Minggu, 26 September 2021

Indonesia Tanpa Maluku Bukan Indonesia? Paradoks di Balik Banjir Darah 17 Agustus 1945


Luka yang Dihapus dari Narasi Kemerdekaan
Jika kemerdekaan dimaknai sebagai perlindungan yang sama bagi semua warga negara, maka peristiwa setelah 17 Agustus 1945 di Pulau Jawa justru menjadi antitesis bagi orang Maluku. Dalam rentang waktu 1945-1946, ribuan orang Maluku - yang pada saat itu secara umum disebut "Orang Ambon" - mengalami ancaman, pengusiran, perampokan, pemerkosaan, penyiksaan hingga pembunuhan.
Tulisan ini bukan untuk membuka luka lama demi dendam, melainkan untuk membaca ulang satu bab sejarah yang hampir tidak pernah masuk dalam buku pelajaran resmi.
1. Jakarta, Surabaya, dan Puncak Teror
De Fretes mencatat secara rinci pada halaman 58-68 tentang apa yang terjadi di Jakarta. Dimulai dengan pembunuhan Boma Latupeirissa di Jatinegara, disusul keluarga Lopies di Pasar Minggu termasuk anak-anak, seorang pemuda yang sedang mengendarai mobil dianiaya di siang hari. Keluarga Agus Souisa - istri, dua saudara perempuan dan dua anaknya - ditikam satu per satu. Keluarga Lukas Polhaupessy, Boetje Tahalele seorang dokter yang bertugas di Jatinegara, dibacok. 
Kondisi ini menciptakan teror psikologis yang sistematis. De Fretes menulis: "Bukan saja disana-sini terjadi penganiayaan dan pembunuhan sampai pelosok-pelosok kampung tetapi di mana saja orang Ambon berada. Maka teriakan, 'SIAAP', dari rakyat sudah menunjukkan bahwa tiap saat orang Ambon dapat diserang." Di belakang Stasiun Jatinegara, orang Ambon bahkan tidak berani keluar-masuk gang tempat tinggal mereka sendiri.
Di Jawa Timur, skalanya lebih mengerikan. Di Gedung Balai Pemuda Simpang - Surabaya, perempuan dan anak-anak Maluku serta warga sipil Belanda dibunuh. De Fretes menggambarkan lantai marmer gedung itu terlapisi darah setinggi mata kaki orang dewasa. Di Sidoarjo, seorang ibu Ambon berambut panjang ditarik dan diseret di jalanan, sementara dua anak lelakinya usia 7 dan 10 tahun memegang erat sarung sang ibu sambil menyaksikan ibunya ditikam dengan bambu runcing dan dicincang di tengah alun-alun.
2. Aktor: Maklumat Perang Barisan Pelopor
Pertanyaan utamanya adalah: mengapa kebencian itu begitu terorganisir?
Jawaban yang ditemukan dalam arsip adalah Maklumat Perang Barisan Pelopor yang diterbitkan di Jakarta pada hari Minggu, 9 September 1945. Maklumat itu secara eksplisit menyatakan bahwa kelompok "Indo, Ambon, dan Manado" harus diboikot karena musuh bangsa Indonesia. Mereka harus dibunuh di tempat kediaman mereka, dilingkari kawat berduri, sumur dan air minum mereka harus diracuni, dan setiap pedagang dilarang menjual apapun kepada mereka.
Maklumat ini ditempel di pohon, di dinding, di kantor, dan diperkuat oleh pemberitaan media massa saat itu dengan huruf besar: AMBON ANJING NICA.
Barisan Pelopor sendiri adalah pasukan pemuda sipil bersenjata. Dalam buku Cindy Adams Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2011, hlm. 266), Sukarno sendiri mengakui: "Barisan Pelopor, pasukan pemuda sipil dimana aku menjadi ketuanya, dipersenjatai." Di dalam tubuh Barisan Pelopor terdapat Barisan Pelopor Istimewa sekitar 100 pemuda pilihan yang dipimpin Sudiro sebagai pengawal dan utusan pribadi Presiden.
Karena itu, surat kabar di Belanda seperti Volkskrant dan Rotterdamse Krant menurunkan berita utama: Soekarno Verklaart Oorlog Aan Indo's, Menadonezen, En Ambonezen - Sukarno Menyatakan Perang Kepada Orang-orang Indo, Manado, dan Ambon.
Bahkan sebelum proklamasi, pada 16 Agustus 1945, menurut catatan Mohammad Hatta dalam Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977), Wikana telah mengatakan kepada Sukarno untuk membunuh orang-orang Ambon.
3. Diam yang Bukan Emas
Yang paling melukai dalam catatan de Fretes adalah sikap negara. Selama kekerasan berlangsung, Gubernur Maluku saat itu, Mr. Johannes Latuharhary, yang sedang berdomisili di Jakarta, mengajukan permohonan untuk membuka Kantor Gubernur Maluku di Jawa dan Sumatera agar bisa menangani langsung perlindungan bagi warganya. Permohonan itu tidak disetujui dan dicap sebagai tindakan separatis.
Tindakan penyelamatan terhadap kurang lebih 30.000 nyawa orang Maluku di Jawa dan Madura pada akhirnya dilakukan sendiri oleh sesama orang Maluku yang tinggal di Jawa seperti Abdul Mutalib Sangadji, Muhammad Padang, Alberth Latuasan, dan Nono Tanasale - yang karena marahnya bahkan menyebut Republik Indonesia sebagai "Republik Tai."
De Fretes di hlm 78 & 104 bersaksi bagaimana ia dan pasukan kecil di bawah komando Egmond Pattinama harus masuk ke pegunungan Mojokerto dengan truk, menemukan ratusan keluarga Maluku - kebanyakan wanita, orang tua, dan anak-anak - tidur berderet di tanah dingin pegunungan. Salah satunya adalah Ibu Patty, istri Pendeta Patty di Surabaya, yang terbangun dan berteriak: "Nani se cari Beta pung anak dolo, dorang siksa dia barangkali dia su mati!"
4. Kebencian yang Mematikan dan Paradoks
Horst Henry Geerken dalam bukunya A Magic Gecko - Peran CIA Di Balik Jatuhnya Soekarno (2011, hlm. 161) mencoba menjelaskan akar kebencian itu: di mata Sukarno, orang Ambon dianggap sebagai kolaborator Belanda yang paling rendah, sehingga kekerasan terhadap mereka dianggap wajar. Stigmatisasi orang Maluku sebagai kaki tangan Sekutu dan anti-kemerdekaan sudah dibangun sejak masa pendudukan Jepang.
Puncak kebencian itu terjadi ketika orang Maluku memilih untuk tidak bergabung dengan RI melalui proklamasi Republik Maluku Selatan (RMS) pada 25 April 1950, sehari setelah referendum penolakan oleh Dewan Maluku Selatan di Tulehu. Apapun perdebatan hukum tentang KMB dan Konstitusi RIS 1950, respons negara adalah Gerakan Operasi Militer (GOM) III - operasi gabungan terbesar pertama RI dengan 20.000 tentara AD, 3 pembom AU, dan 14 kapal perang AL. Menurut Geerken, agresi itu menewaskan sekitar 10.000 orang Maluku.
Di sinilah lahir paradoks yang dikritik Apituley: Sukarno di satu sisi membiarkan pembantaian, di sisi lain mengucapkan kalimat yang hingga hari ini diulang-ulang seperti mantra: "Indonesia tanpa Maluku bukan Indonesia." Bagi Apituley, ini adalah contoh dari bicara laeng, biking laeng - lain di bibir, lain di hati.
Dari Perayaan ke Perkabungan
Jika fakta-fakta yang dicatat de Fretes, Butje Hahury, dan lainnya itu benar, maka tanggal 17 Agustus bagi orang Maluku memiliki makna ganda. Bukan hanya hari lahirnya sebuah negara, tetapi juga awal dari sebuah periode panjang di mana nyawa orang Maluku tidak ada harganya.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengadili sejarah, melainkan untuk menuntut satu hal yang paling dasar dalam sebuah negara hukum: pengakuan. Bahwa pernah terjadi banjir darah di Balai Pemuda Surabaya. Bahwa pernah ada anak berusia 7 tahun yang menyaksikan ibunya dicincang di Sidoarjo. Bahwa pernah ada maklumat resmi yang memerintahkan meracuni sumur orang Ambon.
Tanpa pengakuan itu, kalimat "Indonesia tanpa Maluku bukan Indonesia" akan tetap terdengar seperti kebohongan yang didirikan untuk menjaga keutuhan negara di atas luka yang tidak pernah disembuhkan.

Sumber :
1. Adams, C. (2011). Bung Karno penyambung lidah rakyat Indonesia. Yayasan Bung Karno.

2. de Fretes, J. D. (2007). Kebenaran melebihi persahabatan: Aristoteles kepada Plato. Harman Pitalex & Kubuku.

3. Geerken, H. H. (2011). A magic gecko: Peran CIA di balik jatuhnya Soekarno. Penerbit Kompas.

4. Hatta, M. (2015). Politik, kebangsaan, ekonomi (1926-1977). Penerbit Kompas.

5. Kasenda, P. (2015). Soekarno di bawah bendera Jepang (1942-1945). Penerbit Kompas.

6. Parker, K. J. D. (1996). Republik Maluku: The case for self-determination. HLP/IED & AHL.

Dokumen dan Arsip:

7. Barisan Pelopor. (1945, 9 September). Maklumat Perang Barisan Pelopor. Jakarta.[Selebaran]

8. Hahury, B. (n.d.). Soekarno perintah bunuh bangsa Maluku di Jawa, "Soekarno verklaart oorlog aan Indo's, Menadonezen, en Ambonezen". [Mengutip kesaksian Luhulima].

9. Volkskrant & Rotterdamse Krant. (1945, September). Soekarno verklaart oorlog aan Indo's, Menadonezen, en Ambonezen [Headline berita].

Sumber Tulisan Asli:

10. Apituley, H. R. (2019). Pembantaian orang Ambon. Politeknik Negeri Ambon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Menjamurnya Tontonan Drama Korea, Drama Cina, Drama Bule, Hingga Drama Lokal Versi AI

KETIKA INDONESIA IKUT MENGARANG ULANG SEJARAH Oleh: Icon Dari Beyond Wukong di China Sampai Bengawan Sore di Jakarta Dua tahun terakhir duni...