Kepulauan Banda, 10 pulau kecil di Laut Banda, selama berabad-abad adalah satu-satunya tempat di dunia yang menghasilkan pala dan fuli (bunga pala). Di Eropa, pala setara dengan emas - bukan hanya bumbu, tapi pengawet, obat, dan penangkal wabah. Siapa menguasai Banda, menguasai kekayaan dunia. Penduduk asli Banda menyebut diri mereka Wandan atau Wakan, dipimpin oleh dewan Orang Kaya (orang yang kaya ilmu, berani, dan disegani), bukan raja tunggal. Mereka adalah pedagang merdeka yang berdagang dengan Jawa, Melayu, Arab, Cina, dan Portugis sejak abad ke-14.
2. Latar Belakang Konflik VOCPada 1602 Belanda mendirikan VOC dengan tujuan monopoli total. Sejak 1609 VOC memaksa kontrak monopoli: Banda hanya boleh jual pala ke VOC dengan harga VOC. Orang Kaya menolak karena mereka butuh impor makanan dan ingin jual ke penawar tertinggi, termasuk Inggris (EIC) yang punya pos di Pulau Run dan Ai. Frustrasi karena tidak bisa jual pala lebih murah dari Inggris, petinggi VOC di Amsterdam pada 1614 memutuskan: VOC harus menaklukkan seluruh Banda, bahkan jika penduduknya harus dihancurkan. Pembunuhan pejabat VOC Pieter Willemszoon Verhoeff oleh orang Banda pada Mei 1609 di Banda Neira dijadikan alasan untuk memulai perang.
Ekspedisi berlanjut: Pulau Ay diserang 1610-1616, penduduknya dibunuh atau 400 orang tenggelam saat melarikan diri ke Run. Benteng Belgica dan Fort der Wrake dibangun. Pulau Run dibela oleh Inggris di bawah Nathaniel Courthope sejak 1616 yang meyakinkan penduduk Run menerima Raja James I sebagai penguasa. Belanda mengepung bertahun-tahun sampai Courthope gugur 1620, lalu semua laki-laki dewasa Run dibunuh, wanita-anak diasingkan, dan semua pohon pala ditebang.
3. Jan Pieterszoon Coen dan Pembantaian 1621Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC yang menghancurkan Jayakarta dan mendirikan Batavia (1619), tiba di Banda pada 27 Februari 1621 dengan 19 kapal, 1.655 tentara Eropa, 286 pasukan Asia, 100 samurai bayaran Ronin, dan ratusan budak Jawa.
Pada 7 Maret - April 1621, Pulau Lonthor (Banda Besar) dikepung. Setelah benteng jatuh, Coen memanggil 44 Orang Kaya untuk berunding damai di Benteng Nassau pada 8 Mei 1621. Begitu datang, mereka dituduh berkhianat. Enam Ronin diperintahkan masuk, memenggal kepala 8 Orang Kaya, membelah badannya jadi empat, lalu memenggal 36 lainnya. Kepalanya dipajang di tombak sebagai teror. Mayat dibuang ke sumur tua di samping Nassau, kini dikenal sebagai Parigi Rante (Perigi Rante).
Setelah itu pembersihan total: pasukan VOC menyisir setiap pulau, membunuh tanpa pandang bulu laki-laki, perempuan, tua, muda, termasuk pedagang Nusantara, Arab dan Cina. Dari populasi sekitar 15.000 jiwa, sekitar 2.800 dibunuh langsung, 1.700 diperbudak dan dibawa ke Batavia, 6.000 melarikan diri, dan hanya 480-1.000 tersisa. 68 perkebunan pala (perken) kemudian diberikan kepada mantan pegawai VOC (perkenier) dan dikerjakan budak datangan.
Meski Banda dikuasai, Inggris masih mengklaim Pulau Run. Di sisi lain dunia, Inggris merebut koloni Belanda Nieuw Amsterdam di Pulau Manhattan pada 1664 dan menggantinya jadi New York. Perang Inggris-Belanda Kedua (1665-1667) membuat kedua negara lelah.
5. Nama-nama Orang Kaya dan Marga yang Dibantai
VOC tidak menulis daftar lengkap 44 nama, hanya menyebut 'Orang Kaya Lontor'. Namun Monumen Parigi Rante di Banda Neira kini berdiri di lokasi pembantaian. Di dalam monumen terdapat prasasti yang berisi nama-nama Orangkaya yang dieksekusi. Plakat mencatat sekitar 40-44 nama. Yang teridentifikasi dari tradisi lisan dan Hikayat Tanah Lonthor adalah pemuka dari negeri-negeri utama: Orang Kaya Lonthor, Latar, Selamon/Selamun, Waer/Wayer, Combir/Kombir, Uar, Sairun, Rosenggin/Roseinggin. Di plakat juga tercatat ulama yang ikut berjuang: KH. Muhammad Hasib Royani dan KH. Munif (Banten), KH. Abu Hasan dan KH. Abdul Qadir (Semarang).
Kain merah di puncak bambu dalam ritual adat Banda hari ini masih menyimbolkan kepala 44 Orang Kaya tersebut. Monumen ini juga mengukir nama pejuang Indonesia yang pernah dibuang ke Banda seperti Tjipto Mangunkusumo, Iwa Kusumasumantri, Hatta dan Sjahrir.
6. Eksodus dan Keberadaan Orang Banda Sekarang: Diaspora Wandan
Orang Banda asli tidak punah. Mereka menyebut diri Wandan. Pada satu malam badai Mei 1621, ratusan orang keluar dari persembunyian di perbukitan Lonthor dan mengayuh perahu keluar hutan. Ada 4 faktor eksodus menurut penelitian Universitas Pattimura: letusan Gunung Api Banda, peperangan di Pulau Ay 1615, mempertahankan akidah Islam dari VOC, dan genosida 1621.
Mereka mendirikan komunitas baru:
- Banda Eli dan Banda Elat di Kei Besar, Maluku Tenggara: pusat diaspora Wandan, didirikan 1621. Identitas Wandan terus hidup dan diabadikan melalui marga-marga yang menyerupai nama negeri mereka dahulu di Banda, di antaranya marga Latar, Lonthor, Selamon/Selamun, Roseinggin, Uar, Sairun.
- Seram Timur, Maluku Tengah, Haruku (Kailolo), dan Ambon (Amahusu).
Pembantaian Banda adalah contoh paling awal kapitalisme kolonial: ketika harga rempah lebih tinggi dari nyawa. Dari 15.000 menjadi 480 orang, dari penguasa pala dunia menjadi budak, dari Banda Neira menjadi Banda Eli. Namun Wandan masih hidup. Marga-marga Latar, Lonthor, Selamon masih ada di Kei, bahasa Wandan masih diucapkan, dan Parigi Rante masih berdiri sebagai saksi bisu kebengisan Coen 'The Butcher of Banda'.
Sumber: Wikipedia Indonesia Penaklukan Kepulauan Banda, National Geographic Indonesia, Jurnal Banda Historia Vol. 2024 Wandan Dalam Memori Sejarah, Kantor Bahasa Maluku, Monumen Parigi Rante Banda Neira.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar