Minggu, 26 September 2021

17 Agustus 1945, hari berkabung bagi orang Maluku

Buku Risalah Sidang Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI)

“Pada hari ini, sabtu, tanggal 17 Agustus 2019, seperti setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, selalu dirayakan dengan penuh suka cita dan dengan penuh gegap gempita – termasuk oleh orang Maluku sebagai hari kemerdekaan dari suatu negara yang bernama Republik Indonesia. Sehingga, mungkin tidak seorang pundi antara orang Maluku yang memperingati hari tersebut sebagai HARI PERKABUNGAN untuk mengenang kembali sesama orang Maluku yang tewas dibantai oleh para pembela Republik Indonesia segera setelah negara tersebut diproklamasikan kemerdekaannya pada hari jum’at, tanggal 17 Agustus 1945, 74 tahun silam”.

Pembantaian Orang Ambon

Saat itu, 74 tahun lalu, di Jakarta, Pembunuhan yang mengagetkan dimulai dengan Boma Latupeirissa di Jatinegara … Keluarga Lopies di Pasar Minggu … termasuk anak-anak dan seorang pemuda yang pada siang hari ketika sedang mengendarai mobil, juga dianiaya …Keluarga Agus Souisa, isterinya, kedua saudara perempuan, serta kedua anaknya, satu demi satu ditikam dengan senjata tajam … Keluarga Lukas Polhaupessy mengalami situasi yang sama … Boetje Tahalele (bekerja sebagai dokter di Jerman) yang melakukan tugas itu di Jatinegara, dibacok … Henk Wattimena dan keluarganya berhasil lolos dari pembunuhan yang kejam … Ibu-ibu yang berbelanja mulai diancam … Pemuda-pemuda Tanjung Priuk sudah harus mengamankan beberapa pria Ambon dari penganiayaan di pelabuhan … di belakang stasiun Jatinegara orang-orang Ambon tidak berani lagi keluar-masuk gang tempat tinggal mereka (de Fretes, Johannes Dirk (2007) Kebenaran Melebihi Persahabatan. Jakarta: Harman Pitalex, dan Kubuku, h. 58-68).

Keadaan masyarakat Maluku di Jawa Barat sangat memerlukan perhatian. Keluarga-keluarga yang terancam tidak tahu mau cari perlindungan ke mana …Sementara di Surabaya-Jawa Timur, perempuan dan anak-anak orang Maluku serta warga sipil orang Belanda dibunuh di Gedung Balai Pemuda-Simpangsoos. Banjir darah di Surabaya. Seluruh lantai marmer di gedung tersebut terlapisi darah setinggi mata kaki orang dewasa … seorang ibu Ambon yang berambut panjang ditarik rambutnya dan diseret di jalanan, sementara dua orang anak lelakinya yang baru berusia 7 dan 10 tahun menangis dan menjerit sambil memegang kuat sarung sang ibu, sambil kedua anak itu menyaksikan ibunya ditikam dengan bambu runcing dan dicincang bersama dengan korban lain yang dibunuh secara masal di tengah alun-alun Sidoardjo (Luhulima sebagaimana dikutip oleh Butje Hahury dalam tulisan berjudul ‘Soekarno Perintah Bunuh Bangsa Maluku di Jawa, “Soekarno Verklaart Oorlog Aan Indo’s, Menadonezen, En Ambonezen”).

Peristiwa-peristiwa tersebut di atas adalah sebagian kecil yang diketahui terjadinya secara pasti dari banyak peristiwa yang tidak diketahui kejadiannya. Perihal ini adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh J. D. de Fretes dalam bukunya tersebut di atas pada halaman 68 bahwa, “Bukan saja disana-sini terjadi penganiayaan dan pembunuhan sampai pelosok-pelosok (kampung) tetapi di mana saja orang Ambon berada. Maka teriakan, ‘SIAAP’, dari rakyat sudah menunjukkan bahwa tiap saat orang Ambon dapat diserang. Bagi orang Ambon tidak ada sesuatu yang begitu melelahkan dan keputus-asaan seperti rasa takut itu sendiri (tanpa sanggup bikin apa-apa). Orang-orang Ambon ini telah didorong untuk menyelamatkan nyawanya dari kemerdekaan yang mengancam dan membunuh”.


Foto ini diambil dari cover buku Kebenaran melebihi persahabatan :
(Aristoteles kepada Plato) 
oleh penulis, Johannes Dirk de Fretes.

Tindakan penyelamatan terhadap kurang lebih 30.000 nyawa orang Maluku yang sedang terancam di pulau Jawa dan Madura, dilakukan sendiri oleh sesama orang Maluku yang tinggal di pulau Jawa. Beberapa di antara mereka itu adalah, Abdul Mutalib Sangadji, Muhammad Padang, Alberth Latuasan dan Nono Tanasale sebagai pemimpin yang karena sangat marahnya sampai menyebut REPUBLIK INDONESIA sebagai REPUBLIK TAI.J. D. de Fretes memberikan kesaksian dalam bukunya tersebut di atas pada  halaman 78 &104, bahwa :

Sesuai dengan laporan dari pasukan Maluku, maka sekelompok pasukan kecil di bawah komando Egmond Pattinama bersama saya berangkat dengan truk ke pegunungan Mojokerto. Kami bertemu beratus-ratus keluarga Maluku yang kebanyakan terdiri dari wanita, orang tua dan anak-anak, di dua pegunungan. Keadaannya sangat menyedihkan. Ditambah lagi iklim dingin yang luar biasa. Mereka kami temukan pada malam hari dan saya melihat mereka tidur berderetan di tanah yang dingin. Saya harus menggunakan lampu minyak tanah untuk dapat melihat mereka.

Saya masih ingat sewaktu memeriksa keadaan mereka, sekonyong-konyong saya dengar seorang ibu terbangun dari tidurnya dan berteriak, “Nani se cari Beta pung anak dolo, dorang siksa dia barangkali dia su mati!”. Ibu itu adalah ibu Patty, Isteri Pendeta Patty di Surabaya. Anaknya adalah Bram Patty, seorang negarawan muda.

Menurut laporan, memang beberapa pemuda Ambon ditangkap dalam perjalanan mengungsi ke pedalaman. Egmond sebut nama opsir dari pasukan yang menangkapnya kalau saya tidak salah namanya Sabaruddin. Sabaruddin menurut Egmond selalu menuduh orang-orang Ambon yang ditangkap sebagai mata-mata.

Dengan truck kami menuju ke arah pegunungan, ke markas Sabaruddin itu. Sesudah berbicara dengan Kepala Pasukan di situ (Sabaruddin sendiri tidak mau hadir) maka lima atau enam orang pemuda Ambon dikeluarkan dengan keadaan pucat, kurus, dan hanya seperti tulang dibungkus kulit. Karena pemuda-pemuda Ambon ini berhari-hari tidak makan, sampai ada yang makan rumput.

Aktor Para Eksekutor

Penderitaan yang dialami oleh orang-orang Maluku di pulau Jawa seperti tersebut di atas merupakan akibat dari sebab adanya tindak kekerasan berupa ancaman, penyerangan, penganiayaan, perkosaan, penyiksaan hingga pembunuhan yang dilakukan oleh BARISAN PELOPOR sebagaimana terbukti dalam MAKLUMAT PERANG BARISAN PELOPOR yang diterbitkan di Jakarta pada hari minggu, tanggal 9 September 1945 yang menyatakan bahwa, “kelompok-kelompok ‘tersebut’ (Indo, Ambon, dan Manado) harus diboikot karena merupakan musuh bangsa Indonesia. mereka harus dibunuh di tempat kediaman mereka, mereka harus dilingkari kawat berduri, sumur, dan air minum mereka harus diracuni, setiap pedagang dilarang menjual apapun kepada mereka”.

Maklumat Perang Barisan Pelopor ini terlihat dimana-mana, di pohon, di dinding, di kantor, dan sebagainya. Bahkan di surat-surat kabar berhaluan Negara Republik Indonesia juga memberitakan dengan huruf besar AMBON ANJING NICA.

Akibat dari Maklumat Perang tersebut memang hebat karena pembunuhan dan penganiayaan atas orang-orang Ambon meningkat sekali. Sesudah maklumat perang itu, keadaan masyarakat Maluku sangat ruwet. Kekejaman terhadap wanita dan anak-anak orang Ambon bertambah terus (de Fretes, 2007: 74).

BARISAN PELOPOR adalah pasukan pemuda sipil yang dipersenjatai, dengan Presiden Koesno Sosrodihardjo alias Presiden Sukarno sendiri menjadi ketua dari Barisan Pelopor tersebut. Perihal ini adalah sebagaimana yang dinyatakan sendiri oleh Sukarno dalam halaman 266 dari buku yang ditulis oleh Cindy Adams berjudul ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ yang diterbitkan di Jakarta pada tahun 2011 oleh Yayasan Bung Karno bahwa, “Barisan Pelopor, pasukan pemuda sipil dimana aku menjadi ketuanya, dipersenjatai”.

Dalam tubuh Barisan Pelopor itu sendiri terdapat BARISAN PELOPOR ISTIMEWA yang terdiri dari kurang lebih 100 pemuda pilihan yang dipimpin oleh Sudiro sebagai pengawal dan utusan pribadi Presiden Sukarno (Kasenda, Peter (2015) Soekarno Di Bawah Bendera Jepang (1942-1945).Jakarta:Kompas, h. 101).

Jika merujuk pada kenyataan sebagaimana tersebut di atas, makamerupakan suatu perihal yang sangat wajar kalau beberapa surat khabar di negeri Belanda, seperti surat khabar Volkskrant, dan surat khabar Rotterdamsekrantmenurunkan tulisan tentang Maklumat Perang Barisan Pelopor tersebut dibawah ‘Kepala Berita’ (head-line) yang berjudul,“Sukarno Menyatakan Perang Kepada Orang-orang Indo, Menado, dan Ambon(Soekarno Verklaart oorlog aan Indo’s, Menadonezen, en Ambonezen)”(de Fretes, 2007: 76).

Sebelumnya, pada hari kamis, tanggal 16 Agustus 1945 – sehari sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai suatu negara yang berdaulat dan merdeka, pada hari jum’at, tanggal 17 Agustus 1945 – ‘Wikana’ (salah seorang anggota ‘Angkatan Pemuda Indonesia’ (API) pimpinan Sukarni dan Chairul Saleh) telah mengatakan kepada Sukarno untuk membunuh ‘orang-orang Ambon’ (sebutan untuk orang-orang Maluku pada saat itu)(Hatta, Mohammad(2015) Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977)Jakarta: Kompas, h.218).

Diam Bukan Emas

Selama kurun waktu terjadinya tindak kekerasan terhadap orang-orang Maluku dalam wilayah Negara Republik Indonesia, Sukarno ternyata mengambil sikap ‘masa bodoh’(apatis) dengan membiarkan tindak kekerasan itu terus terjadi atas orang-orang Maluku.

Dalam perihal ini, Sukarno dengan secara sengaja dan tanpa niat baik telah tidak menggunakan kekuasaan dan wewenangnyas ebagai Presiden Negara Republik Indonesia pada saat itu untuk mengakhiri seluruh tindak kekerasan yang terjadi atas orang-orang Maluku.

Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa, sejak berdirinya Negara Republik Indonesia, orang-orang Maluku telah mengalami diskriminasi, dan mendapat perlakuan yang tidak adil bahkan tidak manusiawi. Nyawa orang Maluku tidak ada harganya sama sekali dimata Sukarno, sehingga Sukarno lebih memilih untuk bersikap acuh tak acuh terhadap tindak kekerasan yang sedang dialami oleh orang-orang Maluku yang notabene adalah warga Negara Republik Indonesia juga yang memiliki hak yang sama dan sederajat dengan Warga Negara Republik Indonesia lainnya untuk mendapat perlindungan sepenuhnya dari Sukarno sebagai Presiden Negara Republik Indonesia.

Bahkan Sukarno mengambil sikap negative dengan tidak memberikan persetujuan dan menyatakan sebagai suatu tindakan separatis terhadap permohonan Mr. Johannes Latuharhary dalam jabatannya sebagai Gubernur Daerah Maluku pada waktu itu untuk membuka kantor Gubernur Daerah Maluku di pulau Jawa dan di pulau Sumatera supaya segala persoalan di daerah Republik Indonesia tentang orang-orang Maluku yang sedang mengalami tindak kekerasan pada saat itudapat ditangani oleh Gubernur Daerah Maluku yang untuk sementara sedang berdomisili di jakarta.(de Fretes,2007: 82).

Kebencian Yang Mematikan

Sikap Pasif dan negatif yang ditunjukkan oleh Sukarno dalam kedudukannya sebagai Presiden Negara Republik Indonesia dalam menangani peristiwa pembantaian orang-orang Maluku initelah memunculkan beragam pendapat tentang alasan yang melatarbelakangi keputusan Sukarno untuk mengambil sikap yang sedemikian itu.

Alasan dimaksud, mungkin dapat ditemukan dalam pandangan Sukarno sendiri tentang orang Maluku sebagaimana yang diungkapkan oleh Horst Henry Geerken dalam halaman 161 dari bukunya yang berjudul ‘A Magic Gecko Peran CIA Di Balik Jatuhnya Soekarno’yang diterbitkan di Jakarta pada tahun 2011 oleh penerbit Kompas bahwa, “Karena itu, mudah memahami kebencian Soekarno terhadap masyarakat Ambon.

Di mata Soekarno, orang Ambon lebih rendah daripada yang terendah, kolaborator Belanda sehingga dianiaya dengan kekerasan oleh pasukannya”.Kebencian Sukarno terhadap orang-orang Maluku juga tampak dalam pidato-pidato Sukarno yang sangat anti-Sekutu saat masa pendudukan Jepang di Hindia-Belanda pada tahun 1942. Dimana orang-orang Maluku di-cap dan/atau di-stikmatisasi sebagai kaki tangan sekutu yang anti-kemerdekaan, sehingga orang-orang Maluku dimusuhi oleh semua orang lain.

Puncak dari kebencian Sukarno terhadap orang Maluku adalah ketika orang Maluku memilih untuk tidak bergabung dengan Negara Republik Indonesia melalui pembentukan Negara sendiri yaitu, ‘Republik Maluku Selatan’ (RMS) pada hari selasa, tanggal 25 April 1950. Setelah sehari sebelumnya yaitu, pada hari senin, tanggal 24 April 1950, dilakukan plebisit dan/atau referendum pra gabung sebagai salah satu mekanisme implementasi ‘hak untuk menentukan nasib sendiri’ (the right of self-determination) dalam arti pasif dari rakyat Maluku melalui pemungutan suara negative oleh ‘Dewan Maluku Selatan’ (DMS) disuatu negeri muslim yang bernama TULEHU (Parker, J. D. Karen (1996) Republik Maluku: The Case For Self-Determination. Los Angeles-California: HLP/IED & AHL, h. 15).

Sekalipun tindakan orang Maluku tersebut di atas adalah sesuai dengan berbagai perjanjian yang dihasilkan dalam ‘Komperensi Meja Bundar’ (KMB) di Den-Hag Negeri Belanda pada hari selasa, tanggal 27 desember 1949 yang salah satu dari perjanjian itu adalah Perjanjian Ketiga tentang ‘Langkah-langkah Peralihan dan/atau Transisi’ (transition strides), dan Konstitusi Negara ‘Republik Indonesia Serikat’ (RIS) tahun 1950 yang masih sah berlaku pada saat itu, tetapi Sukarno yang lebih memilih untuk mempertahankan Maluku agar tetap berada dalam kekuasaan Indonesia kemudian mengirimkan sebanyak kurang lebih 20.000 orang tentara Angkatan Darat, 3 unit pesawat pembom Angkatan Udara, dan 14 unit kapal perang Angkatan Laut dalam suatu ‘operasi gabungan’ (Joint Operation) yang pertama dan yang terbesar sejakberdirinya Negara Republik Indonesiadengan nama ‘Gerakan Operasi Militer’ (GOM) III guna menggagalkan pelaksanaan hak untuk menentukan nasib sendiri dari rakyat Maluku tersebut di atas.Serangan yang melanggar ketentuan Hukum Internasional ini (AGRESSION) telah membunuh sebanyak kurang lebih 10.000 orang Maluku. AGRESI ini, dengan sendirinya telah menambah panjang daftar orang Maluku yang harus mati dibunuh oleh orang Indonesia lainnya hanya untuk memenuhi ambisi Sukarno dalam mempertahankan keutuhan Negara Republik Indonesia, dan kemudian – pada saat ini: Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (Geerken, 2011: 161).

Namun demikian, untuk memikat hati orang-orang Maluku agar tetap berada dalam bingkai ‘Negara Republik Indonesia’ (sekarang, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)) dengan melupakan peristiwa pembantaian orang-orang Ambon tersebut di atas, maka Sukarno membuat paradoks melalui kalimat,‘Indonesia tanpa maluku bukan Indonesia’. Suatu kalimat yang hingga saat ini – dan mungkin, nanti untuk seterusnya–selalu diucapkan oleh para avonturier, oportunis, dan hipokrit secara berulang-ulang seperti burung beo dan/atau burung Kakaktua.

Sesunguhnya, paradoks tersebut di atas telah membuktikan dengan sendirinya karakter Sukarno sebagai seorang manusia yang tidak konsisten antara kata dengan perbuatan seperti ungkapan dalam peribahasa, lain dibibir, lain dihati dan/atau bicara Laeng, biking Laeng, untuk menyatakan dengan secara lebih halus, perbuatan menipu/berbohong/parlente. Akan tetapi -apapun juga alasan pembenarnya -berbohong demi keutuhan Negara Republik Indonesia sama saja dengan mendirikan Negara Republik Indonesia diatas dasar kebohongan.

Jika faktanya adalah sebagaimana yang demikian, maka tanggal 17 Agustus sebenarnya tidak layak untuk dirayakan sebagai hari kemerdekaan dengan penuh suka cita dan dengan penuh gegap gempita, tetapi lebih layak untuk diperingati sebagai “HARI PERKABUNGAN” dengan penuh duka cita dan dengan penuh khitmat – kecuali orang Maluku telah kehilangan ‘rasa memiliki’ (sense of belonging) terhadap sesama orang Maluku sendiri -sebab setelah tanggal 17 Agustus 1945 hingga saat ini, dalam rentang waktu 74 tahun, yang ada hanya ‘kebencian, kebohongan, dan pembunuhan’ (sebagai ‘kata kunci’(key-word)) yang kian hari menjadi kian tidak terkendali dari waktu ke waktu.


Penulis : Hendry Reinhard Apituley, SH. MH, Dosen Pendidikan Kewarganegaraan Politeknik Negeri Ambon.

Sumber : http://tabaos.id/sejarah-mencatat-17-agustus-1945-adalah-hari-perkabungan-bagi-orang-maluku/

Minggu, 30 Mei 2021

Sejarah Singkat Pandemi Mematikan di Dunia


Apa itu pandemi ?

Pada 2010, WHO mendefinisikan pandemi sebagai “penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia” yang mempengaruhi banyak orang.

Sedangkan menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention, disingkat CDC) adalah “epidemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua, biasanya mempengaruhi banyak orang.”

Plague atau wabah merupakan istilah umum untuk penyakit epidemi yang mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi, atau lebih luas lagi.

Sepanjang perjalanan sejarah, manusia sudah mengalami beragam wabah atau pandemi yang mematikan yang telah menghilangkan banyak nyawa. Melansir Aljazeera, berikut ini adalah pandemi terburuk yang pernah terjadi mulai dari abad ke-6 hingga sekarang.

1.   Wabah Justinian (541-549)

Korban yang meninggal akibat wabah ini sekitar 30-50 juta orang dan yang menjadi penyebabnya adalah wabah bubonik. Nama wabah ini dinamai menurut nama Kaisar Bizantium, yaitu Justinian I. Sang kaisar terkena penyakit tersebut tetapi sembuh. Penyakit itu disebarkan ke manusia oleh hewan pengerat yang membawa kutu yang membawa bakteri, Yersinia pestis.

2.   Wabah Maut Hitam/Black Death (1346-1353)

Terjadi di abad ke-14, pandemi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang dibawa oleh tikus ini mengakibatkan sekitar 75-200 juta meninggal. Black Death melanda Eropa, Asia dan Afrika dan tercatat sebagai wabah penyakit paling mematikan dalam sejarah. Di namai Black Death, karena orang-orang yang terinfeksi memperlihatkan bintik-bintik hitam yang terbentuk di kulit mereka. Wabah ini kembali setiap 12 tahun atau lebih sampai sekitar 750, akhirnya memusnahkan setengah dari populasi Eropa, yaitu sekitar 100 juta orang.

3.    Pandemi Kolera Ketiga (1852-1860)

Wabah selanjutnya yang tak kalah mematikannya adalah pandemi kolera ketiga yang terjadi pada abad ke-19. Korban yang meninggal sekitar 1 juta orang. Menurut WHO dari tujuh epidemi kolera, epidemi ketiga yang terjadi pada tahun 1852 adalah yang memiliki dampak global terbesar. Wabah ini berasal dari India sebelum akhirnya menyebar ke seluruh Asia dan sebagian Eropa, Amerika Utara dan Afrika. Penyebabnya adalah kolera yang diakibatkan karena mengkonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholera. Bakteri ini bisa mengakibatkan  penyakit diare akut yang dalam beberapa jam dapat membunuh jika tidak diobati.

4.   Pandemi Flu Rusia (1889-1890)

Pandemi ini dianggap sebagai pandemi terhebat  di akhir abad ke-19. Korban yang meninggal sekitar 1 juta orang. Pandemi flu ini dinamakan flu Rusia atau flu Asia karena kemungkinan besar asalnya dari kawasan Asia Tengah Kekaisaran Rusia. Pandemi ini disebabkan oleh subtipe virus influenza A H3N8. Keberadaan moda transportasi modern, seperti rel kereta api serta perjalanan lintas Atlantik dengan perahu menyebabkan pandemi ini menyebar dengan cepat.

5.   Pandemi Kolera Keenam (1899-1923)

Terjadi pada tahun 1910, pandemi kolera keenam juga berasal dari India dan merengut 800.000 nyawa. Sebelum menyebar ke berbagai bagian Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa dan Rusia, penyakit ini sudah menewaskan ratusan ribu orang.

6.   Pandemi Flu Spanyol (1918-1919)

Sebelum menyebar ke seluruh dunia dan menginfeksi setidaknya sepertiga dari populasi global, kasus pertama tercatat pada musim semi 1918 yang terjadi di antara tentar AS selama Perang Dunia I. Penyebabnya adalah virus Influenza H1N1 atau flu burung yang berasal dari unggas. Walaupun jumlah total korban virus ini tidak diketahui pasti, banyak yang menyebutkan diperkirakan lebih dari  50 juta orang dan beberapa mencapai 100 juta korban tewas. Pandemi ini menjadi wabah yang paling mematikan sejak Black Death. Meskipun di Amerika Serikat disebut flu Spanyol, tapi para peneliti tidak bisa mengidentifikasi daerah asal penyakit tersebut. Namun dilaporkan kasus penyakit ini menyebar secara luas di Spanyol. Karena tidak ada vaksin maka terjadi gelombang kedua yang dibawa oleh para tentara yang kembali.

7.   Flu Asia (1956-1958)

Pada tahun 1956 kasus pertama flu Asia teridentifikasi di China kemudian menyebar ke Singapura, Hong Kong, dan AS. Dilaporkan juga menyebar hingga India pada tahun 1957. Penyebabnya adalah virus influenza subtipe H2N2 dan mengakibatkan setidaknya 1,1 juta nyawa melayang. Menurut beberapa studi, pandemi ini  berasal dari strain virus flu burung dan manusia. Terjadi gelombang kedua, tetapi penyebaran infeksinya melambat sesudah pengembangan vaksin pada Agustus 1957.

8.   Pandemi Flu Hong Kong (1968-1969)

Penyebab pandemi ini adalah virus influenza A – H3N2, subtipe H2N2. Pada Juli 1968 dilaporkan kasus pandemi pertama di Hongkong. Setelah terjadi wabah di Singapura dan Vietnam, virus ini menyebar dalam waktu 12 minggu bagian dunia lainnya sampai ke Afrika dan Amerika Serikat. Korban meninggal sekitar 1 juta orang. Variasi H3N2 kemungkinan muncul sebagai  mutasi dari flu Asia sebelumnya pada tahun 1956. Virus H3N2 masih beredar sampai sekarang sebagai virus influenza A musiman.

9.   Pandemi HIV / Aids (1981-sekarang)

Penyebab pandemi ini adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini menyerang sel yang membantu tubuh melawan infeksi. Jika tidak diobati, bisa mengakibatkan penyakit, AIDS. HIV menyerang dan menghancurkan sel CD4 atau T-Helper, sejenis sel darah putih dalam sistem kekebalan. Korban meninggal diperkirakan sudah mencapai 32 juta.

10. Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) (2002-2003)

Pandemi ini disebabkan oleh SARS-CoV yang menurut CDC merupakan jenis virus corona dari reservoir hewan yang belum pasti, bisa jadi kelelawar, yang menyebar ke hewan lain (musang) dan manusia.  Kasus pertama terjadi pada tahun 2002 di selatan China, tepatnya di  Provinsi Guangdong. SARS-CoV setidaknya menyebar ke 26 negara dan menginfeksi lebih dari 8.000 orang, walaupun jumlah kematiannya tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan pandemi lainnya.

11. Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) (2012-sekarang)

Salah satu jenis virus korona, MERS-CoV, pertama kali diidentifikasi pada 2012di Arab Saudi. Virus Corona merupakan keluarga besar virus yang bisa mengakibatkan penyakit mulai dari flu biasa sampai SARS. Korban yang meninggal sekitar 858 jiwa. Sampai Januari 2020 sudah 2.519 orang yang terinfeksi virus tersebut. Tingkat kematian MERS-CoV sangat tinggi dibandingkan dengan virus corona lainnya, dengan hampir 35 % dari mereka yang tertular meninggal.

12. Pandemi Corona Virus (Covid-19) (2019-sekarang)

Pada tahun 2019, dunia digemparkan dengan pandemi COVID-19 dan orang yang terinfeksi masih terus bertambah sampai sekarang. Tenaga medis di dunia juga sudah kewalahan untuk menangani korban-korban yang terinfeksi. Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19. COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan.  Virus baru dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. COVID-19 ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia. Data dari Kementrian Kesehatan RI sampai dengan tanggal 28 Mei 2021 kondisi kasus pandemic Covid-19 di Indonesia yaitu : TOTAL KASUS = 1,81 juta, SEMBUH = 1,66 juta dan MENINGGAL DUNIA = 50.262.


Sumber : https://blog.wecare.id/2020/09/sejarah-pandemi-11-pandemi-paling-mematikan-sebelum-covid-19/

Kamis, 01 April 2021

The Battle of Gorong

    


Tanggal 21 Mei, 229 tahun lalu, rakyat Seram Timur terlibat dalam perang dengan Koalisi Pasukan Belanda antara 21-23 mei 1791. Tepatnya di pantai sekitar negeri Ondor dan Kataloka di Pulau Gorom. 
Perang itu disebut Belanda sebagai Gorong Oorlog atau The Battle of Gorong.  Perang ini adalah rangkaian dari perang 30 tahun Sultan Nuku. Lebih dari saparuh masa perang Nuku terjadi di Seram Timur. Orang-orang Seram Timur terkenal yang paling loyal dalam melindungi Nuku dari kejaran Belanda dan Ternate.

Belanda cukup frustasi kehilangan banyak gulden, pasukan, dan stabilitas perdagangan di kawasan timur saat pengejaran Nuku. untuk itu,  dibutuhkan pasukan yang lebih besar dengan aramada yang kuat. maka pada 1789 tiga buah kapal didatangkan dari Belanda ke Batavia untuk menyiapkan ekspedisi ke Maluku. 

Ekspedisi di Pimpin Laksamana senior A.H.C. Straring yang saat itu sedang dalam perang dengan Sultan Palembang, dipanggil ke Batavia untuk kemudian menunggu kedatangan tiga kapal dari Negeri Belanda.


Pada bulan Desember 1790 armada dari Batavia menuju Ternate, total ada 4 Kapal dengan 700 pasukan Belanda. 4 kapal itu adalah:Kapal Thetis, Bellona, Markurius dan Swalluw. masing-masing dipimpin Kapten Silvester, Kapten Hartman, Kapten Isaak Welter Gobius,  dan Kapten Wolterbeek. semua dibawah komando Laksamana Straringh. Armada tiba di Ternate pada Januari 1791 dengan terlebih dahulu singgah di Makassar. 3000 pasukan ternate begabung menuju Ambon. Residen Ambon dan Saparua manambah beberapa kora-kora lokal untuk bergabung dalam pasukan menuju Banda. 

Pada bulan Mei 1791 pasukan besar itu menuju Pulau Gorom titik dimana Sultan Nuku berada. Nuku yang sebelumnya berada di Negeri Rarackit/Kilbat saat ini, harus memusatkan titik kumpul pasukan disana. Nuku ditemani dua orang kepercayaan:Orangkaya Lukman dari Negeri Kelu dan Imam Sarasa dari Negeri Geser. setahun sebelumnya, kepala dua orang ini dihargai 500 gulden masing-masing bagi yang bisa membunuh mereka. harga kepala sultan Nuku 1000 gulden. Pasukan Straringh terlebih dahulu membakar beberapa negeri di seran rey, Geser, urung, guli-guli, kilmuri. setelah itu menuju titik utama. Gorom.  


Beberapa Kampung seperti Ondor, Kataloka, dan sekitarnya menyambut tepat di depan Negeri Ondor. Belanda membakar beberapa desa dan merebut benteng lokal di Dullah, Ondor dan Kelalir. Setelah itu menuju Kataloka dimana konsentrasi Nuku dan sebahagian besar pasukannya berada. 

Pada tanggal 23 Mei 1791 pucak pertempuran terjadi di pantai Kataloka. Dua Kapal utama Belanda di bakar. Kapten Gobius terjebak di sungai kecil antara Ondor dan Kataloka. pasukan Nuku dan Raja Bessy dari dua arah berlawanan menyerang pasukan Gobius. Kapten yang berpengalaman dalam perang Eropa itu tumbang dengan luka tembak di paha kiri dan ditombak pada perut kiri. naas meniggal ditempat. ratusan pasukan Gobius mati dipantai Gorom. Kapten Walterbek menyusul membantu tetapi terlambat. Laksamana Straring menarik mundur pasukan dan kembali ke Banda.

Sejak saat itu, nyaris tak ada perlawanan berarti pasukan Belanda di Seram Timur sampai perebutan kembali tahta Nuku di Tidore. Kekalahan Belanda di Gorom adalah sejarah yang tidak dicatat dan hilang dari ingatan kolektif orang Maluku, tapi tidak untuk orang-orang di Pulau Gorom.


Sumber :  Cocon Rumalutur , 

Selasa, 02 Maret 2021

MARKAS KOREM 151/BINAIYA, DARI MASA KE MASA

Markas Korem 151/Binaiya yang terletak di jalan Ahmad Yani Nomor 1 Kelurahan Batu Gajah Kecamatan Sirimau Kota Ambon, merupakan salah satu saksi sejarah keberadaan kaum penjajah khususnya pemerintah Kolonial Belanda dengan segala sejarah kelamnya di wilayah Maluku.

Dalam perkembangannya tercatat bangunan yang saat ini menjadi salah satu masrkas satuan utama penyelenggara fungsi teritorial Kodam XVI/Pattimura itu pernah berfungsi sebagai berikut :

1. Rumah pejabat Resident van Ambon dan Gouverneur van de Molukken.  Yaitu rumah dari pejabat yang mengepalai wilayah yang sesuai dengan pembagian daerah administratif di pemerintahan Hindia Belanda. Pada massa ini yaitu era sebelum tahun 1930an bangunan ini dibangun dengan arsitektur Belanda dimana di sekelilingnya dibuat taman yang dipenuhi dengan pohon-pohon yang rindang, rerumputan serta beberapa tugu dan kolam ikan. Semua ini sudah sebagaimana mestinya dimiliki oleh pejabat tinggi Belanda di massa itu, Taman di sekitar bangunan ini sering disebut Batoe Gadjah Park yang terhubung dengan Hotel Anggrek dan lapangan tenis di depannya. Setiap tanggal 31 Agustus, pejabat  Gouverneur van de Molukken sering menggelar perayaan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina yang diisi dengan pagelaran kesenian oleh kelompok-kelompok paguyuban masyarakat kota Ambon. 





2. Kantor Pemerintah Daerah Maluku Selatan. Pasca Konferensi Meja Bundar (KMB, Desember 1949) memasuki tahun 1950 terjadilah peralihan kekuasaan dari pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintah 

Republik Indonesia Serikat

 (RIS)
, bangunan ini beralih funsi sebagai kantor Pemerintah Daerah Maluku Selatan yaitu daerah yang dibawahi oleh pemerintahan negara bagian 

Negara Indonesia Timur

 (NIT) dimana pada saat itu dijabat oleh Mr. Johanis Hermanus Manuhutu sebagai kepala daerah dan Mr. Albert Wairizal sebagai wakil kepala daerah.

3. Kantor pemerintahan Republik Maluku Selatan. Akibat adanya pergolakan politik pasca perubahan RIS menjadi Republik Indonesia yang otomatis menghapus keberadaan seluruh negara bagian RIS termasuk NIT, maka terjadilah pengambilalihan bangunan ini sebagai kantor pemerintahan Republik Maluku Selatan yang diproklamirkan pada tanggal 25 April 1950 di halaman bangunan ini. Bangunan tersebut saat itu juga berfungsi sekaligus sebagai kantor Dewan Maluku Selatan.




4. Markas Kodam XV/Pattimura. Pasca pemberantasan RMS oleh pemerintah RI, maka pada tanggal 5 April 1960 dalam upacara resmi Pataka Kodam XV/Pattimura diserahkan oleh MKN/KASAD Mayjen A.H. Nasution kepada Pangdam XV/Pattimura (waktu itu KDM-MIB) Kolonel Herman Pieters sesuai Skep MKN/KASAD Nomor : KPTS – 485 / 5 / 1960 tanggal 7 Mei 1960. Bangunan ini beralih fungsi sebagai Markas Kodam XV/Pattimura yang membawahi Maluku dan Irian barat (MIB).


5. Markas Korem 174/Pattimura. Sesuai dengan perkembangan konsepsi strategis Hankam umumnya dan TNI AD khususnya, serta berdasarkan kebijakan Panglima ABRI tentang reorganisasi Angkatan Darat maka beberapa Komando Utama (Kotama) TNI AD termasuk kodam XV/Pattimura mengalami likuidasi sesuai tuntutan kebutuhan organisasi yang dilaksanakan pada tanggal 22 september 1984. Kemudian, berdasarkan Keputusan KASAD tanggal 26 Desember 1984 dan direalisasikan dengan Surat Keputusan Pangdam XV/Pattimura tanggal 8 Januari 1985, maka terbentuklah Korem 174/Pattimura yang wilayahnya meliputi keseluruhan wilayah Kodam XV/Pattimura. Pada tanggal 6 Mei 1985 bertempat di Ambon secara resmi Kodam XV/Pattimura dilikuidasi dengan penyerahan kembali Pataka Kodam XV/Pattimura oleh Brigjen TNI H. Simanjuntak kepada KASAD Jenderal TNI Rudini. Dengan pertimbangan psikologis dan historis, nama Pattimura tetap dipertahankan sebagai nama Korem yang baru dibentuk dengan melantik Kolonel Inf Soeharsono S sebagai Danrem 174/Pattimura yang pertama. Selanjutnya Korem 174/Pattimura berada di bawah komando Kodam yang baru dibentuk, yaitu Kodam VIII/Trikora, yang berkedudukan di Jayapura.

6. Markas Kodam XVI/Pattimura.  Konflik bernuansa SARA yang terjadi di Maluku pada tanggal 19 Januari 1999 telah menimbulkan instabilitas dan kekacauan sosial bersifat horisontal yang skalanya semakin meningkat dan sulit untuk dikendalikan. Menyikapi kondisi daerah tersebut dan dalam rangka menata kembali Organisasi TNI, pada tanggal 7 Mei 1999 dilaksanakan likuidasi Korem 174/Pattimura, dan dibentuk Kodam XVI/Pattimura pada tanggal 15 Mei 1999 di Ambon dalam suatu Upacara Militer dengan Irup Kasad Jenderal TNI Subagyo HS. Pada kesempatan upacara tersebut Kasad secara resmi melantik Brigjen TNI Max M.Tamaela sebagai Pangdam XVI/Pattimura yang pertama dan hari yang bersejarah tersebut selanjutnya dirayakan sebagai Hari Ulang Tahun Kodam XVI/Pattimura.


7. Markas Korem 151/Binaiya. Guna mewujudkan kondisi Maluku yang kondusif sesuai yang diharapkan, maka sejak tanggal 30 Mei 2002 sesuai kebijakan Panglima TNI di bidang Pertahanan dan Keamanan Wilayah Maluku dan Maluku Utara dikendalikan oleh Panglima Komando Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) berpangkat Mayor Jendral TNI. Kemudian pada tanggal 12 Juli 2002 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Nomor : Keppres 88/VII/2002 tentang Pembentukan Koopslihkam, sejak itu, semua satuan baik TNI maupun POLRI yang berada di wilayah Maluku dan Maluku Utara berada di bawah kendali operasi Pangkoopslihkam yang dijabat oleh Mayor Jendral TNI Djoko Santoso. Seiring berjalannya waktu dan disertai dengan kondusifnya situasi keamanan di Wilayah Maluku, maka Kepala Staf TNI AD mengeluarkan Keputusan Nomor : Kep / 10 / III / 2003 Tanggal 13 Maret 2003 tentang Pembentukan Korem 151/Maluku. Semenjak itu setiap tanggal 13 Maret diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Korem 151/Maluku. Berdasarkan Keputusan KASAD Nomor : Kep / 33 / VI /2003 Tanggal 3 Juni 2003 tentang Pengesahan Penggunaan Lambang Kesatuan Dhuaja Korem 151/Binaiya. Dan sejak itu pula nama Korem 151/Maluku berubah menjadi Korem 151/Binaiya.  

 





Dari berbagai sumber

Rabu, 24 Februari 2021

MENELUSURI BEKAS KEKEJAMAN TENTARA JEPANG DI PULAU BABAR MALUKU BARAT DAYA


Masa pendudukan Jepang di Nusantara yang saat itu masih bernama Hindia Belanda dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta.

Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Jerman Nazi. Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga dan mengalihkan ekspor untuk Kekaisaran Jepang ke Amerika Serikat dan Inggris. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal pada Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan hampir seluruh wilayah Asia Tenggara pada bulan Desember di tahun yang sama. Pada bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942. Pengalaman dari penguasaan Jepang di Nusantara sangat bervariasi, tergantung tempat seseorang tinggal dan status sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan tanpa alasan dan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran dalam penguasaan Jepang. Tak terkecuali masyarakat Maluku khususnya di wilayah Selatan yaitu di pulau Babar yang juga mengalami penderitaan ini.


MASBUAR

Jepang dari Saumlaki menuju Tepa diperkirakan pada tahun 1942. Dan menduduki jemaat/ desa-desa yang ada di pulau Babar salah satunya adalah Masbuar. Proses ini terjadi karena wilayah Babar dan lainnya merupakan perbatasan dengan Australia yang merupakan sekutu/ lawan. Sebelum kedatangan Jepang ke Masbuar, kehidupan warga Jemaat/ masyarakat adalah seperti biasa melakukan pekerjaan senbagai petani. Hal ini mengalmmi perubahan ketika Jepang hadir dan berkuasa di Indonesia (baca Masbuar).

Guru Djoemat saat itu adalah Eduar Lessi yang biasa disebut  “WAKIL”/ Ketua Klasis dan meikah dengan salah seorang wanita yang berasal dari Masbuar. Kehadiran Jepang di Masbuar membuat mereka sering klai melarikan diri ke “puton” (Hutan Masbuar)

Kegiatan Ibadah berjalan seperti biaya yaitu ibadah “Kunci Usbu” pada hari Sabtu, Ibadah Minggu (dilkasanakan pagi hari) dan pada hari Rabu Ibadah “Sharing”. Dan tidak ada penghormatan khusus kepada bendera Jepang ketika mau beribadah kepada Tuhan. Jumlah Jemaat saat itu diperkirakan berjumlah 85  orang.

Gedung Gereja pada saat itu tidak dijadikan sebagai Markas Jepang. Jepang bermarkas di “ Kukkie Onnie” (Pinggir Tanjung). Namun gereja Masbuar pada saat itu dibakar oleh Jepang, dan untuk sementara waktu jemaat saat itu beribadah di sebuag gubuk yang terbuat dari bambu yang cukup kecil ukurannya. Hal ini di sebabkan karena ada beberapa orang Masbuar yang bersepakat dengan orang Emplawas melakukan perlawanan dan pembunuhan terhadap orang Jepang. Selain gereja dibakar ada 11 orang Masbuar di bawa ke Tela dan dibunuh di “Utie Onnie ( Pinggir Pisang).  11 orang itu adalah : Hendrik Wunnara Romsery (Kepala Desa), Tokoh Adat; Dolfinus Naikyera Romsery, Aser I Iwirnai Tiwuly, Yunus Wurwari Okmemera, Petrus Aresi Okmemera, Marinyo; Welem Kiaya Okmemera, Amus Nawoi Okimekma, Paulus Okimekma, Dirk Okimekma, Yulianus Okea Okololy, dan Markkus Newna Gergora.

Khusus Welem Kiaya Okmemera dibunuh dengan cara : diikat diatas bangku, disiram dengan Bensin, ditutupi dengan daun kelapa lalu dibakar hingga hangus. Sedangan 9 orang lainnya dibunuh dengan cara di tikam dengan “bayonet” (piasu panjang yang ada di unjung senjata) dan satu orang lainnya ditembak karena berusaha melarikan diri. Mayat ke -10 orang tersebut kemudian dibuang di tepi pantai Tela yang bernama “Nyuk Metti” (kolam laur). Dan seorang lainnya (tidak diketahui namanya) dikuburkan pada tempat yang terpisah yang bernama Kukkie Onnie (Pinggir Tanjung). Namun anehnya mayat-mayat (10 orang ) tersebut selama sehari penuh tidak berpindah/ hanyut.  Mayat-mayat tersebut tetap ada di “nyuk Metti” akhirnya pemerintah Jepang memerintahkan orang Tela agar mengumpulkan kayu untuk membakar mayat-mayat tersebut. Namun hal itu tidak disetuji oleh Kepala Desa Tela yang bernama Thomas Onarely, dan akhirnya disepakati bahwa mayat-mayat tersebut dikuburkan secara masal  yang bernama “ Ayanne” ( Lihat Gmabar 4, 5). Tempat tersebut telah dijadikan kuburan Umum hingga sekarang ini.

Kebijakan pemerintah jepang saat itu adalah memerintahkan warga jemaat Masbuar khususnya laki-laki dewasa membawa makanan ke Wakpapapy yang saat itu merupakan markas Jepang. Tidak ada “Rumah Panjang” yang dibangun oleh Jepang dengan demikian tidak ada pelecehan seksual di Masbuar. Sekolah yang ada saat itu hanyalah Sekolah Rakyat yang kemungkinan berpusat di gereja. Guru Djoemat ( Eduar Lessi) dibunuh di Wakpapapy dengan cara ditembak oleh tentara Jepang.


TELA

Sejarah Jepang di Tela tidak jauh berbeda dengan Masbuar. Jarak antara Tela dan  Masbuar hanya 3 Km. dengan demikian rentang kendali Jepang terhadap Tela dan Masbuar mudah dilakukan.

Keberadaan warga Jemaat sebelum kedatangan Jepang adalah biasa-biasa saja.  Mereka beraktifitas pada umumnya sebagai Petani . Namun keberadaan ini berubah ketika Jepang datang dari Saumlaki menuju Pulau Babar dan salah satu tempat persinggahan/ posko mereka ada di Tela yang bernama “Utie Onnie” (pinggir pisang) dalam bentuk seperti goa (lih. Gambar 2) namun tempat tersebut  sekarang ini telah tertutup oleh tanah. Ada dua kompi Jepang (tentara Jepang ) yang datang ke Tela yaitu: “Jangker” (Angkatan Laut) dan “Binsang “ (Angkatan Darat ), namun yang menetap di Tela adalah “Jangker”. Yang dipimpin oleh Panglima SIN HO HA RA yang biasa di sebut “tuan besar”.

Guru Djoemat yang bertugas di Tela saat itu adalah Dolfinus Mustamu. Jumlah naggota jemaat saat itu kurang lebih 700 jiwa. Kegiatan peribadatan berjalan seperti biasa yaitu pada hari Minggu (Ibadah Minggu), Sabtu “Ibadah Kunci Usbu” dan hari Ibadah “ Sharing “. Namun harus diakui bahwa keberadaan warga jemaat saat itu penuh dengan ketakutan dan kegelisahan sehingga ada yang tinggal di kebun,hutan, dan tempat ibadah (gereja darurat) juga didirikan di tempat yang bernama “Nuryemna/e” (tempat kenari). Bapak Dolfinus Maustamu meninggal di wakpapapi dengan cara ditembak. Hal ini disebabkan karena kematian “tuan besar dan tiga SPION-nya  yaitu Itariak, Muhamad, dan Abdulah” yang dibunuh oleh Kepala Desa dan warga masyarakat Emplawas dan hasutan dari Kepala desa Tela Thomas Onarely yang menuduh Dolfinus Maustamu “sumpah-sumpah orang Jepang, membawa kabar ke Ambon ” hal ini dilihat sebagai ancaman, sehingga Kurang lebih 600 warga jemaat/ masyarakat Emplawas mati ditembak, 11 orang Masbuar mati di Tela {bnd bagian Masbuar} dan 4 orang (Dolfinus Mustamu, Mustamu Ellans statusnya lebih tinggi dari guru djemat dan berhak melakukan Perjamuan Kudus, Ibrahim orang Emplawas dan Eduar Lessi  wakil/Klasis).


Menurut cerita kematian SIN HO HA RA (tuan besar) adalah sebagai berikut:

“Suatu hari SIN HO HA RA memanggil kepala desa Emplawas (tidak diketahui namanya) datang ke Tela untuk melakukan proses jual beli, penawaran harga Tabaku milik masyarakat Emplawas. Harga yang di sepakati adalah Rp.2000 per kilo. Kepala Desa  kembali ke Emplawas menghimpun masyarakat dan mengajak mereka untuk mengumpulkan tabaku yang nantinya di jual kepada SIN HO HA RA. Kemudian Sin HO HA RA memerintahkan Itariak, Muhamad dan Abdulah  untuk membeli Tabaku di Emplawas. Sesampainya mereka di Emplawas Itariak ternyata hendak membeli tabaku dengan harga Rp 1000 per Kg.  Terjadi pertentangan diantara mereka. Kepala Desa tetap mempertahankan Rp. 2000 sedangakan itariak Rp. 1000. Hal ini di laporkan kepada SIN HO HA RA. Kemudian SIN HO HARA bersama ketiga orang tersebut menuju Emplawas. Sesampainya mereka di Emplawas SN HO HA RA menampar kepala desa Emplawas. Hal ini menjadi pemicu akhirnya SIN HO HA RA di bunuh dengan cara di tikam demikian juga ketiga orang lainnya”

Tidak ada “rumah panjang “ di Tela. Tidak ada perempuan yang dijadikan sebagai korban seksual hal ini karena SIN HA HA RA tidak setuju dengan cara-cara tersebut.

Kebijakan Jepang pada saat itu adalah setiap warga jemaat laki-laki (dewasa) harus mengantarkan makan , sayur-sayuran ke Wakpapapy. Hal ini dirasakan sangat  dan menyiksa dan memberatkan. Ada persungutan dari warga jemaat dan hal ini dilihat sebagai “bom waktu” tetapi tidak ada perlawanan yang dilakukan oleh orang Tela kepada Jepang.

Staf Desa saat itu adalah: Thomas Onarely (Kepala Desa), Amabilis Imea (Kepala Soa Letui) dan Petrus Lukmetiabla (Kepala Soa Lekwari).

Selama keberadaan Jepang di Tela: Gereja tidak dirusak dan tidak dijadikan sebagai markas dan tidak ada larangan beibadah. Seluruh proses pendidikan berpusat di gedung Gereja. Sebagai bukti keberadaan Jepang di Tela , ada juga piring-piring tua yang dianggap sebagai peninggaln jepang. Piring-piring ini di temukan di depan Goa Utie Onnie.


WAKPAPAPI

Jepang hadir di Wakpapapi pada Tahun 1942 s/d Tahun 1945, selanjutnya mereka membuat   Markas atau Basis Utama di Wakpapapi sebelum menuju ke Desa Emplawas. Ketika Tentara Jepang berada di Basis Utama (Desa Wakpapapi) mereka memasang Radio untuk berkomunikasi dengan Desa Masbuar. Selanjutnya kedua desa itu selalu dipantau oleh tentara Jepang. Tentara Jepang melakukan segala aktivitas (berkebun atau bercocok tanam) tetapi seluruh pekerjaan itu menggunakan tenaga masyarakat Wakpapapi dengan cara kekerasan. Dan melakukan ibadah pun secara tersembunyi agar tidak di ketahui oleh tentara Jepang. Guru jemaat yang melayani pada saat itu adalah Bpk. ARNOL TOMASOA, Kepala Desa pada saat itu  DAUD  UNITLY dari Rumah Emlululi dan Staf Saniri Bpk. HENDRIK ORAPLEAN dari mata Rumah Emlululi.


Tentara Jepang Memerintah Masyarakat Wakpapapi dengan kejam. Masyarakat dipaksa  memikul peti-peti peluruh, beras berkarung-karung dari perkampungan naik ke gunung besar dengan menempuh jalan ± 10 km. Semua perintah wajib dilaksanakan. Namun, pajak tidak diberlakukan oleh tentara Jepang  kepada masyarakat. Sekalipun demikian, diberlakukan larangan beribadah di gedung gereja. Gereja dan sekolah pada saat itu masih bersifat darurat. Mereka beribadah dengan tidak merasa tenang karena tentara jepang selalu datang mengintai mereka. Gereja tidak digunakansebagai gudang atau markas. Alasannya,  jangan sampai ketika pesawat tentara sekutu melewati lokasi kemudian menjatuhkan Bom. Kegiatan ibadah di gereja tetap jalan dan di jaga oleh para Tuagama yang harus siap siaga. Jikalau tentara Jepang tiba-tiba datang, Tuagama segera melaporkan kepada anggota jemaat dan selanjutnya disampaikan kepada Pendeta agar mereka harus cepat-cepat keluar dari gedung gereja untuk mencari keselamatan atau perlindungan menuju kebawa dusun-dusun kelapa ataupun ke kebun-kebun untuk melanjutkan Ibadah dalam bentuk kelompok-kelompok.  Daftar permandian tahun 1914 sampai 1945, tercatat anggota Jemaat pada waktu itu sebanyak + 709 orang.

Dari penuturan beberapa orang tua,  yang selalu menjadi sasaran utama adalah Gereja dan Sekolah. Karena itu,  tentara Jepang lebih memilih lokasi persembunyiannya ke liang-liang batu atau goa dan dipinggiran kali, sehingga dapat bersembunyi, sekaligus bisa mandi, makan dan minum.

Tindakan Jepang yang sangat brutal adalah mengambil perempuan sebagai pemuas nafsu kebiadaban mereka terhadap perempuan-perempuan yang belum menikah (BENJEMINA  MALIHU) dan yang sudah menikah (ADELAIDA ORAPLAWAL)bersama-sama dengan dua perempuan dari Yatoke dan beberapa perempuan dari Emplawas yang dianggap sangat cantik dan mereka tidak di bunuh semuanya tertampung di rumah panjang di asrama tentara.

Kewajiban untuk menghormati bendera atau kaisar tidak ada sama sekali karena masyarakat selalu menghindar apabila kehadiran tentara Jepang di lokasi. Kepala Desa  pada saat itu, DAUD UNITLY akhirnya dibunuh karena dianggap sebagai pemberontak. Ia tidak setuju dengan tindakan kekerasan dan penindasan yang dilakukan oleh Tentara Jepang terhadap masyarakat Wakpapapi. Pekerjaan pribadi masyarakat dibatasi. Kematian DAUD UNITLY disebabkan karena ada “Spion” dari masyarakat dari masyarakat Desa Wakpapapi yang bukan anak negeri (Pendatang).  Ia memberikan informasi kepada Tentara Jepang bahwa Kepala Desa DAUD UNITLY membuat surat kepada Kepala Desa Emplawas untuk sama-sama mengadakan perlawanan kepada Tentara Jepang. Padahal in formasi itu tidak benar. Satu saat,  Kepala Desa  meninggalkan Negeri Wakpapapi menuju ke Pulau Marsela untuk urusan keluarga.  Selesai urusan,  ia menumpangi kora-kora  kembali ke Negeri Wakpapapi,  dan ketika ia turun dari kora-kora (masih di pantai),  ia langsung ditangkap. Matanya langsung diikat dengan sepanggal kain, selanjutnya di bunuh bersama-sama dengan Kepala Soa Tutuwawang. Jenazah keduanya dimasukkan ke dalam satu kolam tersendiri.

Selain pembunuhan terhadap Kepala Desa Wakpapapi (DAUD UNITLY), terjadi juga  pembunuhan terhadap Tiga Pendeta yang sebelumnya sudah ditangkap dan dibawah ke Wakpapapi (Markas Utama Tentara Jepang) antara lain : Pdt. TAHALELE (Jemaat Letwurung) Pdt. MUSTAMU, dan Pdt. LESSI (Pdt. LESSI menikah dengan Anak Perempuan dari Pdt. MUSTAMU) yang berkediaman di Kota Tepa. Pembunuhan itu terjadi pada tanggal 24 Desember 1944  Pukul  16.00. WIT. Sebelum terjadi pembunuhan,  Ketiga Pendeta tersebut Melagukan Thalil 76 : 1 “ ROH JIWA DAN TUBUHKU ”. Seusai menyanyi Pdt. LESSI berdoa. Kemudian penembakan itu atau pembunuhan itu terjadi Pdt. TAHALELE dan Pdt. MUSTAMU masing-masing mendapat satu kali tembakan sedangkan Pdt. LESSI  Tiga kali tembakan kemudian dimasukan dalam satu kolam samping Kuburan Masal OIMEHOIPLAT. Sementara untuk Guru Jemaat  dan keluarganya yang ada di Wakpapapi selamat di tangan Yesus karena menghindar dari sekutu Jepang dan di lindungi oleh anggota Jemaat Wakpapapi.


Beberapa catatan pelengkap lainnya : 


1.  Kuburan OIMEHOIPLAT. (Kuburan Masal Emplawas)  kisah ini secara terperinci dapat di galih lewat Masyarakat Emplawas. Hanya saja karena kuburan ini dan seluruh tragedy kekejaman Tentara Jepang terjadi di basis utama (Wakpapapi) singkat cerita orang-orang Emplawas kurang lebih 700 an masing-masing diikat (anak-anak kecil tidak ditutup mata sedangkan orang dewasa matanya di ikat) selanjutnya mereka di ikat menjadi satu dengan tali Nyimu berjejer dan di antar ke Markas Utama, menanti waktu kematian.Untuk anak-anak kecil sebelum di bunuh mereka di buang ke udara,kemudian para tentara Jepang mengangkat pedang samurai maupun pedang Sangkur menghunus tubuh mereka selanjutnya di masukkan ke dalam lobang kubur.Sementara untuk para perempuan yang masih cantik Terlebih dahulu organ tubuh mereka(payudara)di potong dan di hunus pada pedang samurai.Dengan demikian keseluruhan orang Emplawas dimasukkan hidup – hidup  ke dalam Lobang Kubur yang telah tersedia selanjutnya di bunuh.perlu di ketahui pula bahwa yang mengerjakan atau menggalih lobang kubur itu adalah  Masyarakat  Wakpapapi.  Oleh  karena  itu  setiap tanggal 05 Oktober Masyarakat Emplawas turun ke Wakpapapi untuk membersihkan Kuburan OIMEHOIPLAT mengenang sejarah.


2.  Untuk Tim Pasukan Jangkar (TNI-AL) sama sekali tidak datang di Desa Wakpapapi, yang ada hanyalah  Pasukan Belanda (Tahun 1907- April 1908) dan Jepang.


3. Untuk kuburan TIMERKAS secara jelas tidak di ketahui tetapi di samping Kuburan OIMEHOIPLAT terdapat ; Kuburan ketiga pendeta dan kuburan Kepala Desa (DAUD UNITLY) dan Kepala Soa Tutuwawang.


Sumber : Abraham BeresabyKepala Desa. ABRAHAM ORAPLAWAL, Tete. MENASE. LEWIER, Bpk. OBED. UNENOR, Juli 2011.

Pemisahan antara Belgia dengan Belanda

Kerajaan Belanda Serikat (1815) B elanda dan Belgia dulunya adalah 1 negara. Saat itu, Perancis berbatasan dengan Belanda di sebelah selatan...