![]() |
![]() |
| Foto ini diambil dari cover buku Kebenaran melebihi persahabatan : (Aristoteles kepada Plato) oleh penulis, Johannes Dirk de Fretes. |

Sumber : http://tabaos.id/sejarah-mencatat-17-agustus-1945-adalah-hari-perkabungan-bagi-orang-maluku/
![]() |
![]() |
| Foto ini diambil dari cover buku Kebenaran melebihi persahabatan : (Aristoteles kepada Plato) oleh penulis, Johannes Dirk de Fretes. |

Sumber : http://tabaos.id/sejarah-mencatat-17-agustus-1945-adalah-hari-perkabungan-bagi-orang-maluku/
Apa itu pandemi ?
Pada 2010, WHO
mendefinisikan pandemi sebagai “penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia” yang
mempengaruhi banyak orang.
Sedangkan menurut Pusat
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and
Prevention, disingkat CDC)
adalah “epidemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua, biasanya
mempengaruhi banyak orang.”
Plague atau wabah merupakan istilah umum untuk penyakit epidemi yang mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi, atau lebih luas lagi.
Sepanjang perjalanan sejarah, manusia sudah mengalami beragam wabah atau pandemi yang mematikan yang telah menghilangkan banyak nyawa. Melansir Aljazeera, berikut ini adalah pandemi terburuk yang pernah terjadi mulai dari abad ke-6 hingga sekarang.
1. Wabah
Justinian (541-549)
Korban yang
meninggal akibat wabah ini sekitar 30-50 juta orang dan yang menjadi
penyebabnya adalah wabah bubonik. Nama wabah ini dinamai menurut nama Kaisar
Bizantium, yaitu Justinian I. Sang kaisar terkena penyakit tersebut tetapi
sembuh. Penyakit itu disebarkan ke manusia oleh hewan pengerat yang membawa
kutu yang membawa bakteri, Yersinia pestis.
2. Wabah
Maut Hitam/Black Death (1346-1353)
Terjadi di
abad ke-14, pandemi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang dibawa
oleh tikus ini mengakibatkan sekitar 75-200 juta meninggal. Black Death melanda
Eropa, Asia dan Afrika dan tercatat sebagai wabah penyakit paling mematikan
dalam sejarah. Di namai Black Death, karena orang-orang yang terinfeksi memperlihatkan
bintik-bintik hitam yang terbentuk di kulit mereka. Wabah ini kembali setiap 12
tahun atau lebih sampai sekitar 750, akhirnya memusnahkan setengah dari
populasi Eropa, yaitu sekitar 100 juta orang.
3. Pandemi
Kolera Ketiga (1852-1860)
Wabah selanjutnya
yang tak kalah mematikannya adalah pandemi kolera ketiga yang terjadi pada abad
ke-19. Korban yang meninggal sekitar 1 juta orang. Menurut WHO dari tujuh
epidemi kolera, epidemi ketiga yang terjadi pada tahun 1852 adalah yang
memiliki dampak global terbesar. Wabah ini berasal dari India sebelum akhirnya
menyebar ke seluruh Asia dan sebagian Eropa, Amerika Utara dan Afrika.
Penyebabnya adalah kolera yang diakibatkan karena mengkonsumsi makanan atau air
yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholera. Bakteri ini bisa mengakibatkan
penyakit diare akut yang dalam beberapa jam dapat membunuh jika tidak
diobati.
4. Pandemi
Flu Rusia (1889-1890)
Pandemi ini
dianggap sebagai pandemi terhebat di akhir abad ke-19. Korban yang
meninggal sekitar 1 juta orang. Pandemi flu ini dinamakan flu Rusia atau flu
Asia karena kemungkinan besar asalnya dari kawasan Asia Tengah Kekaisaran
Rusia. Pandemi ini disebabkan oleh subtipe virus influenza A H3N8. Keberadaan
moda transportasi modern, seperti rel kereta api serta perjalanan lintas
Atlantik dengan perahu menyebabkan pandemi ini menyebar dengan cepat.
5. Pandemi
Kolera Keenam (1899-1923)
Terjadi pada
tahun 1910, pandemi kolera keenam juga berasal dari India dan merengut 800.000
nyawa. Sebelum menyebar ke berbagai bagian Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa
dan Rusia, penyakit ini sudah menewaskan ratusan ribu orang.
6. Pandemi
Flu Spanyol (1918-1919)
Sebelum
menyebar ke seluruh dunia dan menginfeksi setidaknya sepertiga dari populasi
global, kasus pertama tercatat pada musim semi 1918 yang terjadi di antara
tentar AS selama Perang Dunia I. Penyebabnya adalah virus Influenza H1N1 atau
flu burung yang berasal dari unggas. Walaupun jumlah total korban virus ini
tidak diketahui pasti, banyak yang menyebutkan diperkirakan lebih dari 50
juta orang dan beberapa mencapai 100 juta korban tewas. Pandemi ini menjadi
wabah yang paling mematikan sejak Black Death. Meskipun di Amerika Serikat
disebut flu Spanyol, tapi para peneliti tidak bisa mengidentifikasi daerah asal
penyakit tersebut. Namun dilaporkan kasus penyakit ini menyebar secara luas di
Spanyol. Karena tidak ada vaksin maka terjadi gelombang kedua yang dibawa oleh
para tentara yang kembali.
7. Flu
Asia (1956-1958)
Pada tahun
1956 kasus pertama flu Asia teridentifikasi di China kemudian menyebar ke
Singapura, Hong Kong, dan AS. Dilaporkan juga menyebar hingga India pada tahun
1957. Penyebabnya adalah virus influenza subtipe H2N2 dan mengakibatkan
setidaknya 1,1 juta nyawa melayang. Menurut beberapa studi, pandemi ini
berasal dari strain virus flu burung dan manusia. Terjadi gelombang kedua,
tetapi penyebaran infeksinya melambat sesudah pengembangan vaksin pada Agustus
1957.
8. Pandemi
Flu Hong Kong (1968-1969)
Penyebab
pandemi ini adalah virus influenza A – H3N2, subtipe H2N2. Pada Juli 1968
dilaporkan kasus pandemi pertama di Hongkong. Setelah terjadi wabah di
Singapura dan Vietnam, virus ini menyebar dalam waktu 12 minggu bagian dunia
lainnya sampai ke Afrika dan Amerika Serikat. Korban meninggal sekitar 1 juta
orang. Variasi H3N2 kemungkinan muncul sebagai mutasi dari flu Asia
sebelumnya pada tahun 1956. Virus H3N2 masih beredar sampai sekarang sebagai
virus influenza A musiman.
9. Pandemi
HIV / Aids (1981-sekarang)
Penyebab
pandemi ini adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini menyerang sel
yang membantu tubuh melawan infeksi. Jika tidak diobati, bisa mengakibatkan
penyakit, AIDS. HIV menyerang dan menghancurkan sel CD4 atau T-Helper, sejenis
sel darah putih dalam sistem kekebalan. Korban meninggal diperkirakan sudah
mencapai 32 juta.
10. Sindrom
Pernafasan Akut Parah (SARS) (2002-2003)
Pandemi ini
disebabkan oleh SARS-CoV yang menurut CDC merupakan jenis virus corona dari
reservoir hewan yang belum pasti, bisa jadi kelelawar, yang menyebar ke hewan
lain (musang) dan manusia. Kasus pertama terjadi pada tahun 2002 di
selatan China, tepatnya di Provinsi Guangdong. SARS-CoV setidaknya
menyebar ke 26 negara dan menginfeksi lebih dari 8.000 orang, walaupun jumlah
kematiannya tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan pandemi lainnya.
11. Sindrom
Pernafasan Timur Tengah (MERS) (2012-sekarang)
Salah satu
jenis virus korona, MERS-CoV, pertama kali diidentifikasi pada 2012di Arab
Saudi. Virus Corona merupakan keluarga besar virus yang bisa mengakibatkan
penyakit mulai dari flu biasa sampai SARS. Korban yang meninggal sekitar 858
jiwa. Sampai Januari 2020 sudah 2.519 orang yang terinfeksi virus tersebut.
Tingkat kematian MERS-CoV sangat tinggi dibandingkan dengan virus corona
lainnya, dengan hampir 35 % dari mereka yang tertular meninggal.
12. Pandemi Corona Virus (Covid-19) (2019-sekarang)
Pada tahun 2019, dunia digemparkan dengan pandemi COVID-19
dan orang yang terinfeksi masih terus bertambah sampai sekarang. Tenaga medis
di dunia juga sudah kewalahan untuk menangani korban-korban yang terinfeksi. Coronavirus
adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau
manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas
pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle
East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19. COVID-19
adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru
ditemukan. Virus baru dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal
sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. COVID-19 ini
sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia.
Data dari Kementrian Kesehatan RI sampai dengan tanggal 28 Mei 2021 kondisi
kasus pandemic Covid-19 di Indonesia yaitu : TOTAL KASUS = 1,81 juta, SEMBUH
= 1,66 juta dan MENINGGAL DUNIA = 50.262.
Sumber : https://blog.wecare.id/2020/09/sejarah-pandemi-11-pandemi-paling-mematikan-sebelum-covid-19/
Markas Korem 151/Binaiya yang terletak di jalan Ahmad Yani Nomor 1 Kelurahan Batu Gajah Kecamatan Sirimau Kota Ambon, merupakan salah satu saksi sejarah keberadaan kaum penjajah khususnya pemerintah Kolonial Belanda dengan segala sejarah kelamnya di wilayah Maluku.
Dalam perkembangannya tercatat bangunan yang saat ini menjadi salah satu masrkas satuan utama penyelenggara fungsi teritorial Kodam XVI/Pattimura itu pernah berfungsi sebagai berikut :
1. Rumah pejabat Resident van Ambon dan Gouverneur van de Molukken. Yaitu rumah dari pejabat yang mengepalai wilayah yang sesuai dengan pembagian daerah administratif di pemerintahan Hindia Belanda. Pada massa ini yaitu era sebelum tahun 1930an bangunan ini dibangun dengan arsitektur Belanda dimana di sekelilingnya dibuat taman yang dipenuhi dengan pohon-pohon yang rindang, rerumputan serta beberapa tugu dan kolam ikan. Semua ini sudah sebagaimana mestinya dimiliki oleh pejabat tinggi Belanda di massa itu, Taman di sekitar bangunan ini sering disebut Batoe Gadjah Park yang terhubung dengan Hotel Anggrek dan lapangan tenis di depannya. Setiap tanggal 31 Agustus, pejabat Gouverneur van de Molukken sering menggelar perayaan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina yang diisi dengan pagelaran kesenian oleh kelompok-kelompok paguyuban masyarakat kota Ambon.
2. Kantor Pemerintah Daerah Maluku Selatan. Pasca Konferensi Meja Bundar (KMB, Desember 1949) memasuki tahun 1950 terjadilah peralihan kekuasaan dari pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintahRepublik Indonesia Serikat
(RIS), bangunan ini beralih funsi sebagai kantor Pemerintah Daerah Maluku Selatan yaitu daerah yang dibawahi oleh pemerintahan negara bagianNegara Indonesia Timur
(NIT) dimana pada saat itu dijabat oleh Mr. Johanis Hermanus Manuhutu sebagai kepala daerah dan Mr. Albert Wairizal sebagai wakil kepala daerah.
3. Kantor pemerintahan Republik Maluku Selatan. Akibat adanya pergolakan politik pasca perubahan RIS menjadi Republik Indonesia yang otomatis menghapus keberadaan seluruh negara bagian RIS termasuk NIT, maka terjadilah pengambilalihan bangunan ini sebagai kantor pemerintahan Republik Maluku Selatan yang diproklamirkan pada tanggal 25 April 1950 di halaman bangunan ini. Bangunan tersebut saat itu juga berfungsi sekaligus sebagai kantor Dewan Maluku Selatan.
4. Markas Kodam XV/Pattimura. Pasca pemberantasan RMS oleh pemerintah RI, maka pada tanggal 5 April 1960 dalam upacara resmi Pataka Kodam XV/Pattimura diserahkan oleh MKN/KASAD Mayjen A.H. Nasution kepada Pangdam XV/Pattimura (waktu itu KDM-MIB) Kolonel Herman Pieters sesuai Skep MKN/KASAD Nomor : KPTS – 485 / 5 / 1960 tanggal 7 Mei 1960. Bangunan ini beralih fungsi sebagai Markas Kodam XV/Pattimura yang membawahi Maluku dan Irian barat (MIB).
5. Markas Korem 174/Pattimura. Sesuai dengan perkembangan konsepsi strategis Hankam umumnya dan TNI AD khususnya, serta berdasarkan kebijakan Panglima ABRI tentang reorganisasi Angkatan Darat maka beberapa Komando Utama (Kotama) TNI AD termasuk kodam XV/Pattimura mengalami likuidasi sesuai tuntutan kebutuhan organisasi yang dilaksanakan pada tanggal 22 september 1984. Kemudian, berdasarkan Keputusan KASAD tanggal 26 Desember 1984 dan direalisasikan dengan Surat Keputusan Pangdam XV/Pattimura tanggal 8 Januari 1985, maka terbentuklah Korem 174/Pattimura yang wilayahnya meliputi keseluruhan wilayah Kodam XV/Pattimura. Pada tanggal 6 Mei 1985 bertempat di Ambon secara resmi Kodam XV/Pattimura dilikuidasi dengan penyerahan kembali Pataka Kodam XV/Pattimura oleh Brigjen TNI H. Simanjuntak kepada KASAD Jenderal TNI Rudini. Dengan pertimbangan psikologis dan historis, nama Pattimura tetap dipertahankan sebagai nama Korem yang baru dibentuk dengan melantik Kolonel Inf Soeharsono S sebagai Danrem 174/Pattimura yang pertama. Selanjutnya Korem 174/Pattimura berada di bawah komando Kodam yang baru dibentuk, yaitu Kodam VIII/Trikora, yang berkedudukan di Jayapura.
6. Markas Kodam XVI/Pattimura. Konflik bernuansa SARA yang terjadi di Maluku pada tanggal 19 Januari 1999 telah menimbulkan instabilitas dan kekacauan sosial bersifat horisontal yang skalanya semakin meningkat dan sulit untuk dikendalikan. Menyikapi kondisi daerah tersebut dan dalam rangka menata kembali Organisasi TNI, pada tanggal 7 Mei 1999 dilaksanakan likuidasi Korem 174/Pattimura, dan dibentuk Kodam XVI/Pattimura pada tanggal 15 Mei 1999 di Ambon dalam suatu Upacara Militer dengan Irup Kasad Jenderal TNI Subagyo HS. Pada kesempatan upacara tersebut Kasad secara resmi melantik Brigjen TNI Max M.Tamaela sebagai Pangdam XVI/Pattimura yang pertama dan hari yang bersejarah tersebut selanjutnya dirayakan sebagai Hari Ulang Tahun Kodam XVI/Pattimura.
7. Markas Korem 151/Binaiya. Guna mewujudkan kondisi Maluku yang kondusif sesuai yang diharapkan, maka sejak tanggal 30 Mei 2002 sesuai kebijakan Panglima TNI di bidang Pertahanan dan Keamanan Wilayah Maluku dan Maluku Utara dikendalikan oleh Panglima Komando Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) berpangkat Mayor Jendral TNI. Kemudian pada tanggal 12 Juli 2002 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Nomor : Keppres 88/VII/2002 tentang Pembentukan Koopslihkam, sejak itu, semua satuan baik TNI maupun POLRI yang berada di wilayah Maluku dan Maluku Utara berada di bawah kendali operasi Pangkoopslihkam yang dijabat oleh Mayor Jendral TNI Djoko Santoso. Seiring berjalannya waktu dan disertai dengan kondusifnya situasi keamanan di Wilayah Maluku, maka Kepala Staf TNI AD mengeluarkan Keputusan Nomor : Kep / 10 / III / 2003 Tanggal 13 Maret 2003 tentang Pembentukan Korem 151/Maluku. Semenjak itu setiap tanggal 13 Maret diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Korem 151/Maluku. Berdasarkan Keputusan KASAD Nomor : Kep / 33 / VI /2003 Tanggal 3 Juni 2003 tentang Pengesahan Penggunaan Lambang Kesatuan Dhuaja Korem 151/Binaiya. Dan sejak itu pula nama Korem 151/Maluku berubah menjadi Korem 151/Binaiya.
Jepang dari Saumlaki menuju Tepa diperkirakan pada tahun 1942. Dan menduduki jemaat/ desa-desa yang ada di pulau Babar salah satunya adalah Masbuar. Proses ini terjadi karena wilayah Babar dan lainnya merupakan perbatasan dengan Australia yang merupakan sekutu/ lawan. Sebelum kedatangan Jepang ke Masbuar, kehidupan warga Jemaat/ masyarakat adalah seperti biasa melakukan pekerjaan senbagai petani. Hal ini mengalmmi perubahan ketika Jepang hadir dan berkuasa di Indonesia (baca Masbuar).
Guru Djoemat saat itu adalah Eduar Lessi yang biasa disebut “WAKIL”/ Ketua Klasis dan meikah dengan salah seorang wanita yang berasal dari Masbuar. Kehadiran Jepang di Masbuar membuat mereka sering klai melarikan diri ke “puton” (Hutan Masbuar)
Kegiatan Ibadah berjalan seperti biaya yaitu ibadah “Kunci Usbu” pada hari Sabtu, Ibadah Minggu (dilkasanakan pagi hari) dan pada hari Rabu Ibadah “Sharing”. Dan tidak ada penghormatan khusus kepada bendera Jepang ketika mau beribadah kepada Tuhan. Jumlah Jemaat saat itu diperkirakan berjumlah 85 orang.
Gedung Gereja pada saat itu tidak dijadikan sebagai Markas Jepang. Jepang bermarkas di “ Kukkie Onnie” (Pinggir Tanjung). Namun gereja Masbuar pada saat itu dibakar oleh Jepang, dan untuk sementara waktu jemaat saat itu beribadah di sebuag gubuk yang terbuat dari bambu yang cukup kecil ukurannya. Hal ini di sebabkan karena ada beberapa orang Masbuar yang bersepakat dengan orang Emplawas melakukan perlawanan dan pembunuhan terhadap orang Jepang. Selain gereja dibakar ada 11 orang Masbuar di bawa ke Tela dan dibunuh di “Utie Onnie ( Pinggir Pisang). 11 orang itu adalah : Hendrik Wunnara Romsery (Kepala Desa), Tokoh Adat; Dolfinus Naikyera Romsery, Aser I Iwirnai Tiwuly, Yunus Wurwari Okmemera, Petrus Aresi Okmemera, Marinyo; Welem Kiaya Okmemera, Amus Nawoi Okimekma, Paulus Okimekma, Dirk Okimekma, Yulianus Okea Okololy, dan Markkus Newna Gergora.
Khusus Welem Kiaya Okmemera dibunuh dengan cara : diikat diatas bangku, disiram dengan Bensin, ditutupi dengan daun kelapa lalu dibakar hingga hangus. Sedangan 9 orang lainnya dibunuh dengan cara di tikam dengan “bayonet” (piasu panjang yang ada di unjung senjata) dan satu orang lainnya ditembak karena berusaha melarikan diri. Mayat ke -10 orang tersebut kemudian dibuang di tepi pantai Tela yang bernama “Nyuk Metti” (kolam laur). Dan seorang lainnya (tidak diketahui namanya) dikuburkan pada tempat yang terpisah yang bernama Kukkie Onnie (Pinggir Tanjung). Namun anehnya mayat-mayat (10 orang ) tersebut selama sehari penuh tidak berpindah/ hanyut. Mayat-mayat tersebut tetap ada di “nyuk Metti” akhirnya pemerintah Jepang memerintahkan orang Tela agar mengumpulkan kayu untuk membakar mayat-mayat tersebut. Namun hal itu tidak disetuji oleh Kepala Desa Tela yang bernama Thomas Onarely, dan akhirnya disepakati bahwa mayat-mayat tersebut dikuburkan secara masal yang bernama “ Ayanne” ( Lihat Gmabar 4, 5). Tempat tersebut telah dijadikan kuburan Umum hingga sekarang ini.
Kebijakan pemerintah jepang saat itu
adalah memerintahkan warga jemaat Masbuar khususnya laki-laki dewasa membawa
makanan ke Wakpapapy yang saat itu merupakan markas Jepang. Tidak ada “Rumah
Panjang” yang dibangun oleh Jepang dengan demikian tidak ada pelecehan seksual
di Masbuar. Sekolah yang ada saat itu hanyalah Sekolah Rakyat yang kemungkinan
berpusat di gereja. Guru Djoemat ( Eduar Lessi) dibunuh di Wakpapapy dengan
cara ditembak oleh tentara Jepang.
Sejarah Jepang di Tela tidak jauh berbeda dengan Masbuar. Jarak antara Tela dan Masbuar hanya 3 Km. dengan demikian rentang kendali Jepang terhadap Tela dan Masbuar mudah dilakukan.
Keberadaan warga Jemaat sebelum kedatangan Jepang adalah biasa-biasa saja. Mereka beraktifitas pada umumnya sebagai Petani . Namun keberadaan ini berubah ketika Jepang datang dari Saumlaki menuju Pulau Babar dan salah satu tempat persinggahan/ posko mereka ada di Tela yang bernama “Utie Onnie” (pinggir pisang) dalam bentuk seperti goa (lih. Gambar 2) namun tempat tersebut sekarang ini telah tertutup oleh tanah. Ada dua kompi Jepang (tentara Jepang ) yang datang ke Tela yaitu: “Jangker” (Angkatan Laut) dan “Binsang “ (Angkatan Darat ), namun yang menetap di Tela adalah “Jangker”. Yang dipimpin oleh Panglima SIN HO HA RA yang biasa di sebut “tuan besar”.
Guru Djoemat yang bertugas di Tela saat itu adalah Dolfinus Mustamu. Jumlah naggota jemaat saat itu kurang lebih 700 jiwa. Kegiatan peribadatan berjalan seperti biasa yaitu pada hari Minggu (Ibadah Minggu), Sabtu “Ibadah Kunci Usbu” dan hari Ibadah “ Sharing “. Namun harus diakui bahwa keberadaan warga jemaat saat itu penuh dengan ketakutan dan kegelisahan sehingga ada yang tinggal di kebun,hutan, dan tempat ibadah (gereja darurat) juga didirikan di tempat yang bernama “Nuryemna/e” (tempat kenari). Bapak Dolfinus Maustamu meninggal di wakpapapi dengan cara ditembak. Hal ini disebabkan karena kematian “tuan besar dan tiga SPION-nya yaitu Itariak, Muhamad, dan Abdulah” yang dibunuh oleh Kepala Desa dan warga masyarakat Emplawas dan hasutan dari Kepala desa Tela Thomas Onarely yang menuduh Dolfinus Maustamu “sumpah-sumpah orang Jepang, membawa kabar ke Ambon ” hal ini dilihat sebagai ancaman, sehingga Kurang lebih 600 warga jemaat/ masyarakat Emplawas mati ditembak, 11 orang Masbuar mati di Tela {bnd bagian Masbuar} dan 4 orang (Dolfinus Mustamu, Mustamu Ellans statusnya lebih tinggi dari guru djemat dan berhak melakukan Perjamuan Kudus, Ibrahim orang Emplawas dan Eduar Lessi wakil/Klasis).
“Suatu hari SIN HO HA RA memanggil kepala desa Emplawas (tidak diketahui namanya) datang ke Tela untuk melakukan proses jual beli, penawaran harga Tabaku milik masyarakat Emplawas. Harga yang di sepakati adalah Rp.2000 per kilo. Kepala Desa kembali ke Emplawas menghimpun masyarakat dan mengajak mereka untuk mengumpulkan tabaku yang nantinya di jual kepada SIN HO HA RA. Kemudian Sin HO HA RA memerintahkan Itariak, Muhamad dan Abdulah untuk membeli Tabaku di Emplawas. Sesampainya mereka di Emplawas Itariak ternyata hendak membeli tabaku dengan harga Rp 1000 per Kg. Terjadi pertentangan diantara mereka. Kepala Desa tetap mempertahankan Rp. 2000 sedangakan itariak Rp. 1000. Hal ini di laporkan kepada SIN HO HA RA. Kemudian SIN HO HARA bersama ketiga orang tersebut menuju Emplawas. Sesampainya mereka di Emplawas SN HO HA RA menampar kepala desa Emplawas. Hal ini menjadi pemicu akhirnya SIN HO HA RA di bunuh dengan cara di tikam demikian juga ketiga orang lainnya”
Tidak ada “rumah panjang “ di Tela. Tidak ada perempuan yang dijadikan sebagai korban seksual hal ini karena SIN HA HA RA tidak setuju dengan cara-cara tersebut.
Kebijakan Jepang pada saat itu adalah setiap warga jemaat laki-laki (dewasa) harus mengantarkan makan , sayur-sayuran ke Wakpapapy. Hal ini dirasakan sangat dan menyiksa dan memberatkan. Ada persungutan dari warga jemaat dan hal ini dilihat sebagai “bom waktu” tetapi tidak ada perlawanan yang dilakukan oleh orang Tela kepada Jepang.
Staf Desa saat itu adalah: Thomas Onarely (Kepala Desa), Amabilis Imea (Kepala Soa Letui) dan Petrus Lukmetiabla (Kepala Soa Lekwari).
Selama keberadaan Jepang di Tela: Gereja tidak dirusak dan tidak dijadikan sebagai markas dan tidak ada larangan beibadah. Seluruh proses pendidikan berpusat di gedung Gereja. Sebagai bukti keberadaan Jepang di Tela , ada juga piring-piring tua yang dianggap sebagai peninggaln jepang. Piring-piring ini di temukan di depan Goa Utie Onnie.
Dari penuturan beberapa orang tua, yang selalu menjadi sasaran utama adalah Gereja dan Sekolah. Karena itu, tentara Jepang lebih memilih lokasi persembunyiannya ke liang-liang batu atau goa dan dipinggiran kali, sehingga dapat bersembunyi, sekaligus bisa mandi, makan dan minum.

Tindakan Jepang yang sangat brutal adalah mengambil perempuan sebagai pemuas nafsu kebiadaban mereka terhadap perempuan-perempuan yang belum menikah (BENJEMINA MALIHU) dan yang sudah menikah (ADELAIDA ORAPLAWAL)bersama-sama dengan dua perempuan dari Yatoke dan beberapa perempuan dari Emplawas yang dianggap sangat cantik dan mereka tidak di bunuh semuanya tertampung di rumah panjang di asrama tentara.
Kewajiban untuk menghormati bendera atau kaisar tidak ada sama sekali karena masyarakat selalu menghindar apabila kehadiran tentara Jepang di lokasi. Kepala Desa pada saat itu, DAUD UNITLY akhirnya dibunuh karena dianggap sebagai pemberontak. Ia tidak setuju dengan tindakan kekerasan dan penindasan yang dilakukan oleh Tentara Jepang terhadap masyarakat Wakpapapi. Pekerjaan pribadi masyarakat dibatasi. Kematian DAUD UNITLY disebabkan karena ada “Spion” dari masyarakat dari masyarakat Desa Wakpapapi yang bukan anak negeri (Pendatang). Ia memberikan informasi kepada Tentara Jepang bahwa Kepala Desa DAUD UNITLY membuat surat kepada Kepala Desa Emplawas untuk sama-sama mengadakan perlawanan kepada Tentara Jepang. Padahal in formasi itu tidak benar. Satu saat, Kepala Desa meninggalkan Negeri Wakpapapi menuju ke Pulau Marsela untuk urusan keluarga. Selesai urusan, ia menumpangi kora-kora kembali ke Negeri Wakpapapi, dan ketika ia turun dari kora-kora (masih di pantai), ia langsung ditangkap. Matanya langsung diikat dengan sepanggal kain, selanjutnya di bunuh bersama-sama dengan Kepala Soa Tutuwawang. Jenazah keduanya dimasukkan ke dalam satu kolam tersendiri.

Selain pembunuhan terhadap Kepala Desa Wakpapapi (DAUD UNITLY), terjadi juga pembunuhan terhadap Tiga Pendeta yang sebelumnya sudah ditangkap dan dibawah ke Wakpapapi (Markas Utama Tentara Jepang) antara lain : Pdt. TAHALELE (Jemaat Letwurung) Pdt. MUSTAMU, dan Pdt. LESSI (Pdt. LESSI menikah dengan Anak Perempuan dari Pdt. MUSTAMU) yang berkediaman di Kota Tepa. Pembunuhan itu terjadi pada tanggal 24 Desember 1944 Pukul 16.00. WIT. Sebelum terjadi pembunuhan, Ketiga Pendeta tersebut Melagukan Thalil 76 : 1 “ ROH JIWA DAN TUBUHKU ”. Seusai menyanyi Pdt. LESSI berdoa. Kemudian penembakan itu atau pembunuhan itu terjadi Pdt. TAHALELE dan Pdt. MUSTAMU masing-masing mendapat satu kali tembakan sedangkan Pdt. LESSI Tiga kali tembakan kemudian dimasukan dalam satu kolam samping Kuburan Masal OIMEHOIPLAT. Sementara untuk Guru Jemaat dan keluarganya yang ada di Wakpapapi selamat di tangan Yesus karena menghindar dari sekutu Jepang dan di lindungi oleh anggota Jemaat Wakpapapi.
1. Kuburan OIMEHOIPLAT. (Kuburan Masal Emplawas) kisah ini secara terperinci dapat di galih lewat Masyarakat Emplawas. Hanya saja karena kuburan ini dan seluruh tragedy kekejaman Tentara Jepang terjadi di basis utama (Wakpapapi) singkat cerita orang-orang Emplawas kurang lebih 700 an masing-masing diikat (anak-anak kecil tidak ditutup mata sedangkan orang dewasa matanya di ikat) selanjutnya mereka di ikat menjadi satu dengan tali Nyimu berjejer dan di antar ke Markas Utama, menanti waktu kematian.Untuk anak-anak kecil sebelum di bunuh mereka di buang ke udara,kemudian para tentara Jepang mengangkat pedang samurai maupun pedang Sangkur menghunus tubuh mereka selanjutnya di masukkan ke dalam lobang kubur.Sementara untuk para perempuan yang masih cantik Terlebih dahulu organ tubuh mereka(payudara)di potong dan di hunus pada pedang samurai.Dengan demikian keseluruhan orang Emplawas dimasukkan hidup – hidup ke dalam Lobang Kubur yang telah tersedia selanjutnya di bunuh.perlu di ketahui pula bahwa yang mengerjakan atau menggalih lobang kubur itu adalah Masyarakat Wakpapapi. Oleh karena itu setiap tanggal 05 Oktober Masyarakat Emplawas turun ke Wakpapapi untuk membersihkan Kuburan OIMEHOIPLAT mengenang sejarah.
Kerajaan Belanda Serikat (1815) B elanda dan Belgia dulunya adalah 1 negara. Saat itu, Perancis berbatasan dengan Belanda di sebelah selatan...