Minggu, 26 September 2021

Indonesia Tanpa Maluku Bukan Indonesia? Paradoks di Balik Banjir Darah 17 Agustus 1945


Luka yang Dihapus dari Narasi Kemerdekaan
Jika kemerdekaan dimaknai sebagai perlindungan yang sama bagi semua warga negara, maka peristiwa setelah 17 Agustus 1945 di Pulau Jawa justru menjadi antitesis bagi orang Maluku. Dalam rentang waktu 1945-1946, ribuan orang Maluku - yang pada saat itu secara umum disebut "Orang Ambon" - mengalami ancaman, pengusiran, perampokan, pemerkosaan, penyiksaan hingga pembunuhan.
Tulisan ini bukan untuk membuka luka lama demi dendam, melainkan untuk membaca ulang satu bab sejarah yang hampir tidak pernah masuk dalam buku pelajaran resmi.
1. Jakarta, Surabaya, dan Puncak Teror
De Fretes mencatat secara rinci pada halaman 58-68 tentang apa yang terjadi di Jakarta. Dimulai dengan pembunuhan Boma Latupeirissa di Jatinegara, disusul keluarga Lopies di Pasar Minggu termasuk anak-anak, seorang pemuda yang sedang mengendarai mobil dianiaya di siang hari. Keluarga Agus Souisa - istri, dua saudara perempuan dan dua anaknya - ditikam satu per satu. Keluarga Lukas Polhaupessy, Boetje Tahalele seorang dokter yang bertugas di Jatinegara, dibacok. 
Kondisi ini menciptakan teror psikologis yang sistematis. De Fretes menulis: "Bukan saja disana-sini terjadi penganiayaan dan pembunuhan sampai pelosok-pelosok kampung tetapi di mana saja orang Ambon berada. Maka teriakan, 'SIAAP', dari rakyat sudah menunjukkan bahwa tiap saat orang Ambon dapat diserang." Di belakang Stasiun Jatinegara, orang Ambon bahkan tidak berani keluar-masuk gang tempat tinggal mereka sendiri.
Di Jawa Timur, skalanya lebih mengerikan. Di Gedung Balai Pemuda Simpang - Surabaya, perempuan dan anak-anak Maluku serta warga sipil Belanda dibunuh. De Fretes menggambarkan lantai marmer gedung itu terlapisi darah setinggi mata kaki orang dewasa. Di Sidoarjo, seorang ibu Ambon berambut panjang ditarik dan diseret di jalanan, sementara dua anak lelakinya usia 7 dan 10 tahun memegang erat sarung sang ibu sambil menyaksikan ibunya ditikam dengan bambu runcing dan dicincang di tengah alun-alun.
2. Aktor: Maklumat Perang Barisan Pelopor
Pertanyaan utamanya adalah: mengapa kebencian itu begitu terorganisir?
Jawaban yang ditemukan dalam arsip adalah Maklumat Perang Barisan Pelopor yang diterbitkan di Jakarta pada hari Minggu, 9 September 1945. Maklumat itu secara eksplisit menyatakan bahwa kelompok "Indo, Ambon, dan Manado" harus diboikot karena musuh bangsa Indonesia. Mereka harus dibunuh di tempat kediaman mereka, dilingkari kawat berduri, sumur dan air minum mereka harus diracuni, dan setiap pedagang dilarang menjual apapun kepada mereka.
Maklumat ini ditempel di pohon, di dinding, di kantor, dan diperkuat oleh pemberitaan media massa saat itu dengan huruf besar: AMBON ANJING NICA.
Barisan Pelopor sendiri adalah pasukan pemuda sipil bersenjata. Dalam buku Cindy Adams Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2011, hlm. 266), Sukarno sendiri mengakui: "Barisan Pelopor, pasukan pemuda sipil dimana aku menjadi ketuanya, dipersenjatai." Di dalam tubuh Barisan Pelopor terdapat Barisan Pelopor Istimewa sekitar 100 pemuda pilihan yang dipimpin Sudiro sebagai pengawal dan utusan pribadi Presiden.
Karena itu, surat kabar di Belanda seperti Volkskrant dan Rotterdamse Krant menurunkan berita utama: Soekarno Verklaart Oorlog Aan Indo's, Menadonezen, En Ambonezen - Sukarno Menyatakan Perang Kepada Orang-orang Indo, Manado, dan Ambon.
Bahkan sebelum proklamasi, pada 16 Agustus 1945, menurut catatan Mohammad Hatta dalam Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977), Wikana telah mengatakan kepada Sukarno untuk membunuh orang-orang Ambon.
3. Diam yang Bukan Emas
Yang paling melukai dalam catatan de Fretes adalah sikap negara. Selama kekerasan berlangsung, Gubernur Maluku saat itu, Mr. Johannes Latuharhary, yang sedang berdomisili di Jakarta, mengajukan permohonan untuk membuka Kantor Gubernur Maluku di Jawa dan Sumatera agar bisa menangani langsung perlindungan bagi warganya. Permohonan itu tidak disetujui dan dicap sebagai tindakan separatis.
Tindakan penyelamatan terhadap kurang lebih 30.000 nyawa orang Maluku di Jawa dan Madura pada akhirnya dilakukan sendiri oleh sesama orang Maluku yang tinggal di Jawa seperti Abdul Mutalib Sangadji, Muhammad Padang, Alberth Latuasan, dan Nono Tanasale - yang karena marahnya bahkan menyebut Republik Indonesia sebagai "Republik Tai."
De Fretes di hlm 78 & 104 bersaksi bagaimana ia dan pasukan kecil di bawah komando Egmond Pattinama harus masuk ke pegunungan Mojokerto dengan truk, menemukan ratusan keluarga Maluku - kebanyakan wanita, orang tua, dan anak-anak - tidur berderet di tanah dingin pegunungan. Salah satunya adalah Ibu Patty, istri Pendeta Patty di Surabaya, yang terbangun dan berteriak: "Nani se cari Beta pung anak dolo, dorang siksa dia barangkali dia su mati!"
4. Kebencian yang Mematikan dan Paradoks
Horst Henry Geerken dalam bukunya A Magic Gecko - Peran CIA Di Balik Jatuhnya Soekarno (2011, hlm. 161) mencoba menjelaskan akar kebencian itu: di mata Sukarno, orang Ambon dianggap sebagai kolaborator Belanda yang paling rendah, sehingga kekerasan terhadap mereka dianggap wajar. Stigmatisasi orang Maluku sebagai kaki tangan Sekutu dan anti-kemerdekaan sudah dibangun sejak masa pendudukan Jepang.
Puncak kebencian itu terjadi ketika orang Maluku memilih untuk tidak bergabung dengan RI melalui proklamasi Republik Maluku Selatan (RMS) pada 25 April 1950, sehari setelah referendum penolakan oleh Dewan Maluku Selatan di Tulehu. Apapun perdebatan hukum tentang KMB dan Konstitusi RIS 1950, respons negara adalah Gerakan Operasi Militer (GOM) III - operasi gabungan terbesar pertama RI dengan 20.000 tentara AD, 3 pembom AU, dan 14 kapal perang AL. Menurut Geerken, agresi itu menewaskan sekitar 10.000 orang Maluku.
Di sinilah lahir paradoks yang dikritik Apituley: Sukarno di satu sisi membiarkan pembantaian, di sisi lain mengucapkan kalimat yang hingga hari ini diulang-ulang seperti mantra: "Indonesia tanpa Maluku bukan Indonesia." Bagi Apituley, ini adalah contoh dari bicara laeng, biking laeng - lain di bibir, lain di hati.
Dari Perayaan ke Perkabungan
Jika fakta-fakta yang dicatat de Fretes, Butje Hahury, dan lainnya itu benar, maka tanggal 17 Agustus bagi orang Maluku memiliki makna ganda. Bukan hanya hari lahirnya sebuah negara, tetapi juga awal dari sebuah periode panjang di mana nyawa orang Maluku tidak ada harganya.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengadili sejarah, melainkan untuk menuntut satu hal yang paling dasar dalam sebuah negara hukum: pengakuan. Bahwa pernah terjadi banjir darah di Balai Pemuda Surabaya. Bahwa pernah ada anak berusia 7 tahun yang menyaksikan ibunya dicincang di Sidoarjo. Bahwa pernah ada maklumat resmi yang memerintahkan meracuni sumur orang Ambon.
Tanpa pengakuan itu, kalimat "Indonesia tanpa Maluku bukan Indonesia" akan tetap terdengar seperti kebohongan yang didirikan untuk menjaga keutuhan negara di atas luka yang tidak pernah disembuhkan.

Sumber :
1. Adams, C. (2011). Bung Karno penyambung lidah rakyat Indonesia. Yayasan Bung Karno.

2. de Fretes, J. D. (2007). Kebenaran melebihi persahabatan: Aristoteles kepada Plato. Harman Pitalex & Kubuku.

3. Geerken, H. H. (2011). A magic gecko: Peran CIA di balik jatuhnya Soekarno. Penerbit Kompas.

4. Hatta, M. (2015). Politik, kebangsaan, ekonomi (1926-1977). Penerbit Kompas.

5. Kasenda, P. (2015). Soekarno di bawah bendera Jepang (1942-1945). Penerbit Kompas.

6. Parker, K. J. D. (1996). Republik Maluku: The case for self-determination. HLP/IED & AHL.

Dokumen dan Arsip:

7. Barisan Pelopor. (1945, 9 September). Maklumat Perang Barisan Pelopor. Jakarta.[Selebaran]

8. Hahury, B. (n.d.). Soekarno perintah bunuh bangsa Maluku di Jawa, "Soekarno verklaart oorlog aan Indo's, Menadonezen, en Ambonezen". [Mengutip kesaksian Luhulima].

9. Volkskrant & Rotterdamse Krant. (1945, September). Soekarno verklaart oorlog aan Indo's, Menadonezen, en Ambonezen [Headline berita].

Sumber Tulisan Asli:

10. Apituley, H. R. (2019). Pembantaian orang Ambon. Politeknik Negeri Ambon.

Minggu, 30 Mei 2021

Sejarah Singkat Pandemi Mematikan di Dunia


Apa itu pandemi ?

Pada 2010, WHO mendefinisikan pandemi sebagai “penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia” yang mempengaruhi banyak orang.

Sedangkan menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention, disingkat CDC) adalah “epidemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua, biasanya mempengaruhi banyak orang.”

Plague atau wabah merupakan istilah umum untuk penyakit epidemi yang mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi, atau lebih luas lagi.

Sepanjang perjalanan sejarah, manusia sudah mengalami beragam wabah atau pandemi yang mematikan yang telah menghilangkan banyak nyawa. Melansir Aljazeera, berikut ini adalah pandemi terburuk yang pernah terjadi mulai dari abad ke-6 hingga sekarang.

1.   Wabah Justinian (541-549)

Korban yang meninggal akibat wabah ini sekitar 30-50 juta orang dan yang menjadi penyebabnya adalah wabah bubonik. Nama wabah ini dinamai menurut nama Kaisar Bizantium, yaitu Justinian I. Sang kaisar terkena penyakit tersebut tetapi sembuh. Penyakit itu disebarkan ke manusia oleh hewan pengerat yang membawa kutu yang membawa bakteri, Yersinia pestis.

2.   Wabah Maut Hitam/Black Death (1346-1353)

Terjadi di abad ke-14, pandemi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang dibawa oleh tikus ini mengakibatkan sekitar 75-200 juta meninggal. Black Death melanda Eropa, Asia dan Afrika dan tercatat sebagai wabah penyakit paling mematikan dalam sejarah. Di namai Black Death, karena orang-orang yang terinfeksi memperlihatkan bintik-bintik hitam yang terbentuk di kulit mereka. Wabah ini kembali setiap 12 tahun atau lebih sampai sekitar 750, akhirnya memusnahkan setengah dari populasi Eropa, yaitu sekitar 100 juta orang.

3.    Pandemi Kolera Ketiga (1852-1860)

Wabah selanjutnya yang tak kalah mematikannya adalah pandemi kolera ketiga yang terjadi pada abad ke-19. Korban yang meninggal sekitar 1 juta orang. Menurut WHO dari tujuh epidemi kolera, epidemi ketiga yang terjadi pada tahun 1852 adalah yang memiliki dampak global terbesar. Wabah ini berasal dari India sebelum akhirnya menyebar ke seluruh Asia dan sebagian Eropa, Amerika Utara dan Afrika. Penyebabnya adalah kolera yang diakibatkan karena mengkonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholera. Bakteri ini bisa mengakibatkan  penyakit diare akut yang dalam beberapa jam dapat membunuh jika tidak diobati.

4.   Pandemi Flu Rusia (1889-1890)

Pandemi ini dianggap sebagai pandemi terhebat  di akhir abad ke-19. Korban yang meninggal sekitar 1 juta orang. Pandemi flu ini dinamakan flu Rusia atau flu Asia karena kemungkinan besar asalnya dari kawasan Asia Tengah Kekaisaran Rusia. Pandemi ini disebabkan oleh subtipe virus influenza A H3N8. Keberadaan moda transportasi modern, seperti rel kereta api serta perjalanan lintas Atlantik dengan perahu menyebabkan pandemi ini menyebar dengan cepat.

5.   Pandemi Kolera Keenam (1899-1923)

Terjadi pada tahun 1910, pandemi kolera keenam juga berasal dari India dan merengut 800.000 nyawa. Sebelum menyebar ke berbagai bagian Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa dan Rusia, penyakit ini sudah menewaskan ratusan ribu orang.

6.   Pandemi Flu Spanyol (1918-1919)

Sebelum menyebar ke seluruh dunia dan menginfeksi setidaknya sepertiga dari populasi global, kasus pertama tercatat pada musim semi 1918 yang terjadi di antara tentar AS selama Perang Dunia I. Penyebabnya adalah virus Influenza H1N1 atau flu burung yang berasal dari unggas. Walaupun jumlah total korban virus ini tidak diketahui pasti, banyak yang menyebutkan diperkirakan lebih dari  50 juta orang dan beberapa mencapai 100 juta korban tewas. Pandemi ini menjadi wabah yang paling mematikan sejak Black Death. Meskipun di Amerika Serikat disebut flu Spanyol, tapi para peneliti tidak bisa mengidentifikasi daerah asal penyakit tersebut. Namun dilaporkan kasus penyakit ini menyebar secara luas di Spanyol. Karena tidak ada vaksin maka terjadi gelombang kedua yang dibawa oleh para tentara yang kembali.

7.   Flu Asia (1956-1958)

Pada tahun 1956 kasus pertama flu Asia teridentifikasi di China kemudian menyebar ke Singapura, Hong Kong, dan AS. Dilaporkan juga menyebar hingga India pada tahun 1957. Penyebabnya adalah virus influenza subtipe H2N2 dan mengakibatkan setidaknya 1,1 juta nyawa melayang. Menurut beberapa studi, pandemi ini  berasal dari strain virus flu burung dan manusia. Terjadi gelombang kedua, tetapi penyebaran infeksinya melambat sesudah pengembangan vaksin pada Agustus 1957.

8.   Pandemi Flu Hong Kong (1968-1969)

Penyebab pandemi ini adalah virus influenza A – H3N2, subtipe H2N2. Pada Juli 1968 dilaporkan kasus pandemi pertama di Hongkong. Setelah terjadi wabah di Singapura dan Vietnam, virus ini menyebar dalam waktu 12 minggu bagian dunia lainnya sampai ke Afrika dan Amerika Serikat. Korban meninggal sekitar 1 juta orang. Variasi H3N2 kemungkinan muncul sebagai  mutasi dari flu Asia sebelumnya pada tahun 1956. Virus H3N2 masih beredar sampai sekarang sebagai virus influenza A musiman.

9.   Pandemi HIV / Aids (1981-sekarang)

Penyebab pandemi ini adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini menyerang sel yang membantu tubuh melawan infeksi. Jika tidak diobati, bisa mengakibatkan penyakit, AIDS. HIV menyerang dan menghancurkan sel CD4 atau T-Helper, sejenis sel darah putih dalam sistem kekebalan. Korban meninggal diperkirakan sudah mencapai 32 juta.

10. Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) (2002-2003)

Pandemi ini disebabkan oleh SARS-CoV yang menurut CDC merupakan jenis virus corona dari reservoir hewan yang belum pasti, bisa jadi kelelawar, yang menyebar ke hewan lain (musang) dan manusia.  Kasus pertama terjadi pada tahun 2002 di selatan China, tepatnya di  Provinsi Guangdong. SARS-CoV setidaknya menyebar ke 26 negara dan menginfeksi lebih dari 8.000 orang, walaupun jumlah kematiannya tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan pandemi lainnya.

11. Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) (2012-sekarang)

Salah satu jenis virus korona, MERS-CoV, pertama kali diidentifikasi pada 2012di Arab Saudi. Virus Corona merupakan keluarga besar virus yang bisa mengakibatkan penyakit mulai dari flu biasa sampai SARS. Korban yang meninggal sekitar 858 jiwa. Sampai Januari 2020 sudah 2.519 orang yang terinfeksi virus tersebut. Tingkat kematian MERS-CoV sangat tinggi dibandingkan dengan virus corona lainnya, dengan hampir 35 % dari mereka yang tertular meninggal.

12. Pandemi Corona Virus (Covid-19) (2019-sekarang)

Pada tahun 2019, dunia digemparkan dengan pandemi COVID-19 dan orang yang terinfeksi masih terus bertambah sampai sekarang. Tenaga medis di dunia juga sudah kewalahan untuk menangani korban-korban yang terinfeksi. Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19. COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan.  Virus baru dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. COVID-19 ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia. Data dari Kementrian Kesehatan RI sampai dengan tanggal 28 Mei 2021 kondisi kasus pandemic Covid-19 di Indonesia yaitu : TOTAL KASUS = 1,81 juta, SEMBUH = 1,66 juta dan MENINGGAL DUNIA = 50.262.


Sumber : https://blog.wecare.id/2020/09/sejarah-pandemi-11-pandemi-paling-mematikan-sebelum-covid-19/

Kamis, 01 April 2021

The Battle of Gorong

    


Tanggal 21 Mei, 229 tahun lalu, rakyat Seram Timur terlibat dalam perang dengan Koalisi Pasukan Belanda antara 21-23 mei 1791. Tepatnya di pantai sekitar negeri Ondor dan Kataloka di Pulau Gorom. 
Perang itu disebut Belanda sebagai Gorong Oorlog atau The Battle of Gorong.  Perang ini adalah rangkaian dari perang 30 tahun Sultan Nuku. Lebih dari saparuh masa perang Nuku terjadi di Seram Timur. Orang-orang Seram Timur terkenal yang paling loyal dalam melindungi Nuku dari kejaran Belanda dan Ternate.

Belanda cukup frustasi kehilangan banyak gulden, pasukan, dan stabilitas perdagangan di kawasan timur saat pengejaran Nuku. untuk itu,  dibutuhkan pasukan yang lebih besar dengan aramada yang kuat. maka pada 1789 tiga buah kapal didatangkan dari Belanda ke Batavia untuk menyiapkan ekspedisi ke Maluku. 

Ekspedisi di Pimpin Laksamana senior A.H.C. Straring yang saat itu sedang dalam perang dengan Sultan Palembang, dipanggil ke Batavia untuk kemudian menunggu kedatangan tiga kapal dari Negeri Belanda.


Pada bulan Desember 1790 armada dari Batavia menuju Ternate, total ada 4 Kapal dengan 700 pasukan Belanda. 4 kapal itu adalah:Kapal Thetis, Bellona, Markurius dan Swalluw. masing-masing dipimpin Kapten Silvester, Kapten Hartman, Kapten Isaak Welter Gobius,  dan Kapten Wolterbeek. semua dibawah komando Laksamana Straringh. Armada tiba di Ternate pada Januari 1791 dengan terlebih dahulu singgah di Makassar. 3000 pasukan ternate begabung menuju Ambon. Residen Ambon dan Saparua manambah beberapa kora-kora lokal untuk bergabung dalam pasukan menuju Banda. 

Pada bulan Mei 1791 pasukan besar itu menuju Pulau Gorom titik dimana Sultan Nuku berada. Nuku yang sebelumnya berada di Negeri Rarackit/Kilbat saat ini, harus memusatkan titik kumpul pasukan disana. Nuku ditemani dua orang kepercayaan:Orangkaya Lukman dari Negeri Kelu dan Imam Sarasa dari Negeri Geser. setahun sebelumnya, kepala dua orang ini dihargai 500 gulden masing-masing bagi yang bisa membunuh mereka. harga kepala sultan Nuku 1000 gulden. Pasukan Straringh terlebih dahulu membakar beberapa negeri di seran rey, Geser, urung, guli-guli, kilmuri. setelah itu menuju titik utama. Gorom.  


Beberapa Kampung seperti Ondor, Kataloka, dan sekitarnya menyambut tepat di depan Negeri Ondor. Belanda membakar beberapa desa dan merebut benteng lokal di Dullah, Ondor dan Kelalir. Setelah itu menuju Kataloka dimana konsentrasi Nuku dan sebahagian besar pasukannya berada. 

Pada tanggal 23 Mei 1791 pucak pertempuran terjadi di pantai Kataloka. Dua Kapal utama Belanda di bakar. Kapten Gobius terjebak di sungai kecil antara Ondor dan Kataloka. pasukan Nuku dan Raja Bessy dari dua arah berlawanan menyerang pasukan Gobius. Kapten yang berpengalaman dalam perang Eropa itu tumbang dengan luka tembak di paha kiri dan ditombak pada perut kiri. naas meniggal ditempat. ratusan pasukan Gobius mati dipantai Gorom. Kapten Walterbek menyusul membantu tetapi terlambat. Laksamana Straring menarik mundur pasukan dan kembali ke Banda.

Sejak saat itu, nyaris tak ada perlawanan berarti pasukan Belanda di Seram Timur sampai perebutan kembali tahta Nuku di Tidore. Kekalahan Belanda di Gorom adalah sejarah yang tidak dicatat dan hilang dari ingatan kolektif orang Maluku, tapi tidak untuk orang-orang di Pulau Gorom.


Sumber :  Cocon Rumalutur , 

Selasa, 02 Maret 2021

MARKAS KOREM 151/BINAIYA, DARI MASA KE MASA

Markas Korem 151/Binaiya yang terletak di jalan Ahmad Yani Nomor 1 Kelurahan Batu Gajah Kecamatan Sirimau Kota Ambon, merupakan salah satu saksi sejarah keberadaan kaum penjajah khususnya pemerintah Kolonial Belanda dengan segala sejarah kelamnya di wilayah Maluku.

Dalam perkembangannya tercatat bangunan yang saat ini menjadi salah satu masrkas satuan utama penyelenggara fungsi teritorial Kodam XVI/Pattimura itu pernah berfungsi sebagai berikut :

1. Rumah pejabat Resident van Ambon dan Gouverneur van de Molukken.  Yaitu rumah dari pejabat yang mengepalai wilayah yang sesuai dengan pembagian daerah administratif di pemerintahan Hindia Belanda. Pada massa ini yaitu era sebelum tahun 1930an bangunan ini dibangun dengan arsitektur Belanda dimana di sekelilingnya dibuat taman yang dipenuhi dengan pohon-pohon yang rindang, rerumputan serta beberapa tugu dan kolam ikan. Semua ini sudah sebagaimana mestinya dimiliki oleh pejabat tinggi Belanda di massa itu, Taman di sekitar bangunan ini sering disebut Batoe Gadjah Park yang terhubung dengan Hotel Anggrek dan lapangan tenis di depannya. Setiap tanggal 31 Agustus, pejabat  Gouverneur van de Molukken sering menggelar perayaan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina yang diisi dengan pagelaran kesenian oleh kelompok-kelompok paguyuban masyarakat kota Ambon. 





2. Kantor Pemerintah Daerah Maluku Selatan. Pasca Konferensi Meja Bundar (KMB, Desember 1949) memasuki tahun 1950 terjadilah peralihan kekuasaan dari pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintah 

Republik Indonesia Serikat

 (RIS)
, bangunan ini beralih funsi sebagai kantor Pemerintah Daerah Maluku Selatan yaitu daerah yang dibawahi oleh pemerintahan negara bagian 

Negara Indonesia Timur

 (NIT) dimana pada saat itu dijabat oleh Mr. Johanis Hermanus Manuhutu sebagai kepala daerah dan Mr. Albert Wairizal sebagai wakil kepala daerah.

3. Kantor pemerintahan Republik Maluku Selatan. Akibat adanya pergolakan politik pasca perubahan RIS menjadi Republik Indonesia yang otomatis menghapus keberadaan seluruh negara bagian RIS termasuk NIT, maka terjadilah pengambilalihan bangunan ini sebagai kantor pemerintahan Republik Maluku Selatan yang diproklamirkan pada tanggal 25 April 1950 di halaman bangunan ini. Bangunan tersebut saat itu juga berfungsi sekaligus sebagai kantor Dewan Maluku Selatan.




4. Markas Kodam XV/Pattimura. Pasca pemberantasan RMS oleh pemerintah RI, maka pada tanggal 5 April 1960 dalam upacara resmi Pataka Kodam XV/Pattimura diserahkan oleh MKN/KASAD Mayjen A.H. Nasution kepada Pangdam XV/Pattimura (waktu itu KDM-MIB) Kolonel Herman Pieters sesuai Skep MKN/KASAD Nomor : KPTS – 485 / 5 / 1960 tanggal 7 Mei 1960. Bangunan ini beralih fungsi sebagai Markas Kodam XV/Pattimura yang membawahi Maluku dan Irian barat (MIB).


5. Markas Korem 174/Pattimura. Sesuai dengan perkembangan konsepsi strategis Hankam umumnya dan TNI AD khususnya, serta berdasarkan kebijakan Panglima ABRI tentang reorganisasi Angkatan Darat maka beberapa Komando Utama (Kotama) TNI AD termasuk kodam XV/Pattimura mengalami likuidasi sesuai tuntutan kebutuhan organisasi yang dilaksanakan pada tanggal 22 september 1984. Kemudian, berdasarkan Keputusan KASAD tanggal 26 Desember 1984 dan direalisasikan dengan Surat Keputusan Pangdam XV/Pattimura tanggal 8 Januari 1985, maka terbentuklah Korem 174/Pattimura yang wilayahnya meliputi keseluruhan wilayah Kodam XV/Pattimura. Pada tanggal 6 Mei 1985 bertempat di Ambon secara resmi Kodam XV/Pattimura dilikuidasi dengan penyerahan kembali Pataka Kodam XV/Pattimura oleh Brigjen TNI H. Simanjuntak kepada KASAD Jenderal TNI Rudini. Dengan pertimbangan psikologis dan historis, nama Pattimura tetap dipertahankan sebagai nama Korem yang baru dibentuk dengan melantik Kolonel Inf Soeharsono S sebagai Danrem 174/Pattimura yang pertama. Selanjutnya Korem 174/Pattimura berada di bawah komando Kodam yang baru dibentuk, yaitu Kodam VIII/Trikora, yang berkedudukan di Jayapura.

6. Markas Kodam XVI/Pattimura.  Konflik bernuansa SARA yang terjadi di Maluku pada tanggal 19 Januari 1999 telah menimbulkan instabilitas dan kekacauan sosial bersifat horisontal yang skalanya semakin meningkat dan sulit untuk dikendalikan. Menyikapi kondisi daerah tersebut dan dalam rangka menata kembali Organisasi TNI, pada tanggal 7 Mei 1999 dilaksanakan likuidasi Korem 174/Pattimura, dan dibentuk Kodam XVI/Pattimura pada tanggal 15 Mei 1999 di Ambon dalam suatu Upacara Militer dengan Irup Kasad Jenderal TNI Subagyo HS. Pada kesempatan upacara tersebut Kasad secara resmi melantik Brigjen TNI Max M.Tamaela sebagai Pangdam XVI/Pattimura yang pertama dan hari yang bersejarah tersebut selanjutnya dirayakan sebagai Hari Ulang Tahun Kodam XVI/Pattimura.


7. Markas Korem 151/Binaiya. Guna mewujudkan kondisi Maluku yang kondusif sesuai yang diharapkan, maka sejak tanggal 30 Mei 2002 sesuai kebijakan Panglima TNI di bidang Pertahanan dan Keamanan Wilayah Maluku dan Maluku Utara dikendalikan oleh Panglima Komando Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) berpangkat Mayor Jendral TNI. Kemudian pada tanggal 12 Juli 2002 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Nomor : Keppres 88/VII/2002 tentang Pembentukan Koopslihkam, sejak itu, semua satuan baik TNI maupun POLRI yang berada di wilayah Maluku dan Maluku Utara berada di bawah kendali operasi Pangkoopslihkam yang dijabat oleh Mayor Jendral TNI Djoko Santoso. Seiring berjalannya waktu dan disertai dengan kondusifnya situasi keamanan di Wilayah Maluku, maka Kepala Staf TNI AD mengeluarkan Keputusan Nomor : Kep / 10 / III / 2003 Tanggal 13 Maret 2003 tentang Pembentukan Korem 151/Maluku. Semenjak itu setiap tanggal 13 Maret diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Korem 151/Maluku. Berdasarkan Keputusan KASAD Nomor : Kep / 33 / VI /2003 Tanggal 3 Juni 2003 tentang Pengesahan Penggunaan Lambang Kesatuan Dhuaja Korem 151/Binaiya. Dan sejak itu pula nama Korem 151/Maluku berubah menjadi Korem 151/Binaiya.  

 





Dari berbagai sumber

Rabu, 24 Februari 2021

MENELUSURI BEKAS KEKEJAMAN TENTARA JEPANG DI PULAU BABAR MALUKU BARAT DAYA


Masa pendudukan Jepang di Nusantara yang saat itu masih bernama Hindia Belanda dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta.

Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Jerman Nazi. Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga dan mengalihkan ekspor untuk Kekaisaran Jepang ke Amerika Serikat dan Inggris. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal pada Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan hampir seluruh wilayah Asia Tenggara pada bulan Desember di tahun yang sama. Pada bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942. Pengalaman dari penguasaan Jepang di Nusantara sangat bervariasi, tergantung tempat seseorang tinggal dan status sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan tanpa alasan dan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran dalam penguasaan Jepang. Tak terkecuali masyarakat Maluku khususnya di wilayah Selatan yaitu di pulau Babar yang juga mengalami penderitaan ini.


MASBUAR

Jepang dari Saumlaki menuju Tepa diperkirakan pada tahun 1942. Dan menduduki jemaat/ desa-desa yang ada di pulau Babar salah satunya adalah Masbuar. Proses ini terjadi karena wilayah Babar dan lainnya merupakan perbatasan dengan Australia yang merupakan sekutu/ lawan. Sebelum kedatangan Jepang ke Masbuar, kehidupan warga Jemaat/ masyarakat adalah seperti biasa melakukan pekerjaan senbagai petani. Hal ini mengalmmi perubahan ketika Jepang hadir dan berkuasa di Indonesia (baca Masbuar).

Guru Djoemat saat itu adalah Eduar Lessi yang biasa disebut  “WAKIL”/ Ketua Klasis dan meikah dengan salah seorang wanita yang berasal dari Masbuar. Kehadiran Jepang di Masbuar membuat mereka sering klai melarikan diri ke “puton” (Hutan Masbuar)

Kegiatan Ibadah berjalan seperti biaya yaitu ibadah “Kunci Usbu” pada hari Sabtu, Ibadah Minggu (dilkasanakan pagi hari) dan pada hari Rabu Ibadah “Sharing”. Dan tidak ada penghormatan khusus kepada bendera Jepang ketika mau beribadah kepada Tuhan. Jumlah Jemaat saat itu diperkirakan berjumlah 85  orang.

Gedung Gereja pada saat itu tidak dijadikan sebagai Markas Jepang. Jepang bermarkas di “ Kukkie Onnie” (Pinggir Tanjung). Namun gereja Masbuar pada saat itu dibakar oleh Jepang, dan untuk sementara waktu jemaat saat itu beribadah di sebuag gubuk yang terbuat dari bambu yang cukup kecil ukurannya. Hal ini di sebabkan karena ada beberapa orang Masbuar yang bersepakat dengan orang Emplawas melakukan perlawanan dan pembunuhan terhadap orang Jepang. Selain gereja dibakar ada 11 orang Masbuar di bawa ke Tela dan dibunuh di “Utie Onnie ( Pinggir Pisang).  11 orang itu adalah : Hendrik Wunnara Romsery (Kepala Desa), Tokoh Adat; Dolfinus Naikyera Romsery, Aser I Iwirnai Tiwuly, Yunus Wurwari Okmemera, Petrus Aresi Okmemera, Marinyo; Welem Kiaya Okmemera, Amus Nawoi Okimekma, Paulus Okimekma, Dirk Okimekma, Yulianus Okea Okololy, dan Markkus Newna Gergora.

Khusus Welem Kiaya Okmemera dibunuh dengan cara : diikat diatas bangku, disiram dengan Bensin, ditutupi dengan daun kelapa lalu dibakar hingga hangus. Sedangan 9 orang lainnya dibunuh dengan cara di tikam dengan “bayonet” (piasu panjang yang ada di unjung senjata) dan satu orang lainnya ditembak karena berusaha melarikan diri. Mayat ke -10 orang tersebut kemudian dibuang di tepi pantai Tela yang bernama “Nyuk Metti” (kolam laur). Dan seorang lainnya (tidak diketahui namanya) dikuburkan pada tempat yang terpisah yang bernama Kukkie Onnie (Pinggir Tanjung). Namun anehnya mayat-mayat (10 orang ) tersebut selama sehari penuh tidak berpindah/ hanyut.  Mayat-mayat tersebut tetap ada di “nyuk Metti” akhirnya pemerintah Jepang memerintahkan orang Tela agar mengumpulkan kayu untuk membakar mayat-mayat tersebut. Namun hal itu tidak disetuji oleh Kepala Desa Tela yang bernama Thomas Onarely, dan akhirnya disepakati bahwa mayat-mayat tersebut dikuburkan secara masal  yang bernama “ Ayanne” ( Lihat Gmabar 4, 5). Tempat tersebut telah dijadikan kuburan Umum hingga sekarang ini.

Kebijakan pemerintah jepang saat itu adalah memerintahkan warga jemaat Masbuar khususnya laki-laki dewasa membawa makanan ke Wakpapapy yang saat itu merupakan markas Jepang. Tidak ada “Rumah Panjang” yang dibangun oleh Jepang dengan demikian tidak ada pelecehan seksual di Masbuar. Sekolah yang ada saat itu hanyalah Sekolah Rakyat yang kemungkinan berpusat di gereja. Guru Djoemat ( Eduar Lessi) dibunuh di Wakpapapy dengan cara ditembak oleh tentara Jepang.


TELA

Sejarah Jepang di Tela tidak jauh berbeda dengan Masbuar. Jarak antara Tela dan  Masbuar hanya 3 Km. dengan demikian rentang kendali Jepang terhadap Tela dan Masbuar mudah dilakukan.

Keberadaan warga Jemaat sebelum kedatangan Jepang adalah biasa-biasa saja.  Mereka beraktifitas pada umumnya sebagai Petani . Namun keberadaan ini berubah ketika Jepang datang dari Saumlaki menuju Pulau Babar dan salah satu tempat persinggahan/ posko mereka ada di Tela yang bernama “Utie Onnie” (pinggir pisang) dalam bentuk seperti goa (lih. Gambar 2) namun tempat tersebut  sekarang ini telah tertutup oleh tanah. Ada dua kompi Jepang (tentara Jepang ) yang datang ke Tela yaitu: “Jangker” (Angkatan Laut) dan “Binsang “ (Angkatan Darat ), namun yang menetap di Tela adalah “Jangker”. Yang dipimpin oleh Panglima SIN HO HA RA yang biasa di sebut “tuan besar”.

Guru Djoemat yang bertugas di Tela saat itu adalah Dolfinus Mustamu. Jumlah naggota jemaat saat itu kurang lebih 700 jiwa. Kegiatan peribadatan berjalan seperti biasa yaitu pada hari Minggu (Ibadah Minggu), Sabtu “Ibadah Kunci Usbu” dan hari Ibadah “ Sharing “. Namun harus diakui bahwa keberadaan warga jemaat saat itu penuh dengan ketakutan dan kegelisahan sehingga ada yang tinggal di kebun,hutan, dan tempat ibadah (gereja darurat) juga didirikan di tempat yang bernama “Nuryemna/e” (tempat kenari). Bapak Dolfinus Maustamu meninggal di wakpapapi dengan cara ditembak. Hal ini disebabkan karena kematian “tuan besar dan tiga SPION-nya  yaitu Itariak, Muhamad, dan Abdulah” yang dibunuh oleh Kepala Desa dan warga masyarakat Emplawas dan hasutan dari Kepala desa Tela Thomas Onarely yang menuduh Dolfinus Maustamu “sumpah-sumpah orang Jepang, membawa kabar ke Ambon ” hal ini dilihat sebagai ancaman, sehingga Kurang lebih 600 warga jemaat/ masyarakat Emplawas mati ditembak, 11 orang Masbuar mati di Tela {bnd bagian Masbuar} dan 4 orang (Dolfinus Mustamu, Mustamu Ellans statusnya lebih tinggi dari guru djemat dan berhak melakukan Perjamuan Kudus, Ibrahim orang Emplawas dan Eduar Lessi  wakil/Klasis).


Menurut cerita kematian SIN HO HA RA (tuan besar) adalah sebagai berikut:

“Suatu hari SIN HO HA RA memanggil kepala desa Emplawas (tidak diketahui namanya) datang ke Tela untuk melakukan proses jual beli, penawaran harga Tabaku milik masyarakat Emplawas. Harga yang di sepakati adalah Rp.2000 per kilo. Kepala Desa  kembali ke Emplawas menghimpun masyarakat dan mengajak mereka untuk mengumpulkan tabaku yang nantinya di jual kepada SIN HO HA RA. Kemudian Sin HO HA RA memerintahkan Itariak, Muhamad dan Abdulah  untuk membeli Tabaku di Emplawas. Sesampainya mereka di Emplawas Itariak ternyata hendak membeli tabaku dengan harga Rp 1000 per Kg.  Terjadi pertentangan diantara mereka. Kepala Desa tetap mempertahankan Rp. 2000 sedangakan itariak Rp. 1000. Hal ini di laporkan kepada SIN HO HA RA. Kemudian SIN HO HARA bersama ketiga orang tersebut menuju Emplawas. Sesampainya mereka di Emplawas SN HO HA RA menampar kepala desa Emplawas. Hal ini menjadi pemicu akhirnya SIN HO HA RA di bunuh dengan cara di tikam demikian juga ketiga orang lainnya”

Tidak ada “rumah panjang “ di Tela. Tidak ada perempuan yang dijadikan sebagai korban seksual hal ini karena SIN HA HA RA tidak setuju dengan cara-cara tersebut.

Kebijakan Jepang pada saat itu adalah setiap warga jemaat laki-laki (dewasa) harus mengantarkan makan , sayur-sayuran ke Wakpapapy. Hal ini dirasakan sangat  dan menyiksa dan memberatkan. Ada persungutan dari warga jemaat dan hal ini dilihat sebagai “bom waktu” tetapi tidak ada perlawanan yang dilakukan oleh orang Tela kepada Jepang.

Staf Desa saat itu adalah: Thomas Onarely (Kepala Desa), Amabilis Imea (Kepala Soa Letui) dan Petrus Lukmetiabla (Kepala Soa Lekwari).

Selama keberadaan Jepang di Tela: Gereja tidak dirusak dan tidak dijadikan sebagai markas dan tidak ada larangan beibadah. Seluruh proses pendidikan berpusat di gedung Gereja. Sebagai bukti keberadaan Jepang di Tela , ada juga piring-piring tua yang dianggap sebagai peninggaln jepang. Piring-piring ini di temukan di depan Goa Utie Onnie.


WAKPAPAPI

Jepang hadir di Wakpapapi pada Tahun 1942 s/d Tahun 1945, selanjutnya mereka membuat   Markas atau Basis Utama di Wakpapapi sebelum menuju ke Desa Emplawas. Ketika Tentara Jepang berada di Basis Utama (Desa Wakpapapi) mereka memasang Radio untuk berkomunikasi dengan Desa Masbuar. Selanjutnya kedua desa itu selalu dipantau oleh tentara Jepang. Tentara Jepang melakukan segala aktivitas (berkebun atau bercocok tanam) tetapi seluruh pekerjaan itu menggunakan tenaga masyarakat Wakpapapi dengan cara kekerasan. Dan melakukan ibadah pun secara tersembunyi agar tidak di ketahui oleh tentara Jepang. Guru jemaat yang melayani pada saat itu adalah Bpk. ARNOL TOMASOA, Kepala Desa pada saat itu  DAUD  UNITLY dari Rumah Emlululi dan Staf Saniri Bpk. HENDRIK ORAPLEAN dari mata Rumah Emlululi.


Tentara Jepang Memerintah Masyarakat Wakpapapi dengan kejam. Masyarakat dipaksa  memikul peti-peti peluruh, beras berkarung-karung dari perkampungan naik ke gunung besar dengan menempuh jalan ± 10 km. Semua perintah wajib dilaksanakan. Namun, pajak tidak diberlakukan oleh tentara Jepang  kepada masyarakat. Sekalipun demikian, diberlakukan larangan beribadah di gedung gereja. Gereja dan sekolah pada saat itu masih bersifat darurat. Mereka beribadah dengan tidak merasa tenang karena tentara jepang selalu datang mengintai mereka. Gereja tidak digunakansebagai gudang atau markas. Alasannya,  jangan sampai ketika pesawat tentara sekutu melewati lokasi kemudian menjatuhkan Bom. Kegiatan ibadah di gereja tetap jalan dan di jaga oleh para Tuagama yang harus siap siaga. Jikalau tentara Jepang tiba-tiba datang, Tuagama segera melaporkan kepada anggota jemaat dan selanjutnya disampaikan kepada Pendeta agar mereka harus cepat-cepat keluar dari gedung gereja untuk mencari keselamatan atau perlindungan menuju kebawa dusun-dusun kelapa ataupun ke kebun-kebun untuk melanjutkan Ibadah dalam bentuk kelompok-kelompok.  Daftar permandian tahun 1914 sampai 1945, tercatat anggota Jemaat pada waktu itu sebanyak + 709 orang.

Dari penuturan beberapa orang tua,  yang selalu menjadi sasaran utama adalah Gereja dan Sekolah. Karena itu,  tentara Jepang lebih memilih lokasi persembunyiannya ke liang-liang batu atau goa dan dipinggiran kali, sehingga dapat bersembunyi, sekaligus bisa mandi, makan dan minum.

Tindakan Jepang yang sangat brutal adalah mengambil perempuan sebagai pemuas nafsu kebiadaban mereka terhadap perempuan-perempuan yang belum menikah (BENJEMINA  MALIHU) dan yang sudah menikah (ADELAIDA ORAPLAWAL)bersama-sama dengan dua perempuan dari Yatoke dan beberapa perempuan dari Emplawas yang dianggap sangat cantik dan mereka tidak di bunuh semuanya tertampung di rumah panjang di asrama tentara.

Kewajiban untuk menghormati bendera atau kaisar tidak ada sama sekali karena masyarakat selalu menghindar apabila kehadiran tentara Jepang di lokasi. Kepala Desa  pada saat itu, DAUD UNITLY akhirnya dibunuh karena dianggap sebagai pemberontak. Ia tidak setuju dengan tindakan kekerasan dan penindasan yang dilakukan oleh Tentara Jepang terhadap masyarakat Wakpapapi. Pekerjaan pribadi masyarakat dibatasi. Kematian DAUD UNITLY disebabkan karena ada “Spion” dari masyarakat dari masyarakat Desa Wakpapapi yang bukan anak negeri (Pendatang).  Ia memberikan informasi kepada Tentara Jepang bahwa Kepala Desa DAUD UNITLY membuat surat kepada Kepala Desa Emplawas untuk sama-sama mengadakan perlawanan kepada Tentara Jepang. Padahal in formasi itu tidak benar. Satu saat,  Kepala Desa  meninggalkan Negeri Wakpapapi menuju ke Pulau Marsela untuk urusan keluarga.  Selesai urusan,  ia menumpangi kora-kora  kembali ke Negeri Wakpapapi,  dan ketika ia turun dari kora-kora (masih di pantai),  ia langsung ditangkap. Matanya langsung diikat dengan sepanggal kain, selanjutnya di bunuh bersama-sama dengan Kepala Soa Tutuwawang. Jenazah keduanya dimasukkan ke dalam satu kolam tersendiri.

Selain pembunuhan terhadap Kepala Desa Wakpapapi (DAUD UNITLY), terjadi juga  pembunuhan terhadap Tiga Pendeta yang sebelumnya sudah ditangkap dan dibawah ke Wakpapapi (Markas Utama Tentara Jepang) antara lain : Pdt. TAHALELE (Jemaat Letwurung) Pdt. MUSTAMU, dan Pdt. LESSI (Pdt. LESSI menikah dengan Anak Perempuan dari Pdt. MUSTAMU) yang berkediaman di Kota Tepa. Pembunuhan itu terjadi pada tanggal 24 Desember 1944  Pukul  16.00. WIT. Sebelum terjadi pembunuhan,  Ketiga Pendeta tersebut Melagukan Thalil 76 : 1 “ ROH JIWA DAN TUBUHKU ”. Seusai menyanyi Pdt. LESSI berdoa. Kemudian penembakan itu atau pembunuhan itu terjadi Pdt. TAHALELE dan Pdt. MUSTAMU masing-masing mendapat satu kali tembakan sedangkan Pdt. LESSI  Tiga kali tembakan kemudian dimasukan dalam satu kolam samping Kuburan Masal OIMEHOIPLAT. Sementara untuk Guru Jemaat  dan keluarganya yang ada di Wakpapapi selamat di tangan Yesus karena menghindar dari sekutu Jepang dan di lindungi oleh anggota Jemaat Wakpapapi.


Beberapa catatan pelengkap lainnya : 


1.  Kuburan OIMEHOIPLAT. (Kuburan Masal Emplawas)  kisah ini secara terperinci dapat di galih lewat Masyarakat Emplawas. Hanya saja karena kuburan ini dan seluruh tragedy kekejaman Tentara Jepang terjadi di basis utama (Wakpapapi) singkat cerita orang-orang Emplawas kurang lebih 700 an masing-masing diikat (anak-anak kecil tidak ditutup mata sedangkan orang dewasa matanya di ikat) selanjutnya mereka di ikat menjadi satu dengan tali Nyimu berjejer dan di antar ke Markas Utama, menanti waktu kematian.Untuk anak-anak kecil sebelum di bunuh mereka di buang ke udara,kemudian para tentara Jepang mengangkat pedang samurai maupun pedang Sangkur menghunus tubuh mereka selanjutnya di masukkan ke dalam lobang kubur.Sementara untuk para perempuan yang masih cantik Terlebih dahulu organ tubuh mereka(payudara)di potong dan di hunus pada pedang samurai.Dengan demikian keseluruhan orang Emplawas dimasukkan hidup – hidup  ke dalam Lobang Kubur yang telah tersedia selanjutnya di bunuh.perlu di ketahui pula bahwa yang mengerjakan atau menggalih lobang kubur itu adalah  Masyarakat  Wakpapapi.  Oleh  karena  itu  setiap tanggal 05 Oktober Masyarakat Emplawas turun ke Wakpapapi untuk membersihkan Kuburan OIMEHOIPLAT mengenang sejarah.


2.  Untuk Tim Pasukan Jangkar (TNI-AL) sama sekali tidak datang di Desa Wakpapapi, yang ada hanyalah  Pasukan Belanda (Tahun 1907- April 1908) dan Jepang.


3. Untuk kuburan TIMERKAS secara jelas tidak di ketahui tetapi di samping Kuburan OIMEHOIPLAT terdapat ; Kuburan ketiga pendeta dan kuburan Kepala Desa (DAUD UNITLY) dan Kepala Soa Tutuwawang.


Sumber : Abraham Beresaby, Kepala Desa. ABRAHAM ORAPLAWAL, Tete. MENASE. LEWIER, Bpk. OBED. UNENOR, Juli 2011.

Selasa, 07 Januari 2020

PERLAWANAN MALUKU SELAMA PENDUDUKAN JEPANG (1942-1945)




Selama pendudukan Hindia Belanda oleh Jepang (1942-1945) muncul berbagai kelompok perlawanan yang sangat aktif di seluruh kepulauan. Ini perlawanan terhadap pendudukan Jepang sering di Timur Maluku selama ekspedisi kedua Aceh tetap kurang terang : di mana nama-nama seperti orang-orang dari Kapten Reinder Gebbinus Lang Gevoel harus mendapatkan kehormatan yang mendalam walaupun faktanya nama mereka hampir tidak dikenal.

Peran orang Maluku dalam perlawanan juga masih relatif tidak diketahui. Orang-orang Maluku ditekan oleh Jepang sejak awal pendudukan Hindia Belanda dan dirampas hak-hak mereka. Karena itu mereka cukup sering bergabung dengan perlawanan dan ini memakan banyak nyawa.
Karena itu, orang Maluku memiliki ikatan yang jauh lebih banyak dengan Belanda daripada kelompok populasi lainnya di kepulauan India : sebagian besar mereka menganut agama Kristen dan untuk waktu yang lama orang Maluku termasuk di antara prajurit KNIL yang hampir tak tergantikan. Mereka berpartisipasi dalam banyak ekspedisi, seperti ekspedisi kedua ke Aceh dan ekspedisi Lombok dan membentuk bagian yang tidak terpisahkan dari Korps Marechaussee dengan berjalan kaki.

DIMULAINYA PENDUDUKAN JEPANG

Pada awal pendudukan Jepang, pada tahun 1942, sejumlah besar orang Maluku hidup di seluruh kepulauan India, di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Timor, dan tentu saja Maluku. Setelah kejatuhan Ambon pada 30 Januari 1942, tentara KNIL Ambon dipindahkan ke Marinekamp Halong. Sisanya terpaksa bekerja dalam produksi makanan atau untuk melakukan layanan transportasi dan kegiatan lainnya.

Sebagian besar tentara KNIL Maluku dibebaskan dari tahanan pada akhir April 1942. Kontribusi terhadap perlawanan anti-Jepang pada waktu itu sangat tinggi di mana-mana di Hindia Belanda. Di Sumatra, misalnya, tentara KNIL Maluku mendirikan organisasi perlawanan "Sapoe Tangan Merah" ("Saputangan Merah") dan di Maluku khususnya, kelompok-kelompok perlawanan menerima sangat banyak dukungan dari masyarakat.

KELOMPOK PERLAWANAN KAPTEN KASEGER DAN SERSAN MAYOR MENDOZA

Segera setelah pembebasan tentara KNIL Ambon, berbagai kelompok perlawanan dibentuk di Ambon. Pembuat senapan utama Sersan FA Mendoza mengumpulkan sejumlah perwira yang tidak ditugaskan (termasuk Sersan Rompies, Lantang dan Sahetapy dan Sersan Tisera) untuk melakukan perang gerilya melawan Jepang. Untuk tujuan ini, pesan dan barang diselundupkan ke kamp Pemakaman Kehormatan Tantui dan salah satu kontak dibuat dengan Sersan Mayor Waalwijk.

Kapten asal Menado, Kaseger, saat itu diminta oleh Mendoza untuk bertindak sebagai pemimpin kelompok, pada awalnya dinasihati untuk menentang perang gerilya, tanpa adanya persenjataan. Sersan AA Koster, Sersan Penjaga Kota F. Nasalleh dan Mariniers PT Marcks dan P. Lenze pada awalnya terbatas sebagai mata-mata dan mendistribusikan berita.

Sementara itu Sersan Lantang melakukan pekerjaan kurir mengumpulkan senjata dan kelompok Kaseger bergabung dengan Sersan Tuanakotta dan Sersan D. Eikendorp. Eikendorp memelihara kontak dengan kelompok perlawanan lain, yaitu Sersan Matthijs de Fretes di Benteng New Victoria, yang aktif di pegunungan. Pada bulan Mei dan Juni 1942, Jepang melakukan penelitian terhadap kelompok-kelompok perlawanan ini karena penduduk Leitimor khususnya tidak mau menunjukkan kerja sama yang baik.

Sersan Mayor Waalwijk ditangkap pada 11 Juli 1942 pada saat dia akan menyelundupkan paket surat ke kamp Tantui. Jepang membalas dendam dengan menyiksa semua orang yang terlibat di dalam sel yang akhirnya harus mereka bayar dengan kematian.

Pada Agustus 1942, Jepang menyergap Kaseger dan Mendoza namun tidak berhasil, namun tiga hari kemudian barulah Mendoza ditangkap dan dipenjarakan di Ambon. Sedangkan Kaseger berhasil melarikan diri ke Makassar.

Melalui istrinya Mendoza mengirimi pesan kepada anggota pasukan lainnya untuk meninggalkan Ambon secepat mungkin. Semua yang ditangkap dipindahkan ke Benteng New Victoria. Pada 15 Januari 1943, anggota kelompok perlawanan Mendoza, Sahetapy, Tisera dan Tuanakotta menjalani hukuman penggal.

KELOMPOK SERSAN MATTHIJS de FRETES

Setelah menyerah lima tentara KNIL Indo-Eropa dibawah pimpinan Deighton pergi ke Leitimor Selatan, dimana pasukan itu menghubungi sejumlah artileri Belanda dan Sersan Mayor WJP Jansen, komandan posisi KNIL di Seri. Mereka bertemu Jonathan Parera, putra seorang penjaga hutan, Jonathan memberi tahu Deighton tentang gudang senjata di Serie, yang menyediakan senjata dan amunisi selama beberapa waktu.

Karena kelompok Deighton tidak punya uang, mereka tidak dapat bergerak ke tempat yang lebih aman. Senjata-senjata itu diberikan kepada seseorang yang mengatakan mereka berbicara atas nama Jansen. Deighton dan Godeaus kemudian mengadakan kontak dengan Sersan Lantang, yang membawa mereka ke Kusu-Sere, tempat Deighton menemukan tempat berlindung bersama Jonathan Parera. Ketika gudang senjata besar ditemukan, Sersan Lantang membawa pasukan Deighton untuk bergabung dengan pasukan Matthijs de Fretes.

PENDIRIAN ORGANISASI PERLAWANAN MATTHIJS de FRETES

Matthijs de Fretes lahir di Mahia pada 17 Oktober 1888 dan bertugas lama bersama pasukan KNIL di Aceh. Di berpangkat Sersan Marechaussee, ia meninggalkan dinas dengan pemberhentian yang terhormat pada tahun 1936 dan kembali ke Mahia, di mana ia dikenal sebagai petugas pengamat di Benteng New Victoria dan kepala keamanan kampung. Pada bulan Maret 1942, De Fretes mengadakan pertemuan yang dihadiri sekitar seratus orang termasuk Deighton, Godeaus dan Jonathan Parera. Dalam pertemuan itu, de Fretes meminta mereka yang hadir untuk bersiap mendukung Sekutu jika mendarat di Ambon.

Persenjataan yang ditemukan oleh Deighton dan Parera didistribusikan kepada para lelaki yang hadir dalam rapat itu. Namun banyak dari mereka sudah menyembunyikan senjata mereka sendiri pada awal pendudukan Jepang sehingga mereka memiliki persenjataan yang cukup dan memadahi. Sementara itu, kontak dengan Mendoza dan Kaseger di Ambon tetap berlanjut, dan Lantang, Mendoza, Rompies, Sahetapy, serta Tisera sering mengadakan pertemuan secara rutin.

Ketika Mendoza ditangkap pada Agustus 1942, de Fretes sudah bersembunyi di Hatiwe-Besar di Hitu. Dari sini, karena dia percaya bahwa Sekutu akan segera mendarat, dia memerintahkan Sersan Jacob Latuhertu, di Naku, untuk mendirikan sebuah organisasi untuk memerangi Jepang. Latuhertu menghubungi sersan Habel Rehatta dan Dirk Eikendorp, Evert Tehupeoory, Johannes Hehareuw, Charles Hehajary dan Domingus Waas. Setiap prajurit yang bepangkat Sersan diperintahkan untuk membentuk bagian-bagian lokal dari organisasi perlawanan di desanya masing-masing yang beranggotakan prajurit KNIL dan kemanan kampung.

STRUKTUR ORGANISASI PERLAWANAN

Dominggus Waas diperintahkan untuk menjaga pantai Naku dan Mahia dan memperingatkan Latuherta jika ada tanda-tanda bahwa pendaratan Sekutu akan segera terjadi. Ketika de Fretes mengetahui bahwa organisasi perlawanan sementara itu telah dibentuk, ia kembali ke Leitimor, di mana ia ditunjuk sebagai kepala Prajurit Ambon di Asosiasi Marinir yang terpisah, yang sekarang memiliki total 300 anggota.

Departemen dibentuk di sejumlah desa, sebagian besar oleh tentara KNIL atau oleh keamanan kampung, yang dipimpin oleh seorang sersan. de Fretes bertanggung jawab atas kontrol umum dan kendali pasukan di bagian barat, sedangkan Rehatta, Latuheru, dan Pattiasina bertanggung jawab atas kesatuan-kesatuan perlawanan di bagian timur. Organisasi ini memiliki stok senjata KNIL yang disembunyikan di Serie dan Kusu-Sere dan di sekitar daerah Soya dan Rutong.

Tugas departemen termasuk pengumpulan informasi, sabotase, dan penyediaan layanan kurir. Jika pendaratan Sekutu akan terjadi, ratusan orang dapat dimobilisasi dalam waktu singkat.

Pada bulan Januari 1943 sejumlah pertemuan berlangsung di rumah guru SJ Sopacua, di mana Rehatta, Eikendorp, Latuheru, Hehareuw dan Hehajary hadir. Selama pertemuan itu, tindakan yang diperlukan selama pendaratan Sekutu dibahas dan senjata yang dikumpulkan yaitu 50 karabin, empat senapan mesin dan amunisi disatukan dan disembunyikan di tempat yang aman.

Harapan pendaratan Sekutu diperkuat ketika satu unit di bawah Kapten Nijgh dan Sersan J. Malawau mendarat di pantai selatan Ceram. Sayangnya mereka ditangkap pada hari berikutnya dan ditawan di Benteng New Victoria.

PENANGKAPAN DAN EKSEKUSI ANGGOTA

Dalam pertemuan pada 11 Maret 1943, selain de Fretes dan anggota pasukannya hadir juga orang-orang pasukan perlawanan dari Naku, Kilang dan Hukurila dan Tentara Ambon pimpinan Sersan Tehupeiory, Keiluhu dan Pattiasina. Pertemuan itu membicarakan dukungan yang akan ditawarkan kepada Sekutu. Pada 13 Maret 1943, dua pimpinan kelompok, E. Tehupeiory dan A. Leiluhu ditangkap oleh Jepang. Pada hari-hari berikutnya, anggota-anggota lain dari kelompok de Fretes juga ditangkap.

Karena tentara Jepang tidak dapat menemukan de Fretes dan Jacob Latuheru dengan segera, maka Jepang menangkap keluarga mereka dan mengancam akan dieksekusi jika de Fretes dan Latuheru tidak menyerahkan diri. Keluarga de Fretes akhirnya dihukum penggal pada 1 Juli 1943, bersama dengan Rehatta, Eikendorp, Tehupeiory, Hehareuw, Hehajary dan Latuheru di Amboina. Anggota lainnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Setelah inti dari kelompok de Fretes ditangkap, perlawanan di wilayah Leitimor tetap berjalan walaupun menurun kapasitasnya. Sebanyak 16 orang ditangkap pada 30 Desember 1943, karena dicurigai sinyal kepada pesawat dan spionase Sekutu. Pada tahun 1943, organisasi Sersan Mayor Leihitu dan prajurit J. Litamahuputty di Saparua berakhir ketika mereka berhasil ditangkapi oleh tentara jepang. Sampai dengan Agustus 1944, sekitar 300 tahanan politik - anggota perlawanan Maluku - berada di penjara kota Ambon.

KELOMPOK PERLAWANAN OLEH PETRUS LEIHITU

Petrus Leihitu (1907-1945) melakukan beberapa tindakan perlawanan terhadap Ambon dan kemudian mendirikan asosiasi Menpertahankan Rumah Oranje (Kami tetap Oranje Trouw) di Haria,  Saparua. Dia ditangkap pada April 1942 tetapi dibebaskan lagi. Begitu dia ditugaskan, mungkin secara sukarela, ke organisasi perdagangan Nanyo Kohatsu Kaisha, yang bertanggung jawab atas transportasi makanan dari Saparua ke Ambon, dia menggunakan posisi ini sebagai kedok untuk perjalanan gratis dan kontak dengan anggota perlawanan lainnya.

Kelompok Leihitu antara lain melakukan pencurian senjata dan mengumpulkan informasi tentang Jepang. Leihitu ditangkap untuk kedua kalinya pada Juni 1943 dan dibawa ke penjara Amboina. Pada 13 Juli 1945, ia dijatuhi hukuman mati oleh Dewan Perang Jepang. Eksekusinya berlangsung pada 16 Juli 1945 di Benteng New Victoria.

KELOMPOK PERLAWANAN JACOB LITAMAHUPUTTY

Jacob Litamahuputty (1918-1944) dipekerjakan sebagai prajurit kelas dua pada awal perang di posisi Seriman di Soya. Selama pendudukan Jepang, ia mendirikan kelompok perlawanan di Saparua. Setelah beberapa waktu dari sekitar 60 anggota tentara dan warga sipil berhasil melakukan pengumpulan informasi, penyelundupan senjata dan kegiatan sabotase kecil.

Setelah pertempuran dengan patroli Jepang pada Mei 1943 seorang anggota kelompok Litamahuputty jatuh ke tangan musuh, Litamahuputty terpaksa melarikan diri ke Seram. Di sana, kelompok itu dikejutkan oleh sekelompok orang Jepang, yang menemukan buku catatan milik anggota perlawanan di bivak yang ketinggalan, catatan itu berisi nama-nama anggota dan pendukung kelompok perlawanan. Pasukan jepang bergegas kembali ke Saparua dan berhasil menangkap satu-persatu dari mereka. Pada akhirnya, Litamahuputty juga dipaksa untuk menyerahkan diri pada 22 Februari 1944, dan akhirnya 23 anggota kelompok perlawanan ini dihukuman mati pada 2 Maret 1944.

WARU DAN PEMBANTAIAN DI EMPALAWAS (BABAR)

Pada 2 September 1943, 230 prajurit KNIL yang telah dikerahkan di pantai timur Seram berhasil melarikan diri dari kamp mereka. Setelah tempat persembunyian mereka di rumah raja Solang diketahui, pasukan itu Lilin Babar empalamelarikan diri ke barat. Sementara itu, mereka disusul oleh Jepang dan semuanya kecuali dua ditembak dalam berbagai pertempuran.

Di pulau Babar, komandan Jepang Shinohara ingin menertibkan di desa Empalawas dan dibunuh oleh penduduk, bersama dengan beberapa prajurit. Seorang pria Jepang mengangkat alarm dan beberapa hari yang lalu sebuah perahu dengan 100 orang Jepang tiba di pulau itu. Komandan itu, ajudan angkatan laut Makino Shujiro, berjanji pada penduduk desa yang bermasalah itu sebuah pesta rekonsiliasi yang semua orang diundang.

Empat ratus orang, hampir seluruh populasi Empalawas, muncul - kecuali sepuluh wanita, yang seharusnya melayani sebagai wanita penghibur bagi Jepang, semua penduduk desa ditembak. Hanya para tetua desa yang menerima perlakuan khusus - mereka digantung dan dibakar. Shinohara dijatuhi hukuman mati setelah perang.

Selama pendudukan Jepang, penduduk Langgur (Kepulauan Kei) melakukan banyak upaya untuk mengirimkan informasi kepada Sekutu selama pendudukan Jepang. Jepang telah memerintahkan mereka untuk menyamarkan lapangan terbang Langgur, tetapi alih-alih menanam pohon yang diminta, akarnya ditebang oleh tentara KNIL yang dipekerjakan, sehingga tanaman mati dan lapangan udara akan terlihat jelas oleh awak pesawat Sekutu yang masuk. .

KELOMPOK JULIUS TAHIJA

tahija di pemakaman perang bJulius Tahija (1916-2012) bekerja sebagai sersan kelas dua di KNIL saat pecahnya perang. Dia diperintahkan untuk pergi dengan tahija di pemakaman perang bdetasemen 13 tentara KNIL dari Darwin ke Kepulauan Tanimbar untuk mempertahankan otoritas Belanda di sana dan, dalam keadaan darurat, untuk pindah ke wilayah yang tidak diduduki. Pada 30 Juli 1942, dua kapal Jepang mendarat di teluk Saumlaki. Ketika sekitar 200 orang Jepang berbaris ke desa, hampir semuanya ditembak oleh Tahija dan anak buahnya. Tahija dan pasukannya kemudian pindah ke Wermatang, tempat sebuah kapal disewa, yang dengannya pasukan itu kembali ke Darwin.

Di Australia, Tahija dipromosikan menjadi letnan pertama dan ditunjuk oleh Keputusan Kerajaan 21 September 1942 sebagai ksatria di Ordo William Militer. Dia kemudian dipekerjakan oleh NEFIS (Netherlands Forces Intelligence Service). Pada awal tahun 1945 ia ikut serta, antara lain, dalam pendaratan di pantai Magoli.

PERLAWANAN MALUKU DI SUMATRA

Di pantai barat Sumatra, di dan sekitar kota Padang, Padang-Pandjang dan Fort de Kock, sebuah organisasi tawanan perang Maluku dan Indo-Eropa muncul selama pendudukan, dipimpin oleh Sersan JA Pattinama dan RT Overakkersetelah penangkapannya terhadap saudara PHJ dan CDF Margin, dan terlibat dalam mengumpulkan informasi dan mengumpulkan senjata.

Kelompok perlawanan juga aktif di pantai timur Sumatra, termasuk kelompok "Saputangan Merah" di Rengat, yang juga mengumpulkan informasi. Setelah pesanan dari Jenderal R.Th. Overakker, di mana ia telah menuliskan instruksi pribadinya kepada penggantinya, kapten R. ten Velde dan AC Woudenberg, menjadi dikenal oleh Jepang, banyak penangkapan terjadi.

Selama penggerebekan, ratusan orang ditangkap di pantai barat. Selama persidangan kelompok di pantai timur dan barat, puluhan hukuman mati, termasuk hukuman Overakker dan Kolonel GFV Gosenson, diucapkan dan dieksekusi.

PERLAWANAN MALUKU DI JAWA

Penangkapan Letnan RAF Gordon Coates dan penemuan laporan tentang perlawanan di Jawa Tengah berarti akhir dari pemimpin perlawanan LJ Welter, Kapten RG de Lange dan Kapten ALJ Wernink. Laporan itu juga mengungkapkan bahwa tentara KNIL Maluku, yang dilepaskan dari barak dari mantan batalyon KNIL kesebelas dan dua belas, yang telah bergabung dengan kelompok pengawas malam dengan izin Jepang, telah menggunakannya sebagai kedok untuk kegiatan perlawanan.

Orang Maluku yang disebut namanya adalah AI Tanasale, J. Kaihatu, JM Westplat, Nikijuluw, Haulusy dan E. Siahaya. Lainnya adalah : D. Souhuwat, J. Teterissa dan J. Rehatta.

Daftar anggota kelompok perlawanan de Fretes :
  • Mahia : Sersan HM de Fretes
  • Kusu-Sere : Sersan EM Lanting
  • Hatalai : B. Kastanja dan N. Loppies
  • Soya : Sersan H. Rehatta
  • Naku : Sersan J. Latuheru
  • Kilang : Sersan J. Hehareuw
  • Ema : J. Dias
  • Hukurila : Sersan C. Hehajary
  • Hutumuri : Sersan E. Tehupeiory
  • Rutung : Sersan Talahata


Daftar nama kelompok de Fretes yang dipenggal atau mati dalam penawanan Jepang :
  • Prajurit Jan Patty, Soya
  • Prajurit Izaak Hursepuny, Hutumuri
  • Prajurit Marcus Tapalawatin, Hutumuri
  • Prajurit Nicolaas Keiluhu, Hutumuri
  • Kopral Willem Palapessy, Ema
  • Sersan Koko de Fretes, Kilang
  • Prajurit Pieter Telussa, Naku
  • Prajurit Jacob Gaspersz, Naku
  • Sersan Emile M. Lantang, Kusu-Sere
  • Sersan Hoogendorp, Kusu-Sere
  • Prajurit Nicolaas Loppies, Hatalai
  • Prajurit Benjamin Kastanja, Hatalai


Sumber  : De Nederlandse Krijgsmacht

Fenomena Menjamurnya Tontonan Drama Korea, Drama Cina, Drama Bule, Hingga Drama Lokal Versi AI

KETIKA INDONESIA IKUT MENGARANG ULANG SEJARAH Oleh: Icon Dari Beyond Wukong di China Sampai Bengawan Sore di Jakarta Dua tahun terakhir duni...