Minggu, 08 Juni 2014

Kamus Bahasa Hari-Hari Ambon




A


ABU
= Debu
AER
= Air
ANIONG ; ANYIONG
= Alat bantuan untuk menjinjing sesuatu di kepala, yaitu dari kain.
ARUARU

= Alat yang terbuat dari kayu atau Bambu yang lazim di pakai untuk membuat papeda (makanan khas Maluku).
AMANISSA

= Salah satu alat penangkap ikan (sejenis "bubu" kecil), yang dianyam dari bambu bebentuk seperti kerucut.
ATITING
= Wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
AMATOO
= Ucapan selamat tinggal ; Sampai Jumpa.
ANANAS
= Nenas.
ANDARINYO
= Capung
ANANA ; ANA-ANA
= Anak-anak.
ASISANG
= Yang pertama mencoba, mempraktek, atau memulai.
AGAS
= Sejenis serangga kecil, mirip nyamuk yang suka menggigit.
ANGGALE
= Bolak-balik/asik
ANYO-ANYO
= Terapung-apung ; hanyut oleh arus/aliran air
AHE ; TAHE
= Ikat menyambung sesuatu.
ASSO
= Tidak sekarang.
AMUNNA
= Membersihkan sesuatu/segala sesuatu.
AKORT
= Bermufakat/setuju
AHALANG
= Alat bantu untuk memikul Air.
AHEBO
= Luka-luka kecil akibat gatal/Bekas luka di kulit
ALE

= Anda, Kamu (Sebuatan umum, yang terkesan menghargai siapapun yang menjadi teman berkomunikasi).
ALLAPA


= Sebutan yang biasa dipakai, yaitu mengarah pada situasi yang belum tentu diketahui hasilnya, apakah bisa berhasil atau tidak ; lebih bersifat pesimis.
ALAPRITOL ; ALPLETOL



= Sejenis senjata yang dahulu dibuat dari potongan-potongan kayu, yang ditajamkan ujung-ujungnya (kedua sisinya) ; dan cara penggunaannya oleh mereka yang senang memakai senjata ini yaitu mereka mahir melampar.
APULA
= Kulit buah kenari bagian luar yang telah membusuk
ATORANG
= Peraturan
ARUMBAI ; AROMBAE
= Perahu Kora-kora.
ASANG
= Asam
ASUANG

= Potongan kayu mentah, yang di potong dalam ukuran-ukuran tertentu untuk membuat pagar pekarangan rumah (misalkan), dll.
AER
= Air
ATLEPA
= Menaruh sesuatu dengan posisi melintang panjang.




B

BADO
= Sama dengan ; Sama saja.
BAILEO ; BAILEU
= Rumah adat
BATEREK
= Usil/Jahil/bercanda
BALAGA
= Angkuh, sombong.
BALLABOR
= Blepotan.
BALAMBOR
= Berserakan kesana sini ; menunjuk pada sampah yang berserakan.
BALLA
= Belah, atau sebutan lain dari hendak memukul seseorang.
BAMETI

= Kegiatan melaut waktu air surut "meti"(dalam bahasa Ambon), untuk mencari ikan, keong (bia), dll.
BASONDO
= Menyelah pembicaraan orang lain dengan sengaja tanpa meminta izin.
BABOSTOK
= Sebutan bagi seseorang perempuan yang berbodi sintal.
BABENGKENG
= Meraju yang berlebihan dan hendak menarik perhatian orang lain atas tidakannya.
BAPIKOL
= Memikul
BABELO
= Menggali lobang/Cangkul
BABANTING
= Meraju yang berlebihan dan menjatuhkan badan ke tanah.
BAOSTAR
= Jorok/kotor sekali.
BALE
= Balik/kembali
BALLE
= Melilit/mengikat.
BALEK/BELEK
= Kaleng
BARIBUT/BARIBOT
= Buat gaduh.
BALEJA
= Sesuatu yang sangat lembek jika dipegang (bersifat cair), berlumur. Bergetah.
BALAGU

= Belagu, suka jual mahal, suka menarik perhatian orang, jika ditawarkan sesuatu malu-malu tapi sebenarnya mau.
BALENGANG
= Oleng
BALENGGANG
= Goyang
BALANGA/BALANGANG
= Wadah yang terbuat dari tanah liat, berbentuk belanga.
BADAKI
= Lihat baostar
BAGALI
= Perasaan geli terhadap sesuatu.
BALOBE


= Kegiatan melaut untuk mencari ikan pada waktu malam saat air surut (meti), Dengan diterangi lampu GAS (Petromax) atau obor, dll, dan dilengkapi dengan Perkakas lainnya seperti parang, kurkunci, kalawai, untuk menangkap ikan.
BALIMBING
= Buah belimbing.
BONTAL
= Bulat
BOUT
= Potongan Danging dalam ukuran besar.
BORGOR
= Besar ; Sebutan untuk untuk salah satu jenis nenas, yaitu "Ananas Borgor".
BATONG ; BETONG
= Kami ; kita
BANANG RAJA
= Pelangi
BANANAH
= Bernanah
BEMBENG
= Jinjing dengan tangan.
BAKANDA
= Main serong/selingkuh.
BAKASANG



= Bakasang adalah produk fermentasi ikan secara tradisional dengan cara memfermentasi ikan-ikan kecil atau isi perut ikan-ikan besar hasil sampingan industri pengasapan ikan yang terlebih dahulu dicampur dengan garam yang banyak dikonsumsi di daerah Maluku dan Sulawesi Utara (Manado)
BASTEL
= Bergaya
BAKIRA
= Permisi mendahului.
BATAMANG
= Berteman, atau Menemani.
BATAMBONG
= Banyak sekali
BAGAHE
= Rangsangan hendak menarik keluar dan membuang lendir dari dalam mulut.
BILALO
= Proses melicinkan jubin/lantai dengan cara tradisional.
BASALENG
= Memakai baju.
BARNANG
= Berenang
BARANTANG
= Kesepekatan membagi hasil atau tanggung jawab dengan adil.
BAKESTENG

= Untuk mendapatkan beton dengan ukuran tertentu, adonan ini dituangkan ke dalam cetakan.
BAKAREO ; BAKAREU
= Berkelincang ; semacam gemetar ; badan bergerak-gerak karena rasa sakit atau rangsangan sesuatu.
BACICO
= Perilaku anak yang tidak tenang ditempat,
BANER
= Akar pohon besar seperti Pohon Beringin, Durian, Kenari, dll.
BONGSO
= Adik, saudara gandong.
BOBOU
= Bau
BOLANA
= Nama ikan
BOBARA
= Nama ikan
BOMBAT
= Sangat gemuk
BORGOR
= Kasta besar
BICO
= Perut Buncit ; gerak lambat, tidak gesit karena berat badan yang berlebihan.
BINTOL
= Benjol
BIKING
= Buat
BINTANGGOR

= Nama pohon yang buahnya dahulu dijadikan bahan dasar pembuatan lilin tradisional orang Maluku, namanya "KANJOLI" .
BISTUNGKER
= Tanaman ubi kayu yang bertumbuh sendiri di alam.
BOBENGKA ; BABENGKA
= salah satu penganan khas Maluku Tengah, seperti BOBENGKA HARUKU.
BISOL
= Bisul.
BOLOLENG
= Roti ; identik dengan roti goreng.
BORE
= Membius Ikan, dll.
BROT
= Roti.
BAGARA
= Bergerak.
BOTI
= Buncit
BULANG
= Bulan
BELANG

= Kelompok pendayung arumbai ; salah satu olahraga dayung tradisional di Maluku Tengah "perahu belang".
BEMBANG
= Mengantar pergi seseorang
BERA
= Buang air besar
BERANG


= kain yang sengaja diikat di kepala oleh orang Maluku Tengah dan sekitarnya, sebagai tanda tertentu, dengan pilihan warna-warna sesuai dengan adat istiadat atau kondisi-kondisi tertentu (Misalnya Berperang).
BUJU
= Menimang anak untuk cepat tidur.
BUJU-BUJU
= Merayu ; nina bobo (menidurkan anak/bayi)
BONENG
= Sebutan untuk gigi seri yang mencolok kedepan.
BALAMBOR

= Membuang sesuatu (sampah) dengan sembarangan dan tidak teratur (tidak pada tempatnya).
BOMBONG

= Penuh sampai tumpah/ wadah yang diisi sampai penuh dan dipaksakan untuk tetap bisa menampung lagi.
BUTU
= lihat KALOT ; Sebutan untuk Penis.
BULU
= Bambu.
BEMBANG
= Menghantar atau mengarahkan.
BOBBA
= Luka yang bernanah, dan telah membesar.
BALACANG
= Terasi
BULLUS
= Blous ; pakaian perempuan.




C

CAKE/CEKE
= Makan ; biasanya sebutan ini sangat kasar.
CAKADIDI
= Agresif, seseorang yang suka tidak tetap ditempat.
CACURANG
= Alat untuk membantu mengisi miyak pada kompor, Botol, dll.
CAPOCI
= Salah satu jeni permainan anak-anak
CAPEU
= Topi
CALANA
= Celana
CIDAKU
= Celana
CAMPARADU
= Amburadul, tidak tertata.
CALAKATE
= Sudah agak matang
CECELEPU
= Di buat kepayahan/payah.
CUNGKEL
= Mengungkit sesuatu agar terlepas.
COLE
= Tusuk konde
COLO
= Celup
COBE
= Wadah untuk membuat sambal/terasi.
CIGI
= Tarik dengan spontan.
CIKAR
= Hendak melakukan sesuatu dengan Segera/Serempak
CIKUANG
= Sebuatan lain untuk hendak memukul, menjitak, dll.
CUBI
= Cubit
CUCUR
= Salah satu penganan khas Ambon
CUKI

= Proses penetrasi saat bersetubuh (making love) ; sering juga dipakai sebagai salah satu makian.
CUKIMAAI
= Makian ; yang artinya bersetubuh dengan ibu.
CUKARDELLEN
= Makian yang dianggap sedikit halus dari"cukimaai atau cuki"
CELE

= Salah satu model pakaian tradisional khas Maluku Tengah ; Pulau Ambon, dan sekitarnya (baju cele).
CERE
= Cerai
CEBO

= Membersikan anus/kelamin setelah membuang air besar dengan memakai air/tissu
CILAKA
= Celaka
COLO COLO

= Kua Asam dari asam lemon cina atau asam cuka, yang biasanya menemani makan papeda.




D



DAGANG
= Sebuatan khas untuk orang Asing, atau pendatang ; "orang dagang".
DAKI
= Kotor, kotoran yang menempel pada kulit berupa debu dan lain sebagainya.
DAPOR
= Dapur
DEGDEGU
= Tempat memasak yang dibuat tergantung.
DIPANG
= Tempat tidur, yang tidak berkasur.
DODESU/DODESO
= Perangkap, jerat.
DULANG
= Wadah yang biasa dipakai berbentuk baki, tapi terbuat dari kayu.
DANGKE
= Terima kasih.
DONDANG
= Sebutan bagi buah ZAKAR.
DORIANG
= Durian
DOTI
= Semacam ilmu santet
DOLO
= Dulu
DOMINGGU
= Hari minggu, sebuta dari orang Sarani di Ambon untuk hari beribadah.
DODAGA


= Motif depan dari sebuah kain, yang biasanya di kenal sebagai tanda pembeda, mana bagian depan kain, mana yang bagian belakang sebuah kain sarung saat di pakai.




E

EMPENG ; KAREMPENG
= Kurus
ELA

= Isi sagu yang baru di ambil dari pohonnya sebelum diperas menjadi sagu mentah (saripati).
ENDANDEP
= Salah satu permainan tradisional anak-anak.
ELMESSEH
= Sebutan untuk "YESUS"
ENGGO ; -- BASAMBUNYI
= Salah satu permainan tradisional anak-anak.
ELLENG
= Gentar ; takut.



G

GARGANTANG ; GERGONTONG
= Kerongkongan
GABA-GABA

= Pelepah pohon sagu, yang biasanya di pakai maluku membuat dinding rumah, rakit, dll.
GARGATANG
= Gemas
GARRAP
= Bekas aliran sungai/kali yang sudah kering.
GALOJO ; GOLOJO
= Rakus
GACU/GACO
= Sesuatu (orang dsb) yg diandalkan dapat menang dl pertandingan atau permainan.
GAMBRET
= Semacam hompimpa
GATA-GATA
= Alat untuk menggulung adonan Papeda (makanan khas Maluku.
GOSEPA
= Rakit
GOSSO
= Elus
GOSAU
= Nama ikan
GORINDA
= Mengoyak-oyak sesuatu dengan kasar.
GALAS
= Gelas
GALOS/GOLOS/GLOS

= Satuan gulungan benang dengan panjang tertentu biasanya untuk bermain laying-layang (layangan)
GOBANG
= Uang logam
GOGOS
= Nama salah satu penganan khas Ambon yang terbuat dari beras ketan.
GOLEBA
= Tali yang dibuat dari anyaman kulit dahan kelapa, atau dahan sagu yang muda.
GOROS ; GAROS
= Besar.
GOMIRA
= Nama sayuran
GANEMU ; GANEMO
= Nama sayuran melinjo
GEPE
= Tindis, tekan.
GETE-GETE

= Nama ikan berukuran kecil (sering dipakai sebagai kiasan melambangkan yang "kecil").
GOYAWAS ; GIJAWAS
= Jambu biji
GOTANA
= Nama ikan yang bau amisnya sangat kuat.
GATA
= Mencoba mencepit sesuatu dengan suatu alat bantu.
GATA-GATA
= Alat tradisional untuk menjepit bara api didalam tungku.
GILI-GILI
= Rasa Geli ; Menggelikan hati.
GENGGO


= Sejenis serangga yang suka sekali anak-anak kecil menangkapnya dan mengikatnya dengan benang, dan membiarkannya terbang. Ada dua jenisnya, berwarna hitam kebiru-biruan, dan yang satu jenis lainnya berwarna emas (ukurannya agak besar).
GONDAL
= Nama pohon




H

HOTU/HETU
= Bicara
HOGOR
= Membawa issu
HAHESSI
= Tali yang dibuat dari kulit luar bambu.
HAHAKAE
= Makan puji.
HALUA
= Penganan yang terbuat dari kenari dan gula merah ; cocok untuk ngemil.
HAYAL
= lihat Kapista
HAGA-HAGA
= Mencoba-coba.
HELAHAI
= Menghela napas dalam-dalam, menghela napas tanda sekarat.
HODENG
= Bagus.
HENER
= Mengalir/hanyut.
HOHATE/HUHATE
= Pancing.
HEK
= Ceguk
HOKMAT
= Berbicara secara spontan dan tegas dengan suara yang keras ; membentak.
HOSTES
= Sebutan untuk wanita panggilan ; pelacur.
HESSE
= Ceper ; tidak berbentuk bulat atau elip yang benar.
HUTUL
= Rorok ayam




I

ISKOROBI
= Usir ; mengusir.
ISTIRIKA
= Setrika
ISKEREK
= Kaget
ISTEREK
= Kuat tenaga, gaga perkasa.
ILO
= Jinjing di atas bahu ; lihat "pikol/hala".
ISTORI
= Berbicara/bercerita
IDONG
= Hidung
ISTAGA
= Astaga
ISAEE
= Hujatan
INA
= Nona ; perempuan muda.




J

JUJARO
= Nona, gadis, perempuan yang masih muda.
JALONTO
= Gaya menungging.
JAMBAR

= Alat tradisional penumbuk untuk meratakan tanah pada saat membuat pondasi rumah atau jubin.
JUK
= Alat musik berbentuk gitar mini.
JAMBATANG
= Jembatan.
JENGKRIK
= Mengutik Jari tangan.




K

KALAMUMUR
= Ketombe
KALAWAAI

= Alat berbentuk tumbak yang dibuat khusus untuk menangkap ikan dengan cara di tikam pada saat "Balobe".
KAKOPANG
= Bagian pucuk kelapa yang belum menjadi janur.
KAKURANG
= Alat parut kelapa tradisional, dengan cara di 'di kukur'.
KAKUSANG
= sebutan untuk sejenis buah Langsa (langsat) atau duku.
KALAMARENG/KAMARENG
= Kemarin
KABUALANG
= Mengkibuli ; cerita bohong.
KADERA
= Kursi
KALABOR

= Sebutan untuk kepribadian yang jahil, usil atau gegabah dalam melakukan sesuatu ; tidak tertib (sembrono).
KALAPA
= Kelapa
KALESANG
= Merawat, melestarikan.
KALOT
= Penis
KARTAPEL
= Katapel
KAPOT
= Hilangkan ; kasih putus.
KAMONG/KAMORANG
= Kalian ; anda sekalian.
KARBOU
= Kerbau
KAMBELLO
= Orang bodoh ; idiot.
KARSANG
= Celana dalam.
KAREPU
= Keriput
KACUPENG/KACUPING
= Kecil ; sebuatan untuk sesuatu yang berukuran kecil.
KAKA
= Kakak
KAKARLAK
= Kecoak
KANJOLI

= Alat penerangan tradisional berbentuk lilin, yang terbuat dari pengolahan isi buah bintanggor.
KALALERANG
= Melarat
KASKADU
= Penyakit lepra
KALADI
= Keladi
KABBAS
= Kebas
KACONG
= Permainan tradisional khusus anak-anak perempuan.
KASBI
= Singkong
KAPITANG
= Panglima perang
KARNOPOL
= Menjitak ; biasa menjitak kepala seseorang dengan maksud bergurau.
KASTEN
= Pantul kembali karena terkena sesuatu.
KAPATA


= Syair-syair tradisional dengan bahasa "tanah" (bahasa daerah) asli daerah Maluku tertentu, yang beisikan berupa puisi, pantun, dll yang di perdengarkan pada waktu-waktu tertentu.
KALLOM/KALOMPENG
= Sepatu slop khusus perempuan.
KANNES
= Kepribadian yang judes, keras orangnya (khusus untuk perempuan).
KAL
= Kalau
KANARI
= Kenari
KALLAP
= Tempeleng ; tampar.
KAKISARIBUS
= Kelabang
KALAMBU
= Kelambu
KALEWANG

= Parang Panjang ; Pedang panjang yang historisnya berasal dari bangsa portugis dan di adopsi namanya oleh orang Ambon.
KAPISTA
= Centil ; atau sering juga sebutan untuk perempuan muda yang agresif.
KARONTJI

= Sebuah tanda khusus, yang di buat dalam tradisi orang Ambon Lease, bagi yang meninggal dunia dalam usi muda (belum menikah).
KAWAJA
= Pelit
KERONG-KERONG
= Nama ikan
KELE
= Bergandengan tangan
KEKU
= Menjinjing sesuatu diatas kepala.
KERKKO
= Kuburan
KES
= Monyet
KITA'IL
= Makan puji yang berlebihan.
KINTAL
= Pekarangan rumah.
KISSING
= Habis tidak tersisa.
KINCING
= Kencing
KOMBALI
= Kembali
KOYABU
= Penganan dari kasbi
KOLOT
= Lihat kalot
KOCO
= Berputar-putar ; mengocok.
KOCOBUTU
= Onanani ; sering di pakai sebagai salah satu "makian".
KOLOMBENG
= Nama penganan
KOKOTANG
= Hewan yang biasanya berukuran kecil, membuat lubang di pasir.
KOPAU
= Nama penganan dari bakpau
KOI
= Kerangka tempat tidur
KOPPER
= Bekas luka di kepala yang kelihatan menyala.
KORE
= Colek.
KROIS
= Silang ; tanda silang.
KOMPENG
= Sebutan kiasan untuk Vagina ;
KOMBILI
= Ubi merah
KORSOU

= Alat ; salah satu perkakas tukang kayu untuk menguji sisi kayu apakah sudah benar-benar rata atau belum.
KONTO/KONTO
= Kentut
KOTEL
= Pendek ukuran badan.
KUKU
= Hendak menikam sesuatu dari bawah keatas.
KUKKIS
= Kue
KUKUR
= Parut
KUMUR
= Lidi
KUMUR-KUMUR
= Menggumam perkataan di dalam mulut.
KUSU
= Kuskus
KULINCANG
= lihat KOPPER.
KUURKUNCI


= Alat yang hampir sama fungsi dengan kalawaai, tetapi terbuat dari besi ukuran kecil, atau sedang, yang di pakai untuk menanggap ikan, Gurita, atau teripang, dll waktu pergi "Bameti" atau "Balobe".




L

LABOR
= Hendak memoles sesuatu ; seperti dengan minyak, cat atau tinta, dll.
LABUANG
= Sebutan untuk areal tempat di sauhnya perahu-perahu nelayan.
LAIPOSE
= Suka merayu, tebar senyum
LAKLAKI
= Laki-laki
LASONG
= Lesung
LALA
= Lelah ; capek
LAOR


= Lahor ; hewan mirip cacing yang muncul di permukaan laut Maluku (dibeberapa tempat di Lease, Ambon, Seram, dll) satu tahun satu kali, yang memiliki kandungan protein yang tinggi ketika di konsumsi.
LALAMONG

= Jenis tumbuhan di Laut, yang pada waktu musim ombak di Periaran Maluku, tumbuhan ini banyak berhamburan di tepi pantai.
LAIYA
= Hendak memanjat pohon, atau memanjat sesuatu.
LALAMAL
= Nama ikan kakatua
LABE
= Lebih
LAP
= Tampar
LAT

= Telat ; Dua sisi yang saling menempel dan sama ukuran/ sama sisi kemiringannya. Contoh Lat Meja, Lat Dinding, dll
LAPAS
= Lepas.
LANSYIK
= Terasa sedikit melelahkan dan agak malas jadinya.
LASSI
= Hendak melakukan sesuatu yang negatif kepada seseorang.
LASTE
= Terakhir
LASTOK
= Makian.
LAWA-LAWA
= Jaring laba-laba.
LOBE
= Pelepah kering pohon kelapa
LOCO
= Salah satu jenis makian yang cukup keras.
LOMBO
= Terasa lemas ; dan juga arti lainnya "lembek"
LOKO
= Pegang
LOPIS

= Salah satu jenis penganan khas Ambon, yang terbuat dengan bahan dasar singkong dan Pisang.
LOSNOT
= Makian.
LOLEBA

= sejenis tali/tambang tradisional orang Maluku yang di anyam dari pelepah yang masih muda dari pohon Sagu.
LOSIANG/LUISIANG
= Kondisi tubuh yang lemas akibat banyak bergadang sampai pagi.
LELEHULO
= Lalat-lalat kecil ; tetapi juga sebuatan lain dari AGAS.
LEPU-LEPU

= Orang yang tidak mampu secara pisik, atau sebutan bagi orang keterbelakangan mental.
LETU/LOTU
= Hendak memangkas dahan atau ranting pohon.
LEMBE-LEMBE
=
LIANG
= Batu karang besar
LUBANGPUKI

= Liang/lubang alat kelamin perempuan (Vagina) Makian yang sangat kasar dari orang Ambon, biasanya kalau makian ini disebutkan, pasti akan terjadi perkelahian, atau sesuatu yang tidak terkontrol emosional antara yang bertikai.
LUTU
= Lutut.
LUR
= Mengintip.




M

MACANG
= Macam.
MAMAH
= Kunya
MAMBORO
= Tidak tertutup rapat.
MAMPOS
= Mati
MAMANCANG
= Berlagak
MALEU/MALEO
= Ayam hutan.
MALLAPO
= Melepuh
MALAHORI
= Suka berjalan berkeliaran di malam hari dengan tujuan yang tidak jelas.
MANCADU
= Kapak.
MANGKERA

= Suka melakukan perbuatan yang beresiko bagi diri sendiri. Contoh anak perempuan mangkera jalan ngerumpi sampai larut malam.
MANGANTA
= Meriang karena kesakitan.
MANGE-MANGE
= Hutan bakau
MARTELU
= Martil ; palu
MATI MANGGALA
= Mati suri.
MANDIDI
= Mendidih
MANJILING
= Melirik ke samping
MANISO

= Lihat BACICO, tapi tidak hanya identik dengan anak-anak, tetapi juga orang dewasa ; Pemangsa ; Penggangu.
MANGANTO
= Mengantuk.
MANGGARANG
= Menggerami
MANGGUSTANG
= Buah manggis.
MASIN(g)
= Mesin ; asin.
MANUMATA
= Salah satu bagian dari atas rumah Baileo, khas orang Maluku Tengah.
MANAMPAL
= Menempel
MANGENTE
= Berkunjung mencari tahu sesuatu ; sengaja meninjau ; melihat-lihat sebentar.
MAYANG
= Pohon Enau ; Buah yang sudah sangat ranum.
MANARA
= Perkakas-perkakas untuk membangun rumah ; alat.
MENTEL
= Sebutan untuk kebiasaan hidup yang mirip pelacur.
MELANG
= Mandul
MEME
= Mama
MELLEK
= Sudah agak rusak/busuk ; identik dengan makanan yang sudah mulai rusak.
MEKU
= Perduli
METI
= Air surut
MOLLO
= Selam
MONTAR
= Modal
MONGO-MONGO
= Berperilaku bodoh.
MOMO
= Saudara laki-laki dari ibu.
MOMOU
= Bisu
MOKKO
= Mangkok
MORETTU
= Sebutan ejekan buat seseorang yang buruk rupa.
MUI
= Saudara perempuan dari Ibu.
MURSEGU/MARSEGU
= Kelelawar.
MURUPA

= Sebutan untuk buah jatuh karena pengaruh hal lain (penyakit), namun belum ranum ; atau sesuatu yang gagal produksi.
MUTEL
= Kelereng/gadu
MUSTAHAK
= Punya andil ; wewenang ; hak.


N

NAUNAU
= Bodoh, Goblok, Buta huruf
NAHAS
= Tradisi menandai tanda-tanda alam untuk suatu kepentingan.
NANALA
= Lagi dan lagi ; mau terus.
NANAKU
= Mengamati ; Menandai sesuatu dengan cara melihat.
NANERI
= Taring pada Babi hutan
NEPTANG
= Tang
NONAI
= Umpan
NONA
= Anak perempuan
NYONYOR
= Ketimpal sial ; babak belur.
NISI
= Mengupas, mengiris, memotong sesuatu dengan hati-hati karena tipis sekali.
NIBONG
= Tumbak Tradisional yang terbuat dari salah jenis kayu.
NINI
= Melihat dengan seksama sesuatu dari kejahuan, dan tetap fokus.
NIRI
= Lebah


O

ORAS
= Waktu, jam
OSE/SE
= Kamu, Anda (sebuatan hari-hari, dan terkesan sedikit kasar)
ONOSEL
= Genit ; cari muka kepada lawan jenis.
OMPRENG
= Mangkok/piring yang terbuat alumunium atau seng.
OOM
= Paman
ONDOS
= lihat "Onosel"
ONA
= Nona
OTO
= Mobil




P

PADIS
= Rasa pedis.
PADEDE
= Cengeng
PAKE
= Pakai
PALLAU
= Lapar
PALAKA
=
PARENTA
= Perintah
PALATENG
= Menganyam rambut ; rambut kepang
PASNANA
= Pemakan segala ; rakus
PASTIU
= Bosan
PARDIDU
= Berkeliaran sampai lupa rumah.
PARLENTE
= Penipu
PARAMPUANG
= Perempuan
PAMERI
= Memotong rumput dengan parang panjang.
PANDEKENG
= Orang penolong ; helper
PATTILAWARU
= Menerobos masuk dan hendak berkuasa, memonopoli terhadap sesuatu.
PALATENG
= Mengayam ; identik dengan menganyam rambut.
PALASI
= Tobat ; kapok
PAPEDA
= Makanan Khas orang Maluku yang terbuat dari bahan dasar Sagu.
PAPARIPI
= Tergesa-gesa
PAPARISSA
= Rumah kecil
PARLAK
= Karpet yang terbuat dari plastik.
PEPE
= Sebutan untuk vagina.
PELE
= Upaya menghalangi
PEKAR
= Terlihat rusak pada sebagian besar suatu barang atau alat.
PLECES
= Mulut Cerewet ; sebuatan bagi mereka yang lincah berbicara.
PIKOL
= Pikul
PILANG
= Pukul, memukul.
PISO
= Pisau
PORO
= Perut
POPO
= lihat Pepe
POLO
= Peluk
POCI
= Cerek kecil
POTAR
= Brengsek, keparat (makian)
PROP

= Memasukan sesuatu dengan sengaja ke dalam wadah tertentu dengan paksa ; kata ini juga diartikan sebagai "proses makan", namun berkonotasi negatif (kasar).
PUSTEMA
= Makian
PUKI
= alat kelamin Wanita (Vagina), lihat Pepe -, Popo.
PUKAR
= kata makian dengan tujuan menyamarkan kata yang sebenarnya (PUKI).
PUSA
= Pusar
PUKOL
= Pukul




R

RAROBANG

= Sebutan untuk hasil dari santan kelapa kental yang telah direbus ; dari rarobang kemudian akan menjadi minyak kelapa (minyak goreng tradisional).
RACONG
= Racun
RABE/ROBE
= Sobek; robek
REP

= Sebutan untuk potongan kayu yang di pakai untuk salah satu bahan bangunan, dengan ukuran yang berbeda. Misalnya ; REP ukuran 5x7cm, dll.
REGEL
= Sebutan untuk PEGANGAN tertentu. Seperti pegangan pintu, pegangan lemari, dll.
REMBENG
= baca : Jinjing
REPPE
= Pelat, penyok, penyet.
REKENG
= Menghitung, menjumlahkan.
REKU



= Suatu bagian ruang yang berada persis diatas tungku memasak secara tradisional orang Maluku, yang disebut Para-para, yaitu dibuat dengan sengaja untuk mengasapi bahan makanan atau juga buah-buhan tertentu, seperti mengasapi buah pala, dan buah kenari.
REU

= Sebutan sindiran ; dan memberi terkesan kuat kalau ia sudah tua, pikun, tidak berguna (tidak kuat) lagi.
REDI

= Salah satu sebutan dalam tata cara menangkap ikan dengan memakai alat tangkap “jaring”.
RIKKO
= Takut, gentar.
RODO-RODO
= Bertubi-tubi
ROKO
= Rokok.
ROSTER
= Lembar berisikan suatu jadwal mata pelajaran atau kegiatan lainnya.
ROTANG
= Rotan




S

SABALA
= Sebelah ; sebagian/bagian
SABARANG
= Tidak benar, salah.
SAARU

= Bagian dari lautan yang tidak terlalu dalam. Dan daerah ini selalu mendapat perhatian serius untuk aktivitas nelayan.
SABATANG
= baca Sepohon, satu batang. Atau punya arti lain : mengartikan sesuatu yang BESAR.
SABONG
= Sabun
SABOTENG
= Sebutan untuk sesuatu benda yang BESAR.
SABUKU

= Sebutan untuk sesuatu benda yang BESAR. Atau juga dengan kata lain ; SABUKU MAI.
SABOTOL
= Satu botol.
SACUBI
= Sedikit
SACUCU

= Sebutan pada seutas tali yang biasanya dipakai Nelayan untuk menampung hasil tangkapan ikannya.
SACUPA


= ukuran untuk satu CUPAK cengkih. Biasanya jual beli cengkih di Maluku diukur dari ukuran paling kecil yaitu SAGOGO, baru SACUPA dengan memakai satu kaleng susu, atau kaleng cornet.
SADIKI
= Sedikit.
SADONGEN
= Sebutan untuk suatu pilihan (atau apapun) yang bagus dan tepat sekali.
SAGU
= Nama pohon, makanan khas orang Maluku.
SAJO
= Sejuk
SAKARANG
= Sekarang
SALAM
= Sebutan orang Maluku kepada penganut agama Islam.
SALELE


= Tindakan melilitkan badan dengan kain, handuk, dll. Atau juga melilitkan pohon dengan tali (benda lainnya) sebagai tanda larangan untuk tidak memanjat pohon tersebut.
SALEMPENG
= Sebutan untuk satu buah sagu bakar.
SALOKI
= Gelas kecil untuk minum minuman berakohol.
SALOKO
= Segenggam, segumpal.
SALORO
= Berpikir tidak baik ; berpikir dengan konsep yang amburadul.
SAMEMER
= sebutan untuk sesuatu benda yang BESAR.
SAMU
= Semut
SANDIRI
= Sendiri
SANANG
= Senang
SANIRI/SANIRI NEGERI



= Sebutan untuk dewan perwakilan masyarakat suatu negeri. Yang terdiri dari kumpulan tua-tua adat, kepala soa, dan perwakilan lainnya yang punya kedudukan dalam setting adat masyarakat Maluku Tengah dan masyarakat pulau Ambon pada umumnya.
SANISA/SANISI

= Tempat kaki pada pohon yang sengaja dibuat oleh seseorang untuk membantunya memanjang pohon.
SANUSSU

= Batang kayu mentah dalam ukuran tertentu yang dipotong untuk membuat sesuatu keperluan. Misalkan untuk membangun pagar.
SANEKAR/SALEKAR
= Selekang, ruas atau ruang diantara.
SANOIL
= Secuil.
SAPA
= Siapa.
SAPARO
= Sebagian.
SAPURI
= Sebutan sindiran bagi mereka yang timpang kakinya atau kaki X.
SARANI
= Sebutan orang Maluku untuk penganut agama KRISTEN.
SASA
= Sesak.
SASAJA

= Lagi dan lagi ; sebutan untuk sikap, karakter, situasi, keadaan, yang terjadi terus menerus ; beulang-ulang ; selalu.
SASELLE
= Hanya sebagian atau sebelah saja.
SASI


= Aturan yang dibuat di tingkat pemerintah negeri untuk menjaga, melestarikan tatanan ekologi negeri tersebut. Supaya terhindar dari tindakan pencurian, eksploitasi, kepunahan, atau kerusakan.
SE



= Kependakan dari kata OSE ; yang artinya kamu, anda. Tetapi penggunaan kata ini dalam konteks budaya Orang Maluku dipandang sangat kasar, dan tidak pantas untuk dipakai bagi orang yang lebih tua, dan kata ini biasanya dipakai dalam konteks pergaualan anak muda.
SELENTER
= Perilaku seseorang yang terkesan tanpa aturan atau tata krama.
SEMANG
= Sebutan untuk kayu penyeimbangan pada sisi kiri kanan dari perahu atau kole-kole.
SEMPE

= Tembikar yang terbuat dari tanah liat, yang spesial dibuat sebagai tempat makanan Papeda.
SENA
= Melenggang.
SENG
= Tidak
SENU
= Linglung.
SELLE

= Tindakan mengeluarkan isi kelapa dari batoknya dengan mencungkilnya dengan parang.
SNEWENG
= Sebutan untuk seseorang yang terkesan kepala angin.
SOA


= Sebutan untuk sub-komunitas pada suatu Negeri yang terhimpun didalamnya beberapa marga. Yang dikepalai oleh seorang pemimpin dengan sebutan “Kepala Soa”.
SOMBAYANG
= Sembahyang, berdoa
SONO
= Tidur.
SOPI
= Minuman beralkohol yang terbuat dari fregmentasi sari pohon enau/kelapa.
SORONG
= Geser.
SOSO
= Hendak berdempetan.
SOWAE/SUWAI
= Lesehan atau bisa juga Tidur di lantai.
SISI


= Lihat selle ; hanya saja membedakan sisi dengan selle adalah letak pada alat yang dipakai. Yaitu menggunakan pisau untuk melakukan sisi kelapa. (2). Salah satu cara mendayung perahu dengan tujuan mengarahkan haluan perahu oleh jurumudi.
SIPAT
= Batas
STEL
= Mengatur, bergaya.
SUAK
= Lemah, lemas.
SUET
= Keringat
SUNGGA

= Jerat atau ranjau yang dibuat dengan cara menanam bambu atau kayu yang telah diruncing.
SUNGSANG

= Hendak membuat isi dari suatu benda yang menyimpannya, dengan cara membalik bagian bawah benda itu ke atas dan bagian atas ke bawah.
SUTENG
= Suit




T

TACOLO
= Terendam.
TACUNGKEL
= Tercungkil/tercabut
TABULABALE
= Terbolak-balik, terbalik.
TABEMBENG
= Bergelantungan
TABALA
= Terbelah
TALANTANG
= Terlantang
TAKANGKANG
= Tersendat-sendat
TALUCU
= Meluncur/jatuh terpelanting karena licin, terpeleset.
TALESU
= Sesuatu yang hendak jatuh kerena kelonggaran, atau kebesaran.
TABANTING
= Terjatuh.
TAGAE/TAGAI
= Terkait
TAPEPER
= Pusing dan mengakibatkan puyang-puyang.
TACIRI

= Kebelet ingin membuang air besar, sampai mengakibatkan sedikit kotoran telah keluar mendahului.
TACIGI
= Kaget
TACU
= Wajan
TAPAREGO


= Mati gaya ; Situasi dimana seseorang sulit memperiotaskan, mana yang hendak ia lakukan lebih awal, karena diperhadapkan dengan beberapa pilihgan sekaligus, dan semuanya penting.
TASALA
= 1). Ada yang keliru/salah, 2). Mengalami Cidera ; keseleo (Jawa)
TARRE
= Kencang.
TARABE
= Menjadi Sobek/robek
TATE
= Jalan kaki
TATUMBU
= Tertumbuk
TAMPURUNG
= Batok kelapa
TAHELA
= Terhisap masuk ; tertarik.
TALANG
= Telan, menelan.
TANGADA
= Berhadapan dengan
TANONG/TANANG
= Tanam
TAMPAYANG
= Tempayang
TAMBUS
= Tembus, menembus
TAMUSAAL
= Sebutan bagi semut-semut kecil berwarna merah, yang sering bersarang di pohon.
TALANJANG
= Telanjang
TALLO

= Membuat cetakan adonan makanan/kue dalam bentuk bulat-bulat kecil/sedang dengan kedua tangan.
TABEA
= Prakata, sapaan hormatan.
TUSSU
= Tusuk, tertusuk.
TAKANGKANG
= Tersendat-sendat
TAKARUANG
= Sembarangan, amburadul.
TAGAL
= Karena, sebab
TATA
= Ayah
TANUAR

= 1). Musim, 2). Waktu yang telah di bagi ; misalkan ada waktunya makan Pagi, makan siang, dan makan malam.
TASI
= Tali plastik yang dipakai untuk memancing ikan.
TAMPIAS
= Terpental
TAROMPONG

= Cerobong ; biasanya sebutan untuk pipa kecil, atau bambu kecil yang dipakai untuk meniup api agar cepat dalam proses memasak.
TAPINDA
= Tergeser
TAKORO
= Kusut ; menjadi berkerut
TARU’U
= lihat : Takoro
TARPAL
= Terpal
TAGALAYA
= Wadah yang terbuat dari ayaman bambu yang hampir mirip dengan Baki.
TALINGANG
= Telinga
TANDANG
= Tendang
TAMPELENG
= Tempeleng
TAJELA
= Tembikar yang terbuat dari tanah lihat, yang berfungsi sebagai alat masak.
TAGATE
= Terpikat
TARIPANG
= Teripang
TARIKA
= Terikat
TADUDU
= Persis pada tempatnya
TADO
= Diam
TALAMBURANG
= Tidak teratur, tidak rapi, Amburadul
TASONTO
= Terantuk
TAPONG
= Tepung
TAGOR
= 1). Sapa 2). Menegur
TEPAR
= Hampir sekarat
TELEPISI
= Televisi
TEP
= Type stereo
TEDONG
= Sebutan untuk kerbau
TETE
= Kakek
TETERUGA
= Penyu / Kura-kura
TESTA
= Dahi
TETU
= Patuk
TIPAR
= Sebuatan utntk proses penyadapan pada pohon enau
TISTISAN

= Sebutan untuk anak perempuan remaja atau dewasa yang berperilaku seperti lagi kasmaran.
TIRIS-TIRIS

= Bagian samping dari rumah yang diukur sampai dengan batas dari atap (penutup) rumah.
TIKANG
= Tikam, tusuk.
TINGGALONG
= Bunglon
TINDIS
= Tindi
TOMBONG
= Biji/buah di dalam kelapa Tua.
TONGKA
= Menyangga, tongkat.
TOMA
= Maju
TONG
= 1). Tuan 2). Drum, tanki air.
TONGALLA
= Tuhan allah
TONGISA
= Tuhan yesus
TONGKE
= Kayu pohon bakau
TOLA
= Dorong
TOSAUL
= Kumbangan babi
TORRO
= Menjauhkan diri, bergeser badan.
TONDA/TUNDA
= Salah satu jenis cara mengail/pancing oleh nelayan di Maluku.
TUTANG
= Gusi
TUSA
= Kucing
TUER

= Sebutan untuk bekas pohon yang sudah Tumbang, atau bekas pohon yang telah di tebang.
TUTU
= Tutup
TUMBU
= Tumbuk




U

UBA
= Obat
UPU
= Sebutan Gelar Tuan atau Tuhan
USI
= Sapaan untuk kakak Perempuan secara umum di Maluku.
UELE

= Sebutan untuk aungan Manusia jika berada di hutan. Misalkan seperti yang sering dilakukan oleh TARZAN.
UKU /UKULEI

= Suatu kesatuan keluarga yang memiliki persamaan garis keturunan atau lainnya, didalam sebuah negeri.
UMPANG
= Umpan untuk dipasang di kail, atau di pancing.
UNTI

= Isi dari bakpau yang terbuat dari parutan kelapa yang digoreng dan dicampur dengan gula merah.
UPING
= Kecil
USER
= Usir, mengusir.
ULU
= Pegangan pada Parang.
ULI


= Sebuatan untuk suatu komunitas masyarakat tradisional di Maluku, yang membentuk hidup berkelompok dan terdiri dari mereka yang memiliki kesamaan latar belakang hidup.
UR
= baca: ULI (pada konteks Maluku Utara)
UPAS
= Jentik-jentik merah pada kulit akibat alergi atau pengaruh lainnya.
UA
= Saudara perempuan dari bapak.
UTANG
= Hutan, Kebun, dusun.




W

WALANG

= Sebuatan untuk rumah yang sengaja dibuat untuk berteduh di kebun, dusun, atau di Hutan.
WATE
= Saudara laki-laki dari bapak.
WER
= Musim
WANGO-WANGO
= Kayu yang sengaja disiapkan untuk perapian di rumah hutan (walang).
WALE
= Sapaan khas dari orang Allang.
WAI/WAE

Minggu, 25 Mei 2014

Sejarah Bulu Tangkis

Olah raga yang dimainkan dengan kok dan raket, kemungkinan berkembang di Mesir kuno sekitar 2000 tahun lalu tetapi juga disebut-sebut di India dan Republik Rakyat Tiongkok.
Nenek moyang terdininya diperkirakan ialah sebuah permainan Tionghoa, Jianzi yang melibatkan penggunaan kok tetapi tanpa raket. Alih-alih, objeknya dimanipulasi dengan kaki. Objek/misi permainan ini adalah untuk menjaga kok agar tidak menyentuh tanah selama mungkin tanpa menggunakan tangan.
Di Inggris sejak zaman pertengahan permainan anak-anak yang disebut Battledores danShuttlecocks sangat populer. Anak-anak pada waktu itu biasanya akan memakai dayung/tongkat (Battledores) dan bersiasat bersama untuk menjaga kok tetap di udara dan mencegahnya dari menyentuh tanah. Ini cukup populer untuk menjadi nuansa harian di jalan-jalan London pada tahun 1854 ketika majalah Punch mempublikasikan kartun untuk ini.
Penduduk Inggris membawa permainan ini ke Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, dan Siam(sekarang Thailand) selagi mereka mengolonisasi Asia. Ini kemudian dengan segera menjadi permainan anak-anak di wilayah setempat mereka.
Olah raga kompetitif bulu tangkis diciptakan oleh petugas Tentara Britania di Pune, India padaabad ke-19 saat mereka menambahkan jaring dan memainkannya secara bersaingan. Oleh sebab kota Pune dikenal sebelumnya sebagai Poona, permainan tersebut juga dikenali sebagai Poona pada masa itu.
Para tentara membawa permainan itu kembali ke Inggris pada 1850-an. Olah raga ini mendapatkan namanya yang sekarang pada 1860 dalam sebuah pamflet oleh Isaac Spratt, seorang penyalur mainan Inggris, berjudul "Badminton Battledore - a new game" ("Battledore bulu tangkis - sebuah permainan baru"). Ini melukiskan permainan tersebut dimainkan di Gedung Badminton (Badminton House), estat Duke of Beaufort's di Gloucestershire, Inggris.
Rencengan peraturan yang pertama ditulis oleh Klub Badminton Bath pada 1877. Asosiasi bulu tangkis Inggris dibentuk pada 1893dan kejuaraan internasional pertamanya berunjuk-gigi pertama kali pada 1899 dengan Kejuaraan All England.
Bulu tangkis menjadi sebuah olah raga populer di dunia, terutama di wilayah Asia Timur dan Tenggara, yang saat ini mendominasi olah raga ini, dan di negara-negara Skandinavia.

Sejarah Bulutangkis di Indonesia.
Pada jaman penjajahan dahulu, ada perkumpulan-perkumpulan bulutangkis di Indonesia yang bergerak sendiri-sendiri tanpa satu tujuan dan satu cita-cita perjuangan di alam negara merdeka, memang tidak bisa dibiarkan berlangsung terus.Harus diusahakan satu organisasi secara nasional, sebagai organisasi pemersatu.
Untuk menempuh jalan menuju satu wadah organisasi maka cara yang paling tepat adalah mempertemukan tokoh perbulutangkisan dalam satu kongres. Pada saat itu memang agak sulit untuk berkomunikasi antara satu daerah dengan daerah lainnya. Satu-satunya yang bisa ditempuh adalah lingkungan pulau jawa saja. Itupun bisa ditempuh setelah terbentuknya PORI ( Persatuan Olah Raga Replubik Indonesia ).
Usaha yang dilakukan oleh Sudirman Cs dengan melalui perantara surat yang intinya mengajak mereka untuk mendirikan PBSI membawakan hasil. Maka dalam suatu pertemuan tanggal 5 Mei 1951 di Bandung lahirlah PBSI ( Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia ) dan pertemuan tersebut dicatat sebagai kongres pertama PBSI. Dengan ketua umumnya A. Rochdi Partaatmadja, ketua I : Soedirman, Ketua II : Tri Tjondrokoesoemo, Sekretaris I : Amir, Sekretaris II : E. Soemantri, Bendahara I : Rachim, Bendahara II : Liem Soei Liong.
Dengan adanya kepengurusan tingkat pusat itu maka kepengurusan di tingkat daerah / propinsi otomatis menjadi cabang yang berubah menjadi Pengda ( Pengurus Dareah ) sedangkan Pengcab ( Pengurus Cabang ) adalah nama yang diberikan kepada kepengurusan ditingkat kotamadya / kabupaten. Hingga akhir bulan Agustus 1977 ada 26 Pengda di seluruh Indonesia ( kecuali Propinsi TImor-Timur ) dan sebanyak 224 Pengcab, sedangkan jumlah perkumpulan yang menjadi anggota PBSI diperkirakan 2000 perkumpulan.

Arti dari lambang PBSI, adalah sebagai berikut :
1. Terdiri dari 5 warna yang mempunyai arti, antara lain :
- Kuning : Simbul kejayaan
- Hijau : Kesejahteraan dan kemakmuran
- Hitam : Kesetiaan dan kekal
- Merah : Keberanian
- Putih : Kejujuran
2. Gambar Kapas : Berjumlah 17 biji yaitu melambangkan angka keramat yaitu hari proklamasi.
3. Gambar Shuttlecock : Dengan delapan bulu, melambangkan 8 atau bulan agustus.
4. Huruf PBSI : terdiri dari 4 dihubungkan dengan gambar ½ lingkaran sebanyak 5 biji berwarna merah dibawah shuttlecock, melambangkan tahun 1945.
5. Gambar Padi : sebanyak 51 butir yang melambangkan hari lahirnya PBSI yaitu tahun tanggal 5 Mei 1951.
6. Gambar Perisai : Adalah simbul ketahanan, keuletan, rendah diri tapi ulet, kuat dan tekun.

Dalam perkembangannya, bulu tangkis di Indonesia sudah menjadi semacam olahraga rakyat. Banyak juga prestasi yang sudah dihasilkan dari cabang olahraga ini. Indonesia pernah berprestasi di Kejuaraan Dunia, Piala Thomas dan Uber, Kejuaraan All-England, Piala Sudirman, serta pesta olahraga besar seperti Sea Games, Asian Games, dan bahkan Olimpiade.
Banyak juga atlet-alet yang berprestasi dari era Rudi Hartono, Susi Susanti, Liem Swie King, Alan Budikusuma hingga era sekarang yaitu Taufik Hidayat, Markis Kido dan Hendra Setyawan. Sebenarnya masih banyak atlet-atlet berprestasi lainnya, tapi karena terlalu banyak, tidak mungkin disebutkan satu-persatu.
Jika melihat prestasi bulu tangkis Indonesia pada masa Rudi Hartono bermain, istilahnya tidak dilihat pun pasti menang. Berbeda jauh dengan prestasi bulu tangkis Indonesia sekarang, sudah dilihat secara langsung di stadion pun masih kalah. Prestasi bulu tangkis di Indonesia memang seperti ‘rollercoaster’. Kadang naik kadang turun, dan jika naik hanya untuk beberapa saat, lalu turun lagi.
Jika dilihat dari prestasi di olimpiade sepanjang 20 tahun terakhir, sekarang prestasi bulu tangkis Indonesia sangat jatuh terlalu jauh. Dari olimpiade 1992, 1996, 2000, 2004, dan 2008 Indonesia setidaknya menyumbangkan satu medali emas dari cabang bulu tangkis. Tapi di olimpiade 2012 di london yang baru saja selesai beberapa waktu yang lalu, Indonesia tidak mampu menyumbangkan emas, bahkan merebut perak dan perunggu saja juga tidak. Dari sini saya sebagai warga Indonesia mengaku kecewa, tetapi saya juga tidak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya bisa berharap PB PBSI mampu berbenah dan mengembalikan kejayaan Indonesia di bulu tangkis seperti jaman dulu.
Apa yang harus dilakukan PB PBSI adalah pembinaan pemain muda, lalu jaminan hari tua. Dua masalah ini menjadi faktor utama yang menyebabkan prestasi bulu tangkis di Indonesia tersendat, selain urusan gaji. Pembinaan pemain muda sangat penting dilakukan. Banyak sekali potensi-potensi yang ada dalam pemuda-pemudi Indonesia, dan itu harus dikembangkan. Untuk masalah ini perlahan PB PBSI sudah mengatasinya dengan adanya banyak pelatihan bulu tangkis di Indonesia, dan ada kejuaraan seperti Sirkuit Nasional, yang akan mengadu sesama atlet muda Indonesia yang berbakat. Tetapi ada satu masalah lagi, yaitu jaminan hari tua, yaitu jaminan yang akan diberikan kepada atlet saat pensiun nanti. Tidak sedikit atlet Indonesia yang berprestasi dulunya pas sekarang sudah pensiun tidak jelas jadi apa. Bahkan ada yang terlantar. Ini juga yang membuat tidak banyak kemauan yang ada dari diri anak-anak Indonesia untuk menjadi atlet.
Jika masalah-masalah mampu diatasi dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia bisa bangkit dan berjaya lagi di bulu tangkis dunia.


Piala Thomas adalah kejuaraan bulu tangkis internasional untuk nomor beregu pria yang diadakan setiap dua tahun sekali. Piala Thomas diambil dari nama ketua IBF pertama asal Inggris sekaligus Pemain Legendari Bulutangkis yang telah menjuarai All England sebanyak empat kali berturut-turut antara tahun 1903-1927 yaitu Sir George Alan Thomas, dia juga sekaligus yg menjadi pelopor untuk diadakan Kompetisi Dunia.
Piala Thomas adalah kejuaraan tertua yang diadakan oleh IBF. Kejuaraan yang pertama diadakan pada tahun 1948-1949. Pada tahun tersebut, turnamen ini diikuti oleh 10 negara: Kanada, Denmark, Inggris, Perancis, Irlandia, Bosnia, Amerika Serikat, India,Malaya, dan Swedia. Sepanjang sejarahnya, hanya tiga negara yang pernah menjadi juara: Republik Rakyat Tiongkok, Malaysia (Malaya), dan Indonesia.
Setiap tim peserta Piala Thomas terdiri dari lima orang/pasangan (3 tunggal, 2 ganda). Juara bertahan Piala Thomas saat ini adalah Republik Rakyat Tiongkok, yang berhasil mengalahkan Indonesia 3-0 di partai final di Kuala Lumpur.

 



















*      =   tuan rumah
**    =   termasuk Malaya


Piala Uber didapat dari nama Sang legendaris Bulu Tangkis dari Inggris di era 1930-an yaitu Betty Uber. Bentuk Piala Uber berbentuk bola dunia yang pada bagian atasnya terdapat patung pemain bulutangkis wanita yang sedang mengayunkan raket. Piala ini juga terbuat dari perak dengan tinggi kurang lebih 18 inci dan dibuat oleh Messrs Mappin & Webb di London.
Piala Uber pertama pada tahun 1956 dimenangi oleh Amerika Serikat setelah mengalahkan Tim Uber dari Denmark yang berlangsung di Lancashire pada tahun 1956. Dan pada tahun 1984 kejuaran Thomas dan Uber Cup disatukan alias dibarengi. Turnamen Thomas Cup & Uber Cup masing-masing melibatkan 12 tim, termasuk tim tuan rumah dan juara bertahan. Tuan rumah dan juara bertahan langsung lolos ke babak final, sedangkan 10 tim lainnya adalah mereka yang memenangi kualifikasi regional (Asia, Eropa, Oceania, Pan-Amerika, dan Afrika). Babak final kedua turnamen itu sering disebut sebagai Putaran Final Piala Thomas & Uber.
Piala Uber, kejuaraan beregu untuk putri dimulai pada tahun 1956 dan dilaksanakan bersamaan dengan Piala Thomas sejak 1984.
Sepanjang sejarahnya, hanya lima negara yang pernah menjadi juara: Republik Rakyat Cina, Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia serta Korea Selatan .
Tiongkok tercatat paling banyak memenangkan Piala Uber yaitu sebanyak 12 kali - runner up 3 kali, disusul Jepang dengan 5 kali juara - 1 kali runner up, selanjutnya Indonesia dengan 3kali juara - 7 kali runner up, disusul Amerika 3 juara - 1 runner up dan Korea Selatan : 1 kali juara - 5 kali runner up.
















 * = tuan rumah


Piala Sudirman adalah kejuaraan bulu tangkis internasional untuk nomor beregu campuran, mempertandingkan nomor tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Kejuaraan ini digelar setiap dua tahun sekali. Nama Sudirman diambil dari nama tokoh perbulutangkisan Indonesia, almarhum Dick Sudirman, salah satu pendiri PBSI dan dikenal juga sebagai bapak bulu tangkis Indonesia.
Piala Sudirman tidak memperebutkan hadiah uang. Para pemain bertarung hanya untuk membela nama negara dan memperoleh poin peringkat IBF.
Sejak 1991 hingga saat ini (kecuali pada 1997-1999), Marlboro, merek rokok terkenal di dunia, mensponsori acara ini, sehingga dinamai "Marlboro Sudirman Cup".
Kejuaraan ini pertama kali dicetuskan oleh Indonesia pada tahun 1986. Sepanjang sejarahnya, hanya enam negara yang telah berhasil mencapai babak semifinal di seluruh kejuaraan: Indonesia, Korea Selatan, Inggris, Malaysia, China, dan Denmark.
Piala Sudirman yang pertama digelar di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta pada 24-29 Mei 1989. Pada kejuaraan tersebut, Indonesia berhasil tampil sebagai juara dengan mengalahkan Korea Selatan dengan nilai 3-2. Itulah satu-satunya gelar Piala Sudirman yang pernah diraih Indonesia.
Sejak tahun 1991, Piala Sudirman secara bergantian direbut Korea Selatan dan China. Korea menjadi juara pada tahun 1991, 1993, dan 2003 sedangkan Republik Rakyat Tiongkok juara pada 1995, 1997, 1999, 2001, 2005, 2007, 2009, 2011 dan 2013.
Piala Sudirman yang mempunyai tinggi 80 cm dirancang oleh Rusnadi dari Fakultas Seni Rupa ITB dan terdiri dari lima bagian. Tutup piala berbentuk Candi Borobudur yang merupakan salah satu monumen bersejarah yang terletak di Indonesia. Badan piala berbentukkok (bola bulu tangkis) yang berlapiskan emas 22 karat dengan berat 600 gram.
Pegangan piala berbentuk benang sari. Bagian keempat berbentuk daun sirih yang merupakan ornamen ucapan selamat datang. Bagian kelima berupa alas berbentuk segi delapan yang melambangkan arah mata angin yang terbuat dari kayu jati. Piala ini dikerjakan PT. Masterix Bandung dengan harga USD 15 ribu (sekitar Rp. 27 juta) di kala itu.

Profil Dick Sudirman

Nama : Dick Sudirman
TTL : Pematangsiantar, Sumatera Utara, 29 April 1922
Wafat : 10 Juni 1986 (64 tahun)
Prestasi :
· Salah satu perintis Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI)
· Ketua PBSI selama 22 tahun (1952-1963 dan 1967-1981)
· Wakil Presiden IBF (International Badminton Federation) pada tahun 1975


































Sumber : dari berbagai sumber

Fenomena Menjamurnya Tontonan Drama Korea, Drama Cina, Drama Bule, Hingga Drama Lokal Versi AI

KETIKA INDONESIA IKUT MENGARANG ULANG SEJARAH Oleh: Icon Dari Beyond Wukong di China Sampai Bengawan Sore di Jakarta Dua tahun terakhir duni...