangunannya tidak pernah lepas dari spiritualitas Katolik Roma. Filosofi mereka jelas: “Jika bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah orang yang membangunnya.”

Maka Panglima Armada Portugis di Maluku, Sancho de Vasconcelos, sengaja meletakkan batu pertama benteng itu bertepatan dengan Pesta Anunsiasi - hari ketika Maria menerima kabar suka cita dari Malaikat Gabriel tentang kelahiran Yesus. Karena itulah benteng itu diberi nama Nossa Senhora de Anunciada, artinya "Bunda Kita yang Diwartakan Kabar Gembira".

Pesta Anunsiasi dalam kalender liturgi Katolik jatuh pada 25 Maret.

Ini bukan kebetulan. Pola yang sama terjadi di seluruh Maluku:

• Benteng João Bautista di Ternate dibangun pada 24 Juni 1522, bertepatan dengan hari St. Yohanes Pembaptis. 

• Benteng Dos Reis Magos di Tidore dibangun pada 6 Januari 1576, bertepatan dengan perayaan Tiga Raja dari Timur yang mengunjungi Bayi Yesus. 

Maka sangat logis, sejarawan Jesuit H. Jacobs (1974) mencatat, Benteng Anunciada di Honipopu diletakkan pada 25 Maret 1576. Penduduk lokal saat itu bahkan tidak menyebutnya Anunciada, mereka menyebutnya Kota Laha - artinya kota atau benteng yang berada di teluk (laha).

Bukti paling otentik justru datang dari surat Kapten Estevão Teixeira de Macedo, Kapten Benteng Anunciada, tertanggal 2 Juni 1601 yang kini tersimpan di Arsip Saville, Spanyol. Dalam surat itu De Macedo menulis tegas: entitas awal yang disebut Cidade de Amboino (Kota Ambon) adalah pada tanggal 25 Maret 1576, saat batu pertama diletakkan di Honipopu. De Macedo adalah kapten sebelum Gaspar de Melo, kapten terakhir yang menyerahkan benteng itu kepada Belanda pada 1605.


2. Di Mana Anomali Itu Terjadi?

Jika fakta Portugis dan Gereja begitu jelas menunjukkan 25 Maret 1576, dari mana datangnya 7 September 1575?

Jawabannya ada pada tahun 1972.

Pada masa Walikota Ambon ke-9, Matheos H. Manuputty, dibentuk Panitia Khusus Sejarah Kota Ambon. Tugasnya menggali dan menentukan hari lahir kota. Panitia ini kemudian bermitra dengan Fakultas Keguruan Universitas Pattimura.

Pada 14-17 November 1972, digelar seminar sejarah. Ketuanya Drs. John Sitanala (Dekan FKIP Unpatti), Wakil Ketua Drs. John A. Pattikayhatu (Ketua Jurusan Sejarah), dan Sekretaris Drs. Z.J. Latupapua.

Seminar itulah yang melahirkan keputusan anomali itu.

• Tahun 1575 diambil dengan alasan dimulainya pembangunan Benteng Kota Laha (Nossa Senhora de Anunciada) di Honipopu. 

• Tanggal 7 September diambil dari peristiwa yang sama sekali berbeda: pada 7 September 1921, berdasarkan Staatblad No. 524, masyarakat Ambon diberi hak yang sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda untuk menentukan pemerintahan kota melalui Gemeenteraad (Dewan Kota). 

Artinya, tahun diambil dari era Portugis abad ke-16, tetapi tanggal diambil dari era Gemeente Belanda abad ke-20. Dua momentum yang berbeda, disatukan secara paksa menjadi satu hari lahir: 7 September 1575.

Keputusan itu kemudian dirayakan untuk pertama kalinya setahun kemudian, pada 7 September 1973, dan terus kita rayakan hingga hari ini.

Inilah yang disebut Azis Tunny sebagai "penyimpangan sejarah yang dilakukan secara sadar".


3. Mengapa Kita Harus Mengoreksinya?

Hasil seminar adalah buah pikir manusia. Sifatnya tidak final, tidak sakral, dan bisa diubah jika ditemukan bukti yang lebih otentik.

Persoalannya bukan sekadar soal tanggal pesta. Ini soal kejujuran intelektual.

Filsuf Jerman Hans-Georg Gadamer dalam Wahrheit und Methode (Kebenaran dan Metode) mengatakan, masa lalu adalah arus tempat manusia bergerak dan memahami dirinya. Jika kita kehilangan sejarah yang benar, kita kehilangan pemahaman tentang diri kita sendiri. Sejarawan Arthur Marwick bahkan menyebut, masyarakat tanpa sejarah yang otentik akan mengambang tanpa pengetahuan diri.

Penulis Rusia Maxim Gorki berpesan sederhana: "Rakyat harus mengetahui sejarahnya."

Bagaimana mungkin kita bisa menulis sejarah Ambon secara benar di bab-bab selanjutnya, jika bab pertama — kelahirannya sendiri — sudah kita mulai dengan rekayasa?

Anomali 7 September 1575 telah memisahkan Ambon dari logika sejarahnya sendiri. Ia mengingkari tradisi Portugis yang sangat liturgis, mengingkari dokumen primer De Macedo 1601, dan menciptakan kebingungan kronologis.


Penutup: 

Saatnya Jujur Pada Sejarah.

Koreksi sejarah bukanlah tindakan makar terhadap kota, melainkan bentuk cinta tertinggi pada kota Ambon yang kita sebut Kota Ambon Manise berhak atas sebuah kebenaran, bukan sebuah kompromi politis tahun 1972.

Saran kritis yang paling jujur seperti yang disampaikan M. Azis Tunny, Direktur Lembaga Studi Politik dan Demokrasi (LSPD), adalah:

Pemerintah Kota Ambon sudah saatnya menggali kembali fakta dan kebenaran sejarah dengan tidak membiarkan sebuah kesalahan melegitimasi hakikat dari keberadaan kota ini.

Jika bukti menunjukkan 25 Maret 1576 adalah hari peletakan batu pertama Nossa Senhora de Anunciada - Cidade de Amboino yang pertama - maka di tanggal itulah Ambon seharusnya berulang tahun.

Karena sejarah yang kita wariskan kepada anak-cucu seharusnya adalah kebenaran, bukan kebohongan yang kita pelihara bersama.

Jumat, 03 Desember 2021

Kudeta NAZI di NIAS



Kepulauan Nias, Sumatera Utara ternyata mempunyai hubungan baik dengan Jerman. Pulau ini bahkan pernah dimerdekakan oleh 66 orang tawanan Jerman yang lolos dari hukuman Belanda.

Herwig Zahorka menuliskan sejarah merdekanya Nias. Cerita ini dimulai saat Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan untuk membawa 477 tawanan Jerman ke tangan kolonial inggris India. Belanda menggunakan kapal yang bernama KPM 'VAN IMHOFF' dengan Kapten kapal bernama Bongvani.

Ratusan orang Jerman tersebut pada akhirnya ditawan dengan kawat berduri. Belanda pun mengawasi mereka dengan menurunkan 62 tentara bersenjata lengkap.

Penyiksaan mereka hanya berlangsung satu hari. Keesokan harinya, kapal tersebut mendapat serangan dari pesawat tempur Jepang. Kapal VAN IMHOFF diberondong tiga bom. Dua bom mendarat di laut, tetapi bom ke tiga mengenai kapal tersebut.

Para tentara Belanda pun kocar-kacir menerima serangan dari Jepang. Mereka menyelamatkan diri dengan menggunakan lima perahu kargo yang ditarik dengan perahu motor penarik. Dengan kapal kargo tersebutlah, orang-orang Belanda meninggalkan kapal dan menuju ke Sumatera.

Beberapa tawanan Jerman yang panik pun akhirnya dapat kabur dari penjara. Mereka menyadari bahwa kapal tersebut akan tenggelam akibat terkena bom dari Jepang.

Dalam upaya menyelamatkan diri, mereka menemukan sebuah sekoci yang tidak sempat dibawa Belanda. Akhirnya beberapa orang tawanan Jerman pun naik dan menyelamatkan diri. Sekitar 200an orang terjun ke laut berharap datangnya bantuan dan diduga mereka tidak selamat.

Hari-hari berlalu, mereka terombang-ambing di tengah laut menahan lapar, terjemur matahari dan bahkan ada yang bunuh diri karena sudah pasrah. Tepat pada hari ke 4 tepatnya 23 Januari 1942, mereka sampai di Pulau Nias.

Keesokan paginya, para tawanan yang sudah lemah dibantu beberapa orang Nias dan seorang pastur Belanda, Ildefons van Straalen, memberikan makanan dan minuman kepada tawanan yang selamat.

Namun sayang, keberadaan mereka di Pulau Nias diketahui oleh Belanda. Mereka akhirnya dibawa ke Ibukota Gunung Sitoli dan dipenjara dengan penjaga dari Belanda dan polisi Indonesia dari daerah Sumatra Utara.

Para tawanan Jerman yang sempat merasakan kebebasan sejenak, akhirnya berusaha mendekati polisi Indonesia. Ide itu pun berhasil. Sepertinya, nasib Jerman kala itu sedang beruntung. Jepang sebagai sekutunya sedang mendarat di Sumatera dan Jawa.

Bantuan Jepang dan kerja sama dengan polisi Indonesia membuat mereka bisa menghirup udara kebebasan kembali. Sedangkan nasib para penjaga Belanda, mereka dibawa ke pengasingan dan tersiksa.

Atas kerja sama tersebut, Jerman dengan Nias menyatakan 'Kemerdekaan Republik Nias'. Rakyat Nias pada saat itu sangat gembira menerima kemerdekaan tersebut. Dan dua orang tawanan Jerman, Herr Fischer dan Albert Vehring menjadi Perdana Menteri dan Mentri Luar Negeri.

Sorak-sorai rakyat Nias wajar, karena mereka merasa mendapatkan kekuatan atas kemerdekaannya. Beberapa minggu setelah merdeka, orang Jerman bersama dengan Nias membuat perjanjian, yang kini dikenal sebagai perjanjian Pulau Nias.

Namun Republik Nias ini tak bertahan lama. Tahun 1942, saat Jepang datang, orang-orang Jerman ini menyerahkan 'Republik Nias' ke tangan balatentara Nippon. Sebab Jepang adalah sekutu Jerman dalam Perang Dunia II. Indonesia diakui sebagai jajahan Jepang.

Republik Nias ini umurnya hanya beberapa bulan saja, itulah sebabnya warga Nias sendiri tak banyak tahu soal kiprah para orang Jerman ini. Mereka umumnya hanya mengetahui orang Jerman banyak menjadi misionaris di pulau yang terkenal dengan lompat batunya.


Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-tawanan-jerman-buat-pulau-nias-merdeka-dari-belanda.html

Kamis, 02 Desember 2021

Menegakkan Aturan, Jan Pieterszoon Coen Hukum Mati Pedofil

Patung Jan Pieterszoon Coen di Lapangan Banteng

Jan Pieterszoon Coen adalah peletak dasar kolonialisme Belanda. Gubernur Jenderal Gubernur Jenderal VOC dua kali --1619-1623 dan 1627-1629— juga kesohor sebagai Calvinisme yang taat. Ia bahkan turut mendidik kaumnya untuk taat kepada Tuhan. Ia bertindak sebagai penjaga moral. Tiada ampun bagi orang Belanda yang melanggengkan praktik perzinaan, terutama pedofilia. Mereka diancam hukuman mati.

Dalam lembar sejarah penjajahan Belanda, sosok Coen adalah yang paling dikenal. Ia jadi sosok yang mampu berpikir melampaui zaman. Rencana monopoli perdagangan di wilayah Nusantara adalah idenya. Namun, Coen tak hanya berpikir perkara monopoli. Ia justru berpikir yang lebih besar, yakni membangun koloni di Nusantara. Bukan sembarang koloni. Tapi koloni yang diisi orang-orang Eropa yang beradab. Sebuah koloni yang mengedepankan ketaatan pada Tuhan.

Sebagai bentuk keseriusan, tahun-tahun awal Coen sebagai Gubernur Jenderal banyak didedikasikan untuk memberantas penyakit moral. Pemberantasan makin kuat ketika Coen menaklukkan Jayakarta dan mengubahnya menjadi Batavia pada 1619. Ia serta merta menginginkan Batavia muncul sebagai kota yang menganut nilai-nilai religius.

Semua itu karena kehidupan di Tanah Koloni yang banyak menganggap sepele nilai-nilai keagamaan. Akibatnya, perzinaan muncul pada tiap sudut kota berjuluk Ratu dari Timur. “Pada awalnya hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk mengendalikan situasi tersebut. Para prajurit dan pelaut telah tercerabut dari Tanah Airnya, kekurangan wanita, dan ditempatkan di kantor-kantor dagang terpencil di daerah dengan peradaban yang asing,”

“Mereka mendengar desas-desus tentang harem yang berasal dari pertemuan-pertemuan awal para pedagang senior dengan para putri bangsawan Asia. Sementara atasan mereka sendiri mengambil para budak untuk kebutuhan pribadi. Dalam keadaan seperti itu, nilai-nilai moral yang mereka bawa dari Tanah Airnya mulai memudar dan tidak bisa diharapkan lagi,” ungkap Jean Gelman Taylor dalam buku Kehidupan Sosial di Batavia (2009).

Coen mengupayakan segala cara untuk memberantas penyakit moral. Peraturan mengikat yang berlaku untuk semua orang Belanda yang tinggal di Batavia dikeluarkan olehnya. Orang Belanda di Batavia dilarang memiliki satu atau lebih budak wanita untuk dijadikan gundik dengan alasan apapun. Bagi Coen, terlalu banyak kasus aborsi menyedihkan yang terjadi di Batavia.

Lagipula, masalah terkait seorang gundik mencoba membunuh tuannya dengan racun karena kecemburuan dan lain hal makin mengemuka. Peraturan itu awalnya tak berjalan efektif. Coen kemudian memahami situasi bahwa masih banyak para pejabat tinggi VOC yang menggunakan jasa budak wanita sebagai ‘teman tidur'.

Tepat setelah dua tahun berdirinya Batavia, Coen makin memperketat peraturannya. Isinya terpampang jelas jikalau semua laki-laki dengan jabatan apapun dilarang melakukan perzinahan. Apapun bentuknya. Peraturan itu juga ditunjukkan kepada wanita Eropa. Kaum wanita Eropa dilarang berhubungan seksual tanpa ikatan dengan sesama kaumnya, apalagi dengan kaum lain – dari Mardijker hingga orang Moor.

“Untuk mengendalikan arus balik tersebut, Pemerintah Agung menerapkan sejumlah peraturan ketat yang mengatur kehidupan bermasyarakat sesuai norma hidup di ‘Republik Kristen.’ Pergundikan dan ‘kumpul kebo’ dilarang keras dan mereka yang tertangkap basah melakukannya dihukum amat berat. Untuk menerapkan kebijakan itu jaksa kota dengan menunggang kuda dan pedeta dengan berjalan kaki rajin menyisir lingkungan pemukiman dan rumah-rumah,” tulis Sejarawan Hendrik E. Niemeijer dalam buku Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII (2012).

Hukuman mati untuk pedofil

Dalam menegakkan aturan, Coen tak pandang bulu. Bahkan mereka yang melakukan perzinaan yang dianggap Coen menyimpang, seperti homoseksual dan pedofilia turut diadili. Perzinaan bentuk itu biasanya terbatas pada kalangan pelaut dan kapal-kapal dagang VOC yang berdagang melayari samudera.

Pelayaran Belanda –Batavia yang selama hampir setahun mengharus mereka tidak mengikutsertakan istri. Yang terjadi mereka diwajibkan membujang dan menjauhkan diri dari hubungan seksual. Karena tidak ada wanita, berahi yang tak terhindarkan ini memunculkan penyimpangan seksual sesama jenis.

Kala itu homoseksual diatas kapal banyak dilakukan pelaut tua kepada pelaut muda. Coen paham benar masalah itu. Jauh sebelum menjadi gubernur jenderal VOC, sedari remaja Coen memang sering ikut berlayar. Berkat itu ia memahami betul Hierarki posisi di sebuah kapal dagang VOC yang sering kali memperlihatkan perlakukan menyimpang.

Lazimnya kapal dagang era itu, memiliki awak dengan ragam fungsi. Ada yang menjadi nakhoda, jurumudi, jurubatu, mualim, awak kapal, hingga muda-muda. Dominasi kaum laki-laki itulah yang membuat penyimpangan homoseksual banyak terjadi. Pun perihal pedofilia dari kalangan pelaut tua kepada muda-muda yang masih tercatat sebagai anak di bawah umur sering terjadi. Posisi muda-muda sendiri didominasi oleh mereka yang melaut untuk cari pengalaman.

“Kemudian ada juga muda-muda, kadet kapal yang ikut berlayar untuk mencari pengalaman. Tugas mereka ialah mendampingi nakhoda jika ia turun ke darat dan mengawasi orang abdi. Selama berlayar, mereka harus mengawasi orang jaga dan orang yang bekerja di anjungan,” ujar Adrian B. Lapian dalam buku Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17 (2008).

Urusan perzinaan di atas kapal-kapal dagang ini dipandang sebagai pelanggaran serius oleh Coen. Tak main-main, kepada yang melakukan perizinahan --homoseksual atau pedofil-- hukuman mati akan menanti. Coen tak peduli dengan lamanya perjalanan antara Belanda-Batavia.

Ia cuma ingin orang Belanda di bawah kuasanya taat kepada tuhan dan menciptakan koloni dengan masyarakat kelas menengah baik-baik. Seperti di Belanda, katanya. Alhasil, Coen dengan tegas menyebut tidak ada seks dalam pelayaran. Melakukannya sama dengan kematian.

“Ketika kapal-kapal dagang VOC melayari samudra, seperti halnya kapal-kapal Eropa, untuk mencari komoditas bahan dagangan di benua lain, ada aturan yang sangat tegas yang harus dipatuhi para awak kapal. Aturan tersebut berupa larangan terhadap praktik homoseksualitas.”

“Walaupun perjalanan menantang maut kapal-kapal VOC ke timur menghabiskan waktu berbulan-bulan, larangan terhadap praktik homoseksualitas itu tetap diperlakukan. Apabila terbukti di antara awak kapal melakukan hukuman sejenis, hukuman mati menjadi imbalannya. Hal tersebut sangat berat, apalagi mereka harus menahan salah satu kebutuhan hakiki dalam waktu yang lama,” tutup Achmad Sunjayadi dalam buku [Bukan] Tabu di Nusantara (2018).


Sumber : https://voi.id/.../zaman-belanda-jan-pieterszoon-coen...

Loe Sek Hie, Komandan Pao An Tui


Loe Sek Hie lahir di Batavia pada tahun 1898 yang merupakan anak dari Baba Bangsawan Loe Tiang Hoei seorang Kapitan der Chinezen di pasar baru dari salah satu gundiknya yang berdarah Austria dan Jawa.

Selama masa mudanya ia mendapatkan pendidikan eropa dan disekolahkan di Europeesche Lagere School (ESL) dan Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia kemudian melanjutkan pendidikan perniagaan dan hukum.

Pada tahun 1927 Loe bergabung menjadi anggota Volksraad salah satu badan legislatif pertama di Hindia Belanda sampai masuknya Jepang ke Hindia Belanda dalam Perang Dunia II. Selama menjadi anggota Legislatif, Loe bersama H.H.Kan mewakili Chung Hua Tsung Hui (perkumpulan Tionghoa perantauan/peranakan) dimana mereka sedang berusaha mengupayakan penghapusan Diskriminasi berdasarkan Ras di Hindia Belanda dan berusaha mengembangkan sarana pendidikan dan kesehatan bagi komunitas Tionghoa di Hindia Belanda. Dalam hal ini Loe menjadi kepala pengurus dan salah-satu pendiri Jang Seng Ie (sekarang Rumah Sakit Husada).

Perang Dunia II terjadi dan Jepang mulai masuk ke wilayah Hindia Belanda dimana Loe ditangkap di Cimahi bersama dengan tokoh tokoh pemerintah kolonial lainnya termasuk rekan politiknya yaitu H. H.Kan dan Khouw Kim An, Majoor der Chinezen. Tidak lama kemudian Jepang terkalahkan dan Loe dibebaskan pada tahun 1945.

Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaan pada tahun 1945, telah mengalamin banyak revolusi Nasional guna mempertahankan kemerdekaan akan tetapi dibalik semua proses ini terjadi banyak huru-hara yang berupa penjarahan dan pembunuhan yang dilakukan oleh milisi Indonesia yang tidak bertanggungjawab dimana sasarannya adalah orang Tionghoa.

Akibat insiden ini membuat Loe bersama Tokoh tokoh masyarakat Tionghoa lainnya melakukan konferensi Chung Hua Tsung Hui untuk membahas mengenai keselamatan nyawa orang Tionghoa yang saat ini masih terancam dan selalu menjadi korban. Konferensi ini juga didukung oleh Tanah leluhurnya yakni ROC dan akhirnya mereka telah mengambil keputusan untuk mendirikan sebuah unit militer Pao An Tui pada tahun 1947 yang diisi oleh pemuda Tionghoa yang beritikad untuk tetap netral dan bertindak sebagai barisan keamanan untuk melindungin Etnis Tionghoa. Loe ditunjuk menjadi pimpinan Pao An Tui mengingat Loe juga seorang Pro-Nasionalis yang punya banyak hubungan baik dengan pejabat Kuomintang.

Pao An Tui didukung oleh Perdana Menteri RI yaitu Sutan Sjahrir dan juga Soekarno akan tetapi walau didukung secara resmi mereka tidak bersedia untuk mempersenjatain mereka karena khawatir akan disalahgunakan. Maka dari itu Pao An Tui yang bermodalkan persenjataan yang begitu terbatas dimana Chiang Khai Shek telah mengirimkan persenjataan yang terbilang sangat dikit karena mereka juga masih melanjutkan konflik dengan Komunis.

Namun tidak lama kemudian Belanda mempersenjatai dan memberi pelatihan kepada Unit Pao An Tui, karena adanya bantuan dari Belanda ini banyak yang menuding bahwa Pao An Tui adalah kaki tangan Belanda, padahal sejatinya Pao An Tui hanya dipersenjatakan dan tidak bergerak dibawah Belanda melainkan bergerak sendiri secara Indenpenden dan tetap menyatakan netral walau ada sedikit bentrokan dengan para pejuang/TNI.

Setelah sukses melindungin etnisnya, Loe kemudian turut ikut dalam usaha soal masa depan Indonesia dan Loe mendukung Republik Indonesia Serikat (RIS) didirikan karena beranggapan bahwa RIS akan dapat lebih memfokuskan memberikan otonomi otonomi Non-Jawa di Tanah air, sebab menurutnya Federalisme adalah bentuk pemerintahan yang paling cocok untuk Indonesia yang bersifat beragam suku-bangsa yang tidak diharuskan berfokus pada satu patokan saja.

Akan tetapi karena Federalisme dipandang sebagai bentuk gaya barat dan usaha Belanda untuk menjajah dengan halus maka dari RIS dibubarkan dan tetap menjadi kesatuan RI.

Karena latar belakang Loe yang sangat dekat dengan pemerintah Kolonial membuat andil politiknya sangat berkurang pada era Kemerdekaan dan menuduhnya sebagai pengkhianat bangsa membuat ia harus tinggal di Belanda sampai akhir hayatnya.

Loe sek Hie meninggal di Den Haag di Belanda pada tanggal 24 Desember 1965.



Referensi:

- Setyautama, Sam & Mihardja, Suma. Tokoh-tokoh etnis Tionghoa di Indonesia. 

- Tong, Chee Kiong (2010). Identity and ethnic relations in Southeast Asia racializing Chineseness. Dordrecht: Springer. 

- Sulardi (2015). Pao An Tui 1947-1949: Tentara Cina Jakarta.

- Wikipedia.

Rabu, 03 November 2021

504 Tahun Reformasi Protestan Sang Profesor, Martin Luther

 


Martin Luther merupakan seorang profesor di bidang teologi sekaligus pastor Katolik yang berasal dari Jerman. Luther menjadi dikenal karena menggagas Reformasi Protestan yang memberikan perubahan dalam sejarah Kekristenan dunia. Keputusannya untuk menerjemahkan Alkitab ke bahasa Jerman memberikan dampak tidak saja bagi gereja maupun juga kebudayaan jerman. Berikut merupakan biografi dari pastor yang menginginkan agar para jemaat gereja bisa semakin dekat dengan Tuhan.


1.  Masa Kecil.

Martin Luther lahir pada 10 November 1483 di Eisleben, Mansfeld County, wilayah Kekaisaran Roma Suci. Putra dari pasangan Hans Luther dan Margarethe Lindemann. Orang tuanya merupakan petani meski Hans juga menuai kesuksesan dalam bidang pertambangan. Hans yang ambisius ingin Luther menjadi pengacara. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Karena itu di usia tujuh tahun ayahnya mengirim Luther ke sekolah bahasa Latin di Mansfeld, kemudian ke Magdeburg di 1497. Setahun kemudian, dia kembali ke Eisleben dan mempelajari tata bahasa, retorika, dan logika. Pelajaran yang disebutnya "Pembersihan dan Neraka". Pada 1501 saat dia berusia 17 tahun, dia masuk Universitas Erfurt dan memperoleh gelar Master of Art di bidang tata bahasa, logika, retorika, dan metafisika.

 

2.  Menjadi Biarawan.

Salah satu momen terpenting dalam hidup Luther terjadi pada 2 Juli 1505. Saat itu, dia sedang berada dalam perjalanan kembali ke kampus. Di saat hujan badai, petir menyambar dekat Luther. Kepada ayahnya, dia berujar begitu takut akan kematian dan penghakiman abadi. "Tolong! Santa Anna, aku ingin menjadi biarawan!" ujar Luther dalam teriakannya. Dia kemudian memutuskan berhenti dari sekolah hukum. Dia menjual bukunya, dan memasuki Biara St Augustine di Erfurt pada 17 Juli 1505. Sebuah keputusan yang mendapat respon negatif baik dari keluarga maupun teman-temannya. Luther mendedikasikan hidupnya bagi Ordo Augustine. Di antaranya berpuasa, berdoa, berziarah, dan melaksanakan pengakuan dosa. Meski begitu, awal kehidupan Luther tidaklah mudah. Sebabnya, dia tidak menemukan pencerahan rohani seperti yang selama ini dia cari. Mentornya, Johann von Staupitz, mencoba mengarahkan Luther agar dia hanya fokus kepada Yesus Kristus alih-alih dosanya. Von Staupitz mengajarkan bahwa pertobatan sejati tidak melibatkan hukuman. Namun dimulai dari perubahan diri sendiri. Pada 3 April 1507, Bishop Brandenburg Jerome Schults menahbiskan Luther di Katedral Erfurt. Setahun kemudian, dia dikirim untuk mengajarkan Teologi di Universitas Wittenberg. Dia menerima gelar Sarjana Studi Kitab Suci pada 9 Maret 1508 dan menerima gelar sarjana lain di bidang Dour Books of Sentences oleh Peter Lombard di 1509. Dia menerima titel Doktor Teologi pada 19 Oktober 1512 dan dua hari kemudian, dia diterima menjadi anggota Senat Fakultas Teologi Universitas Wittenberg.



3.  Dimulainya Reformasi Protestan.

Pada tahun 1516, seorang Imam Ordo Dominikan bernama Johann Tetzel dikirim ke Jerman oleh Kekaisaran Roma Suci untuk menjual surat pengampunan. Pengalamannya sebagai  imam  pengampunan  antara 1503-1510 membuatnya dilantik menjadi Komisioner Jenderal oleh Uskup Agung Mainz Albrech von Brandenburg. Selanjutnya pada tanggal 31 Oktober 1517, Luther menulis surat kepada Von Brandenburg memprotes penjualan surat pengampunan demi mendapat dana membangun Basilika Santo Petrus di Roma. Di umur 27 tahun, Luther berkesempatan menjadi delegasi konferensi Gereja Katolik di Roma. Di sana, dia merasa sedih dengan korupsi dan perbuatan amoral di antara imam. Di tengah studinya tentang Kitab Suci, dia mengalami pencerahan tatkala membaca Mazmur 22 saat mempersiapkan bahan kuliah. Di sana tertulis tentang ratapan dan penderitaan Yesus ketika menghadapi penyaliban. Sebuah ratapan yang mirip dengan kekecewaan Luther kepada agama dan Tuhan. Dua tahun kemudian ketika mempersiapkan bahan kuliah tentang surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, dia membaca "orang benar bakal hidup oleh iman". Dia sempat merenungkan kalimat tersebut sebelum dia paham bahwa kunci keselamatan rohani bukan diperbudak dogma agama, tetapi percaya bahwa iman itu sendiri yang membawa keselamatan. Pada periode inilah, dia mengalami perubahan besar dalam hidupnya sekaligus menandai terjadinya Reformasi Protestan. Surat protes kepada Uskup Agung Von Brandenburg kemudian dikenal sebagai Ninety-five Theses yang dalam dua pekan, salinannya menyebar ke seluruh Jerman. Kemudian tulisan tersebut menyebar hingga ke Perancis, Inggris, maupun Italia pada 1519. Para cendekiawan menuju Wittenberg untuk mendengarkan kuliah Luther.


4.  Ekskomunikasi dengan Kepausan.

Setelah Theses menyebar, pada Juni atau Juli 1519, Luther menyatakan Kitab Suci tak memberi Paus hak eksklusif untuk menginterpretasikan. Pernyataan itu merupakan bentuk serangan langsung kepada otoritas kepausan. 15 Juni 1520, Paus Leo mengirim surat berisi ancaman. Surat itu berisi ancaman Luther bakal mendapat ekskomunikasi kecuali dia menarik 41 kalimat dalam suratnya, termasuk Theses dalam waktu 60 hari. Di 10 Desember 1520, Luther membakar surat tersebut yang membuat Paus Leo menjatuhkan ekskomunikasi pada 3 Januari 1521. Pada 18 April 1521, dia dipanggil untuk datang ke Diet of Worms, sebuah pertemuan otoritas sekuler Kekaisaran Roma Suci di kota Worms. Di sana, Luther kembali bersikukuh dia tak bersalah, dan meminta ditunjukkan dalil untuk mematahkan argumentasinya, yang tak bisa dilakukan dewan. Karena itu pada 8 Mei 1521, dewan mengeluarkan Dekrit Worms berisi larangan bagi Luther untuk menulis, dan mengumumkannya sebagai "terpidana bidaah". Dekrit itu membuatnya seolah dikutuk dan buronan. Seorang teman kemudian membantu menyembunyikannya di Kastil Wartburg. Selama dalam masa persembunyian, Luther menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke bahasa Jerman supaya masyarakat bisa memahaminya.


5.   Aliran Lutheran.

Meski berada dalam ancaman penangkapan, Luther memutuskan kembali ke Kastil Gereja Wittenberg yang berada di Eisenach. Di Mei 1522, dia mengatur sebuah gereja baru yang dikenal sebagai Lutheranisme yang ternyata mendapat dukungan para pangeran Jerman dan pengikut. Saat Perang Petani pecah di 1524, Luther memiluh untuk berpihak kepada para penguasa supaya gerejanya tetap bertumbuh. Setahun kemudian, Luther menikah dengan Katharina von Bora, mantan biarawati yang meninggalkan biara dan mengungsi ke Wittenberg, dan punya enam anak.


6.   Masa Akhir dan Kematian.

Antara 1533 hingga 1546, Luther mengabdi sebagai Dekan Teologi di Universitas Wittenberg. Saat itu, kesehatannya mulai menurun. Dia menderita Penyakit Meniere, vertigo, masalah pencernaan, dan katarak di salah satu matanya. Sakit dan masalah emosional memengaruhi tulisannya. Beberapa karyanya berisi bahasa yang menyinggung dan kasar terhadap beberapa elemen masyarakat. Antara lain kalangan Yahudi. Pada 18 Februari 1546 pukul 02.45, Luther meninggal dunia dalam usia 62 tahun di Eisleben setelah terserang stroke. Jenazahnya dimakamkan di Wittenberg, tepatnya di bawah mimbar. 




Untuk mengenang karya Profesor Martin Luther ini, maka tanggal setiap 31 Oktober dijadikan peringatan Hari Reformasi Gereja atau Hari Pekabaran Injil bagi Gereja Protestan di seluruh dunia.




Sumber : 

Artikel ini telah tayang di  text-decoration-line: none;">Kompas.com

dengan judul "Biografi Tokoh Dunia: Martin Luther, Tokoh Reformasi Protestan", Klik untuk baca:  text-decoration-line: none;">https://internasional.kompas.com/read/2018/11/07/21355921/biografi-tokoh-dunia-martin-luther-tokoh-reformasi-protestan?page=all 

Penulis & Editor : Ardi Priyatno Utomo

SEJARAH 75 TAHUN SMP KRISTEN URIMESING AMBON (1951–2026)

“Mengabdi Melalui Pendidikan, Bertumbuh dalam Iman dan Ilmu - Merawat Identitas Nona, Nyonya, dan Pak Guru” Oleh : Icon I. PENDAHULUAN: SEKO...