Riwayat Dan Warisan Kekristenan Kiai Sadrach Surapranata (1835-1924)
Sesudah tahun 1830 di pedesaan Jawa muncul pelbagai kelompok Kristen yang terlepas dari aktivitas misionaris Eropa. Fenomena ini menandai babak baru kekristenan pribumi di Jawa, di mana Injil tidak lagi hanya dibawa oleh Belanda, tetapi oleh orang Jawa sendiri. Salah satu kelompok yang paling besar dan paling berpengaruh adalah yang dipimpin oleh Sadrach Surapranata, yang lebih dikenal sebagai Kiai Sadrach. Ia menempati posisi yang sangat menentukan, bukan sekadar penginjil Jawa yang berhasil, melainkan peletak dasar Gereja Kristen Kerasulan Jawa.
Gelar "Kiai" yang melekat padanya bukanlah pemberian zending. Sebelum menjadi Pengikut Kristus, Kiai Radin Abas alias Sadrach sempat berdakwah menyebarkan agama Islam. Pemahamannya tentang agama Islam didapat selama nyantri di pondok pesantren di Jombang yang mengantarkannya mendapat julukan sebagai seorang Kiai.
Riwayat Hidup Dan Perjalanan Spiritual
Mengenai tanggal dan tempat kelahiran Sadrach tidak diketahui secara jelas, namun dari beberapa data dapat disimpulkan bahwa dia lahir pada tahun 1835. Tempat kelahirannya masih diperdebatkan antara Kawedanan Jepara, Desa Dukuh Sekti Demak, hingga desa Luring dekat Semarang, namun semua tempat tersebut terletak di daerah pantai utara Jawa Tengah, tempat pertama kali Islam berpijak.
Nama kecilnya Radin. Ia berasal dari keluarga petani miskin, yang sejak masa kecil sudah berkelana dan menjadi pengemis. Kemungkinan Radin menjadi pengemis pada waktu masih pelajar, karena sudah menjadi tradisi murid-murid sekolah Alquran dan pesantren untuk mengemis sebagai bagian dari kurikulum, yang dilakukan pada hari Kamis (ngemis dari kata Kemis).
Radin kemudian diadopsi oleh keluarga Muslim yang cukup kaya melalui tradisi Jawa nyuwito atau magang, yaitu mengabdi untuk mendapat perlindungan dan belajar. Dari sini pencariannya dimulai:
1. Ilmu Islam: Belajar di sekolah Alquran di Jawa Tengah, lalu pondok pesantren di Jombang dan Ponorogo, di mana ia belajar membaca dan menulis dengan aksara Arab, pegon, dan aksara Jawa.
2. Ilmu Jawa (Ngelmu): Berguru kepada Pak Kurmen atau Sis Kanoman di Semarang sebagai guru ngelmu Jawa.
3. Kontak Kristen Pertama: Pada waktu liburan sebagai santri di Jombang, ia pergi ke Mojowarno untuk mendengarkan pengajaran Jellesma, seorang misionaris Belanda. Ini merupakan kontak pertama kali seorang santri Radin dengan ajaran Kristen dan dengan orang Belanda.
Setelah lulus, ia kembali ke Semarang, tinggal di Kauman, dan menambahkan nama Arab menjadi Radin Abas. Ia kemudian belajar katekisasi kepada Hoezoo di Semarang dan diperkenalkan dengan Kyai Ibrahim Tunggul Wulung dari Bondo Jepara. Bersama Tunggul Wulung, Radin dibawa ke Batavia untuk bertemu Anthing. Di Batavia Radin menjadi murid dan anak mas Anthing, ikut pendidikan Kristen yang didirikan Anthing untuk anak-anak muda pribumi. Setahun setelah lulus, ia memutuskan menjadi Kristen dan dibaptiskan dengan nama Sadrach di Gereja Zion (sekarang GPIB Zion). Sejak itu namanya menjadi Radin Sadrach. Dalam perjalanannya ia menguasai empat bahasa: Jawa, Indonesia (Melayu), Arab, dan Belanda.
Pelayanan awalnya adalah bekerjasama menjual buku-buku Kristen di seputar Batavia, namun ia merasa tidak cocok dan minta izin kembali ke Jawa Tengah. Di sana ia bergabung dengan Tunggul Wulung membangun desa-desa Kristen di Bondo, lalu meninggalkan Bondo dengan air mata berlinang menuju Purworejo dan bekerjasama dengan keluarga Stevens-Philips, di mana ia menjadi penginjil Jawa yang menonjol.
Strategi Missi Kontekstual
Aktifitas Kekristenan Kyai Sadrach difokuskan pada kelompok masyarakat pedesaan di Jawa. Kunci keberhasilannya adalah ia tidak menuntut orang Jawa menjadi Belanda untuk menjadi Kristen. Ia menghadirkan Protestantisme bercorak tradisi adat istiadat setempat sehingga mereka tidak terlalu jauh melompat ke cara hidup yang baru.
Setidaknya ada dua aspek utama pada metode Tradisi dan Kebudayaan Jawa dalam kristenisasi versi Kiai Sadrach: pertama ibadah, kedua hubungan sosial. Ia tetap memakai blangkon dan beskap, dipanggil Kiai, dan memimpin komunitas model pesantren. Corak Islam-Jawa yang kental padanya tidak bisa dilepaskan begitu saja, bahkan ketika ia sudah memeluk Kristen. Corak khas itu yang tetap ia bawa ketika mengajarkan Kekristenan kepada muridnya. Salah satu ajarannya yang terkenal adalah simbol sapu lidi untuk mengajarkan kesatuan Tubuh Kristus: rapuh jika sendiri, kuat ketika disatukan.
Namun keberhasilannya justru membawa konflik. Berasal dari keluarga miskin yang berkelana untuk menuntut ilmu, setelah memeluk Kristen ia sendiri terjun menyebarkan agama yang dianutnya dan ia berhasil. Tetapi apa daya? Sadrach terpaksa berhadapan dengan misionaris Eropa yang menuntut hegemoni atas jemaahnya. Kiai Kristen ini menolak dan mendirikan sekte sendiri.
Wujud Warisan YangbMasih Bertahan
Warisan Kiai Sadrach tidak hilang dengan wafatnya pada tahun 1924. Ia hidup dalam tiga wujud hingga hari ini:
1. Warisan Kelembagaan: Akar Tiga Sinode GKJ
Model gereja kerasulan yang ia bangun mula-mula hidup dalam komunitas Golongane Wong Kristen Kang Mardika. Seiring bertambahnya jemaat, gerakan ini dilembagakan dalam Pasamoean Kristen Djawi. Dari rahim organisasi inilah lahir tiga sinode yang secara historis merupakan kelanjutan langsung dari fondasi Gereja Kristen Kerasulan Jawa, yaitu Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU), dan Gereja Kristen Jawa Tengah Selatan (GKJTS).
Kesinambungan ini dijaga oleh murid-muridnya, seperti Sahat Salmon Singoredjo, seorang petani sekaligus tukang kayu dari Purworejo yang dibaptis pada 1878 di Karangjoso dan aktif mengikuti kumpulan gedhe—ibadah raya yang dipimpin langsung oleh Kyai Sadrach. Putranya, Josaphat Darmohatmojo (1899–1984), tercatat melayani sebagai pendeta Pasamoean Kristen Djawi Purworejo dan kemudian menggembalakan GKJ di Yogyakarta, menunjukkan kesinambungan pelayanan dari akar kerasulan menuju gereja sinodal modern.
2. Warisan Teologis: Ritual Jawa yang Dikristenkan
Warisan kedua adalah teologi kontekstualnya yang masih hidup di pedesaan. Di GKJ Kasimpar misalnya, orang-orang Kristen Jawa masih mengadakan slametan dengan memaknai ulang atributnya. Misalnya, tumpeng dimaknai sebagai Golgota, sedangkan ingkung sebagai simbol penyerahan diri. Hal ini berbeda dengan GKJ Ngampel yang tidak lagi mengadakan slametan. Tradisi ini membuktikan perpaduan antara unsur-unsur kepercayaan Jawa dan Islam dengan agama Kristen Protestan yang ia tekankan.
3. Warisan Fisik: GKJ Karangjoso sebagai Cagar Budaya
Warisan fisik yang paling otentik adalah Gereja Kristen Jawa Karangjoso di Purworejo, gereja yang sudah berdiri sejak tahun 1871. Di dalam kompleks gereja yang memiliki 30 jemaat aktif ini terdapat bangunan Gereja dan rumah dari Kiai Sadrach yang masih berdiri tegak sejak tahun 1871 beserta dengan perabotan dan benda-benda pusaka yang dimiliki oleh Kiai Sadrach seperti keris, tombak, payung dan masih banyak lagi. Gereja ini tercatat sebagai gereja tertua di Pulau Jawa dan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten Purworejo di tahun 2017, serta menjadi tujuan wisata religi bagi peneliti dari dalam dan luar negeri, kebanyakan dari Belanda.
Riwayat tentang sejarah perjalanan Kiai Sadrach ini menjelaskan jalannya penyebaran agama di Jawa yang telah menerima agama Hindu, Budha, dan Islam tanpa peperangan maupun penaklukan. Kekuatan utama Kyai Sadrach bukan semata pada jumlah pengikutnya, melainkan pada fondasi gereja pribumi yang ia bangun. Namun, sebuah catatan kritis menyebutkan bahwa sepeninggal Sadrach komunitas Kristen Jawa hilang arah, kembalinya mereka ke bimbingan Zending menjadikan penerusnya saat ini yaitu GKJ telah kehilangan jati diri Kristen Jawa karya Sadrach.Maka warisan Sadrach hari ini adalah pertanyaan yang masih terbuka: akankah kekristenan Jawa kembali menemukan kemandiriannya sebagai Wong Kristen Kang Mardika.
Sumber :
1. Guillot, C. Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa. Yogyakarta: IRCiSoD, 2020.
2. Sariman, Silas. "Strategi Misi Sadrach." Jurnal Abdiel 3, no. 1 (2019).
3. Partonadi, Soetarman. Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.















