Sebuah Tinjauan Kritis atas HUT 7 September
Oleh: Membaca Kembali Tulisan M. Azis Tunny
Ada kota-kota yang lahir dari sebuah prasasti, ada yang lahir dari sebuah peperangan, dan ada yang lahir dari sebuah kesepakatan. Namun Ambon adalah satu-satunya kota di dunia yang kelahirannya lahir dari sebuah anomali - tanggalnya diambil dari peristiwa yang berbeda dengan tahunnya.
Anomali itu yang kita rayakan setiap 7 September.
1. Cikal Bakal yang Disepakati: Benteng Anunciada
Sejarawan Maluku, dari Rumphius, Valentijn, hingga Rijali, sebenarnya sudah bersepakat. Entitas awal Kota Ambon bukanlah pemukiman adat, melainkan sebuah benteng Portugis bernama Nossa Senhora de Anunciada.
Benteng yang kini kita kenal sebagai Benteng Nieuw Victoria di Honipopu itu adalah tapak sejarah pertama Ambon sebagai kota.
Dan seperti semua karya Portugis di abad ke-16, pembangunannya tidak pernah lepas dari spiritualitas Katolik Roma. Filosofi mereka jelas: “Jika bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah orang yang membangunnya.”
Maka Panglima Armada Portugis di Maluku, Sancho de Vasconcelos, sengaja meletakkan batu pertama benteng itu bertepatan dengan Pesta Anunsiasi - hari ketika Maria menerima kabar suka cita dari Malaikat Gabriel tentang kelahiran Yesus. Karena itulah benteng itu diberi nama Nossa Senhora de Anunciada, artinya "Bunda Kita yang Diwartakan Kabar Gembira".
Pesta Anunsiasi dalam kalender liturgi Katolik jatuh pada 25 Maret.
Ini bukan kebetulan. Pola yang sama terjadi di seluruh Maluku:
• Benteng João Bautista di Ternate dibangun pada 24 Juni 1522, bertepatan dengan hari St. Yohanes Pembaptis.
• Benteng Dos Reis Magos di Tidore dibangun pada 6 Januari 1576, bertepatan dengan perayaan Tiga Raja dari Timur yang mengunjungi Bayi Yesus.
Maka sangat logis, sejarawan Jesuit H. Jacobs (1974) mencatat, Benteng Anunciada di Honipopu diletakkan pada 25 Maret 1576. Penduduk lokal saat itu bahkan tidak menyebutnya Anunciada, mereka menyebutnya Kota Laha - artinya kota atau benteng yang berada di teluk (laha).
Bukti paling otentik justru datang dari surat Kapten Estevão Teixeira de Macedo, Kapten Benteng Anunciada, tertanggal 2 Juni 1601 yang kini tersimpan di Arsip Saville, Spanyol. Dalam surat itu De Macedo menulis tegas: entitas awal yang disebut Cidade de Amboino (Kota Ambon) adalah pada tanggal 25 Maret 1576, saat batu pertama diletakkan di Honipopu. De Macedo adalah kapten sebelum Gaspar de Melo, kapten terakhir yang menyerahkan benteng itu kepada Belanda pada 1605.
2. Di Mana Anomali Itu Terjadi?
Jika fakta Portugis dan Gereja begitu jelas menunjukkan 25 Maret 1576, dari mana datangnya 7 September 1575?
Jawabannya ada pada tahun 1972.
Pada masa Walikota Ambon ke-9, Matheos H. Manuputty, dibentuk Panitia Khusus Sejarah Kota Ambon. Tugasnya menggali dan menentukan hari lahir kota. Panitia ini kemudian bermitra dengan Fakultas Keguruan Universitas Pattimura.
Pada 14-17 November 1972, digelar seminar sejarah. Ketuanya Drs. John Sitanala (Dekan FKIP Unpatti), Wakil Ketua Drs. John A. Pattikayhatu (Ketua Jurusan Sejarah), dan Sekretaris Drs. Z.J. Latupapua.
Seminar itulah yang melahirkan keputusan anomali itu.
• Tahun 1575 diambil dengan alasan dimulainya pembangunan Benteng Kota Laha (Nossa Senhora de Anunciada) di Honipopu.
• Tanggal 7 September diambil dari peristiwa yang sama sekali berbeda: pada 7 September 1921, berdasarkan Staatblad No. 524, masyarakat Ambon diberi hak yang sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda untuk menentukan pemerintahan kota melalui Gemeenteraad (Dewan Kota).
Artinya, tahun diambil dari era Portugis abad ke-16, tetapi tanggal diambil dari era Gemeente Belanda abad ke-20. Dua momentum yang berbeda, disatukan secara paksa menjadi satu hari lahir: 7 September 1575.
Keputusan itu kemudian dirayakan untuk pertama kalinya setahun kemudian, pada 7 September 1973, dan terus kita rayakan hingga hari ini.
Inilah yang disebut Azis Tunny sebagai "penyimpangan sejarah yang dilakukan secara sadar".
3. Mengapa Kita Harus Mengoreksinya?
Hasil seminar adalah buah pikir manusia. Sifatnya tidak final, tidak sakral, dan bisa diubah jika ditemukan bukti yang lebih otentik.
Persoalannya bukan sekadar soal tanggal pesta. Ini soal kejujuran intelektual.
Filsuf Jerman Hans-Georg Gadamer dalam Wahrheit und Methode (Kebenaran dan Metode) mengatakan, masa lalu adalah arus tempat manusia bergerak dan memahami dirinya. Jika kita kehilangan sejarah yang benar, kita kehilangan pemahaman tentang diri kita sendiri. Sejarawan Arthur Marwick bahkan menyebut, masyarakat tanpa sejarah yang otentik akan mengambang tanpa pengetahuan diri.
Penulis Rusia Maxim Gorki berpesan sederhana: "Rakyat harus mengetahui sejarahnya."
Bagaimana mungkin kita bisa menulis sejarah Ambon secara benar di bab-bab selanjutnya, jika bab pertama — kelahirannya sendiri — sudah kita mulai dengan rekayasa?
Anomali 7 September 1575 telah memisahkan Ambon dari logika sejarahnya sendiri. Ia mengingkari tradisi Portugis yang sangat liturgis, mengingkari dokumen primer De Macedo 1601, dan menciptakan kebingungan kronologis.
Penutup: Saatnya Jujur Pada Sejarah
Koreksi sejarah bukanlah tindakan makar terhadap kota, melainkan bentuk cinta tertinggi pada kota. Ambon yang kita sebut Kota Manise berhak atas sebuah kebenaran, bukan sebuah kompromi politis tahun 1972.
Saran kritis yang paling jujur seperti yang disampaikan M. Azis Tunny, Direktur Lembaga Studi Politik dan Demokrasi (LSPD), adalah:
Pemerintah Kota Ambon sudah saatnya menggali kembali fakta dan kebenaran sejarah dengan tidak membiarkan sebuah kesalahan melegitimasi hakikat dari keberadaan kota ini.
Jika bukti menunjukkan 25 Maret 1576 adalah hari peletakan batu pertama Nossa Senhora de Anunciada - Cidade de Amboino yang pertama - maka di tanggal itulah Ambon seharusnya berulang tahun.
Karena sejarah yang kita wariskan kepada anak-cucu seharusnya adalah kebenaran, bukan kebohongan yang kita pelihara bersama.
