Minggu, 20 September 2026

Sejarah Pembantaian Orang Banda Neira oleh Jan Pieterszoon Coen


Latar Belakang, Kronologi, dan Warisannya

1. Pala Lebih Berharga dari Nyawa

Kepulauan Banda, 10 pulau kecil di Laut Banda, selama berabad-abad adalah satu-satunya tempat di dunia yang menghasilkan pala dan fuli (bunga pala). Di Eropa, pala setara dengan emas - bukan hanya bumbu, tapi pengawet, obat, dan penangkal wabah. Siapa menguasai Banda, menguasai kekayaan dunia. Penduduk asli Banda menyebut diri mereka Wandan atau Wakan, dipimpin oleh dewan Orang Kaya (orang yang kaya ilmu, berani, dan disegani), bukan raja tunggal. Mereka adalah pedagang merdeka yang berdagang dengan Jawa, Melayu, Arab, Cina, dan Portugis sejak abad ke-14.

2. Latar Belakang Konflik VOC

Pada 1602 Belanda mendirikan VOC dengan tujuan monopoli total. Sejak 1609 VOC memaksa kontrak monopoli: Banda hanya boleh jual pala ke VOC dengan harga VOC. Orang Kaya menolak karena mereka butuh impor makanan dan ingin jual ke penawar tertinggi, termasuk Inggris (EIC) yang punya pos di Pulau Run dan Ai. Frustrasi karena tidak bisa jual pala lebih murah dari Inggris, petinggi VOC di Amsterdam pada 1614 memutuskan: VOC harus menaklukkan seluruh Banda, bahkan jika penduduknya harus dihancurkan. Pembunuhan pejabat VOC Pieter Willemszoon Verhoeff oleh orang Banda pada Mei 1609 di Banda Neira dijadikan alasan untuk memulai perang.

Ekspedisi berlanjut: Pulau Ay diserang 1610-1616, penduduknya dibunuh atau 400 orang tenggelam saat melarikan diri ke Run. Benteng Belgica dan Fort der Wrake dibangun. Pulau Run dibela oleh Inggris di bawah Nathaniel Courthope sejak 1616 yang meyakinkan penduduk Run menerima Raja James I sebagai penguasa. Belanda mengepung bertahun-tahun sampai Courthope gugur 1620, lalu semua laki-laki dewasa Run dibunuh, wanita-anak diasingkan, dan semua pohon pala ditebang.

3. Jan Pieterszoon Coen dan Pembantaian 1621

Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC yang menghancurkan Jayakarta dan mendirikan Batavia (1619), tiba di Banda pada 27 Februari 1621 dengan 19 kapal, 1.655 tentara Eropa, 286 pasukan Asia, 100 samurai bayaran Ronin, dan ratusan budak Jawa.

Pada 7 Maret - April 1621, Pulau Lonthor (Banda Besar) dikepung. Setelah benteng jatuh, Coen memanggil 44 Orang Kaya untuk berunding damai di Benteng Nassau pada 8 Mei 1621. Begitu datang, mereka dituduh berkhianat. Enam Ronin diperintahkan masuk, memenggal kepala 8 Orang Kaya, membelah badannya jadi empat, lalu memenggal 36 lainnya. Kepalanya dipajang di tombak sebagai teror. Mayat dibuang ke sumur tua di samping Nassau, kini dikenal sebagai Parigi Rante (Perigi Rante).

Setelah itu pembersihan total: pasukan VOC menyisir setiap pulau, membunuh tanpa pandang bulu laki-laki, perempuan, tua, muda, termasuk pedagang Nusantara, Arab dan Cina. Dari populasi sekitar 15.000 jiwa, sekitar 2.800 dibunuh langsung, 1.700 diperbudak dan dibawa ke Batavia, 6.000 melarikan diri, dan hanya 480-1.000 tersisa. 68 perkebunan pala (perken) kemudian diberikan kepada mantan pegawai VOC (perkenier) dan dikerjakan budak datangan.


4. Negosiasi VOC-Inggris: Pulau Run Ditukar Manhattan

Meski Banda dikuasai, Inggris masih mengklaim Pulau Run. Di sisi lain dunia, Inggris merebut koloni Belanda Nieuw Amsterdam di Pulau Manhattan pada 1664 dan menggantinya jadi New York. Perang Inggris-Belanda Kedua (1665-1667) membuat kedua negara lelah.

Pada 31 Juli 1667 di Kota Breda, Belanda, ditandatangani Perjanjian Breda. Pasal 3: Pulau Run di Maluku yang dikuasai Inggris menjadi milik Belanda, dan Pulau Manhattan (Nieuw Amsterdam) yang dikuasai Belanda menjadi milik Inggris. Saat itu Belanda merasa menang besar - Manhattan hanya rawa kecil 1.500 jiwa, sementara Run adalah sumber pala dunia. 

Ironisnya, kini Manhattan menjadi pusat keuangan dunia, sementara Run tetap pulau kecil tenang. Inggris juga sempat menawarkan menukar Nieuw Amsterdam dengan pabrik gula Suriname, namun akhirnya tetap Run vs Manhattan yang disepakati.

5. Nama-nama Orang Kaya dan Marga yang Dibantai

VOC tidak menulis daftar lengkap 44 nama, hanya menyebut 'Orang Kaya Lontor'. Namun Monumen Parigi Rante di Banda Neira kini berdiri di lokasi pembantaian. Di dalam monumen terdapat prasasti yang berisi nama-nama Orangkaya yang dieksekusi. Plakat mencatat sekitar 40-44 nama. Yang teridentifikasi dari tradisi lisan dan Hikayat Tanah Lonthor adalah pemuka dari negeri-negeri utama: Orang Kaya Lonthor, Latar, Selamon/Selamun, Waer/Wayer, Combir/Kombir, Uar, Sairun, Rosenggin/Roseinggin. Di plakat juga tercatat ulama yang ikut berjuang: KH. Muhammad Hasib Royani dan KH. Munif (Banten), KH. Abu Hasan dan KH. Abdul Qadir (Semarang).

Kain merah di puncak bambu dalam ritual adat Banda hari ini masih menyimbolkan kepala 44 Orang Kaya tersebut. Monumen ini juga mengukir nama pejuang Indonesia yang pernah dibuang ke Banda seperti Tjipto Mangunkusumo, Iwa Kusumasumantri, Hatta dan Sjahrir.

6. Eksodus dan Keberadaan Orang Banda Sekarang: Diaspora Wandan

Orang Banda asli tidak punah. Mereka menyebut diri Wandan. Pada satu malam badai Mei 1621, ratusan orang keluar dari persembunyian di perbukitan Lonthor dan mengayuh perahu keluar hutan. Ada 4 faktor eksodus menurut penelitian Universitas Pattimura: letusan Gunung Api Banda, peperangan di Pulau Ay 1615, mempertahankan akidah Islam dari VOC, dan genosida 1621.

Mereka mendirikan komunitas baru:

  1. Banda Eli dan Banda Elat di Kei Besar, Maluku Tenggara: pusat diaspora Wandan, didirikan 1621. Identitas Wandan terus hidup dan diabadikan melalui marga-marga yang menyerupai nama negeri mereka dahulu di Banda, di antaranya marga Latar, Lonthor, Selamon/Selamun, Roseinggin, Uar, Sairun.
  2. Seram Timur, Maluku Tengah, Haruku (Kailolo), dan Ambon (Amahusu).


Kondisi sekarang: Bahasa Banda (Bahasa Wandan) tidak lagi dituturkan di Banda Neira, tetapi di Banda Eli dan Elat. Kantor Bahasa Maluku (2023) menyatakan penutur Banda lebih banyak di Kei Besar. Mereka multilingual: Bahasa Kei dan Bahasa Wandan. Mereka tetap mempertahankan Islam, adat, dan menolak disebut 'kabur'. Seperti pernyataan tokoh adat: 'Pendahulu kami tidak kabur; mereka secara sadar meninggalkan Banda untuk menjaga darah, agama, bahasa, dan kebudayaan.'

Pada 2022, Raja Banda Eli melakukan kunjungan bersejarah pertama kali menginjak tanah Banda setelah 400 tahun. Setiap tahun warga Banda Neira memperingati 403 Tahun Genosida dengan ritual buka kampung dan tabur bunga di Monumen Parigi Rante.

Pembantaian Banda adalah contoh paling awal kapitalisme kolonial: ketika harga rempah lebih tinggi dari nyawa. Dari 15.000 menjadi 480 orang, dari penguasa pala dunia menjadi budak, dari Banda Neira menjadi Banda Eli. Namun Wandan masih hidup. Marga-marga Latar, Lonthor, Selamon masih ada di Kei, bahasa Wandan masih diucapkan, dan Parigi Rante masih berdiri sebagai saksi bisu kebengisan Coen 'The Butcher of Banda'.


Sumber: Wikipedia Indonesia Penaklukan Kepulauan Banda, National Geographic Indonesia, Jurnal Banda Historia Vol. 2024 Wandan Dalam Memori Sejarah, Kantor Bahasa Maluku, Monumen Parigi Rante Banda Neira.

Jejak Gelar Sarjana Jadoel (Drs., Dra., Ir., BA)

 
Kalau kamu lihat batu nisan atau papan nama lama, sering tertulis Drs. Soeharto, Dra. Siti, Ir. Soekarno, Drs. BA. Buat generasi sekarang yang kenalnya S.E., S.T., S.H., gelar-gelar itu terasa antik. Padahal gelar itu bukan sekadar gaya bahasa, tapi cerminan sejarah pendidikan tinggi Indonesia yang sangat Belanda.

Warisan Sistem Belanda

Sebelum tahun 1993, sistem pendidikan tinggi Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh model Belanda.

Belanda tidak mengenal sistem Sarjana seperti Amerika. Mereka memakai sistem kontinental Eropa:

Doktorandus (Drs.) : secara harfiah artinya "orang yang akan menjadi doktor". Ini gelar untuk laki-laki lulusan ilmu sosial, ekonomi, sastra, IPA, matematika, seni, dan pendidikan.

Doktoranda (Dra.) : bentuk feminin dari doktorandus, untuk perempuan dengan jurusan yang sama. Jadi gelar membedakan jenis kelamin - laki-laki Drs, perempuan Dra.

Insinyur (Ir.) : untuk lulusan teknik, pertanian, kehutanan, perikanan, dan sains terapan. Inilah alasan Presiden pertama kita bergelar Ir. Soekarno, karena ia lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB).

Baccalaureus (BA) : di beberapa fakultas seperti hukum dan sastra awal, ada tingkat BA untuk lulusan sarjana muda, sebelum melanjutkan ke Drs. Belakangan BA dipakai untuk lulusan Akademi.

Ciri paling mencolok: semua gelar ditulis di depan nama, tanpa koma. Contoh: Drs. Budi Burhanudin atau Ir. Soekarno. Itu gaya penulisan Eropa kontinental. Lulusan dalam negeri pada masa itu umumnya hanya dua macam gelar, Drs dan Dra, tanpa memandang disiplin keilmuan yang diikuti. Mau jurusan ekonomi, sejarah, atau matematika, gelarnya tetap Drs. Tidak spesifik.

Bahkan menurut penelusuran ITB, pada periode sebelum tahun 1993, gelar akademik pada ijazah lulusan ITB belum secara eksplisit dituliskan. Gelar lebih menjadi sebutan kehormatan di masyarakat daripada nomenklatur resmi yang baku.

Kenapa Dianggap Tidak Relevan?

Ada tiga masalah besar:

1. Tidak Informatif: Dunia tidak tahu kamu sarjana apa. Drs bisa berarti sarjana ekonomi, sarjana psikologi, atau sarjana pendidikan. Tidak ada bedanya.

2. Diskriminatif Gender: Membedakan Drs dan Dra dianggap tidak sesuai dengan prinsip kesetaraan. Sistem modern akhirnya menghapus perbedaan itu.

3. Tidak Internasional: Dunia internasional sudah memakai sistem Anglo-Saxon: Bachelor - Master - Doctor. Sistem Belanda membuat lulusan Indonesia sulit disetarakan di luar negeri.

Titik Balik: 1993

Perubahan besar terjadi dengan diberlakukannya Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 036/U/1993 tentang Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi.

Sejak keputusan itu, pemberian dan cara penulisan gelar lama seperti di atas tidak berlaku lagi.

Gelar dipindah ke belakang nama.

Gelar dibuat spesifik per bidang ilmu: S.E. untuk Ekonomi, S.H. untuk Hukum, S.T. untuk Teknik, S.Sos. untuk Sosial, S.Pd. untuk Pendidikan, dan seterusnya.

Gelar profesi seperti dr., Ir., dan Apt. tetap ditulis di depan nama tanpa tanda koma, tapi Ir. sekarang bukan lagi gelar sarjana teknik, melainkan gelar profesi keinsinyuran yang harus ditempuh lewat Program Profesi Insinyur.

Jadi, kalau dulu lulus teknik langsung dapat Ir., sekarang lulus teknik dapat S.T., baru setelah ambil profesi dan punya pengalaman, bisa dapat Ir.

Gelar Drs dan Dra kemudian diganti menjadi Sarjana (S1). Meski begitu, gelar Drs tetap sah dan diakui bagi lulusan sebelum perubahan sistem tersebut.

Gelar-gelar jadul itu adalah fosil hidup. Saat kita melihat "Drs." di nama guru SD kita, kita sedang melihat sisa-sisa universitas model Belanda yang bertahan hampir 50 tahun setelah kemerdekaan. Saat kita melihat "Ir." pada nama Soekarno, kita melihat zaman ketika insinyur adalah gelar paling bergengsi di Hindia Belanda.

Perubahan tahun 1993 bukan sekadar ganti singkatan, tapi perubahan filosofi: dari sistem yang elitis, umum, dan membedakan gender, menjadi sistem yang demokratis, spesifik, dan setara standar global.


Sumber : beberapa sumber

Sabtu, 12 September 2026

Wong Kristen Kang Mardika


Ilustrasi Profil Kiai Sadrach (lukisan real)
Riwayat Dan Warisan Kekristenan Kiai Sadrach Surapranata (1835-1924).

Sesudah tahun 1830 di pedesaan Jawa muncul pelbagai kelompok Kristen yang terlepas dari aktivitas misionaris Eropa. Fenomena ini menandai babak baru kekristenan pribumi di Jawa, di mana Injil tidak lagi hanya dibawa oleh Belanda, tetapi oleh orang Jawa sendiri. Salah satu kelompok yang paling besar dan paling berpengaruh adalah yang dipimpin oleh Sadrach Surapranata, yang lebih dikenal sebagai Kiai Sadrach. Ia menempati posisi yang sangat menentukan, bukan sekadar penginjil Jawa yang berhasil, melainkan peletak dasar Gereja Kristen Kerasulan Jawa.

Gelar "Kiai" yang melekat padanya bukanlah pemberian zending. Sebelum menjadi Pengikut Kristus, Kiai Radin Abas alias Sadrach sempat berdakwah menyebarkan agama Islam. Pemahamannya tentang agama Islam didapat selama nyantri di pondok pesantren di Jombang yang mengantarkannya mendapat julukan sebagai seorang Kiai.

Riwayat Hidup Dan Perjalanan Spiritual

Mengenai tanggal dan tempat kelahiran Sadrach tidak diketahui secara jelas, namun dari beberapa data dapat disimpulkan bahwa dia lahir pada tahun 1835. Tempat kelahirannya masih diperdebatkan antara Kawedanan Jepara, Desa Dukuh Sekti Demak, hingga desa Luring dekat Semarang, namun semua tempat tersebut terletak di daerah pantai utara Jawa Tengah, tempat pertama kali Islam berpijak.

Nama kecilnya Radin. Ia berasal dari keluarga petani miskin, yang sejak masa kecil sudah berkelana dan menjadi pengemis. Kemungkinan Radin menjadi pengemis pada waktu masih pelajar, karena sudah menjadi tradisi murid-murid sekolah Alquran dan pesantren untuk mengemis sebagai bagian dari kurikulum, yang dilakukan pada hari Kamis (ngemis dari kata Kemis).

Radin kemudian diadopsi oleh keluarga Muslim yang cukup kaya melalui tradisi Jawa nyuwito atau magang, yaitu mengabdi untuk mendapat perlindungan dan belajar. Dari sini pencariannya dimulai:

1. Ilmu Islam: Belajar di sekolah Alquran di Jawa Tengah, lalu pondok pesantren di Jombang dan Ponorogo, di mana ia belajar membaca dan menulis dengan aksara Arab, pegon, dan aksara Jawa.

2. Ilmu Jawa (Ngelmu): Berguru kepada Pak Kurmen atau Sis Kanoman di Semarang sebagai guru ngelmu Jawa.

3. Kontak Kristen Pertama: Pada waktu liburan sebagai santri di Jombang, ia pergi ke Mojowarno untuk mendengarkan pengajaran Jellesma, seorang misionaris Belanda. Ini merupakan kontak pertama kali seorang santri Radin dengan ajaran Kristen dan dengan orang Belanda.

Setelah lulus, ia kembali ke Semarang, tinggal di Kauman, dan menambahkan nama Arab menjadi Radin Abas. Ia kemudian belajar katekisasi kepada Hoezoo di Semarang dan diperkenalkan dengan Kyai Ibrahim Tunggul Wulung dari Bondo Jepara. Bersama Tunggul Wulung, Radin dibawa ke Batavia untuk bertemu Anthing. Di Batavia Radin menjadi murid dan anak mas Anthing, ikut pendidikan Kristen yang didirikan Anthing untuk anak-anak muda pribumi. Setahun setelah lulus, ia memutuskan menjadi Kristen dan dibaptiskan dengan nama Sadrach di Gereja Zion (sekarang GPIB Zion). Sejak itu namanya menjadi Radin Sadrach. Dalam perjalanannya ia menguasai empat bahasa: Jawa, Indonesia (Melayu), Arab, dan Belanda.

Pelayanan awalnya adalah bekerjasama menjual buku-buku Kristen di seputar Batavia, namun ia merasa tidak cocok dan minta izin kembali ke Jawa Tengah. Di sana ia bergabung dengan Tunggul Wulung membangun desa-desa Kristen di Bondo, lalu meninggalkan Bondo dengan air mata berlinang menuju Purworejo dan bekerjasama dengan keluarga Stevens-Philips, di mana ia menjadi penginjil Jawa yang menonjol.

Strategi Missi Kontekstual

Aktifitas Kekristenan Kyai Sadrach difokuskan pada kelompok masyarakat pedesaan di Jawa. Kunci keberhasilannya adalah ia tidak menuntut orang Jawa menjadi Belanda untuk menjadi Kristen. Ia menghadirkan Protestantisme bercorak tradisi adat istiadat setempat sehingga mereka tidak terlalu jauh melompat ke cara hidup yang baru.

Setidaknya ada dua aspek utama pada metode Tradisi dan Kebudayaan Jawa dalam kristenisasi versi Kiai Sadrach: pertama ibadah, kedua hubungan sosial. Ia tetap memakai blangkon dan beskap, dipanggil Kiai, dan memimpin komunitas model pesantren. Corak Islam-Jawa yang kental padanya tidak bisa dilepaskan begitu saja, bahkan ketika ia sudah memeluk Kristen. Corak khas itu yang tetap ia bawa ketika mengajarkan Kekristenan kepada muridnya. Salah satu ajarannya yang terkenal adalah simbol sapu lidi untuk mengajarkan kesatuan Tubuh Kristus: rapuh jika sendiri, kuat ketika disatukan.

Namun keberhasilannya justru membawa konflik. Berasal dari keluarga miskin yang berkelana untuk menuntut ilmu, setelah memeluk Kristen ia sendiri terjun menyebarkan agama yang dianutnya dan ia berhasil. Tetapi apa daya? Sadrach terpaksa berhadapan dengan misionaris Eropa yang menuntut hegemoni atas jemaahnya. Kiai Kristen ini menolak dan mendirikan sekte sendiri.

Wujud Warisan YangbMasih Bertahan

Warisan Kiai Sadrach tidak hilang dengan wafatnya pada tahun 1924. Ia hidup dalam tiga wujud hingga hari ini:

1. Warisan Kelembagaan: Akar Tiga Sinode GKJ

Model gereja kerasulan yang ia bangun mula-mula hidup dalam komunitas Golongane Wong Kristen Kang Mardika. Seiring bertambahnya jemaat, gerakan ini dilembagakan dalam Pasamoean Kristen Djawi. Dari rahim organisasi inilah lahir tiga sinode yang secara historis merupakan kelanjutan langsung dari fondasi Gereja Kristen Kerasulan Jawa, yaitu Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU), dan Gereja Kristen Jawa Tengah Selatan (GKJTS).

Kesinambungan ini dijaga oleh murid-muridnya, seperti Sahat Salmon Singoredjo, seorang petani sekaligus tukang kayu dari Purworejo yang dibaptis pada 1878 di Karangjoso dan aktif mengikuti kumpulan gedhe—ibadah raya yang dipimpin langsung oleh Kyai Sadrach. Putranya, Josaphat Darmohatmojo (1899–1984), tercatat melayani sebagai pendeta Pasamoean Kristen Djawi Purworejo dan kemudian menggembalakan GKJ di Yogyakarta, menunjukkan kesinambungan pelayanan dari akar kerasulan menuju gereja sinodal modern.

2. Warisan Teologis: Ritual Jawa yang Dikristenkan

Warisan kedua adalah teologi kontekstualnya yang masih hidup di pedesaan. Di GKJ Kasimpar misalnya, orang-orang Kristen Jawa masih mengadakan slametan dengan memaknai ulang atributnya. Misalnya, tumpeng dimaknai sebagai Golgota, sedangkan ingkung sebagai simbol penyerahan diri. Hal ini berbeda dengan GKJ Ngampel yang tidak lagi mengadakan slametan. Tradisi ini membuktikan perpaduan antara unsur-unsur kepercayaan Jawa dan Islam dengan agama Kristen Protestan yang ia tekankan.

3. Warisan Fisik: GKJ Karangjoso sebagai Cagar Budaya

Warisan fisik yang paling otentik adalah Gereja Kristen Jawa Karangjoso di Purworejo, gereja yang sudah berdiri sejak tahun 1871. Di dalam kompleks gereja yang memiliki 30 jemaat aktif ini terdapat bangunan Gereja dan rumah dari Kiai Sadrach yang masih berdiri tegak sejak tahun 1871 beserta dengan perabotan dan benda-benda pusaka yang dimiliki oleh Kiai Sadrach seperti keris, tombak, payung dan masih banyak lagi. Gereja ini tercatat sebagai gereja tertua di Pulau Jawa dan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten Purworejo di tahun 2017, serta menjadi tujuan wisata religi bagi peneliti dari dalam dan luar negeri, kebanyakan dari Belanda.

Riwayat tentang sejarah perjalanan Kiai Sadrach ini menjelaskan jalannya penyebaran agama di Jawa yang telah menerima agama Hindu, Budha, dan Islam tanpa peperangan maupun penaklukan. Kekuatan utama Kyai Sadrach bukan semata pada jumlah pengikutnya, melainkan pada fondasi gereja pribumi yang ia bangun. Namun, sebuah catatan kritis menyebutkan bahwa sepeninggal Sadrach komunitas Kristen Jawa hilang arah, kembalinya mereka ke bimbingan Zending menjadikan penerusnya saat ini yaitu GKJ telah kehilangan jati diri Kristen Jawa karya Sadrach.Maka warisan Sadrach hari ini adalah pertanyaan yang masih terbuka: akankah kekristenan Jawa kembali menemukan kemandiriannya sebagai Wong Kristen Kang Mardika.


Sumber :

1. Guillot, C. Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa. Yogyakarta: IRCiSoD, 2020.

2. Sariman, Silas. "Strategi Misi Sadrach." Jurnal Abdiel 3, no. 1 (2019).

3. Partonadi, Soetarman. Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.



Kamis, 10 September 2026

SEJARAH 75 TAHUN SMP KRISTEN URIMESING AMBON (1951–2026)


“Mengabdi Melalui Pendidikan, Bertumbuh dalam Iman dan Ilmu - Merawat Identitas Nona, Nyonya, dan Pak Guru”

Oleh : Icon


SEKOLAH DENGAN IDENTITAS YANG HIDUP

SMP Kristen Urimessing Ambon, yang sekarang dikenal secara resmi sebagai SMP Kristen YPKPM Ambon, merupakan salah satu lembaga pendidikan Kristen yang telah lama mengambil bagian dalam pembangunan sumber daya manusia di Kota Ambon dan Maluku.

Di antara sekian banyak SMP di Kota Ambon, sekolah ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki sekolah lain dan masih diwariskan sampai saat ini: Siswa SMP Kristen Urimesing Ambon menyapa Ibu Guru yang belum menikah dengan sebutan "Nona" dan untuk Ibu Guru yang telah menikah dengan sebutan "Nyonya", sedangkan sapaan untuk Bapa Guru tetap dengan sebutan Pak Guru.

Hal unik ini dalam perkembangannya dapat dijadikan "identitas khusus" relasi antara siswa dengan gurunya. Naskah ini ditulis untuk menjelaskan sejarah berdirinya sekolah tersebut sekaligus menganalisa asal-usul tradisi sapaan tersebut.

Tanggal 1 Oktober 1951 merupakan tonggak penting. Pada tanggal itulah sebuah SMP Kristen didirikan di Belakang Soya, Ambon, yang dalam perkembangannya menjadi SMP Kristen di Urimessing. Dengan demikian, pada 1 Oktober 2026, perjalanan historis sekolah tersebut genap berusia 75 tahun.


AKAR SEJARAH PENDIDIKAN KRISTEN: DARI KWEEKSCHOOL HINGGA MCSV

Perjalanan sekolah ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang pelayanan pendidikan Kristen Protestan di Maluku.

Akar Pertama: Ambon sebagai Pusat Pendidikan Guru Pertama di Nusantara

Jauh sebelum Indonesia merdeka, Ambon sudah menjadi pusat pendidikan guru Kristen pertama. VOC dan para misionaris Kristen mendirikan sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara pada tahun 1834. Pendidikan guru ini pertama kali diselenggarakan di Ambon pada 1834.

Sekolah inilah yang melahirkan guru-guru jemaat yang disebar ke seluruh Maluku. Dari tradisi inilah muncul penghormatan tinggi pada guru, karena kedudukan guru dalam masyarakat pedesaan di Maluku sangat dihormati hampir sama penghormatan masyarakat terhadap seorang raja, patih, atau orang kaya di seluruh daerah Maluku.

Akar Kedua: Molluksche Christelijke School Vereniging (MCSV) 1920

Induk resmi dari semua Sekolah Kristen di Ambon hari ini adalah Yayasan Persekolahan Kristen Protestan Maluku yang merupakan kelanjutan dari MOLUKSCHE CHRISTELIJKE SCHOOLVERENIGING (MCSV) yang mulai berfungsi Tahun 1920.

Motto dari MCSV adalah Yohanis 3:16: “Karena Begitu Besar Kasih Allah Akan Dunia Ini, Sehingga dikaruniakan AnakNya Yang Tunggal, supaya Setiap orang yang Percaya KepadaNya Tidak Binasa, Melainkan Beroleh Hidup Yang Kekal.” Tujuannya adalah untuk membina para murid di Maluku supaya mereka dapat dibimbing secara rohani menuju suatu kehidupan kristiani demi hidup bermasyarakat.

MCSV diakui sah dengan besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 28 juli 1934 nomor 25. Pada masa perkembangannya, pendidikan Kristen tumbuh di beberapa wilayah, terutama Urimessing, Belakang Soya, Tiouw-Saparua, Piru dan Tual.

Sebelum Perang Dunia II, di kompleks Urimessing telah berdiri sekolah elit Belanda: Eerste Christelijke Hollands Inlandsche School (Eerste Chr. H.I.S) dan di Belakang Soya Tweede Chr. H.I.S di Kompleks belakang Soya dan Derde Chr. H.I.S di Kompleks Urimessing lagi.


BERDIRINYA SMP KRISTEN: 1 OKTOBER 1951

Sesudah Perang Dunia II, pelayanan pendidikan Kristen di Maluku kembali mengalami perkembangan. Seiring perubahan sistem pendidikan Indonesia, pada tahun 1951 sekolah yang sebelumnya menggunakan sistem Lagere School kemudian berkembang menjadi Sekolah Rakyat (SR) dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.

Jumlah peserta didik semakin bertambah. Di Urimessing berkembang SR Kristen A1, A2, A3, B1, B2 dan B3. Sementara di Belakang Soya terdapat SR Kristen A1, A2, B1 dan B2 yang menyelenggarakan pembelajaran pagi dan siang.

Perkembangan jumlah peserta didik tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan Kristen. Lulusan SR tidak tertampung di SMP Negeri yang masih sangat sedikit.

Maka tonggak sejarah penting terjadi pada 1 OKTOBER 1951. Pada tanggal tersebut didirikan sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen di Belakang Soya, Ambon, yang dalam perkembangannya menjadi SMP Kristen di Urimessing.

Pendirian SMP ini merupakan langkah penting karena memberikan kesempatan kepada lulusan Sekolah Rakyat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah tanpa meninggalkan lingkungan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai kekristenan. Karena itu, 1 Oktober 1951 memiliki nilai historis yang sangat penting dan dapat dipandang sebagai hari lahir SMP Kristen Urimessing.


DARI MCSV MENJADI PPKPM MENJADI YAYASAN PKPM

Tidak lama setelah berdirinya SMP tersebut, terjadi perkembangan kelembagaan yang penting. Pada rapat Badan Pengurus tanggal 24 Januari 1952, MCSV berubah menjadi Perkumpulan Persekolahan Kristen Protestan Maluku (PPKPM) yang berpusat di Kota Ambon.

PPKPM kemudian mengembangkan berbagai jenjang pendidikan Kristen, antara lain TK Kristen, SD Kristen dan SMP Kristen. Perkembangan berikutnya juga melahirkan SMA Kristen di Urimessing pada 14 Oktober 1957.

Seiring perkembangan organisasi dan tuntutan pengelolaan pendidikan yang semakin kompleks, pada 12 November 1982, pengurus PPKPM yang terdiri dari Ketua Pdt F. C. Lewier, M.Th dan Sekretaris J. Soselisa menghadap Notaris Ny. J. M. de Fretes Tumbelaka, S.H. untuk membentuk yayasan melalui Akta Nomor 27. Perubahan selanjutnya dilakukan pada 18 Juli 1987 melalui Akta Nomor 64. Dari perkembangan kelembagaan tersebut lahirlah Yayasan Persekolahan Kristen Protestan Maluku yang kemudian dikenal dengan singkatan YPKPM.

Salah satu tonggak administratif penting adalah diterbitkannya SK Izin Operasional Nomor 165/I17/KPTS/M/91 tanggal 16 Desember 1991 dengan predikat DISAMAKAN, yang ditandatangani oleh Direktur Sekolah Swasta a/n Dirjen Dikdasmen.


APAKAH TRADISI NONA-NYONYA MERUPAKAN PENGARUH DIDIKAN ALA BELANDA?

Jawabannya adalah: Ya, pengaruh didikan ala Belanda yang melembaga, tetapi dengan akar kata dari Portugis.

1. Lapisan Pertama - Leksikonnya dari Portugis

Kata Nona dan Nyonya bukan asli Belanda. Nona, asal kata dona. Artinya sebutan bagi anak perempuan atau wanita yang belum menikah. Nyonya, asal kata donha. Artinya kata sapaan kepada perempuan yang sudah bersuami. Portugis datang di Maluku tahun 1512 dan meninggalkan jejak bahasa yang dalam. Bentuk sapaan seperti nyora, nyonya, nona, dan nyong tetap eksis dalam bahasa Melayu Ambon hingga kini. Nyora menjadi sebutan kehormatan bagi istri raja, pejabat, atau guru sekolah.

2. Lapisan Kedua - Sistemnya dari Belanda (Zending)

Belanda melalui Zending-lah yang mengubah kata sapaan sehari-hari itu menjadi etika resmi di sekolah Kristen. Di sekolah-sekolah HIS dan Kweekschool Belanda, berlaku aturan:

• Juffrouw = Nona (Guru wanita belum menikah) • Mevrouw = Nyonya (Guru wanita sudah menikah) • Meneer / Meester = Pak Guru 

Hal ini tercatat dalam sejarah sosial Maluku: Seorang guru selalu dihormati dengan panggilan... guru selalu dipanggil "bapak meester" dan istrinya disebut "mama nyora". Sedangkan anak-anak guru disebut "nyong" bagi putra dan "nona" bagi yang putri.

Untuk Bapa Guru tetap Pak Guru karena sapaan Nyong itu untuk anak muda, bukan untuk figur otoritas laki-laki dewasa. Laki-laki dewasa otomatis mendapat gelar Bapak / Tuan / Meester.

Jika di Jawa tradisi ini hilang pada tahun 1970-an karena penyeragaman bahasa Indonesia, di Ambon ia bertahan karena sekolah-sekolah YPKPM tidak pernah terputus dari gereja. Inilah yang menjadikannya identitas khusus yang otentik dan layak dipertahankan sebagai branding sekolah.


PERKEMBANGAN STATUS SEKOLAH SAAT INI

Data pemerintah saat ini mencatat sekolah dengan identitas: Nama: SMP Kristen YPKPM Ambon, NPSN: 60103090, Status: Swasta, Naungan: Yayasan Persekolahan Kristen Protestan Maluku (YPKPM), Alamat: Jl. Diponegoro No. 61, Kelurahan Ahusen, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku, Akreditasi: A.

Perlu dibedakan antara data administratif pemerintah dan sejarah faktual sekolah. Data pendidikan pemerintah mencantumkan SK pendirian administratif bertanggal 27 Desember 2006, sedangkan dokumen sejarah Yayasan PKPM secara tegas mencatat pendirian SMP pada 1 Oktober 1951. Oleh karena itu, dalam penulisan sejarah sekolah, 1 Oktober 1951 merupakan tonggak historis pendirian, sedangkan dokumen-dokumen setelahnya merupakan bagian dari perkembangan legal-administratif sekolah.

Dalam perjalanan panjangnya, nama “SMP Kristen Urimessing” memiliki nilai historis tersendiri. Nama tersebut bukan hanya menunjuk pada lokasi sekolah, tetapi telah menjadi bagian dari identitas pendidikan Kristen di Kota Ambon. Generasi demi generasi peserta didik menempuh pendidikan di lingkungan sekolah ini.


PERAN, REFLEKSI 75 TAHUN, DAN MENATAP MASA DEPAN

Selama perjalanan sejak tahun 1951, SMP Kristen Urimessing hadir di tengah berbagai perubahan zaman. Sekolah melewati masa awal kemerdekaan Indonesia, perubahan sistem pendidikan nasional, perubahan kurikulum, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga memasuki era pendidikan digital.

Tujuh puluh lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di dalamnya terdapat pengabdian para pengurus yayasan, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan; perjuangan para orang tua; serta perjalanan ribuan peserta didik dan alumni. Beberapa alumni dari lembaga pendidikan yang diasuh Yayasan ini antara lain Bapak Mohammad Padang (Mantan Gubernur Maluku), Bapak Drs. S. Akyuwen (Mantan Wakil Gubernur Maluku), Bapak Prof. Dr. J. J. Lokollo, S.H. (Guru Besar Unpatti), dan Bapak Dr. L. W. J. Hendriks (Ketua BPH Sinode GPM).

Warisan terbaik bukan hanya gedung sekolah ataupun nama besar sebuah lembaga pendidikan. Warisan sesungguhnya adalah nilai: iman, ilmu pengetahuan, kejujuran, disiplin, kerja keras, pelayanan dan kasih kepada sesama. Termasuk warisan etika menyapa Nona dan Nyonya.

Memasuki usia 75 tahun, tantangan pendidikan semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi, kecerdasan buatan, perubahan sosial dan derasnya arus informasi menuntut sekolah untuk terus beradaptasi. Namun perkembangan teknologi tidak boleh menghilangkan karakter dasar pendidikan Kristen.

SMP Kristen YPKPM Ambon diharapkan terus menjadi lembaga pendidikan yang mampu memadukan iman, ilmu pengetahuan, karakter dan teknologi.


Perjalanan SMP Kristen Urimessing Ambon sejak 1 Oktober 1951 hingga 1 Oktober 2026 merupakan perjalanan panjang selama 75 tahun. Berawal dari sebuah SMP yang didirikan di Belakang Soya, sekolah ini kemudian berkembang menjadi SMP Kristen di Urimessing dan saat ini tercatat sebagai SMP Kristen YPKPM Ambon.

Perjalanan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah pelayanan pendidikan Kristen Protestan di Maluku. Tradisi sapaan Nona-Nyonya-Pak Guru adalah bukti hidup bahwa sekolah ini tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menjaga adab dan identitas Ambon-Kristen yang berakar dari perjumpaan Portugis, Belanda, dan Maluku.

Kiranya SMP Kristen Urimessing—SMP Kristen YPKPM Ambon—terus menjadi tempat bertumbuhnya generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, mencintai sesama dan siap mengabdikan dirinya bagi gereja, masyarakat, Maluku, bangsa dan negara.


Selamat menyongsong 75 Tahun SMP Kristen Urimessing Ambon.

1 Oktober 1951 – 1 Oktober 2026

“Mengenang Sejarah, Mensyukuri Penyertaan Tuhan, 

Membangun Generasi Masa Depan.”


Sumber Pustaka :
1. Yayasan PKPM. (n.d.). Sejarah Singkat Yayasan PKPM Ambon & Sejarah Berdirinya YPKPM. Dokumen diunduh dari https://smakrisambon.sch.id/images/documents/SEJARAH_BERDIRINYA_YPKPM_.pdf
​2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2024). Data Referensi SMP Kristen YPKPM Ambon NPSN 60103090. Data Referensi Kemendikdasmen.
3. Leimena, J. (Biografi). Dr. Johannes Leimena, Karya dan Pengabdiannya. Repositori Kemdikbud. (Mencatat tradisi sapaan bapak meester, mama nyora, nyong, nona di Maluku).
​4. Salik.id. (2023). 101 Kata Serapan Bahasa Indonesia dari Portugis dan Sejarah Masuknya Bangsa Portugis ke Indonesia. (Etimologi Dona/Donha menjadi Nona/Nyonya).
5. Repositori Sejarah Maluku. (2020). Dari 'Ose' Sampe 'Amato', Jejak Bangsa Portugis di Maluku. (Eksistensi sapaan nyora, nyonya, nona, nyong dalam Melayu Ambon).

Selasa, 08 September 2026

DARI PERSATUAN MENUJU PERPECAHAN ; Sarekat Islam (SI)



Merah dan Putih dalam Pergulatan Ideologi Pergerakan Nasional Indonesia


Sejarah pergerakan nasional Indonesia pada awal abad ke-20 tidak hanya merupakan sejarah perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Di dalamnya juga berlangsung perdebatan besar mengenai ideologi, agama, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme, serta cara terbaik untuk membebaskan rakyat Hindia Belanda dari penjajahan. Salah satu organisasi yang menjadi arena pergulatan tersebut adalah Sarekat Islam (SI).

Sarekat Islam berkembang dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dipelopori Haji Samanhudi di Surakarta. Pada tahun 1912, organisasi ini berkembang menjadi Sarekat Islam dengan ruang perjuangan yang semakin luas. H.O.S. Tjokroaminoto kemudian tampil sebagai salah satu pemimpin terpentingnya. Di bawah kepemimpinannya, SI berkembang menjadi gerakan massa yang memiliki pengaruh besar di berbagai wilayah Hindia Belanda.

Pada mulanya perjuangan Sarekat Islam banyak berkaitan dengan kepentingan ekonomi masyarakat pribumi, khususnya pedagang Muslim. Namun, perkembangan politik kolonial menyebabkan perjuangan SI meluas menjadi perjuangan sosial dan politik. Organisasi ini mulai menyuarakan persamaan hak, menentang diskriminasi kolonial, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta membangun kesadaran bahwa masyarakat bumiputra mempunyai hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

Perkembangan yang begitu cepat menyebabkan Sarekat Islam menjadi tempat bertemunya berbagai pemikiran. Di sinilah kemudian muncul perbedaan ideologi yang akhirnya melahirkan dua arus besar yang dikenal sebagai SI Merah dan SI Putih.


Masuknya Pemikiran Sosialisme ke dalam Sarekat Islam

Salah satu pusat Sarekat Islam yang berkembang pesat adalah Semarang. Di kota ini terdapat kelompok buruh yang cukup besar akibat perkembangan industri, perkeretaapian, pelabuhan, dan perdagangan. Kondisi sosial tersebut menjadikan Semarang tempat yang subur bagi berkembangnya gagasan sosialisme.

Pengaruh sosialisme revolusioner terutama berkembang melalui Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang didirikan pada tahun 1914 dan sangat dipengaruhi tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet. Pemikiran tersebut kemudian memengaruhi sejumlah tokoh muda Sarekat Islam, terutama Semaun dan Darsono.

Semaun kemudian menjadi salah satu tokoh penting Sarekat Islam Semarang. Di bawah pengaruh kelompok ini, perjuangan SI Semarang menjadi semakin radikal. Persoalan buruh, kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kapitalisme perkebunan dan perusahaan kolonial menjadi bagian penting dari perjuangan mereka.

Perbedaan mulai terlihat. Kelompok Tjokroaminoto tetap menempatkan Islam sebagai landasan penting perjuangan Sarekat Islam, sedangkan kelompok Semaun semakin menekankan perjuangan kelas dan sosialisme sebagai alat untuk menghadapi kolonialisme dan kapitalisme.

Perbedaan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejak sekitar 1917, perbedaan pandangan di lingkungan SI Semarang sudah semakin terlihat. Perdebatan mengenai Volksraad, Indie Weerbaar, hubungan dengan pemerintah kolonial, serta pengaruh sosialisme revolusioner semakin mempertajam perbedaan di antara para pemimpin SI.


Lahirnya SI Merah dan SI Putih

Ketegangan semakin meningkat ketika sejumlah anggota Sarekat Islam juga menjadi anggota organisasi berhaluan komunis. ISDV kemudian berkembang menjadi Perserikatan Komunis di Hindia pada tahun 1920, yang selanjutnya dikenal dalam perkembangan sejarah sebagai Partai Komunis Indonesia.

Masalah utama bagi pimpinan Sarekat Islam adalah adanya keanggotaan rangkap. Seorang anggota dapat berada di Sarekat Islam sekaligus menjadi anggota organisasi politik lain yang memiliki asas berbeda.

Dalam Kongres Luar Biasa Central Sarekat Islam di Surabaya pada Oktober 1921, persoalan tersebut mencapai puncaknya. Kelompok H. Agus Salim mendorong diberlakukannya disiplin partai, yaitu ketentuan yang pada prinsipnya tidak membenarkan anggota Sarekat Islam sekaligus menjadi anggota organisasi politik lain yang bertentangan dengan asas perjuangan SI.

Semaun menentang kebijakan tersebut. Perdebatan antara Semaun dan Agus Salim menjadi salah satu bagian penting dalam konflik internal Sarekat Islam.

Akibatnya, kelompok yang berhaluan komunis semakin terpisah dari Sarekat Islam. Dari sinilah dikenal dua kelompok besar:

SI Merah, dengan pusat kekuatan terutama di Semarang dan dipimpin antara lain oleh Semaun. Kelompok ini menekankan sosialisme, gerakan buruh, perjuangan kelas, serta sikap yang lebih radikal terhadap kapitalisme dan kolonialisme.

Sementara itu, SI Putih mempertahankan Islam sebagai dasar perjuangan organisasi. Tokoh-tokoh pentingnya antara lain H.O.S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Kelompok ini tetap menentang kolonialisme, tetapi menolak apabila Sarekat Islam diarahkan menjadi organisasi komunis.

Dengan demikian, perpecahan SI sebenarnya bukan sekadar pertentangan pribadi antara Tjokroaminoto dan Semaun. Perpecahan tersebut merupakan pertarungan dua gagasan besar mengenai arah perjuangan bangsa: Islam dan nasionalisme di satu pihak serta sosialisme-komunisme dan perjuangan kelas di pihak lainnya.


Tokoh-Tokoh SI Putih.

1. H.O.S. Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Sarekat Islam. Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam berkembang menjadi organisasi massa yang menjangkau pedagang, pekerja, petani, ulama, kaum terpelajar, dan masyarakat perkotaan maupun pedesaan.

Tjokroaminoto memandang Islam bukan hanya sebagai persoalan ibadah pribadi, tetapi juga sebagai sumber nilai bagi perjuangan sosial. Ia menentang diskriminasi terhadap rakyat pribumi dan menginginkan masyarakat Hindia Belanda memperoleh hak politik yang lebih besar.

Tjokroaminoto juga pernah menggunakan Volksraad sebagai salah satu arena perjuangan politik. Namun, ketika lembaga tersebut tidak mampu memenuhi tuntutan politik rakyat secara memadai, sikap Sarekat Islam terhadap pemerintah kolonial semakin keras.

Peranan Tjokroaminoto juga penting karena lingkungan politik di sekitarnya menjadi tempat bertemunya generasi muda dengan beragam pemikiran. Karena itu, Tjokroaminoto tidak hanya penting sebagai pemimpin Sarekat Islam, tetapi juga sebagai salah satu figur yang berpengaruh terhadap pembentukan pemikiran politik generasi pergerakan berikutnya.

2. Haji Agus Salim

Agus Salim merupakan intelektual, diplomat, dan pemimpin Islam yang mempunyai peranan penting dalam mempertahankan identitas Sarekat Islam.

Dalam konflik internal SI, Agus Salim menjadi salah satu pendukung kuat penerapan disiplin partai. Menurut pandangan kelompoknya, Sarekat Islam harus mempunyai garis ideologi dan organisasi yang jelas. Keanggotaan rangkap dengan organisasi komunis dikhawatirkan akan mengubah arah Sarekat Islam.

Peranan Agus Salim sangat penting dalam perdebatan melawan kelompok Semaun. Namun, perjuangannya tidak dapat disederhanakan sebagai sekadar “anti-komunis”. Ia juga merupakan tokoh antikolonial yang menginginkan kemerdekaan dan peningkatan martabat rakyat Indonesia dengan Islam sebagai salah satu landasan moral dan politik perjuangan.

3. Abdul Muis

Abdul Muis juga merupakan salah satu tokoh penting Sarekat Islam. Ia aktif dalam perjuangan politik dan pernah menjadi anggota Volksraad. Bersama tokoh-tokoh SI lainnya, ia menyuarakan kepentingan rakyat pribumi dan menuntut perubahan sistem pemerintahan kolonial.

Dalam perkembangannya, tokoh-tokoh SI Putih semakin mengarahkan Sarekat Islam menjadi organisasi politik yang secara tegas menjadikan Islam sebagai dasar perjuangannya. Pada tahun 1923, Sarekat Islam kemudian berkembang menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) dan pada perkembangan berikutnya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).


Tokoh-Tokoh SI Merah.

1. Semaun

Semaun merupakan tokoh sentral SI Merah. Ia berasal dari lingkungan pergerakan buruh dan mempunyai hubungan kuat dengan organisasi buruh kereta api.

Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam Semarang berkembang menjadi kelompok yang lebih radikal dalam menghadapi pemerintah kolonial. Semaun melihat persoalan penjajahan tidak dapat dilepaskan dari persoalan ekonomi. Baginya, rakyat bukan hanya mengalami penindasan karena penjajahan politik, tetapi juga akibat sistem kapitalisme kolonial.

Karena itu, gerakan buruh dan pemogokan menjadi salah satu instrumen penting perjuangan kelompok yang dipimpinnya.

2. Darsono

Darsono merupakan tokoh penting lainnya dalam kelompok kiri Sarekat Islam. Bersama Semaun, ia berperan menyebarkan gagasan sosialisme dan kritik terhadap kapitalisme serta pemerintahan kolonial.

Darsono melihat ketimpangan ekonomi sebagai salah satu akar penderitaan rakyat. Oleh karena itu, perjuangan politik harus disertai perjuangan memperbaiki kedudukan buruh dan masyarakat miskin.

3. Alimin

Alimin Prawirodirdjo juga dikenal sebagai tokoh yang kemudian berada dalam lingkungan gerakan komunis Indonesia. Perjalanan politiknya memperlihatkan bagaimana sebagian aktivis Sarekat Islam berpindah semakin jauh ke arah gerakan kiri.

Perkembangan kelompok ini akhirnya semakin berhubungan dengan gerakan komunis yang berdiri secara organisatoris di luar Sarekat Islam.

4. Tan Malaka

Tan Malaka mempunyai posisi yang lebih kompleks. Ia merupakan seorang Marxis dan tokoh revolusioner, tetapi tidak tepat apabila seluruh pemikirannya sekadar disamakan dengan Semaun atau kepemimpinan komunis pada masa berikutnya.

Dalam konflik Sarekat Islam, Tan Malaka termasuk tokoh yang menyadari besarnya kerugian apabila gerakan Islam dan gerakan kiri terpecah. Ia memandang persatuan kekuatan antikolonial sebagai sesuatu yang penting untuk menghadapi pemerintahan Hindia Belanda.

Karena itu, Tan Malaka sempat mendorong agar pertentangan antara kelompok Islam dan komunis tidak menghancurkan persatuan perjuangan melawan kolonialisme.


Dua Jalan Perjuangan yang Berbeda.

Setelah perpecahan, kedua kelompok menempuh jalan politik yang semakin berbeda.

SI Putih melanjutkan perjuangan dengan memperkuat identitas Islam dan politik kebangsaan. Organisasi ini kemudian bertransformasi menjadi Partai Sarekat Islam pada 1923 dan selanjutnya Partai Sarekat Islam Indonesia.

Sementara itu, kekuatan SI Merah semakin dekat dengan gerakan komunis. Basis perjuangannya banyak diarahkan kepada kaum buruh dan kelompok masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi kolonial. Mereka lebih menekankan pertentangan antara kaum pekerja dan pemilik modal serta menganggap kolonialisme berkaitan erat dengan kapitalisme.

Walaupun berbeda ideologi, terdapat satu titik pertemuan yang tidak boleh diabaikan: kedua kelompok sama-sama lahir dari ketidakpuasan terhadap ketidakadilan kolonial.

Perbedaannya terutama terletak pada landasan ideologi, strategi perjuangan, dan gambaran mengenai masyarakat yang hendak dibangun setelah terbebas dari kolonialisme.


Dampak Perpecahan terhadap Pergerakan Nasional.

Pertama, kekuatan massa Sarekat Islam menjadi terfragmentasi. Organisasi yang sebelumnya mampu menampung berbagai kelompok sosial dan pemikiran kehilangan sebagian kekuatan politiknya.

Kedua, perpecahan tersebut memperjelas pembentukan arus ideologi dalam pergerakan nasional Indonesia. Setelah 1920-an, gerakan nasional semakin memperlihatkan beberapa arus besar: Islam politik, komunisme, dan kemudian nasionalisme sekuler.

Ketiga, perpecahan menunjukkan persoalan klasik dalam gerakan politik Indonesia: bagaimana mempertahankan persatuan ketika para anggotanya mempunyai ideologi dan strategi perjuangan yang berbeda.

Pemerintah kolonial tentu memperoleh keuntungan politik dari perpecahan kekuatan antikolonial tersebut. Ketika kelompok-kelompok pergerakan saling bertentangan, kemampuan mereka menghadapi kekuasaan kolonial secara bersama-sama menjadi berkurang.

Namun demikian, perpecahan SI juga menghasilkan proses pematangan politik. Masyarakat mulai diperkenalkan kepada perdebatan mengenai agama dan negara, kapitalisme dan sosialisme, perjuangan parlementer dan gerakan massa, nasionalisme dan internasionalisme, serta reformasi dan revolusi.

Perdebatan-perdebatan tersebut kemudian ikut membentuk perjalanan politik Indonesia hingga masa kemerdekaan.


Penutup

Perpecahan Sarekat Islam menjadi SI Merah dan SI Putih merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Perpecahan itu bukan sekadar akibat perselisihan pribadi para pemimpinnya, melainkan konsekuensi dari pertemuan dan pertentangan berbagai ideologi besar pada awal abad ke-20.

H.O.S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim berusaha mempertahankan Sarekat Islam sebagai gerakan politik yang berlandaskan Islam dan memperjuangkan kemerdekaan serta martabat rakyat. Di sisi lain, Semaun, Darsono dan kelompok kiri memandang sosialisme dan gerakan kelas pekerja sebagai jalan yang lebih tepat untuk menghancurkan kolonialisme sekaligus ketidakadilan ekonomi.

Keduanya memiliki persamaan dalam menentang ketidakadilan kolonial, tetapi berbeda mengenai dasar ideologi dan jalan yang harus ditempuh.

Dari peristiwa tersebut terdapat pelajaran penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Persatuan sebuah gerakan tidak hanya membutuhkan musuh bersama, tetapi juga membutuhkan kesepakatan mengenai nilai dasar, tujuan, dan metode perjuangan. Ketika perbedaan ideologi tidak lagi dapat dipertemukan, organisasi yang sangat besar sekalipun dapat terpecah.

Namun sejarah SI Merah dan SI Putih juga memperlihatkan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari proses panjang yang melibatkan berbagai aliran pemikiran. Islam, nasionalisme, sosialisme, gerakan buruh, kaum intelektual, pedagang, dan rakyat kecil masing-masing memberikan warna terhadap perkembangan kesadaran kebangsaan.

Oleh karena itu, sejarah perpecahan Sarekat Islam sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai sejarah pertentangan antara “kanan” dan “kiri”. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari proses pencarian jalan bangsa Indonesia untuk menjawab sebuah pertanyaan besar pada zamannya: bagaimana membebaskan rakyat dari kolonialisme sekaligus membangun masyarakat yang merdeka, adil, dan bermartabat.

Beberapa sumber sejarah mendukung bahwa pengaruh sosialisme-revolusioner di SI Semarang berkembang melalui ISDV dan Sneevliet, dengan Semaun sebagai figur penting; konflik mencapai titik menentukan melalui penerapan disiplin partai pada Kongres SI 1921. Sumber Direktorat Jenderal Kebudayaan juga mencatat peran Tjokroaminoto dalam perkembangan SI, perjuangan melawan diskriminasi ekonomi, keterlibatannya di Volksraad, dan perubahan SI menjadi Partai Sarekat Islam pada 1923.


Sumber : dari beberapa sumber

Senin, 07 September 2026

Korupsi di Zaman Daendels (1808-1811)



Antara Pemberantasan dan Penyalahgunaan Kekuasaan


Nama Herman Willem Daendels sering diingat orang Indonesia karena satu karya monumental: Jalan Raya Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 km. Namun di balik pembangunan itu, masa pemerintahannya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811) adalah salah satu periode paling kontroversial dalam sejarah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di Nusantara.

Ironisnya, Daendels justru dikirim oleh Raja Louis Bonaparte dari Belanda dengan satu tugas utama: memberantas korupsi.


1. Kondisi Sebelum Daendels: VOC yang Busuk

Sebelum Daendels datang, Hindia dikelola oleh VOC dan kemudian pemerintah Belanda yang sangat korup. Sistemnya disebut prebende dan contingenten:

• Pejabat Belanda digaji sangat kecil, tapi diberi hak untuk memungut pajak dan hasil bumi dari rakyat. • Para Bupati dan pejabat pribumi diberi kekuasaan mutlak atas rakyatnya asal setoran upeti ke Belanda lancar. • Hasilnya: pemerasan berlapis. Rakyat diperas bupati, bupati menyetor ke pejabat Belanda, pejabat Belanda memperkaya diri sendiri dan mengirim sedikit ke Batavia. 

VOC bangkrut pada 1799 bukan karena rugi dagang, tapi karena korupsinya sudah sistemik. Inilah yang ingin dibersihkan Daendels.


2. Misi Daendels: Sang "Tukang Bersih" yang Besi

Daendels adalah seorang jenderal revolusioner Prancis, berpikiran modern dan sangat anti-feodal. Begitu tiba di Batavia, ia melakukan reformasi radikal:

• Menghapus sistem feodalisme. Para bupati tidak lagi dianggap raja kecil, tapi dijadikan pegawai pemerintah kolonial yang digaji. Tujuannya agar mereka tidak lagi memeras rakyat untuk upeti. • Memisahkan kekuasaan kehakiman, administrasi, dan kepolisian. • Melarang pejabat melakukan perdagangan pribadi. 

Di atas kertas, ini adalah upaya anti-korupsi yang paling progresif pada zamannya.


3. Paradoks: Korupsi Gaya Baru di Zaman Daendels

Masalahnya, Daendels harus membangun pertahanan Jawa dari ancaman Inggris dengan anggaran yang hampir nol, karena Belanda sendiri sedang dijajah Prancis dan diblokade Inggris.

Untuk membiayai tentara, benteng di Anyer, Surabaya, dan Jalan Raya Pos, Daendels justru menciptakan bentuk korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang baru:


a. Kerja Paksa (Rodi) sebagai Korupsi Tenaga Manusia

Jalan Anyer-Panarukan dibangun tanpa anggaran. Daendels memerintahkan bupati untuk mengerahkan rakyat secara paksa. Tidak ada upah, tidak ada makanan layak. Ribuan rakyat meninggal karena kelelahan, malaria, dan kelaparan. Ini dianggap sebagai korupsi moral — negara merampas hak hidup rakyat demi proyek prestise.


b. Penjualan Tanah Negara Kepada Swasta

Ini yang paling disorot. Untuk mendapatkan uang tunai cepat, Daendels menjual tanah-tanah milik pemerintah yang sangat luas di Jawa Barat dan Jawa Tengah kepada orang-orang kaya Belanda dan Tionghoa, seperti tanah Buitenzorg (Bogor) dan Cikampek. 

Tanah itu dijual dengan harga sangat murah kepada kroninya. Rakyat yang tinggal di atas tanah itu tiba-tiba menjadi penyewa di tanahnya sendiri dan harus membayar sewa kepada tuan tanah baru. Sistem tuan tanah (landheer) yang sangat menindas ini justru lahir di zaman Daendels.


c. Monopoli dan Pemerasan Terpusat

Daendels menghapus korupsi kecil oleh pejabat daerah, tapi memusatkannya di tangannya sendiri. Semua hasil bumi seperti kopi dan kayu jati harus dijual paksa kepada pemerintah dengan harga yang ditentukan pemerintah (sistem verplichte leverantie). Ia juga memonopoli penjualan garam dan hasil hutan. Uang hasilnya tidak masuk ke kas negara secara transparan, melainkan digunakan langsung untuk proyek militernya tanpa audit.

Karena gaya kepemimpinannya yang sangat otoriter, kejam, dan tidak mau mendengar kritik, ia dijuluki "Mas Galak" oleh rakyat Jawa dan "Gubernur Besi" oleh orang Belanda sendiri.


4. Akhir Jabatan dan Tuduhan Korupsi

Pada tahun 1811, Kaisar Napoleon sendiri mencopot Daendels. Laporan yang sampai ke Paris menyebutkan Daendels bertindak seperti raja, sewenang-wenang, dan dicurigai menggelapkan uang hasil penjualan tanah.

Saat Inggris merebut Jawa di bawah Thomas Stamford Raffles, Raffles menuduh Daendels telah melakukan korupsi besar-besaran. Daendels membela diri dalam bukunya Staat der Nederlandsche Oostindische Bezittingen (1814), bahwa semua yang ia lakukan adalah untuk menyelamatkan Jawa dari Inggris dan semua uang digunakan untuk pertahanan, bukan untuk kantong pribadi.

Sejarawan hingga hari ini masih berdebat. Sebagian melihatnya sebagai reformis yang gagal karena keadaan perang, sebagian melihatnya sebagai diktator korup yang hanya mengganti korupsi desentralisasi dengan korupsi terpusat.


Kesimpulan

Zaman Daendels memberikan pelajaran penting tentang korupsi di Indonesia. Korupsi tidak selalu berarti pejabat mengambil uang untuk membeli rumah mewah. Di zaman Daendels, korupsi berbentuk:

1. Merampas tenaga rakyat secara gratis atas nama pembangunan. 

2. Menjual aset negara (tanah) secara murah kepada kroni untuk kepentingan jangka pendek. 

3. Memusatkan kekuasaan tanpa kontrol, sehingga tidak ada yang bisa mengawasi penggunaan anggaran. 

Daendels datang untuk membasmi korupsi warisan VOC, tetapi karena tekanan perang dan wataknya yang otoriter, ia justru menciptakan warisan baru: pembangunan yang mengorbankan rakyat dan lahirnya sistem tuan tanah yang menindas rakyat Jawa selama lebih dari satu abad setelahnya.


Sumber : dari beberapa sumber

Pemisahan Antara Belgia dengan Belanda



Dari Persatuan Paksa Menuju Dua Negara Berdaulat


Jika hari ini kita melihat peta Eropa Barat, Belgia dan Belanda terlihat sebagai dua negara tetangga yang berbeda, damai, dan bahkan mitra dekat di Uni Eropa. Namun, 200 tahun lalu keduanya adalah satu negara. Pemisahan mereka bukanlah perpisahan baik-baik, melainkan hasil dari revolusi, perbedaan identitas yang dalam, dan kepentingan kekuatan besar Eropa. Peristiwa ini dikenal sebagai Revolusi Belgia 1830.

1. Latar Belakang: Kerajaan Bersatu Belanda (1815)
Setelah kekalahan Napoleon Bonaparte, para pemenang perang berkumpul dalam Kongres Wina 1814-1815. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan kekuatan agar Prancis tidak lagi mendominasi.

Salah satu keputusannya adalah menyatukan wilayah utara (bekas Republik Belanda yang mayoritas Protestan dan berbahasa Belanda) dengan wilayah selatan (bekas Belanda Austria yang mayoritas Katolik dan berbahasa Prancis/Walloon).

Gabungan ini diberi nama Verenigd Koninkrijk der Nederlanden / United Kingdom of the Netherlands, di bawah Raja William I dari Dinasti Oranye-Nassau. Di atas kertas, penyatuan ini ideal untuk menjadi negara penyangga yang kuat di utara Prancis. Di lapangan, ini adalah bom waktu.

2. Penyebab Pemisahan
Ada tiga keretakan utama yang tidak bisa didamaikan:

a. Agama dan Budaya: Utara adalah Protestan yang liberal dan berorientasi dagang. Selatan adalah Katolik yang taat, di bawah pengaruh Gereja yang kuat. Raja William I mencoba menasionalisasi pendidikan dan mengekang pengaruh Gereja Katolik, yang memicu kemarahan di Belgia.

b. Ekonomi yang Tidak Adil: Kebijakan ekonomi Amsterdam dianggap merugikan industri di selatan. Pajak tinggi diberlakukan, sementara industri tekstil dan besi di Wallonia (Belgia) dibatasi. Pendapatan negara lebih banyak digunakan untuk membangun kanal dan pelabuhan di utara.

c. Bahasa dan Politik: Bahasa resmi pemerintahan dan militer adalah bahasa Belanda. Padahal elit di Brussels dan Wallonia menggunakan bahasa Prancis. Representasi politik Belgia di parlemen Den Haag juga sangat minim — hanya 55 kursi dari 110, padahal penduduk selatan lebih banyak dari utara. Orang Belgia merasa dijajah oleh orang Belanda sendiri.

3. Meletusnya Revolusi - 25 Agustus 1830
Pemicunya cukup unik: sebuah opera. Pada 25 Agustus 1830, di Teater La Monnaie, Brussels, dipentaskan opera La Muette de Portici yang bercerita tentang pemberontakan rakyat Napoli terhadap Spanyol. Adegan dengan lirik "Amour sacré de la patrie" (Cinta suci tanah air) membakar semangat penonton.

Malam itu juga, massa turun ke jalan, meneriakkan "Vive la Liberté!". Bendera Belanda diturunkan, kerusuhan meluas ke Liège, Namur, dan Leuven. Raja William I mengirim pasukan untuk memadamkan, tapi gagal.

Puncaknya, pada 4 Oktober 1830, Pemerintahan Sementara di Brussels mendeklarasikan kemerdekaan Belgia.

Perang kemerdekaan berlangsung hingga 1831. Belanda mencoba merebut kembali Belgia dalam "Kampanye Sepuluh Hari", namun digagalkan oleh intervensi militer Prancis yang mendukung Belgia.

4. Pengakuan Internasional: Traktat London 1839
Kekuatan besar Eropa — Inggris, Prancis, Prusia, Austria, dan Rusia — tidak ingin perang besar lagi. Mereka mengadakan Konferensi London.

Hasilnya adalah Traktat London, 19 April 1839. Isinya:
1. Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Belgia. 
2. Batas darat sepanjang ± 450 km ditetapkan secara internasional. 
3. Belgia dinyatakan sebagai negara yang netral dan merdeka selamanya. 
4. Leopold I dari Saxe-Coburg diangkat menjadi Raja pertama Belgia pada tahun 1831. 
Traktat Maastricht 1843 kemudian mempertegas detail batas desa per desa.

5. Dampak dan Hubungan Kini
Pemisahan ini melahirkan dua identitas nasional yang berbeda. Belgia memilih sistem monarki konstitusional parlementer, dengan tiga bahasa resmi (Prancis, Belanda, Jerman). Belanda tetap menjadi monarki dengan identitas Protestan-kalvinis yang kuat.

Ironisnya, dua negara yang pernah berperang kini menjadi contoh integrasi terbaik di dunia. Bersama Luksemburg, mereka membentuk Benelux pada 1944, cikal bakal Uni Eropa. Keduanya adalah anggota pendiri Uni Eropa, NATO, dan Zona Schengen. Perbatasan yang dulu dijaga tentara, kini bisa dilewati tanpa paspor.

Kesimpulan
Pemisahan Belgia dan Belanda membuktikan bahwa persatuan politik tidak bisa dipaksakan hanya dengan peta dan perjanjian para raja jika mengabaikan perbedaan agama, bahasa, dan rasa keadilan ekonomi. Revolusi 1830 bukan sekadar pemisahan wilayah, tetapi lahirnya sebuah bangsa yang menuntut hak untuk menentukan identitasnya sendiri.

Kisah mereka memberi pelajaran penting: dari musuh yang memisahkan diri, kini menjadi mitra yang tidak terpisahkan.

Sumber : dari beberapa sumber

Sejarah Lahirnya Kota Ambon: Anomali Kelahiran Kotaku


Sebuah Tinjauan Kritis atas HUT 7 September

Oleh: Membaca Kembali Tulisan M. Azis Tunny


Ada kota-kota yang lahir dari sebuah prasasti, ada yang lahir dari sebuah peperangan, dan ada yang lahir dari sebuah kesepakatan. Namun Ambon adalah satu-satunya kota di dunia yang kelahirannya lahir dari sebuah anomali - tanggalnya diambil dari peristiwa yang berbeda dengan tahunnya.

Anomali itu yang kita rayakan setiap 7 September.

1. Cikal Bakal yang Disepakati: Benteng Anunciada

Sejarawan Maluku, dari Rumphius, Valentijn, hingga Rijali, sebenarnya sudah bersepakat. Entitas awal Kota Ambon bukanlah pemukiman adat, melainkan sebuah benteng Portugis bernama Nossa Senhora de Anunciada.

Benteng yang kini kita kenal sebagai Benteng Nieuw Victoria di Honipopu itu adalah tapak sejarah pertama Ambon sebagai kota.

Dan seperti semua karya Portugis di abad ke-16, pembangunannya tidak pernah lepas dari spiritualitas Katolik Roma. Filosofi mereka jelas: “Jika bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah orang yang membangunnya.”

Maka Panglima Armada Portugis di Maluku, Sancho de Vasconcelos, sengaja meletakkan batu pertama benteng itu bertepatan dengan Pesta Anunsiasi - hari ketika Maria menerima kabar suka cita dari Malaikat Gabriel tentang kelahiran Yesus. Karena itulah benteng itu diberi nama Nossa Senhora de Anunciada, artinya "Bunda Kita yang Diwartakan Kabar Gembira".

Pesta Anunsiasi dalam kalender liturgi Katolik jatuh pada 25 Maret.

Ini bukan kebetulan. Pola yang sama terjadi di seluruh Maluku:

• Benteng João Bautista di Ternate dibangun pada 24 Juni 1522, bertepatan dengan hari St. Yohanes Pembaptis. 

• Benteng Dos Reis Magos di Tidore dibangun pada 6 Januari 1576, bertepatan dengan perayaan Tiga Raja dari Timur yang mengunjungi Bayi Yesus. 

Maka sangat logis, sejarawan Jesuit H. Jacobs (1974) mencatat, Benteng Anunciada di Honipopu diletakkan pada 25 Maret 1576. Penduduk lokal saat itu bahkan tidak menyebutnya Anunciada, mereka menyebutnya Kota Laha - artinya kota atau benteng yang berada di teluk (laha).

Bukti paling otentik justru datang dari surat Kapten Estevão Teixeira de Macedo, Kapten Benteng Anunciada, tertanggal 2 Juni 1601 yang kini tersimpan di Arsip Saville, Spanyol. Dalam surat itu De Macedo menulis tegas: entitas awal yang disebut Cidade de Amboino (Kota Ambon) adalah pada tanggal 25 Maret 1576, saat batu pertama diletakkan di Honipopu. De Macedo adalah kapten sebelum Gaspar de Melo, kapten terakhir yang menyerahkan benteng itu kepada Belanda pada 1605.


2. Di Mana Anomali Itu Terjadi?

Jika fakta Portugis dan Gereja begitu jelas menunjukkan 25 Maret 1576, dari mana datangnya 7 September 1575?

Jawabannya ada pada tahun 1972.

Pada masa Walikota Ambon ke-9, Matheos H. Manuputty, dibentuk Panitia Khusus Sejarah Kota Ambon. Tugasnya menggali dan menentukan hari lahir kota. Panitia ini kemudian bermitra dengan Fakultas Keguruan Universitas Pattimura.

Pada 14-17 November 1972, digelar seminar sejarah. Ketuanya Drs. John Sitanala (Dekan FKIP Unpatti), Wakil Ketua Drs. John A. Pattikayhatu (Ketua Jurusan Sejarah), dan Sekretaris Drs. Z.J. Latupapua.

Seminar itulah yang melahirkan keputusan anomali itu.

• Tahun 1575 diambil dengan alasan dimulainya pembangunan Benteng Kota Laha (Nossa Senhora de Anunciada) di Honipopu. 

• Tanggal 7 September diambil dari peristiwa yang sama sekali berbeda: pada 7 September 1921, berdasarkan Staatblad No. 524, masyarakat Ambon diberi hak yang sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda untuk menentukan pemerintahan kota melalui Gemeenteraad (Dewan Kota). 

Artinya, tahun diambil dari era Portugis abad ke-16, tetapi tanggal diambil dari era Gemeente Belanda abad ke-20. Dua momentum yang berbeda, disatukan secara paksa menjadi satu hari lahir: 7 September 1575.

Keputusan itu kemudian dirayakan untuk pertama kalinya setahun kemudian, pada 7 September 1973, dan terus kita rayakan hingga hari ini.

Inilah yang disebut Azis Tunny sebagai "penyimpangan sejarah yang dilakukan secara sadar".


3. Mengapa Kita Harus Mengoreksinya?

Hasil seminar adalah buah pikir manusia. Sifatnya tidak final, tidak sakral, dan bisa diubah jika ditemukan bukti yang lebih otentik.

Persoalannya bukan sekadar soal tanggal pesta. Ini soal kejujuran intelektual.

Filsuf Jerman Hans-Georg Gadamer dalam Wahrheit und Methode (Kebenaran dan Metode) mengatakan, masa lalu adalah arus tempat manusia bergerak dan memahami dirinya. Jika kita kehilangan sejarah yang benar, kita kehilangan pemahaman tentang diri kita sendiri. Sejarawan Arthur Marwick bahkan menyebut, masyarakat tanpa sejarah yang otentik akan mengambang tanpa pengetahuan diri.

Penulis Rusia Maxim Gorki berpesan sederhana: "Rakyat harus mengetahui sejarahnya."

Bagaimana mungkin kita bisa menulis sejarah Ambon secara benar di bab-bab selanjutnya, jika bab pertama — kelahirannya sendiri — sudah kita mulai dengan rekayasa?

Anomali 7 September 1575 telah memisahkan Ambon dari logika sejarahnya sendiri. Ia mengingkari tradisi Portugis yang sangat liturgis, mengingkari dokumen primer De Macedo 1601, dan menciptakan kebingungan kronologis.


Penutup: 

Saatnya Jujur Pada Sejarah.

Koreksi sejarah bukanlah tindakan makar terhadap kota, melainkan bentuk cinta tertinggi pada kota Ambon yang kita sebut Kota Ambon Manise berhak atas sebuah kebenaran, bukan sebuah kompromi politis tahun 1972.

Saran kritis yang paling jujur seperti yang disampaikan M. Azis Tunny, Direktur Lembaga Studi Politik dan Demokrasi (LSPD), adalah:

Pemerintah Kota Ambon sudah saatnya menggali kembali fakta dan kebenaran sejarah dengan tidak membiarkan sebuah kesalahan melegitimasi hakikat dari keberadaan kota ini.

Jika bukti menunjukkan 25 Maret 1576 adalah hari peletakan batu pertama Nossa Senhora de Anunciada - Cidade de Amboino yang pertama - maka di tanggal itulah Ambon seharusnya berulang tahun.

Karena sejarah yang kita wariskan kepada anak-cucu seharusnya adalah kebenaran, bukan kebohongan yang kita pelihara bersama.

Sejarah Pembantaian Orang Banda Neira oleh Jan Pieterszoon Coen

Latar Belakang, Kronologi, dan Warisannya 1. Pala Lebih Berharga dari Nyawa Kepulauan Banda, 10 pulau kecil di Laut Banda, selama berabad-ab...