Oleh: Icon
Dari Beyond Wukong di China Sampai Bengawan Sore di Jakarta
Dua tahun terakhir dunia hiburan mengalami patahan besar. Jika dulu kita membedakan tontonan sebagai Drakor, Dracin, Drama Bule, dan Sinetron Lokal, kini pembedanya bukan lagi negara asal, melainkan: dibuat manusia atau dibuat AI.
Fenomena ini bermula dari China. Pada awal September 2026 China mencatat sejarah dengan menayangkan Beyond Wukong, serial drama berdurasi penuh yang sepenuhnya diproduksi menggunakan AI dan berhasil mendapatkan slot siaran utama TV nasional. Itu sinyal bahwa AI bukan lagi alat bantu edit, tapi sudah menjadi sutradara, kameramen, dan aktor sekaligus.
Tren ini langsung meledak di pasar micro-drama. Data Hongguo Short Drama mencatat 5,94 miliar kunjungan dalam satu musim panas, dan sekitar 70 persen dari 100 drama pendek terpopuler di Agustus 2026 adalah drama AI. Di paruh pertama 2026 saja ada 221.900 judul konten AI yang diluncurkan platform besar.
Gelombang yang sama persis menghantam Indonesia, hanya dengan wajah yang berbeda.
Di Indonesia, fenomenanya muncul dalam 3 bentuk:
1. Drama Kolosal Lokal 100% AI
Pada 3 September 2026, studio Kampanye AI meluncurkan Jaka Tingkir Saga: Bengawan Sore - diklaim sebagai series kolosal pertama di Indonesia yang diproduksi 100% menggunakan AI. Sebanyak 57 episode kisah Jaka Tingkir melawan Arya Penangsang dirilis di platform Dynasty Shorts. Yang menarik, tim produksi menegaskan: tidak ada lokasi syuting, tidak ada set kerajaan yang dibangun, tidak ada ratusan figuran dan kuda yang disewa. Seluruh dunia Bengawan Sore dihasilkan sepenuhnya oleh AI berdasarkan naskah dan ribuan prompt.
CEO-nya Choky Andriano berkata: "Generasi 90-an tumbuh dengan cerita Jaka Tingkir di layar kaca... Ini bukan remake, ini cara baru bercerita". Mereka bahkan sudah menyiapkan lanjutannya: Prabu Siliwangi dan Tutur Tinular.
2. Drama Drakor / Dracin / Bule Dubbing AI
Buka YouTube Indonesia hari ini, kamu akan menemukan ribuan channel dengan judul seperti "Setelah Cerai, Aku Jadi Kaya Raya" atau "Dibuang sebagai Pecundang, Ia Bangkit". Deskripsinya seragam: "Video ini menampilkan sulih suara bahasa Indonesia dengan sulih suara AI untuk pengalaman bercerita yang imersif". Ini adalah drama Cina vertical yang diambil, lalu wajahnya mungkin tetap Cina/Korea/Bule, tapi suaranya sudah diganti AI Indonesia. Penonton Indonesia merasa nonton Dracin, padahal itu adalah produk daur ulang AI.
3. Studio Besar Masuk: Studio of The Future
Bukan hanya kreator kecil. Pada 28 April 2026, Emtek Group bersama Google Cloud meluncurkan visi "Studio of the Future". Mereka membuat platform VidioGen berbasis Gemini, Veo, dan Imagen untuk memproduksi konten. Contoh nyatanya adalah New Keluarga Somat, animasi lokal yang setelah tayang perdana Februari 2026 menjadi program animasi lokal nomor satu selama Ramadan 2026 dengan pertumbuhan audience share 74% di prime time. VidioGen dipakai untuk outpainting, inpainting, dan menjaga konsistensi visual antar adegan. Artinya, dari kreator rumahan di Ambon sampai Emtek di Jakarta, semua sudah pakai formula yang sama.
Pengaruh di Indonesia
1. Demokratisasi Cerita Nusantara
Dulu untuk membuat kolosal butuh puluhan miliar. Kini tim kecil bisa membuat 57 episode dalam hitungan bulan. Ini membuka peluang cerita-cerita yang selama ini dianggap tidak komersial: legenda Maluku, kisah Pattimura, cerita Baileo, bisa hidup lagi secepat imajinasi kita, seperti yang dikatakan tim Jaka Tingkir: "Dengan AI, sejarah dan legenda kita bisa hidup kembali secepat imajinasi kita".
2. Lahirnya Genre Baru: Sinetron Rasa Drakor
Anak muda Indonesia sekarang tidak lagi membedakan. Di FYP TikTok, satu akun bisa upload pagi: Drakor AI tentang CEO dingin, siang: Dracin AI tentang balas dendam, malam: Drama lokal AI tentang suami selingkuh. Semua dengan template visual yang sama: wajah mulus, mata besar, lighting sinematik. Identitas nasional drama menjadi kabur.
3. Perubahan Pola Kerja
Emtek sendiri jujur mengatakan tujuannya adalah membantu kreator mengurangi pekerjaan teknis berulang agar lebih fokus pada kreativitas. Tapi di lapangan, ini berarti editor, penata kostum, figuran, dan pengisi suara pemula kehilangan job pertama mereka.
Dampak Sosial di Indonesia
Dampak Positif:
Akses dan Kecepatan: Kreator daerah seperti di Ambon bisa langsung membuat drama bertema lokal tanpa harus menunggu PH Jakarta.
Preservasi Budaya dengan Cara Baru: Sejarah yang tidak pernah ditulis di buku pelajaran bisa divisualisasikan. Andi Sultan dari Dynasty Shorts menegaskan "cerita lokal bisa tampil sekelas produksi global".
Dampak Negatif yang Mulai Terasa:
1. Krisis Kepercayaan dan Hoaks Sejarah
Ketika Jaka Tingkir versi AI melawan Arya Penangsang, apakah pakaian, senjata, dan dialeknya akurat secara sejarah? Jika tidak ada sejarawan yang mengawasi, AI akan menciptakan sejarah palsu yang terlihat sangat meyakinkan. Generasi baru bisa mengira itulah fakta.
2. Matinya Aktor Lokal dan Standar Ganda
Di China, iQiyi sudah menandatangani perjanjian dengan sekitar 100 aktor untuk menggunakan wajah dan suara mereka sebagai artis AI. Model ini akan masuk ke Indonesia. Aktor terkenal akan melisensikan wajahnya dan dapat royalti, sementara aktor baru tidak pernah mendapat kesempatan debut karena produser lebih murah pakai stok wajah AI.
3. Banjir Konten Sampah Emosional
Algoritma drama AI Indonesia sangat mengandalkan judul clickbait perselingkuhan dan balas dendam. Ini membentuk ulang selera penonton: cerita harus cepat, marah, nangis, kaya mendadak dalam 60 detik. Kesabaran menonton sinetron dengan pembangunan karakter yang pelan menjadi hilang.
4. Masalah Hukum yang Belum Siap
China sudah mengeluarkan panduan hukum dari Mahkamah Agung untuk memperketat penggunaan AI dalam drama pendek. Di Indonesia, UU Hak Cipta belum jelas mengatur apakah wajah AI yang mirip Dian Sidik sebagai Jaka Tingkir itu milik Dian Sidik, milik programmer AI, atau milik publik.
5. Alienasi Budaya
Ironisnya, ketika kita bisa membuat Drakor AI dengan mudah, kita justru berhenti belajar membuat drama Maluku yang otentik. Kenapa repot riset budaya Pela Gandong kalau prompt "Korean handsome CEO in luxury office" lebih banyak penontonnya?
Manusia Tetap Harus Jadi Dalang
Seperti yang dikatakan Managing Director Emtek: "Fondasi industri kreatif akan selalu bertumpu pada manusia yang ada di baliknya". AI seharusnya menjadi VidioGen - alat yang mempercepat pembuatan aset visual, bukan yang menggantikan visi kreatif.
Indonesia butuh tiga hal segera: pertama, regulasi label wajib "Konten Buatan AI" seperti yang dilakukan China. Kedua, skema royalti wajah yang adil untuk aktor lokal. Ketiga, literasi penonton agar kita bangga menonton drama lokal bukan karena wajahnya mulus seperti oppa Korea, tapi karena ceritanya jujur tentang kita.
Jika tidak, kita akan punya ribuan judul drama, tapi kehilangan cerita kita sendiri.
Sumber :
- Viv.co.id & Metapos.id (2026). China Tayangkan Drama Full AI Beyond Wukong di Saluran Utama TV.
- KapanLagi.com (06 September 2026). Series 'Jaka Tingkir Saga: Bengawan Sore' Dibintangi Dian Sidik dan Adelia Rasya, Pakai Teknologi AI. 57 episode tanpa lokasi syuting.
- Google Cloud Blog Indonesia (28 April 2026). Google Cloud dan Emtek hadirkan "Studio of the Future", bawa AI ke produksi konten. Studi kasus New Keluarga Somat dan VidioGen.
- LayarHijau.com (2026). Drama Pendek AI Dominasi Pasar China & iQiyi Kembangkan Artis AI dengan 100 Aktor.
- Dynasty Shorts Official (2026). JAKA TINGKIR - Official Trailer | Drama Kolosal AI Pertama Indonesia.
- Data Lapangan YouTube Indonesia (2026). Kanal-kanal Drama Indonesia dengan Dubbing AI / Counterattack / Dragon Theater.
Tulisan ini disusun berdasarkan riset berita industri AI-drama China dan Indonesia periode Februari - September 2026.
















