“Mengabdi Melalui Pendidikan, Bertumbuh dalam Iman dan Ilmu - Merawat Identitas Nona, Nyonya, dan Pak Guru”
Oleh : Icon
I. PENDAHULUAN: SEKOLAH DENGAN IDENTITAS YANG HIDUP
SMP Kristen Urimessing Ambon, yang sekarang dikenal secara resmi sebagai SMP Kristen YPKPM Ambon, merupakan salah satu lembaga pendidikan Kristen yang telah lama mengambil bagian dalam pembangunan sumber daya manusia di Kota Ambon dan Maluku.
Di antara sekian banyak SMP di Kota Ambon, sekolah ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki sekolah lain dan masih diwariskan sampai saat ini: Siswa SMP Kristen Urimesing Ambon menyapa Ibu Guru yang belum menikah dengan sebutan "Nona" dan untuk Ibu Guru yang telah menikah dengan sebutan "Nyonya", sedangkan sapaan untuk Bapa Guru tetap dengan sebutan Pak Guru.
Hal unik ini dalam perkembangannya dapat dijadikan "identitas khusus" relasi antara siswa dengan gurunya. Naskah ini ditulis untuk menjelaskan sejarah berdirinya sekolah tersebut sekaligus menganalisa asal-usul tradisi sapaan tersebut.
Tanggal 1 Oktober 1951 merupakan tonggak penting. Pada tanggal itulah sebuah SMP Kristen didirikan di Belakang Soya, Ambon, yang dalam perkembangannya menjadi SMP Kristen di Urimessing. Dengan demikian, pada 1 Oktober 2026, perjalanan historis sekolah tersebut genap berusia 75 tahun.
II. AKAR SEJARAH PENDIDIKAN KRISTEN: DARI KWEEKSCHOOL HINGGA MCSV
Perjalanan sekolah ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang pelayanan pendidikan Kristen Protestan di Maluku.
Akar Pertama: Ambon sebagai Pusat Pendidikan Guru Pertama di Nusantara
Jauh sebelum Indonesia merdeka, Ambon sudah menjadi pusat pendidikan guru Kristen pertama. VOC dan para misionaris Kristen mendirikan sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara pada tahun 1834. Pendidikan guru ini pertama kali diselenggarakan di Ambon pada 1834.
Sekolah inilah yang melahirkan guru-guru jemaat yang disebar ke seluruh Maluku. Dari tradisi inilah muncul penghormatan tinggi pada guru, karena kedudukan guru dalam masyarakat pedesaan di Maluku sangat dihormati hampir sama penghormatan masyarakat terhadap seorang raja, patih, atau orang kaya di seluruh daerah Maluku.
Akar Kedua: Molluksche Christelijke School Vereniging (MCSV) 1920
Induk resmi dari semua Sekolah Kristen di Ambon hari ini adalah Yayasan Persekolahan Kristen Protestan Maluku yang merupakan kelanjutan dari MOLUKSCHE CHRISTELIJKE SCHOOLVERENIGING (MCSV) yang mulai berfungsi Tahun 1920.
Motto dari MCSV adalah Yohanis 3:16: “Karena Begitu Besar Kasih Allah Akan Dunia Ini, Sehingga dikaruniakan AnakNya Yang Tunggal, supaya Setiap orang yang Percaya KepadaNya Tidak Binasa, Melainkan Beroleh Hidup Yang Kekal.” Tujuannya adalah untuk membina para murid di Maluku supaya mereka dapat dibimbing secara rohani menuju suatu kehidupan kristiani demi hidup bermasyarakat.
MCSV diakui sah dengan besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 28 juli 1934 nomor 25. Pada masa perkembangannya, pendidikan Kristen tumbuh di beberapa wilayah, terutama Urimessing, Belakang Soya, Tiouw-Saparua, Piru dan Tual.
Sebelum Perang Dunia II, di kompleks Urimessing telah berdiri sekolah elit Belanda: Eerste Christelijke Hollands Inlandsche School (Eerste Chr. H.I.S) dan di Belakang Soya Tweede Chr. H.I.S di Kompleks belakang Soya dan Derde Chr. H.I.S di Kompleks Urimessing lagi.
III. BERDIRINYA SMP KRISTEN: 1 OKTOBER 1951
Sesudah Perang Dunia II, pelayanan pendidikan Kristen di Maluku kembali mengalami perkembangan. Seiring perubahan sistem pendidikan Indonesia, pada tahun 1951 sekolah yang sebelumnya menggunakan sistem Lagere School kemudian berkembang menjadi Sekolah Rakyat (SR) dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.
Jumlah peserta didik semakin bertambah. Di Urimessing berkembang SR Kristen A1, A2, A3, B1, B2 dan B3. Sementara di Belakang Soya terdapat SR Kristen A1, A2, B1 dan B2 yang menyelenggarakan pembelajaran pagi dan siang.
Perkembangan jumlah peserta didik tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan Kristen. Lulusan SR tidak tertampung di SMP Negeri yang masih sangat sedikit.
Maka tonggak sejarah penting terjadi pada 1 OKTOBER 1951. Pada tanggal tersebut didirikan sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen di Belakang Soya, Ambon, yang dalam perkembangannya menjadi SMP Kristen di Urimessing.
Pendirian SMP ini merupakan langkah penting karena memberikan kesempatan kepada lulusan Sekolah Rakyat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah tanpa meninggalkan lingkungan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai kekristenan. Karena itu, 1 Oktober 1951 memiliki nilai historis yang sangat penting dan dapat dipandang sebagai hari lahir SMP Kristen Urimessing.
IV. DARI MCSV MENJADI PPKPM MENJADI YAYASAN PKPM
Tidak lama setelah berdirinya SMP tersebut, terjadi perkembangan kelembagaan yang penting. Pada rapat Badan Pengurus tanggal 24 Januari 1952, MCSV berubah menjadi Perkumpulan Persekolahan Kristen Protestan Maluku (PPKPM) yang berpusat di Kota Ambon.
PPKPM kemudian mengembangkan berbagai jenjang pendidikan Kristen, antara lain TK Kristen, SD Kristen dan SMP Kristen. Perkembangan berikutnya juga melahirkan SMA Kristen di Urimessing pada 14 Oktober 1957.
Seiring perkembangan organisasi dan tuntutan pengelolaan pendidikan yang semakin kompleks, pada 12 November 1982, pengurus PPKPM yang terdiri dari Ketua Pdt F. C. Lewier, M.Th dan Sekretaris J. Soselisa menghadap Notaris Ny. J. M. de Fretes Tumbelaka, S.H. untuk membentuk yayasan melalui Akta Nomor 27. Perubahan selanjutnya dilakukan pada 18 Juli 1987 melalui Akta Nomor 64. Dari perkembangan kelembagaan tersebut lahirlah Yayasan Persekolahan Kristen Protestan Maluku yang kemudian dikenal dengan singkatan YPKPM.
Salah satu tonggak administratif penting adalah diterbitkannya SK Izin Operasional Nomor 165/I17/KPTS/M/91 tanggal 16 Desember 1991 dengan predikat DISAMAKAN, yang ditandatangani oleh Direktur Sekolah Swasta a/n Dirjen Dikdasmen.
V. ANALISA KHUSUS: APAKAH TRADISI NONA-NYONYA MERUPAKAN PENGARUH DIDIKAN ALA BELANDA?
Jawabannya adalah: Ya, pengaruh didikan ala Belanda yang melembaga, tetapi dengan akar kata dari Portugis.
1. Lapisan Pertama - Leksikonnya dari Portugis
Kata Nona dan Nyonya bukan asli Belanda. Nona, asal kata dona. Artinya sebutan bagi anak perempuan atau wanita yang belum menikah. Nyonya, asal kata donha. Artinya kata sapaan kepada perempuan yang sudah bersuami. Portugis datang di Maluku tahun 1512 dan meninggalkan jejak bahasa yang dalam. Bentuk sapaan seperti nyora, nyonya, nona, dan nyong tetap eksis dalam bahasa Melayu Ambon hingga kini. Nyora menjadi sebutan kehormatan bagi istri raja, pejabat, atau guru sekolah.
2. Lapisan Kedua - Sistemnya dari Belanda (Zending)
Belanda melalui Zending-lah yang mengubah kata sapaan sehari-hari itu menjadi etika resmi di sekolah Kristen. Di sekolah-sekolah HIS dan Kweekschool Belanda, berlaku aturan:
• Juffrouw = Nona (Guru wanita belum menikah) • Mevrouw = Nyonya (Guru wanita sudah menikah) • Meneer / Meester = Pak Guru
Hal ini tercatat dalam sejarah sosial Maluku: Seorang guru selalu dihormati dengan panggilan... guru selalu dipanggil "bapak meester" dan istrinya disebut "mama nyora". Sedangkan anak-anak guru disebut "nyong" bagi putra dan "nona" bagi yang putri.
Untuk Bapa Guru tetap Pak Guru karena sapaan Nyong itu untuk anak muda, bukan untuk figur otoritas laki-laki dewasa. Laki-laki dewasa otomatis mendapat gelar Bapak / Tuan / Meester.
Jika di Jawa tradisi ini hilang pada tahun 1970-an karena penyeragaman bahasa Indonesia, di Ambon ia bertahan karena sekolah-sekolah YPKPM tidak pernah terputus dari gereja. Inilah yang menjadikannya identitas khusus yang otentik dan layak dipertahankan sebagai branding sekolah.
VI. PERKEMBANGAN STATUS SEKOLAH SAAT INI
Data pemerintah saat ini mencatat sekolah dengan identitas: Nama: SMP Kristen YPKPM Ambon, NPSN: 60103090, Status: Swasta, Naungan: Yayasan Persekolahan Kristen Protestan Maluku (YPKPM), Alamat: Jl. Diponegoro No. 61, Kelurahan Ahusen, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku, Akreditasi: A.
Perlu dibedakan antara data administratif pemerintah dan sejarah faktual sekolah. Data pendidikan pemerintah mencantumkan SK pendirian administratif bertanggal 27 Desember 2006, sedangkan dokumen sejarah Yayasan PKPM secara tegas mencatat pendirian SMP pada 1 Oktober 1951. Oleh karena itu, dalam penulisan sejarah sekolah, 1 Oktober 1951 merupakan tonggak historis pendirian, sedangkan dokumen-dokumen setelahnya merupakan bagian dari perkembangan legal-administratif sekolah.
Dalam perjalanan panjangnya, nama “SMP Kristen Urimessing” memiliki nilai historis tersendiri. Nama tersebut bukan hanya menunjuk pada lokasi sekolah, tetapi telah menjadi bagian dari identitas pendidikan Kristen di Kota Ambon. Generasi demi generasi peserta didik menempuh pendidikan di lingkungan sekolah ini.
VII. PERAN, REFLEKSI 75 TAHUN, DAN MENATAP MASA DEPAN
Selama perjalanan sejak tahun 1951, SMP Kristen Urimessing hadir di tengah berbagai perubahan zaman. Sekolah melewati masa awal kemerdekaan Indonesia, perubahan sistem pendidikan nasional, perubahan kurikulum, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga memasuki era pendidikan digital.
Tujuh puluh lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di dalamnya terdapat pengabdian para pengurus yayasan, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan; perjuangan para orang tua; serta perjalanan ribuan peserta didik dan alumni. Beberapa alumni dari lembaga pendidikan yang diasuh Yayasan ini antara lain Bapak Mohammad Padang (Mantan Gubernur Maluku), Bapak Drs. S. Akyuwen (Mantan Wakil Gubernur Maluku), Bapak Prof. Dr. J. J. Lokollo, S.H. (Guru Besar Unpatti), dan Bapak Dr. L. W. J. Hendriks (Ketua BPH Sinode GPM).
Warisan terbaik bukan hanya gedung sekolah ataupun nama besar sebuah lembaga pendidikan. Warisan sesungguhnya adalah nilai: iman, ilmu pengetahuan, kejujuran, disiplin, kerja keras, pelayanan dan kasih kepada sesama. Termasuk warisan etika menyapa Nona dan Nyonya.
Memasuki usia 75 tahun, tantangan pendidikan semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi, kecerdasan buatan, perubahan sosial dan derasnya arus informasi menuntut sekolah untuk terus beradaptasi. Namun perkembangan teknologi tidak boleh menghilangkan karakter dasar pendidikan Kristen.
SMP Kristen YPKPM Ambon diharapkan terus menjadi lembaga pendidikan yang mampu memadukan iman, ilmu pengetahuan, karakter dan teknologi.
VIII. PENUTUP
Perjalanan SMP Kristen Urimessing Ambon sejak 1 Oktober 1951 hingga 1 Oktober 2026 merupakan perjalanan panjang selama 75 tahun. Berawal dari sebuah SMP yang didirikan di Belakang Soya, sekolah ini kemudian berkembang menjadi SMP Kristen di Urimessing dan saat ini tercatat sebagai SMP Kristen YPKPM Ambon.
Perjalanan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah pelayanan pendidikan Kristen Protestan di Maluku. Tradisi sapaan Nona-Nyonya-Pak Guru adalah bukti hidup bahwa sekolah ini tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menjaga adab dan identitas Ambon-Kristen yang berakar dari perjumpaan Portugis, Belanda, dan Maluku.
Kiranya SMP Kristen Urimessing—SMP Kristen YPKPM Ambon—terus menjadi tempat bertumbuhnya generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, mencintai sesama dan siap mengabdikan dirinya bagi gereja, masyarakat, Maluku, bangsa dan negara.
Selamat menyongsong 75 Tahun SMP Kristen Urimessing Ambon.
1 Oktober 1951 – 1 Oktober 2026
“Mengenang Sejarah, Mensyukuri Penyertaan Tuhan, Membangun Generasi Masa Depan.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar